Kau Ada karena Dia Ada

| dilihat 1238

refleksi Bang Sèm

Berjarak dengan bimbit pintar alias smartphone. Inilah hal yang harus saya lakukan dua bulan terakhir.

Seorang psikiater memberi nasihat demikian kepada saya. Rada penetratif dan diungkapkannya berulang-ulang, setiap kali usai melakukan terapi.

Sejak mengalami jatuh beberapa kali di berbagai tempat, dalam waktu tak berjauhan, saya menjalani proses pengobatan medis ortopedi (yang berhubungan dengan perawatan tulang dan otot), termasuk untuk perawatan khas sistem muskuloskeletal. Sistem yang berkaitan dengan otot dan kerangka tubuh, tanpa kecuali sendi, ligamen, tendon, dan saraf.

Karena punya riwayat kecelakaan yang panjang sejak masih kanak-kanak -- mulai jatuh dari pohon, tabrakan sepeda motor, tabrakan mobil (sampai bagian depan mobil ringsek), sampai jatuh di tangga gedung yang curam dan jatuh di atas hampar beton -- belakangan saya jauh lebih berhati-hati. Apalagi, nafas juga terganggu kala tidur, serba salah dalam posisi tidur.

Itulah sebabnya saya juga melakukan terapi psikis. Khasnya untuk membantu percepatan pemulihan dalam mengidentifikasi dan mengubah emosi, pikiran, dan perilaku yang mengganggu (seperti berjalan seolah melayang). Beberapa waktu berselang, saya gunakan tongkat untuk berjalan.

Defragmentasi Otak

Mengapa mesti berjarak atau berjauhan dengan bimbit pintar? Ternyata, selain untuk mengurangi beragam informasi yang masuk ke dalam pikiran dan perlu seleksi yang ketat, juga untuk memulihkan daya defragmentasi otak.

Intinya, supaya lebih fresh. Itu pula sebabnya saya banyak mengurangi partisipasi (atau keluar dari) Whatsapp Group (WAG) yang latar partisipannya beragam. Komunikasi, untuk sementara waktu juga saya kurangi dan batasi.

Alhamdulillah, ketika berjarak dengan bimbit pintar, intensitas membaca buku bertambah. Terutama untuk mengingat ulang pengetahuan yang sudah tersimpan puluhan tahun, serta pengetahuan-pengetahuan baru. Pun demikian halnya dengan aktivitas mendengar lantunan ayat suci Al Qur'an, beragam shalawat, dan menikmati musik, meningkat.

Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan menulis berkurang. Topik atau tema tulisan juga yang cenderung lebih ringan. Termasuk mengembalikan keterampilan menulis yang selama berpuluh tahun menjadi bagian penting dalam kehidupan saya.

Saya berharap kondisi fisik cepat pulih seperti semula. Segala gangguan fisik yang sangat mengganggu (terutama pernafasan), saya harap, juga berangsur normal seperti sediakala. Sejumlah aktivitas keseharian untuk tetap menjaga fungsi otot terus saya lakukan. Tentu dengan takaran daya yang dapat diukur sendiri.

Percepatan itu sangat mungkin, karena belakangan hari, orang-orang terkasih - tanpa kecuali adik, anak, kemenakan, dan sahabat memberi perhatian yang menyenangkan.

Karena Dia Ada

Saya tersenyum, ketika psikiater mengemukakan, yang sangat saya perlukan sekarang adalah suasana hati yang riang dan gembira. Mendekati usia 70 tahun, menurutnya, sangat perlu mengelola seluruh faktor yang membantu tercapainya kondisi 'menua secara sehat.'

Antara lain: pola makan sehat, olahraga semampunya, menjaga kesehatan mental (khasnya memelihara keseimbangan nalar, naluri, nurani, dan rasa) untuk menjaga keseimbangan emosi dan spiritualitas, dan faktor lain yang berada dalam jangkauan.

Perjuangan yang lumayan berat adalah mengurangi berat badan, agar lebih ringan ditopang oleh tulang dan otot kaki dan paha. Perlu disiplin tinggi, sekaligus menguatkan kembali kedisiplinan hidup. Termasuk disiplin menyelesaikan masalah primer dan prioritas dalam kehidupan sehari-hari.

Saya ingat omongan Slamet Rahardjo Djarot kepada saya suatu malam - untuk menghidupkan kesadaran tahu diri. Melatih dan membiasakan diri berdialog dan meminta ma'af kepada organ-organ tubuh yang sudah ada dan bahkan sudah bekerja sebelum kita dilahirkan. Kepada jantung, paru-paru, limpa, ginjal, hati, dan lain-lain.

Selebihnya adalah bersikap agak egois sedikit, memberi perhatian lebih kepada diri sendiri, sebagaimana dulu, ketika sedang masa bertumbuh. Masa sebelum selama puluhan tahun memberikan porsi perhatian dan layanan kepada khalayak.

Sekarang inilah momentum penting dalam kehidupan untuk menambah porsi lebih besar pada pemenuhan kepentingan diri sendiri, selain terus konsisten memelihara potensi diri sebagai pribadi yang dapat memberi manfaat kepada khalayak luas.

Alasannya sangat sederhana, karena akhirnya yang paling harus peduli pada diri kita adalah diri kita sendiri. Saya beruntung, karena sudah sangat lama tak memberi ruang di dalam diri bagi kemarahan (apalagi yang berlebih), sakit hati, kecewa, dan selalu mencari hikmah di balik sesuatu persoalan.

Sudah sangat lama saya lebih senang menerima realitas hidup, dan memahami hikmah di balik suatu peristiwa kehidupan. Saya tak pandai menuding dan menyalahkan orang lain. Saya pun tak pandai menyalahkan Tuhan, bila mengalami peristiwa hidup yang tak menyenangkan..

Dengan seseorang yang sangat dekat hubungan pribadinya dengan saya, kami belajar bercermin setiap menjelang atau bangun tidur, lalu bertanya kepada sosok yang berada di cermin: "Kau ada karena Dia ada." |

Editor : delanova
 
Energi & Tambang
18 Agt 26, 18:17 WIB | Dilihat : 235
PHE Pertegas Komitmen Jaga Ketahanan Energi Nasional
17 Jul 26, 17:25 WIB | Dilihat : 354
Monetisasi Gas Sengeti Dorong Investasi Baru di Jambi
28 Jun 26, 06:57 WIB | Dilihat : 398
Talenta Mutu Pertamina Gerakkan Transformasi
Selanjutnya
Lingkungan
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 560
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 672
Jakarta Baur Budaya
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 670
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 968
Jangan Pernah Menentang Semesta
Selanjutnya