Gubernur Anies Jelaskan Soal Ancol

Nikmati Ancol, Cocol yang Ngocol

| dilihat 553

Bang Sèm

Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) kian 'bahenol' di usianya yang 28 tahun. Berbagai sarana dan prasarana dibenahi. Di banyak kesempatan, saya sering kemukakan, bila ingin melihat etalase pariwisata Indonesia sambil membayangkan  era mendatang, era Society 5.0 berbasis IoT (Internet on Think) dan AI (Artificial Intelligent), lihatlah Ancol.

Ancol sebagai salah satu sentra wisata terkemuka ASEAN mulai dibuka kembali selepas berlakunya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Selain menerapkan protokol Covid-19 yang ditetapkan badan kesehatan dunia (WHO), TIJA langsung menerapkan pola transaksi berbasis blockchain, meski baru pada pembelian tiket masuk.

Saya yakin, ini langkah awal bagi Ancol memulai pola transaksi peer to peer, yang kelak bisa terkoneksi dengan sistem Jakarta Smart City. Ini menunjukkan, manajemen TIJA mampu merespon lebih cepat pola perubahan perilaku dan budaya masyarakat untuk melanjutkan kehidupan normal selama masa pandemi COVID-19. Mudah-mudahan tidak kembali ke kehidupan abnormal, yang setidaknya sudah berlaku selama lebih tujuh dekade. Khasnya pola transaksi yang tidak melulu berorientasi profit, tetapi sekaligus berorientasi benefit.

Pembenahan sarana dan prasarana disertai dengan perubahan tata kelola pelayanan kepada konsumen akan memberikan nilai tambah. Terutama, ketika konsumen mendapatkan wahana bernilai edukasi (mengubah pola perilaku) dengan menyediakan ragam wahana edutainment, ruang refreshing dan re-creating (tak hanya rekreasi) dalam konteks interaksi manusia dengan alam. Bahkan, kelak akan lebih lengkap dengan ketersediaan ruang kontemplasi (masjid terapung) yang secara spiritual akan memberi bobot relijiusitas yang penting. Khasnya sebagai recovery kedalaman insaniah, setelah nanomonster COVID-19 berlalu.

Terkait dengan hal ini, pembenahan sistem sanitasi dan pemodelan Ancol sebagai sentra wisata berbasis kesehatan lingkungan dan kematangan budaya, akan menjadi sentra penting untuk reedukasi sosial dalam membentuk sosio habitus yang semestinya. Dikaitkan dengan prinsip-prinsip dasar Sustainable Development Goals, misalnya, Ancol bisa menjadi model sentra wisata sebagai lingkungan sehat, lingkungan cerdas, dan lingkungan mampu secara ekonomi.

Dari berbagai informasi yang saya peroleh tentang pembenahan selama berlangsung PSBB yang disertai dengan KSBB (Kontribusi Sosial Berskala Besar), TIJA sebagai sentra wisata pertama di Indonesia menerapkan imagineering (yang masih dipertahankan oleh Waltdisney - World), bisa memperluas pemasaran sosialnya ke tengah wired society. Tak hanya terkoneksi dengan Waltdisney (setidaknya Tokyo, Paris), Legoland Johorbahru, Ferrari World Abu Dhabi, tetapi juga dengan simpul-simpul wisata kreatif dalam negeri, seperti Museum Musik dan Museum Angkutan (Batu, Malang) dan lainnya.

Dengan cara ini, boleh jadi, akan terbangun kesadaran kolektif manajemen taman wisata dan konsumen wisata untuk menghidupkan pola wisata yang sehat, nyaman, dan aman. Saya sepaham dengan pandangan Martin Lewison, seorang profesor manajemen bisnis di Farmingdale State College di Long Island, New York, yang menawarkan perspektifnya sebagai "Profesor Roller Coaster."

Lingkungan Baru yang Menjanjikan

Menurut Lewison, sekarang merupakan waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa kita, sebagai tamu taman wisata, sering tidak menyadari betapa banyak pekerjaan yang terjadi di balik layar di tempat-tempat wisata yang kita kunjungi. Bahkan taman wisata regional yang lebih kecil tetapi diselenggarakan melalui manajemen operasi yang cukup kompleks, dan Covid-19 telah menambahkan lapisan kerumitan yang intens atas apa yang sudah merupakan operasi yang rumit.

Penerapan protokol Covid-19 yang berlaku bagi semua orang, karyawan pelayanan mulai dari pintu masuk, wahana, karyawan administrasi, petugas kebersihan lingkungan, dan pengunjung, memang harus memasuki situasi yang dianggap rumit. Mulai dari pemeriksaan suhu, jarak fisik satu sama lain, memakai masker dan mengambil makanan dan istirahat dalam situasi yang aman.

Kita mesti jernih melihat realitas taman wisata harus mengawali kembali aktivitasnya menjadi ruang katarsis bagi masyarakat luas di tengah beragam kerancuan informasi yang buruk akibat epideformasi melalui media sosial.

Lewison melihat, taman wisata menghadapi tantangan besar dan mereka (manajemen pengelola) melakukan pekerjaan luar biasa, sehingga mampu menciptakan lingkungan baru yang lebih menjanjikan harapan dan optimisme atas kelangsungan hidup di tengah situasi krisis kesehatan yang sangat tidak menentu.

Karenanya, siapa saja yang tak paham situasi alias pandir, jangan ngocol. Tak salah juga, ketika manajemen Ancol mencocol yang ngocol, dengan meminjam beberapa saran Lewison. Khasnya untuk mereka yang hendak berkunjung pada hari Sabtu dan Ahad.

Kata Lewison, "Pastikan bahwa Anda mengikuti dengan cermat semua peraturan dan regulasi berperilaku di taman wisata, dari rambu hingga petunjuk yang tersedia. Jika Anda tidak yakin, tanyakan petugas." Konsumen, harus siap untuk menerima kenyataan, beberapa wahana atraksi tidak tersedia untuk sementara waktu. Akan halnya wahana yang beroperasi, konsumen juga harus siap melihat menerima beberapa perubahan.

Selebihnya, ya.. pastikan, Anda memiliki masker, sepatu, tabir surya, topi, pembersih tangan (untuk berjaga-jaga, meskipun taman wisata telah menyediakannya) yang nyaman. Lantas, pastikan  pemesanan tiket, melalui internet. Sambil kita sarankan, supaya manajemen Ancol, juga menyediakan fitur untuk masuk wahana, seperti fitur  isi pulsa seluler. Tentu, dengan perubahan sistem, manajemen perlu memastikan,  semua hal normal selama pandemi Covid-19, menjadi kebiasaan yang meningkatkan kualitas hidup kita, termasuk sukacita berwisata di taman wisata. Pastikan, setiap konsumen yang menikmati TIJA, merupakan salah seorang dari sedikit yang beruntung yang bisa bikin 'cemburu.'

Upaya Ancol meningkatkan fasilitasnya, termasuk rencana pembangunan Museum Rasulullah SAW, mesti didukung. Apa yang pernah diimpikan Gubernur Ali Sadikin, yang beberapa langkah perluasan Ancol sudah dilakukan di era Gubernur Sutiyoso, tidak sama dengan apa yang disebut sebagai 'proyek reklamasi pantai utara Jakarta.'

Bukan Proyek Reklamasi

Simak penjelasan Gubernur Anies Baswedan, seperti ini :

"Saya akan menjelaskan apa yang sedang terjadi di kawasan Ancol. Yang terjadi ini berbeda dengan reklamasi yang Alhamdulillah sudah kita hentikan dan menjadi janji kita pada masa kampanye itu.

"Jakarta ini terancam banjir, salah satu sebabnya karena ada waduk, sungai yang mengalami pendangkalan atau sedimentasi. Ada 13 sungai kalau ditotal panjangnya lebih 430 KM, ada lebih dari 30 waduk dan secara alami mengalami sedimentasi karena itulah kemudian waduk, sungai itu di keruk.

"Dikeruk terus menerus dan lumpur hasil kerukan itu dikemanakan? Lumpur itu kemudian ditaruh di kawasan Ancol dan proses ini sudah berlangsung cukup panjang bahkan menghasilkan lumpur yang amat banyak.

"3,4 juta meter kubik (M3), lumpur ini kemudian dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan Ancol. Jadi ini adalah sebuah kegiatan untuk melindungi warga Jakarta dari bencana banjir, ini berbeda dengan proyek reklamasi yang sudah dihentikan itu.

"Itu bukan proyek untuk melindungi warga Jakarta dari bencana apapun. Di sana ada pihak swasta berencana membuat kawasan komersial membutuhkan lahan lalu membuat daratan,  membuat reklamasi. Jadi, di situ bahkan ada unsur menerabas ketentuan lingkungan hidup, ada unsur hilangnya hajat hidup para nelayan karena sebagian berhadapan dengan perkampungan nelayan misalnya di Kamal Muara, di Muara Angke lalu ini juga berhadapan dengan kawasan Cengkareng Drain dan muara sungai Angke.

"Efeknya mengganggu aliran sungai ke laut lepas, nah kegiatan reklamasi yang 17 pulau itu (pantai) sudah dihentikan dengan cara mencabut 13 izin atas pantai/pulau sehingga tidak bisa dilaksanakan.

"Lalu empat (pulau) yang sudah terlanjur harus mengikuti semua ketentuan hukum dan juga ikut memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Kembali kepada soal Ancol ini lumpur hasil pengerukan sungai dan waduk itu memang menambah lahan bagi Ancol dan penambahan lahan itu istilah teknisnya adalah reklamasi, tapi beda sebabnya, beda maksudnya, beda caranya, beda pemanfaatannya dengan kegiatan yang selama ini kita tentang reklamasi 17 pulau itu.

"Lalu untuk memanfaatkan lahan yang sudah terbentuk itu yang ukurannya 20 hektar itu Pemprov DKI harus memberikan alas hukum untuk memenuhi syarat legal administratif untuk itulah kemudian keputusan Gubernur nomor 237 tahun 2020 dikeluarkan sehingga tanah itu bisa dimanfaatkan dan bisa dimanfaatkan segera untuk kepentingan publik, mungkin jadi pertanyaan bila yang di butuhkan  itu hanya lahan 20 hektar. Kenapa pemberian izinnya seluas 155 hektar?

"Jadi begini, pengerukan ini akan jalan terus, pengerukan sungai, waduk bahkan ke depan penggalian terowongan MRT, tanahnya pun akan ditimbun di tempat ini. Karena itulah ada kajiannya dan dari hasil kajian AMDAL lokasi yang dibutuhkan adalah sebesar 155 hektar, 120 hektar di sisi timur dan 35 hektar di sisi barat yang juga disediakan kawasan yang nanti akan bersebelahan dengan stasiun MRT di Ancol.

"Lalu, selama 11 tahun ini berjalan tenang-tenang saja, mengapa? Ya.. sederhana, karena penimbunan ini tidak mengganggu kegiatan nelayan. Kawasan ini jauh dari perkampungan nelayan. Kawasan ini berdampingannya dengan apa? Berdampingan dengan kawasan industrI Ancol dengan Pelabuhan Tanjung Priok, dengan daerah pantai Taman Impian Jaya Ancol dan terkait lingkungan hidup, pihak Ancol diwajibkan untuk melakukan AMDAL dan semua kewajiban turunannya.

"Karena itu saya tegaskan bahwa pelaksanaan pengembangan kawasan Ancol ini memang bukan bagian dari proyek reklamasi yang bermasalah itu dan di kawasan ini akan diambil 3 hektar dari 120 yang direncanakan dari 20 (hektar) yang sudah ada hanya 3 hektar untuk membangun Museum Sejarah Nabi, lahan yang sekarang terbentuk akan dimanfaatkan untuk pengembangan, dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas dan bukan cuma untuk Museum Sejarah Nabi tapi ini menjadi kawasan pantai terbuka untuk masyarakat dan kita ingin kawasan Ancol menjadi yang terbesar dan yang terbaik sebagai kawasan liburan di Asia." |

Editor : Web Administrator | Sumber : CNN Travel, TVOne 110720
 
Budaya
21 Okt 20, 11:43 WIB | Dilihat : 113
Ronggeng Dulu dan Setelahnya
18 Okt 20, 19:10 WIB | Dilihat : 108
Reposisi Seni Budaya di Tengah Ketidakpastian
02 Okt 20, 22:21 WIB | Dilihat : 152
Seni Etalase Peradaban
Selanjutnya
Lingkungan
04 Okt 20, 19:49 WIB | Dilihat : 118
Bangkitkan Marwah Banténois
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 686
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
16 Agt 20, 12:41 WIB | Dilihat : 254
Wak Wak Gung
10 Agt 20, 15:39 WIB | Dilihat : 230
Melihat Ferry Membayangkan Cainis dan Bolsonaroan
Selanjutnya