Terowongan Dukuh

| dilihat 994

Bang Sém

Saya dan teman-teman kecil, menyebutnya Terowongan Dukuh. Inilah terowongan pertama yang kami kenal sejak kecil, karena di atasnya melintas jalan utama Jakarta: Sudirman - Thamrin.

Terowongan ini ada karena ada jembatan yang menghubungan Dukuh Atas dengan Dukuh Bawah, melintasi kanal banjir barat yang kelak terhubung dengan kanal Mookevaart di daerah pesing.

Terowongan Dukuh yang kini berwarna-warni bermandi cahaya, itu juga menghubungkan dua kawasan Menteng yang terpisah - Jalan Tanjung Karang dengan Jalan Blora yang tersambung oleh Jalan Kendal dan Krakatau (kemudian menjadi Jalan Latuharhary) hingga ke Menteng Tengulun, Pasar Rumput, Manggarai, dan Bearland.

Pembangunan Jalan Sudirman - Thamrin, termasuk jembatan Dukuh 'memisahkan' seirama dengan pembangunan kawasan Kebayoran Baru, kait berkait dengan pembangunan Gedung Bank Indonesia, Sarinah, Hotel Indonesia, Wisma Nusantara, Gelanggang Olahraga Senayan, dan jembatan Semanggi.

Belakangan hari, untuk menghempang banjir digali waduk Setiabudi di Timur - Selatan dan Waduk Melati di Barat - Utara yang langsung menyalurkan air limpasan ke kanal yang populer sebagai Kali Malang.

Di bantaran Jalan Thamrin mulai dari jembatan Dukuh Atas sampai Tosari - Wisma Kartika, ketika saya kecil masih menjadi lapangan Greyhound - pacuan anjing, yang kemudian diubah menjadi lapangan lawn tennis. Belakangan, di pojokan Jalan Tanjung Karang bersinggungan dengan tangga naik, dibangun kantor Kelurahan Kebon Melati dengan lurah terakhir yang berkantor di situ H. Dudung Abdul Hamid.

Di seberangnya -- yang kini Stasiun BNI City -- adalah tempat menurunkan pasir yang dibawa kereta dari arah stasiun Manggarai atau stasiun Tanah Abang.

Di sebelah Timur, persis di tepian Jalan Blora, juga terdapat tangga beton, yang sangat terkesan bagi keluarga, karena améh (tante) saya yang bungsu, jatuh terguling.

Terowongan itu menjadi penting karena mobilitas penduduk dari Jalan Martapura, Jalan Talangbetutu, Jalan Plaju, Jalan Sungai Gerong, dan Jalan Kotabumi berbelanja ke Pasar Blora di Jalan Kendal (posisinya sekarang persis seberang stasiun Dukuh Atas).

Di menteng 'blok seberang' ini tinggal sejumlah kalangan prominen. Di jalan Tanjungkarang tinggal Jenderal Maraden Panggabean, di sebelahnya - Jalan Sungai Gerong tinggal Jenderal Mantik, dan di ujungnya berhadapan dengan rumah keluarga Sitompul (orangtua pengacara Hotma Sitompul) di Jalan Martapura, tinggal Menteri Perdagangan Arifin Harahap yang bersebelahan dengan kediaman Effendy Siregar (ayah dari Mulya Siregar - salah satu penggerak bank islam di Bank Indonesia).

Di jalan Kotabumi tinggal Sjumandjaja  (sutradara film) dan Farida Sjuman (balerina), H. La' Bintang (ayah Zaenal Bintang - politisi Partai Golkar dan wartawan senior Ilham Bintang), dan ustadz Betawi yang sohor KH Yahya Muhajar (ustad Koya). Di Jalan Plaju, antara lain tinggal Jendral Sudjiman - yang kemudian menjadi Gubernur Kalimantan Barat.

Di Jalan Talangbetutu tinggal keluarga Iskak (aktris film beken: Indriati, Alice, dan Boy Iskak, juga Mieke Wijaya yang tinggal di keluarga itu), selang tiga rumah adalah kediaman Awaluddin Djamin - pernah Kapolri, Yusuf Ronodipuro - tokoh RRI yang kemudian menjabat Sekjend Depatemen Penerangan, Prof. Subekti yang sohor dalam perpajakan, Anwar Bey - salah satu oditur keren jaman Mahmillub (Mahkamah Militer Luar Biasa). Di situ juga tinggal sejumlah keluarga Sahanaya, Kadar Soewarsono, Duta Besar Autsralia. Saya tinggal di sudut Jalan Talang Betutu dengan Jalan Martapura, berdampingan dengan Diplomat Senior Kedutaan Malaysia.

Di belakang rumah adalah kawasan Dukuh Pinggir hingga ke Jalan Karet, di situ berdiri Sekolah Rakyat Swasta Nasional, yang siswanya datang dari Dukuh Atas, kawasan Blora, Kebon Kacang, Kebon Sayur, dan Setiabudi. Bahkan dari Karet Pedurenan, Pasar Rumput. Tak jauh di belakang rumah kami, tinggal sutradara Abdillah Harris yang juga pencipta lagu Kudaku Lari Kencang yang menikah dengan Junainah (tante Jun) puteri seniman Daeng Harris - mantan isteri pertama seniman sohor Melayu, P. Ramlee.

Sekali sepekan, ibu bersama tante Jun berbelanja di Pasar Blora. Khas di hari Sabtu atau Minggu, saya dan Arfan (anak Tante Jun dan Om Harris) diminta ibu berbelanja di Pasar Blora dengan membawa catatan belanja. Mulai dari sayur, kentang, bumbu dapur, daging, telur, tahu, dan lain-lain.   

Kami sering berlama-lama di terowongan, itu menunggu Bang Kacung atau Bang Jaok, tukang becak langganan asal Indramayu datang menjemput. Terowongan ini juga berkesan bagi saya, karena ke situlah saya selalu diminta ibu menghantar makanan untuk gelandangan setiap selepas salat Jum'at.

Di hari libur, selepas latihan tennis atau sepakbola tak jarang kami ke terowongan ini, melintasi rel kereta, melipir di dekat gubuk-gubuk gelandangan menyusuri Kali Malang.

Tak jauh dari situ ada makam keramat, entah makam siapa. Sering orang datang ke situ membawa dupa dan sesajen. Termasuk kopi. Pada hari-hari tertentu yang mereka anggap penting, sesajen berupa ancak beragam jenisnya. Termasuk telur bebek rebus berwarna coklat, yang begitu mereka pergi lantas disantap oleh anak-anak gelandangan di situ.

Salah satu hal yang terlupa adalah cerita-cerita tetangga belakang rumah tentang terowongan itu. Bang Janing dan isterinya, yang punya warung langsam di sudut jalan terusan Talang Betutu ke Dukuh Pinggir, melarang kami - anak-anak main di terowongan itu.

Bagi anak-anak seumuran kami kala itu, ceritanya menyeramkan, sekaligus bikin penasaran. Antara lain, banyak anak diculik dan kepalanya menjadi tumbal pada coran beton jembatan itu.

Setiap tahun, ketika musim penghujan tiba, yang juga musim ikan mabuk, seruan untuk tidak bermain di terowongan itu kian kerap diucapkan. Bang Janing dan istrinya yakin, hujan rinai adalah musim penjahat. Penculik anak beraksi bila hujan rinai turun tengah hari, dan maling akan beraksi bila hujan rinai turun malam hari.

Saya dan Arfan paling sering mengabaikan itu, dan bersama tetangga lain justru sering mengajak anak-anak belakang rumah menikmati sensasi hujan lebat di bawah terowongan, sambil teriak-teriak - karena asyik mendengarkan suara yang memantul dari tembok dan tiang-tiang kokoh terowongan itu.

Sekarang semua berubah. Terowongan itu menjadi terowongan bermandi cahaya lampu warna warni dengan sistem pengatur cahaya - dimmer yang otomatis. Instagramable dan padu padan sebagai spot yang mempertemukan tiga titik arus mobilitas manusia yang bergerak dari stasiun MRT Jalan Tanjung Karang, Stasiun BNI City dan Stasiun Kereta Dukuh Atas.

Beberapa hari lalu, ketika turun dari kereta bandara di Stasiun BNI City saya sempatkan beroleh pengalaman di terowongan itu. Sekali-sekala perlu juga di terowongan itu disiapkan level untuk pentas akustik, musik terowongan. Boleh juga musik keroncong. Ketika saya kecil, di terowongan itulah, para pemain keroncong yang akan berlatih di kediaman Om Husin Sanip dan Tante Darmi ngaso (rehat). Pun, pemain cokék dan gambang kromong melakukan hal yang sama, sebelum mereka tiba di kediaman Babah Oei - Dukuh Pinggir I untuk beraksi.

Anies dan jajaran Pemprov DKI Jakarta sudah mengubah terowongan yang sempat sumpek bertahun-tahun lamanya selama beberapa periode, menjadi spot menarik, tempat yang bisa menjadi setitik depongaso (rest point) bagi pejalan kaki. Terowongan warna-warni menjadi salah satu penanda transformasi -- perubahan dramatik -- wajah baru Jakarta yang mencerminkan 'maju kotanya, bahagia warganya.' Tabék. |

Editor : Web Administrator | Sumber : beberapa foto dari Youtube
 
Ekonomi & Bisnis
06 Nov 19, 11:12 WIB | Dilihat : 944
Penguatan Profesionalisme Transformasi BUMN
05 Nov 19, 11:16 WIB | Dilihat : 881
Jalan Tol Sumatera Telangkai Mega Region
04 Nov 19, 13:44 WIB | Dilihat : 526
Benahi Hukum dan Prasarana Utama Investasi
Selanjutnya
Polhukam
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 592
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 146
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
19 Okt 19, 10:03 WIB | Dilihat : 360
Obsesi Keindonesiaan
Selanjutnya