Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta

| dilihat 588

Catatan Bang Sèm

Jakarta Raya ditetapkan sebagai pemenang pertama Sustainable Transport Award alias STA tahun 2020 se Dunia, dari Komite Sustainable Award yang berkedudukan di Amerika Serikat.

Menurut seorang teman, ini pencapaian luar biasa. Hanya sekitar tiga tahun di bawah kepemimpinannya yang tak henti diganggu dengan beragam bulian dan cerca, Anies Rasyid Baswedan (yang akhirnya didampingi Wakil Gubernur A Riza Patria) berhasil mencapai prestasi puncak dalam mengatasi salah satu persoalan rumit, yang tak pernah berhasil dilakukan oleh gubernur-gubernur pendahulunya.

Tahun lalu, Jakarta hanya menjadi runner up, menduduki peringkat kedua dan meraih gelar “Honorable Mention” di ajang yang sama.

Bila tahun lalu penghargaan itu diterima Pemerintah Provinsi Jakarta Raya karena berhasil menaikkan jumlah penumpang kendaraan umum hingga 200 persen.

Tahun ini kemenangan Jakarta, menurut ITDP (Institute Transportation Development Policy) disebabkan oleh keberhasilan melakukan integrasi mikrobus (angkot) dengan layanan Transjakarta, serta kehadiran MRT (mass rapid transportation) dan LRT (light rail transit) sebagai sistem transportasi publik di Jakarta.

Juga operasional JakLingko sebagai bagian integral dari upaya Pemprov Jakarta Raya untuk mengintegrasikan semua moda transportasi baik secara fisik maupun pembayaran, terbilang ambisius dalam beberapa tahun terakhir. Dan banyak lagi upaya yang dilakukan, antara lain terkait dengan tata kelola sistem transportasi dalam konteks pengendalian emisi, konektivitas transportasi antarmoda yang berdampak pada lingkungan kota, termasuk jalur sepeda dan lain-lain.

Apa istimewanya? Bukankah setiap pemimpin kota harus membenahi kotanya sebagai kewajiban utama, setidaknya dalam mengatasi transportasi, sampah rumah tangga, dan lingkungan (termasuk banjir).

Bagi Jakarta -- selain berbagai prestasi lain yang sudah dicapainya -- mencapai kelayakan dan kepatutan untuk menerima penghargaan sebagai peraih utama STA 2020 tingkat dunia amat bernilai strategis.

Prestasi itu menunjukkan, sebagai Gubernur Jakarta Raya, Anies Rasyid Baswedan telah memastikan dirinya memimpin langsung proses transformasi Jakarta menuju kota yang maju (Aman, Nyaman, Inspiratif, Estetis, Sehat) dengan perubahan budaya hidup warganya sebagai masyarakat modern : Bersih, Agamis (religius), Sejahtera, Waskita ( cerdas dan bijak), Egaliter, Dinamis, Adil, dan Nasionalis.

Dari perspektif imagineering, membuktikan, bahwa visi Jakarta yang sedang diwujudkannya sungguh merupakan visi  -- titik capai masa depan -- dan bukan fantacy trap (jebakan fantasi). 

Dari sekurang-kurangnya empat focal concern masalah utama Jakarta yang berkembang sejak zaman Jan Pieter Zoon Coen : persoalan banjir, kesehatan, pola koneksi mobilitas penduduk, dan planologi selama tiga tahun terakhir, satu persatu diselesaikan. Bahkan persoalan-persoalan yang berkembang sejak Jakarta dikendalikan Daendels yang bertumpu pada infrastruktur jalan dan sungai - kanal, Anies telah berhasil mengurai masalah, menemukan solusi dan dan mengeksekusinya.

Pengakuan lembaga dunia dan nasional atas Jakarta Raya adalah pengakuan atas kepemimpinan Anies, termasuk pola distribusi tugas (mulai dari work desc, job desc, dan delegation of authority) dengan Wagub A. Riza Patria menampakkan keseimbangan. Bahkan kritik-kritik (yang kadang tak masuk akal dari segelintir politisi pemula dan bangkotan di DPRD) menunjukkan, kepemimpinan Anies berjalan.

Makin sering Gubernur disudutkan tanpa kesahihan data, makin memberi nilai tambah bagi kepemimpinannya. Anies seperti pegas, siapa saja yang menekannya, terpental dengan sendirinya.

Dalam konteks tata kelola transportasi kota, yang menarik saya catat adalah basis filosofi dan kultural, untuk mengembalikan habitus masyarakat ( dengan contoh keteladanan ) melalui reintyerpretasi tentang 'kendaraan.' Mulai dari kaki manusia, sepeda, sepeda motor, angkutan publik dan kendaraan pribadi.

Desain kebijakan, kebijakan, dan aksi kebijakan tentang pedestrian (termasuk trotoir), pembangunan sentra-sentra komunitas yang menyediakan ruang dan peluang silaturrahmi -- stasiun kereta, halte dan terminal angkutan publik, terowongan interkoneksi, jembatan penyeberangan orang, bantaran kanal, dan lain-lain -- antar warga, termasuk 'burung-burung metropolitan' dalam suatu interaksi masuarakat urban, sub urban, dan rural.

Semua itu, menariknya, bisa terjadi di Jakarta, yang sebagian merupakan coastal area dan berada dalam iklim tropis yang selama ini nyaris tak terprediksi. Terutama karena terjadinya perubahan iklim yang terbabit dengan pemanasan global dan efek rumah kaca.

Secara historis, Anies sedang menghubungkan zaman perubahan awal bagi Jakarta (ketika diberlakukan perubahan pola transportasi dari kanal ke jalan, termasuk diberlakukannya trem kuda, trem diesel dan kemudian trem listrik antara 1896 sampai awal dekade 1960--an). Bagi anak Betawi --mereka yang lahir dan besar di kota Jakarta dan kini berusia minimal 60 tahun  -- apa yang dilakukan Anies dan aparatus Pemerintah Provinsi Jakarta Raya merupakan quantum leap, lompatan sangat besar. Bahkan dalam konteks hubungan kemanusiaan.

Saya bersyukur, masih bisa menyaksikan perkembangan Jakarta kini, dan berinteraksi dengan kehidupan (khasnya pengalaman) masyarakat sebagai inti kehidupan kota. Masih menyaksikan fenomena sekaligus paradigma dan perubahan minda (mindset changes) masyarakat dengan sistem transportasi tak terputus selama 24 jam. Termasuk masih sempat menyaksikan, bagaimana nanomonster Covid-19 memberi tantangan sekaligus peluang manusia kota kembali menjadi 'sesungguh manusia,' yang harus mengisi ruang kehidupan normal dengan disiplin dan pola hidup sehat tinggi.

Dari kesempatan itu saya bisa melihat dengan mata telanjang bagaimana kita mempunyai banyak politisi dengan sedikit negarawan, banyak akademisi dan sarjana dengan sedikit cendekiawan, banyak petinggi dengan sedikit pemimpin, banyak manusia yang diberikan instrumen kesempurnaan (think, instink, sense, dan feel) terpelantik menjadi hanya khayawan an nathiq - hewan yang berakal di berbagai lapangan kehidupan.

Dari berbagai indikator komprehensip moda transportasi Jakarta yang berlaku kini -- dan saya yakini akan terus berkembang lebih baik ke depan -- mulai dari pejalan kaki, pesepeda, pengguna kendaraan umum, dan pengguna kendaraan pribadi, saya melihat kemampuan managerial pemerintah Jakarta  dalam merespon masalah dan memberikan solusi, juga mengalami lompatan. Meski masih ada satu dua yang masih bermental ambtenaar.

Pengalaman di dalam angkutan Jaklingko, trans Jakarta (bus way dan bus kota) , MRT, LRT,  dan Commuter Line, saya merasakan perubahan budaya yang menarik. Bila ini dapat dipelihara terus, Jakarta akan sungguh menjadi sentra peradaban dan kebudayaan Indonesia yang telah lama ditinggalkan. Antara lain, berbudi (ramah, komunikatif, toleran -- dalam makna sebenar dan luas) dan mampu mengendalikan diri.

Walaupun kini belum berlaku prinsip: "kota sebagai tempat orang kaya menggunakan transportasi umum," tetapi perubahan sistem transportasi kota -- yang tak melulu berfikir soal infrastuktur -- perlahan akan membentuk kesadaran baru semacam itu. Terutama, bila berbagai pandangan dan pemikiran Anies terkait peningkatan kualitas hidup (yang akan berdampak pada peningkatan indeks pembangunan manusia dan angka harapan hidup) direspon baik oleh seluruh kalangan.

Perbaikan sistem transportasi yang sedang berlangsung di Jakarta ini, saya yakini menguatkan akses warga ke seluruh sentra-sentra penghidupan: tempat kerja, kantor, pasar, pusat rekreasi, sekolah, ekstensi layanan kesehatan, rumah ibadat, hiburan, pergelaran seni, dan sentra-sentra olahraga. Muaranya adalah peningkatan berbagai akses terhadap sarana dan prasarana terkait dengan sustainable development goals (SDG's) yang merupakan kelanjutan dari millenium development goals (MDG's). Karena dalam pengembangan sistem transportasi Jakarta, sudah termasuk penguatan akses warga miskin kota dan warga potensial miskin kota.

Tentu bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan adalah mengubah pemahaman tentang megapolitan Jakarta yang tak lagi cupet hanya dalam konteks 'setangkup wilayah' - Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor (Jabedetabog) plus Kawarang, Cianjur, dan Serang, yang lebih banyak mengacuk kepada pemikiran Van Mook.

Dengan pembangunan jalan tol lintas Jawa, minimal Megapolitan Jakarta mesti dipahami sebagai konektivitas Jakarta dengan kota-kota kendali dengan metropolitan baru di Jawa.

Pembenahan yang terjadi di Jakarta, mesti bergerak bersamaan dengan perkembangan metropolitan baru, seperti Bandung Raya, Cirebon, Semarang Raya, Jogjakarta, dan Surabaya yang diharapkan mampu memberi simpul-simpul harapan. Diperkuat dengan kesungguhan membangun desa sebagai sentra pertumbuhan.

Sebagai anak Jakarta yang mengalami proses pematangan diri di berbagai kota, saya melihat, perubahan sistem transportasi -- khasnya perubahan minda dan orientasi budaya -- yang sedang berlangsung di Jakarta, layak dan patut menjadi model di berbagai kota lain dengan karakter dan kekhasannya masing-masing.

Jawara dan kejawaraan dalam minda anak Betawi adalah pencapaian multidimensional, bukan sekadar 'maen pukulan' tapi juga 'maen pikiran.' Anies adalah jawara 'maen pikiran.' Langkahnya sudah benar, tidak perlu menanggapi igau dan racau kaum odi (otak dikit) -- meminjam istilah Geisz Chalifah, anak Poncol yang sejak belia sudah malang melintang sebagai aktivis sosial kemasyarakatan.

Tentang berbagai prestasi Gubernur Anies Baswedan dan Pemprov Jakarta Raya, saya mau bilang, "Jakarta dan Anies emang Jawara." |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Humaniora
11 Jan 21, 13:34 WIB | Dilihat : 337
Mat Seni Cermin Perjuangan Kaum Betawi
05 Jan 21, 10:16 WIB | Dilihat : 214
Kala Uti Merajut Kasih Menyulam Cinta
04 Jan 21, 09:57 WIB | Dilihat : 436
Hidup Adalah Dunia Yang Akan Pecah Berkeping
04 Jan 21, 10:01 WIB | Dilihat : 189
2021 Tahun Pertobatan Semesta
Selanjutnya