Jangan Lelah Mewujudkan Jakarta Tangguh

| dilihat 310

Bang Sém

Jakarta, 22 Juni 2020, sebagai kota, genap berusia 493 tahun. Tapi, kehidupan di kota ini, sudah berbilang masa sebelumnya. Sejak 21 Juni 1527, ketika Sunda Kelapa berubah menjadi Jayakarta, terlalu banyak peristiwa yang tercatat dalam sejarah dan beragam cerita di kota ini.

Dari sudut mana pun cerita hendak dimulai, esensinya tetap sama. Kota yang kemudian menjadi ibukota negara Republik Indonesia dan Asia Tenggara, ini merupakan kota yang mempunyai daya tarik luar biasa. Menjadi kota tujuan berbagai ekspedisi penjelajahan Barat, yang kemudian menjajahnya silih berganti.

Jakarta, sejak Sunda Kelapa adalah juga bandar strategis dalam lintas perdagangan dunia, baik dengan bangsa-bangsa di Barat, Jazirah Arabia, India, China, dan berbagai bangsa di Asia Timur.

Para Saudagar -- dan kemudian para ilmuwan dan pemuka agama -- menempatkan pula kota ini sebagai pintu masuk untuk melakukan syiar dan misi zending.

Itu sebabnya Jakarta menjadi kota utama di Indonesia yang mengekspresikan multiculturalism sebagai konsekuensi logis dari pluralisme yang menyertainya.

Dalam konteks kebangsaan, Jakarta merupakan kota yang nyata memberikan cermin besar bagi siapa saja untuk mengenali dan mendalami ragam perjuangan bangsa yang mempertemukan dasar keislaman, kebangsaan, dan keilmuan dalam satu tarikan nafas. Religiusitas berdimensi kemanusiaan, keragaman yang bermuara pada harmoni persatuan, demokrasi khas Indonesia yang bertumpu kerakyatan, musyawarah, dan mufakat melalui perwakilan dan keterwakilan. Kesemuanya bermuara pada perjuangan hakiki untuk mewujudkan keadilan berdimensi kesejahteraan, yang boleh juga dikatakan: kesejahteraan berbasis keadilan.

Rangkaian panjang perjuangan bangsa Indonesia yang tercermin di Jakarta menunjukkan tidak hanya demokrasi kebangsaan, demokrasi kerakyatan, dan demokrasi berkeadilan yang disuarakan Bung Karno, sebagai pemahaman ulang atas esensi nilai perjuangan politik yang diajarkan Haji Omar Said Tjokroaminoto (Guru Utama bangsa) kepadanya (sosialisme religius, sosialisme kebangsaan, dan sosialisme kerakyatan) dan teman 'seperguruannya' di Penèlèh, Surabaya (termasuk RM Kartosuwiryo dan Semaun).

Dinamika perjuangan di Jakarta, tak pernah lari dari dimensi kebangsaan, yang jauh dari rasisme, sektarianisme, dan polarisasi dungu. Toleransi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan budaya menjadi darah di nadi warga Jakarta.

Para pemimpin politik sangat berwawasan kebangsaan, karena mereka bukan sekadar politisi melainkan negarawan. Para pemimpin sebagai politisi bisa berdebat keras di parlemen, memperjuangan ideologi partainya masing-masing, tetapi di luar sidang mereka merupakan para sahabat yang satu dengan lainnya saling karib dan menghormati satu dengan lainnya.

Moh Natsir - Pemimpin Masyumi berkarib dengan IJ Kasimo - Pemimpin Partai Katholik, Ahmad Subardjo yang nasionalis, Sjahrir yang Sosialis, Soekarni yang Murba, Wahid Hasyim yang Nadhlatul Ulama, Buya Sutan Mansyur yang Muhammadiyah, untuk menyebut sedikit dari banyak tokoh negarawan kala itu.

Karenanya, bagi mereka yang lahir dekade 50-60 an di Jakarta, serta melewati masa remaja toleransi dalam proses interaksi sosial, merupakan bagian dari irama kehidupan sehari.

Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, lambang Garuda dan merah putih, hidup di dalam jiwa dan batin mereka, yang dalam kehidupan beragama, masing-masing sungguh fanatik.  Dalam kehidupan sehari-hari, mereka 'nongkrong' dan 'rantang-runtung' bareng.  Tak ada yang mempersoalkan etnis ataupun ras.

Kebahlulan dan kedunguanlah yang kemudian memantik dan meletupkan isu intoleransi, serta beragam isu 'bele-bele' lainnya yang norak, yang belakangan disuarakan oleh mereka yang 'sok tahu' tentang Jakarta, yang tak pernah mengalami insahnya harmonitas anak Jakarta. Karenanya, wajar bila anak-anak Jakarta, khasnya Anak Betawi melihat mereka sebagai 'anak-anak udik yang sepa.' Sikap egaliter dan kosmopolit Anak Betawi, pasti geli' alias jijik melihat perilaku 'anak-anak udik' yang tidak pernah tahu hal ihwal kelompok-kelompok anak muda '234 SC,'  'Bearland,' 'Legos,' 'Sartana,' 'Rasela,' 'Bonanza,' 'Gemnet,' 'Betmen,' 'Kwini,' 'Galup,' 'Radal,' dan lain-lain.

Polarisasi pasca Pilkada Jakarta 2013 dan Pilkada Jakarta 2016 yang dipicu oleh cyberwarrior dan kemudian menjadi buzzer, yang dipelihara para politisi dan petualang yang tidak percaya diri dalam berkompetisi, menjual isu-isu intoleransi dan sejenis yang busuk.

Terpilihnya Anies Sandi dalam Pilkada Jakarta 2016, sebenarnya mengembalikan Jakarta sebagai kota yang beradab, dimulai dari sikap 'yang menang merangkul,' dan tak risau menghadapi hujatan (bahkan cercaan). Anies dengan orientasi keadilan dan kesejahteraan yang jelas, berbasis proporsionalitas, sekaligus menempatkan demokrasi sebagai cara mencapai harmoni kebangsaan, memungkinkan hidupnya kembali gaya hidup Jakarta yang harmonis, kompak, dan kosmopolit.

Serangan nanomonster COVID-19, bahkan membuka mata untuk menghidupkan kembali peradaban normal Jakarta, setelah sekian lama diganggu keriuhan politik yang membuat suasana -- termasuk hubungan sosial -- yang abnormal. Anies menghidupkan kebiasaan berkontribusi di Jakarta, ketika mengintroduksi KSBB (Kontribusi Sosial Berskala Besar) saat dia -- sebagai Gubernur Jakarta -- memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Anies sangat paham, bagaimana membaca tanda-tanda zaman, karena pandangannya yang visioner. Hal itu tercermin dari sesanti Jakarta Tangguh : Aman, Sehat, Produktif, dilandasi oleh kesadaran kolektif seluruh warga untuk meningkatkan disiplin pribadi dan disiplin sosial, menjaga lingkungan sosial masing-masing, termasuk ikhtiar 'melayani itu mulia' di lingkungan aparatur sipil negara (ASN) Pemprov DKI Jakarta.

Ketangguhan Jakarta juga mesti ditandai dengan perubahan  kebiasaan gaya hidup yang sehat (jasmani - rohani) dengan penguatan nilai religius, menjauhkan diri dari segala hal yang dilarang Tuhan, tak terkecuali penguatan sistem kesehatan dan penguatan dukungan terhadap petugas kesehatan dan kebersamaan melawan COVID-19.

Setarikan nafas, terus memelihara kecerdasan, kreativitas, inovasi, bahkan invensi untuk tetap hidup produktif, sekaligus bermanfaat lebih luas terhadap orang banyak.

493 tahun adalah momentum tepat bagi Jakarta untuk melakukan 're-Think-ing Jakarta,' dengan melakukan berbagai aksi transformatif, khasnya dalam konteks bagaimana memimpin kota. Mulai dari melayani rakyat secara adil dan proporsional, tanpa kehilangan integritas;  digital oriented development, sebagai masa depan yang harus diantisipasi. Juga transformasi dari pembangunan monosentrik ke pembangunan polisentrik untuk kelak bergerak ke pembangunan mikrosentrik. Pun, transformasi pelayanan, dari penyediaan layanan dasar yang kurang memenuhi (underprovided sevices) ke pelayanan yang sangat memenuhi (well provided) apa yang diperlukan (bukan sekadar yang diinginkan) warga, menuju layanan perkotaan yang tangguh (resilient services).

Hadirnya A Riza Patria sebagai Wakil Gubernur Jakarta yang paham memainkan peran sebagai Wakil dalam konteks keseluruhan kepemimpinan Jakarta, akan memperkuat proses transformasi itu. Termasuk menambah energi bagi percepatan transformasi yang mendahulukan rakyat, mengutamakan keadilan dan kesejahteraan. Transformasi yang akan bermuara pada pencapaian kondisi, maju kotanya, bahagia warganya.

Jangan pernah lelah mewujudkan Jakarta Tangguh, jangan pernah lengah mewujudkan harmoni kebangsaan, jangan pernah latah dengan jargon yang tidak jelas dalam merawat Jakarta sebagai kota perjuangan menuju kehidupan universe prosperity, setelah COVID-19 memperlihatkan kepada kita bagaimana rapuhnya globalism capitalistic dan mondialism socialistic. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 420
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 414
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 367
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya
Lingkungan
10 Agt 20, 15:39 WIB | Dilihat : 90
Melihat Ferry Membayangkan Cainis dan Bolsonaroan
17 Jul 20, 00:15 WIB | Dilihat : 210
Budaya Pesisir dan Budaya Sungai Bertemu di Ancol
11 Jul 20, 20:32 WIB | Dilihat : 387
Nikmati Ancol, Cocol yang Ngocol
21 Jun 20, 12:43 WIB | Dilihat : 311
Jangan Lelah Mewujudkan Jakarta Tangguh
Selanjutnya