Transformasi Jakarta

Mencermati Akselerasi Anies Baswedan Wujudkan Visi Jakarta

| dilihat 417

Catatan Bang Sém

siang jakarta

sesungguh transformasi

anies baswedan

Siang menjelang petang. Saya keluar dari penghentian akhir MRT (Moda Raya Transportasi) Bundaran Hotel Indonesia, khasnya di sebelah Kedutaan Besar Jepang, karena tujuannya memang mau ke situ.

Dua cucu saya berlari berkejaran di atas pedestrian yang kian manusiawi bagi pejalan kaki dan jauh dari hiruk pikuk tuter dan teriakan kondektur.

Kala memandang ke arah Tugu Selamat Datang, mata yang diciptakan Tuhan untuk melihat realitas pertama sudah menunjukkan, transformasi Jakarta berjalan sesuai dengan esensinya.

Transformasi adalah perubahan dramatik yang cepat terlihat dan terasakan hasil positifnya dibandingkan keadaan sebelumnya.

Sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sedang mengemban tugas tak ringan. Mewujudkan peran utama DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan Negara Republik Indonesia -- sebagaimana dimaksudkan Undang Undang Dasar 1945 --, yang sekaligus merupakan Pusat kegiatan ekonomi regional, nasional, dan internasional, lantaran lebih dari 80 persen kegiatan ekonomi global yang ada di Indonesia, bertumpu di Jakarta.

Tak hanya itu, Anies juga mengemban tugas, sungguh mewujudkan keberadaan DKI Jakarta sebagai ibukota ASEAN (Asia Tenggara) yang sekaligus merupakan salah satu sentra aktivitas politik Asia Pasifik. Sejak terjadi reorientasi ekonomi dan politik dari Amerika - Eropa ke Asia Pasifik, peran Jakarta menjadi sangat strategis.

DKI Jakarta juga merupakan pusat kegiatan budaya -- dalam makna yang luas dan dalam makna yang sangat sempit --, sekaligus pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan manifestasi pengembangan teknologi, dan tentu merupakan rumah utama intelektualitas dan keberadaban.

Tentu, DKI Jakarta juga merupakan gerbang utama Indonesia dalam pergaulan global. Anies sendiri menyadari, bahwa kita adalah warga global dan tak bisa hidup sebagai katak dalam tempurung, apalagi berudu dalam tempurung kaca.

Ketika kampanye menjelang Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) DKI Jakarta 2016, Anies menawarkan sesanti yang merangkum visi-nya bersama Sandiaga Uno (kala itu) : Maju Kotanya, Bahagia Warganya.

Transformasi yang nampak di mata bermuara kepada capaian 'maju kotanya,' ujung akhir pencapaiannya adalah, bahagia warganya. Ruhnya adalah keadilan sosial, yang di hidupkan oleh spirit keimanan - religiusitas yang kuat, kemanusiaan, persatuan kebangsaan, demokrasi berbasis musyawarah - mufakat (harmoni).

Secara tekstual, rumusan Visi Anies yang telah berubah menjadi Visi Pemerintah DKI Jakarya ( Peraturan Daerah No.1/2018 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2017) adalah “Jakarta kota maju, lestari dan berbudaya yang warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan dan kesejahteraan bagi semua.”

Inilah sedikit visi yang tepat (dalam perumusannya dan artikulasinya), visi sesungguh visi, bukan deskripsi fantacy trap. Visi ini, mengandung manifestasi ideologi inti (Pancasila), nilai inti (keadilan dan kesejahteraan sebagai pilar keberadaban), yang sekaligus menawarkan tantangan yang harus menjadi sentra kepedulian (focal concern) lima tahun ke depan: kota maju, lestari, dan berbudaya. Dan membuka ruang partisipasi kepada warga, yang sekaligus menganggit egaliterianisma dan kosmopolitanisma, tak hanya metropolitas.

Tantangan utamanya, persis kata Anies, "keadilan dan kesejahteraan.' dengan penampang ketimpangan yang nyata. Karenanya, formulasinya adalah kebahagiaan, yang boleh disebut sebagai cara mewujudkan hidup hasanah: bahagia di dunia dan di akhirat, bebas petaka (termasuk kemiskinan struktural, kemiskinan kultural, baik secara konsisten maupun persisten).

Dengan begitu, Visi Jakarta 2022 itu merupakan visi bersama, collective vision.

***

maju kotanya

bahagia warganya

senja jakarta

Siang beranjak pergi. Petang menghantar senyuman. Dua cucu saya kembali berlarian, seolah memburu senja. Riang ria berlarian di antara warga kota, pejalan kaki yang sibuk dengan bimbit (telepon selular).

Jalan Thamrin agak padat, tapi lalu lintas lancar. Kami melintas pinguin cross, dari arah Barat ke Timur. Ambil masa sekejap, memotret lingkungan pusat kota yang kian molek.

Di atas bis kota menuju ke Selatan, melintasi Jalan Sudirman, cucu pertama saya bertanya, "Njid.., cepat sekali perubahan Jakarta. Gubernurnya johan silap mate (ilusionis) ker?" Saya terkekeh kecil dan menjelaskan hal paling sederhana kepadanya: bekerja dengan cara, bukan alasan.

Anies Baswedan sebagai Gubernur memang gudbener yang mampu mengubah orang-orang yang gakbener, menjadi bener.

Dalam filosofi Sunda, Anies berikhtiar mewujudkan jawaban atas pertanyaan asasi: mudu kumaha nu jadi raja? (mesti bagaimana menjadi pemimpin).

Jawabnya adalah “Ari raja teh mudu bener. Nyaho dibener, nyaho disalah. Nyaho dihade, nyaho dihenteu pihadeun. Ulah eudeuk digawéeun. Ari nyaho teu pihadeeun, teu pihadeeun ka nu diurus. Ulah bener bae pieun nu ngurus. Ulah hade pieun nu ngurus wungkul.” Yaitu, berani menegakkan kebenaran dan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mampu menjadi teladan bagi rakyat.

Anies memulai dari menata lebih dulu dirinya di garis kebenaran, dan menentukan musuh utamanya bukan manusia, melainkan ketidak-adilan. Anies tertampak sadar sepenuh hati, tak kan pernah mampu mengatasi persoalan laten itu. Karena ketidak-adilan merupakan persoalan bersama, maka harus diatasi bersama.

Di luar aksi kepemimpinannya di Balaikota pertama kali, "Semua hal yang berkaitan dengan urusan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan rakyat harus diputuskan langsung oleh Gubernur."

Dengan begitu Anies tahu, persoalan asasi yang harus diatasinya, tanpa harus sentak-sengor (marah-marah), lantas memformulasi mimpi yang berubah menjadi imajinasi dan akhirnya visi, menjadi aksi kongkret. Kemudian menjadi inspirasi banyak orang baik.

Anies adalah pemimpin -- seperti ujaran John Quincy Adams, bahwa pemimpin sesungguh pemimpin, menginspirasi orang lain untuk bermimpi lebih banyak dan mengubahnya menjadi imajinasi; belajar lebih banyak untuk berbuat lebih banyak, dan menjadi pelaku aksi kebaikan dan kebajikan lebih banyak.

Visi Jakarta 2022 dengan sesanti hemat kata kaya makna, "Maju Kotanya, Bahagia Warganya," lewat berbagai forum interaksinya dengan beragam kalangan, Anies meletakkan visi untuk menciptakan tujuan bersama yang di dalamnya mengalir 'rasa tujuan' untuk semua orang.

Anies mendistribusi visinya yang meyakinkan di lingkungan Pemprov DKI Jakarta sebagai timnya. Lantas bekerja bersama staf untuk mendapatkan umpan balik, ide, dan pandangan kolektif, guna untuk menciptakan tujuan bersama dengan menyelaraskan tujuan individu, mimpi dan imajinasi ke dalam visi itu.

Tentu tak semua orang di lingkungan birokrasi Pemprov DKI Jakarta -- yang terbiasa bergelap-gelap dalam terang -- mau dan mampu memahami, lalu melakukan reorientasi. Tapi, sebagian besar birokrat berkomitmen mencapai hal yang sama dengan apa yang dipikirkan Anies, dan ditumpahkan ke dalam rencana program dan rencana aksi.

Model komunikasi Anies yang memilih cara 'bil hikmah wal mauijzatil hasanah,' - bijak dan dengan cara baik, bahasa terang dengan kalimat yang baik, tetapi tetap terasa ketegasannya, maka kejelasan tujuan capaian aksinya mudah dipahami dan terpahami.

Mereka yang paham, menjalankan tugas dengan penuh semangat dan tekad mewujudkan rencana melaksanakan misi Pemprov DKI Jakarta:

a. Menjadikan Jakarta kota yang aman, sehat, cerdas, berbudaya, dengan memperkuat nilai-nilai keluarga dan memberikan ruang kreativitas melalui kepemimpinan yang melibatkan, menggerakkan, dan memanusiakan;

b. Menjadikan Jakarta kota yang memajukan kesejahteraan umum melalui terciptanya lapangan kerja, kestabilan dan keterjangkauan kebutuhan pokok, meningkatkan keadilan sosial, percepatan pembangunan infrastruktur, kemudahan investasi dan berbisnis, serta perbaikan pengelolaan tata ruang;

c. Menjadikan Jakarta tempat wahana aparatur negara yang berkarya, mengabdi, melayani, serta menyelesaikan berbagai permasalahan kota dan warga secara efektif, meritokratis, dan berintegritas;

d. Menjadikan Jakarta kota yang lestari, dengan pembangunan dan tata kehidupan yang memperkuat daya dukung lingkungan dan sosial;

e. Menjadikan Jakarta, ibukota yang dinamis sebagai simpul kemajuan Indonesia yang bercirikan keadilan, kebangsaan dan kebhinekaan;

Anies melakukan aksi sebagai pemimpin yang tiada tanding, tiada banding. Menurut Ken Blanchard, "Para pemimpin terhebat, menggerakkan banyak orang dengan (cara) menyatukan orang-orang di sekitar melaksanakan misi, dan mewujudkan visi sebagai visi bersama."

Aksi yang dilakukan Anies Baswedan, tentu akan mengundang beragam kalangan berkontribusi. Termasuk mereka yang selama ini, baru sekadar mampu mencerca, menghina, memfitnah, dan membaling (melontar) dirinya dan kebencian.

Kalangan yang karena kepentingannya menolak keadilan dan menjadikan Anies sasaran kebencian dan murka, tak akan pernah paham, bahwa makin kerap mereka melakukan aksi, makan tertampak kejahilan (kepandiran) dan kejahatannya.

Anies cukup merespon dengan senyuman, tetapi jutaan warga Jakarta yang memilihnya sebagai Gubernur, akan bereaksi dengan caranya masing-masing.

Bagi Anies, cukup senyuman dan kehendak baik 'menghimpun yang terserak, mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang sudah dekat, untuk berkomitmen saling memuliakan. Wujudnya, kontribusi nyata melaksanakan misi, mewujudkan visi, dalam akselerasi menghadirkan sesanti "maju kotanya, bahagia warganya," secara nyata.

Membangun DKI Jakarta sesuai dengan yang diimpikan Husni Thamrin dan Bung Karno, serta rakyat - khasnya kaum Betawi --, setelah melalui proses panjang sejak Gubernur Pertama DKI Jakarta - Soewirjo (masih dengan nomenklatur Walikota), akhirnya menemukan formatnya di tangan Gubernur Anies Baswedan.

mentari siang

gerak maju jakarta

visi bersama

 

@semhaesy_jakarta | 29719

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
18 Agt 19, 21:05 WIB | Dilihat : 710
Kemerdekaan Adalah Jiwa Raga Sehat Tegakkan Keadilan
13 Agt 19, 20:56 WIB | Dilihat : 678
Gubernur Anies Undang Warga Jakarta Nonton JMF2019
12 Agt 19, 22:43 WIB | Dilihat : 400
Pesona Lipet Gandes dan Topeng Jantuk
04 Jul 19, 13:22 WIB | Dilihat : 762
Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan
Selanjutnya
Polhukam
21 Agt 19, 07:58 WIB | Dilihat : 396
50 sampai 100 Juta Akun Medsos Duplikat dan Palsu
16 Agt 19, 00:14 WIB | Dilihat : 614
Bersatulah Bangsa Melayu
15 Agt 19, 11:18 WIB | Dilihat : 664
Belajarlah Becermin Sebelum Buli Anies
11 Agt 19, 16:14 WIB | Dilihat : 277
Setiap Pejuang Akan Diuji
Selanjutnya