Sisi Lain Lingkungan Jepang

Jalan Bergegas Sopan Meranggas

| dilihat 2127

Catatan Bang Sem

JEPANG, setidaknya beberapa kota di prefektur Kansai dan Kanto - seperti Osaka, Kyoto, dan Tokyo -- memberi pengetahuan baru bagi saya di akhir 90-an.

Kala itu saya baru pertama kali berkunjung ke ibukota Jepun. Dan yang menarik, ketika kemudian saya datang berulang kali ke kota-kota itu dan beberapa kota lain di perfektur lain, seperti Ehime, selalu ada yang baru. Begitu juga halnya dengan Yokohama.

Ketika pertama kali berkunjung ke Jepun, saya masih agak manja dengan kendaraan yang disiapkan khusus untuk mitra bisnis di sana. Belakangan, saya lebih senang berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum, khasnya commuter line.

Sejak 2007 - bila berkunjung ke Toyama, saya juga senang naik portram sebagai salah satu bentuk LRT (light rail transportation)-nya. Di kota pelabuhan yang relatif lebih tenang, ini tram adalah pilihan transportasi publik yang menyenangkan.

Dengan menggunakan tram, kita dapat menikmati pusat kota tradisional Toyama, sebelum akhirnya menentukan pilihan untuk koneksi dengan kota-kota lain melalui jalur kereta tradisional atau dengan Hokuriku Shinkansen – kereta api cepat yang tersimpul di Kyoto atau Nagoya.

Proses pembangunan di Jepang memang bergerak cepat dan dalam hal sarana transportasi kota, satu kebijakan sangat kuat dipertahankan: sangat membatasi penggunaan sepeda motor.

Penggunaan sepeda motor hanya untuk motor besar dengan cc tinggi, dan sepeda motor lingkungan (50 cc) untuk lingkungan terbatas.

Yang menarik dicatat adalah perubahan mental masyarakat Jepang yang nampak di jalan raya. Di penghujung dekade 90-an saya masih sering melihat beberapa kecerobohan yang terjadi di jalan raya.

Saya masih melihat, orang melintas di depan kendaraan yang sedang melaju atau meludah sesuka hati, mengabaikan aturan pemerintah kota dan sekaligus melanggar kesopanan standar manusia.

Kala itu saya masih memandang, masyarakat Jepang relatif sama dengan masyarakat Amerika Serikat, khususnya para New Yorker. Berbeda dengan masyarakat Perancis atau Belgia. Terutama bagaimana mereka menggunakan pedestrian untuk para pejalan kaki yang sehat, aman, dan nyaman.

Ketika medio dekade 2000-an saya ke Osaka dan Tokyo, semua berubah. Dalam hal memberi makna atas pedestrian dan kultur berjalan kaki, masyarakat Jepang lebih maju beberapa langkah. Demikian juga halnya dengan kesadaran lingkungan mereka.

Berjalan kaki, telah menjadi sesuatu yang penting, seiring dengan begitu pentingnya sarana angkutan publik, seperti bis, kereta api, dan sejenisnya. Dan belakangan hari, setiap berkunjung ke Tokyo atau Osaka, saya mesti sadar untuk tak nampak laksana ‘orang asing yang bodoh.’

Bahkan saya mesti belajar dengan anak-anak sekolah dasar yang konsisten dengan ‘tempat bertemu’ untuk pulang bersama dari sekolah. Termasuk pola berjalan yang tidak mengganggu pejalan kaki lain.

Tahun 2014, ketika berkunjung ke Tokyo, sahabat saya Akiko-san, menyiapkan Alphard. Dia tertawa ketika saya katakan mau berjalan kaki sambil menikmati commuter line. Dia sepakat, lalu mengatur jalan tengah.

Untuk agenda dan program kunjungan yang memerlukan gerak cepat dari satu lokasi ke lokasi lain, saya harus menggunakan mobil yang disiapkan. Untuk agenda dengan lokasi terbatas dan mempunyai banyak waktu, boleh berjalan kaki dan menggunakan commuter lain.

Akiko mengatur waktu sangat ketat, terutama ketika saya ingin ke Osaka dengan menggunakan shinkansen. Pasalnya? Saya pernah salah naik shinkansen, terlambat datang ke stasiun, sehingga naik di jadual kemudian.

***

AKIKO menemani saya berjalan. Dia mengemukakan, saya mesti mengatur kecepatan berjalan.

“Ini Tokyo, bukan Osaka,” ujarnya, mengisyaratkan saya lebih bergegas, dan membuat nafas saya lumayan tersengal.

Saya protes, apa hubungannya kecepatan jalan kaki dengan kota? Dengan keramahannya, Akiko-san menjelaskan, ukuran sebuah kota dan kecepatan rata-rata orang berjalan berkorelasi. Ini terkait dengan ritme sosial masyarakat di masing-masing kota.

Kian besar sebuah kota, kian cepat orang berjalan. Kian kecil sebuah kota, kian lamban juga orang berjalan. “Di Toyama,  Anda boleh berjalan dengan kecepatan lebih lamban,” ungkap dia sambil senyum.

Akiko mengingatkan saya untuk konsisten jalan lebih rapat di sebelahnya, agar tak memakan jalur jalan orang lain. Terutama ketika kami melenggang di pedestrian padat Ghinza.

Saya tersenyum ketika Akiko dengan gaya yang khas, rada kikuk untuk berkata, “Saya tak ingin Anda terlihat bodoh dengan memblok jalur orang lain berjalan kaki.”

Bagi saya, apa yang diisyaratkan Akiko adalah ekspresi dan refleksi gaya hidup masyarakat perkotaan yang sudah berubah. Orang-orang di Tokyo dan beberapa kota besar lain, seperti Osaka berpacu gaya hidup sebagai masyarakat metropolis. Masyarakat yang tak hanya visioner, melainkan juga praktis dan realistis.

Orang menjadi terbiasa berjalan cepat dengan wajah terkesan lebih serius dan kurang senyum, berbeda dengan warga Tokyo dan Osaka beberapa tahun lalu. Dan, pastinya, kontras dengan penduduk pedesaan Jepang.

Selebihnya memang terasa perbedaan lebih kontras antara jalan dan gaya hidup jalan di Tokyo (prefektur Kanto) dan Osaka (prefektur Kansai). Kompetisi budaya antara dua wilayah ini maiin terasa kini, meski saya belum pernah tahu alasan kompetisi itu sejak berabad silam. Khasnya terkait dengan berbagai hal yang sangart aneh, termasuk ritme berjalan kaki.

Sejak lama saya sudah diberitahu, bila naik eskalator di Tokyo kita berdiri di sebelah kiri, dan orang yang mau mendahului kita melintasi lajur kanannya.

Di Osaka berbeda. Kita berdiri di sebelah kanan, dan orang yang akan mendahului kita melintas di jalur kiri. 

Boleh jadi membingungkan bagi mereka yang terbiasa cuek dengan posisi berdiri dan melintas di atas eskalator, atau berjalan dan berdiri di pedestrian antar kota.

Tapi, bagaimanapun juga Anda harus ikuti, dan tak sulit mengikuti ‘aturan’ itu.., lihat saja bagaimana warga setempat melakukannya.

Dalam hal melihat rambu-rambu, bila Anda tak berbahasa Jepang, perhatikan saja simbol-simbol dalam rambu.

Kini relatif lebih mudah, karena banyak rambu, baik yang dipancang berdiri, maupun diletakkan di pedestrian, sudah menggunakan bahasa Inggris. Yang penting, adalah Anda memegang etiket yang berlaku di ruang publik di kota-kota itu.

Yang paling penting harus diperhatikan dalam berjalan dan berperilaku di kota-kota besar Jepun, itu adalah tidak ceroboh dan berhati-hati.

Bila ceroboh dan tak menghargai etiket, diam-diam orang yang berjalan persis di belakang Anda, akan menilai Anda dengan buruk. Ketika melintasi Anda, mereka memperlihatkan ekor bibir yang multi tafsir.

Bagi masyarakat Jepang yang umumnya sangat sopan, sikap demikian sudah menunjukkan ada sesuatu yang ‘lain’ pada diri Anda.

Kesopanan, ketertiban, disiplin, dan sikap berhati-hati, nampak pada setiap orang Jepang ketika mereka berjalan di pedestrian. Jalan bergegas, sopan meranggas.

Mereka menunjukkan sikap hormat kepada orang-orang tua, generasi Golden Ages alias manula. Dan mereka memiliki kepekaan dalam menilai perangai Anda.

Mereka akan spontan bertanya kepada rekan sebelahnya: “Itu orang dari (negara/bangsa) mana?” saat melihat kejanggalan seseorang – umpamanya, tindakan melanggar etiket di muka publik.

***

SALAH satu hal menarik yang saya perhatikan belakangan hari adalah kecenderungan orang Jepang untuk tidak ngobrol dengan suara kencang saat berjalan kaki. Juga tidak menerima telepon dengan suara kencang dan berlama-lama.

Hal yang sama juga saya lihat di dalam kereta. Kalaupun mereka menerima atau mengontak seseorang melalui bimbit (telepon genggam) suaranya halus dan sangat sebentar, seperlunya saja.

Beberapa pengguna pedestrian, nampak bergegas dan mencari tempat yang teredia untuk berhenti, lalu menelepon balik panggilan telepon yang diabaikannya saat berjalan.

“Mereka tak ingin ocehan melalui telepon atau ocehan langsung dengan koleganya mengganggu orang lain,” ujar Akiko.

Selain tak ngobrol dan berkomunikasi lewat bimbit dengan suara yang mengundang perhatian orang lain, apalagi terbahak, orang-orang Jepang juga tidak merokok sambil berjalan dan di dalam kendaraan.

Di sepanjang pedestrian, dalam jarang tertentu terdapat smoking area dan diberikan ruang khusus semacam kios. Dan Anda tidak bisa berlama-lama karena harus bergantian dengan orang lain yang antre.

Anda bisa temukan ini di berbagai tempat, mulai dari bandar udara, stasiun kereta, kawasan pertokoan dan perkantoran.

Dekat tempat merokok itu juga tersedia tempat minum dan makan cemilan. Hanya di tempat-tempat khusus saja (seperti kafe dan restoran) yang menyediakan fasilitas khas untuk mereka yang merokok, menghisap cerutu dan menenggak wine. Tentu dengan biaya yang mahal.

Kecuali di Yokohama yang relatif lebih ketat dan keras, di Tokyo atau Osaka, Anda masih menemui tempat-tempat khas bagi perokok. Terutama ketika musim semi dan musim dingin.

Dalam hal ini, kota-kota besar di Jepang jauh lebih baik dengan beberapa kota besar di Amerika Serikat, khasnya New York yang masih memberi ruang lumayan ‘luas’ untuk para penikmat minuman dan cemilan sambil berjalan. Juga tempat merokok.

Bungkus rokok di Jepang relatif sama dengan negara-negara Asia lain, dihiasi gambar menyeramkan, beda dengan bungkus rokok yang dijual di kedai-kedai New York.

Merokok sambil berjalan di pedestrian, bagi masyarakat Jepang, sangat tabu. Di beberapa lokasi, terutama di kota-kota tertentu, seperti Yokohama bisa jadi dianggap tindakan ilegal.

Selain alasan perlunya udara segar untuk semua orang, menurut Akiko, Jepang sedang terus meningkatkan kualitas udara bersih. Mulai dari asap rokok sampai asap kendaraan bermotor dikendalikan sedemikian rupa.

Tempat-tempat merokok tetap disiapkan, dengan asumsi yang secara joke, sungguh menarik. “Tempat-tempat itu merupakan ruang katarsis untuk mereka yang stres dan depresan,” kata Akiko.

Tempat-tempat itu disediakan dengan posisi yang jauh dari lalu lintas. Mereka juga disediakan wadah khusus untuk membuang rokok dan cigar mereka.

Sekali-sekala, ketika ke Jepang perhatikanlah hal-hal sedemikian. Banyak hal positif yang bisa dipraktikan di Indonesia, meski musim kita berbeda. Dengan iklim tropik, kita hanya mengenal musim penghujan dan kemarau, yang membuat budaya dan orientasi hidup kita juga berbeda.| 

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
Polhukam
27 Jan 21, 08:20 WIB | Dilihat : 85
Impeachment Memburu Donald Trump
26 Jan 21, 18:47 WIB | Dilihat : 108
Rasisme Adalah Kejahatan Kemanusiaan
07 Jan 21, 23:59 WIB | Dilihat : 507
Presiden Sumber Masalah Krisis Politik
07 Jan 21, 11:15 WIB | Dilihat : 216
Presiden Bangor Hasut Pendukungnya Melawan Suara Rakyat
Selanjutnya