
LUNG meriang. Ling membawanya ke Puskesmas terdekat. Baru tiba di halaman Puskesmas dia urung berobat. Terlalu banyak orang sakit yang harus dirawat. Ling melarikan suaminya ke dokter Tan.
Tak lama dia menunggu di situ, karena yang antre tidak terlalu banyak. Tiba giliran, dia masuk ke ruang dokter. Lung langsung diperiksa. Dokter Tan tersenyum.
“Jangan kebanyakan begadang, Lung. Atur ritme hidup sewajarnya,” ujar dokter Tan.
Ling memperhatikan suaminya. Sudah beberapa hari ini, Lung memang bergadang. Maklumlah, sejak isu kenaikan harga BBM sebagai konsekuensi pengurangan subsidi, Lung memang kerap bergadang. Ia harus menghitung ulang proyeksi bisnisnya.
Harga barang-barang kadung naik. Lung tak bisa ngecak harga jual barang.
Tiba di rumah, Lung bersandar di sofa. Tubuhnya masih menggigil. Ling bergegas menyediakan bubur untuk sang suami. “Buruan makan buburnya, nanti minum obatnya,” ujar Ling yang memang senang ‘berkicau,’ itu.
Lung meminta Ling pergi ke pasar. Dia ingin, Ling menggantikannya menunggu kios dagangannya di pasar.
“Udah keburu siang, Lung.. Gak baek buka kios siang begini, rejeki udah keburu dipatok ayam,” ujar Ling.
“Lebih baek terlambat daripada toko gak dibuka sama sekali. Pan gak semua rejeki kita dipatok ayam,” balas Lung.
Ling memandang Lung dengan wajah tak sepenuh ikhlas.
“Kalo owe ke pasar, siapa yang ngurus lu?”
“Ling, kalo lelaki udah nugasin, lu kudu patuh, jangan banyak bantah,” balas Lung.
Ling pun bergegas berangkat ke pasar.
Ketika Ling pergi, usai menutup daun pintu ruang tamu, satu-satunya pintu masuk ke rumah mereka, Lung langsung rebah di dipan istirahatnya. Lantaran iseng, dia memutar film “Raise the Red Lantern."
Film besutan sutradara film legendaris Zhang Yimou ini berisi kisah tentang seorang perempuan muda, Songlian, yang menjadi selir taipan kaya keluarga Chen, di dekade 20-an, ketika China di era Perang Sipil. Kala itu, banyak rakyat hidup susah, kecuali para Taipan yang berkongsi kuasa dengan pemerintah.
Songlian yang ayahnya baru meninggal karena bangkrut, terpaksa menjadi selur ketiga, dan karenanya disebut Sì Taitai, alias Nyonya Keempat. Mulanya Songlian diperlakukan sebagai isteri terpandang yang tiap hari dipijati kakinya supaya sensualitanya terus memesona. Perlakuan itu membuat iri para selir lain. Persaingan juga menjadi tidak sehat.
Belakangan hidup Songlian merana, dia mundur dari kehidupan sang Taipan, menyendiri dan karena putus asa berkali-kali berusaha bunuh diri. Pada ulang tahunnya yang ke 20, Songlian mengalami gangguan kejiwaan dan gila..
Lung meresapi cerita film itu. Di kepalanya melintas wajah beberapa Taipan. Juga beberapa Taipan idolanya yang menguasai Hong Kong. Ada sesuatu yang berubah kini. Para selir yang datang dari berbagai negeri, termasuk Indonesia, tak perlu lagi bunuh diri karena frustasi. Mereka justru akan menjadi korban pembunuhan para tuan yang memerkosanya.
Ketika film usai. Lung berfikir, seberapa jauh tenaga kerja Indonesia yang melanglang ke Hong Kong yang bernasib mirip dengan Songlian terlindungi. Lung ingat cerita seorang sahabatnya yang tak lagi diizinkan masuk ke Hong Kong karena gigih membela TKI.
Temannya itu mengatakan pada dia, “Perlindungan keamanan yang dilakukan pemerintah tak sempat mempertimbangkan perlindungan terhadap TKI dengan profesi khas, apalagi menjadi selir di rumah Taipan.”
Tiba-tiba telepon berbunyi. Lung bergerak cepat mengangkat pesawat telepon. Di ujung telepon Ling bicara. Ling bertanya tentang harga-harga barang yang harus dijualnya di kios.
“Lu gimana sih Lung.. Gimana owe mau jualan, kalo owe gak tahu harga satuan masing-masing barang di kios kita? Banyak pelanggan balik lagi..”
Lung baru sadar. Dia belum sempat mencatat harga-harga barang terbaru di kiosnya.
“Coba lu tanya Songlian...” ujar Lung sambil pikirannya membayangkan mitra bisnis yang kiosnya tak jauh dari kios dia.
Ling kaget.
“Songlian? Siapa Songlian? “
“Selir.. Ya.. ya.. Selir..” jawab Lung.
Ling geram. Dia buru-buru menutup kiosnya. Lantas bergegas pulang. Setiba di rumah, dia mencecar Lung, mempertanyakan Songlian.. Lung gelagapan. Meriangnya bertambah.., karena Ling tak kuasa menahan emosi, menghantam jidat Lung dengan penggorengan... |