Wak Wak Gung

| dilihat 253

Catatan Nostalgia Bang Sém

SALAH satu lagu dolanan bocah yang saya hafal sampai kini adalah Wak Wak Gung yang biasa kami mainkan di halaman rumah di bawah sinaran bulan purnama. Biasanya selepas mengaji dan salah Isya' pada Sabtu malam.

Pada malam, itulah saudara-saudara sepupu saya dari Kebon Kacang, Kampung Bali, Kebon Sirih, Kebon Pala, Rawa Belong, Pos Pengumben, dan Kampung Baru - Kebayoran lama menginap. Di waktu-waktu yang lain, kami memainkannya dengan teman-teman tetangga yang sudah seperti keluarga sendiri

Ketika itu rumah kami sudah di pojokan Jalan Martapura, yang sekarang posisinya persis di pintu keluar stasiun kereta BNI City.

Wak wak gung / Nasinye nasi jagung / Lalapnye lalap kangkung / Sarang gaok di pu'un jagung / Gang Ging Gung // Tam tam buku / Seleret daon delime / Pete lembing patah satu / Pentil belimbing tangkep satu // Pit alaipit kuda lari kejepit // Kosong.. Kosong.. Isi.. Isi..

Karena badan saya dan seorang sepupu rada gede, kami yang sering menjadi 'gerbang perangkap.' Mengacungkan agak tinggi dan mempertemukan jari jemari tangan membentuk 'gerbang' lalu memilih siapa saja yang ingin kami tangkap di ujung lagu. Mereka yang tertangkap, sesuai pilihan bebas, bisa berdiri di belakang kami, Peserta permainan lain berbaris saling berpegangan punggung.

Sampai kini saya tidak pernah tahu, siapa yang 'menciptakan' permainan ini, siapa pula yang menciptakan lagu dengan syair bergaya pantun. Lantas, kami memainkannya dengan gembira.

Saya tidak pernah memainkannya lagi, ketika sesudah beranjak belia. Terutama menjelang terjadinya peristiwa G30S/PKI, ketika rumah sering dilempari Pemuda Rakyat, organisasi sayap pemuda PKI (Partai Komunis Indonesia). Sehabis melempari rumah kami, biasanya mereka kabur ke arah Duku Pinggir, ke arah rel kereta api atau ke kampung yang kemudian menjadi Waduk Melati.

Masa-masa menyenangkan bermain Wak Wak Gung, itu memang sirna di jelang terjadinya peristiwa sangat mencekam. Di lingkungan kami tinggal, tinggal juga beberapa petinggi militer dan sipil, seperti GH Mantik dan Sudjiman (di Jalan Sungai Gerong), Maraden Panggabean (Jalan Tanjung Karang), Anwar Bey - oditur militer tinggal persis di depan rumah. Di sebelahnya tinggal Jusuf Ronodipuro di depannya adalah rumah dinas Duta Besar Australia, di Jalan Talang Betutu.

Di jalan Talang Betutu itu juga tinggal (berderet dengan rumah Duta Besar Australia) Awaluddin Djamin (yang kemudian menjabat Kapolri), keluarga Sahanaya, keluarga Iskak ( keluarga artis film: Boy Iskak, Indriati Iskak, Alice Iskak, Irwan Iskak - termasuk Mieke Widjaja sepupunya), di depan rumahnya tinggal Prof. Soebekti. Keluarga Kadar Soewarsono - perwira mabes Angkatan Darat, berada di sebelah kanan rumah kami.

Sebelah kiri rumah kami tinggal konsul jendral Kedutaan Besar Malaysia, lalu rumah keluarga Siahaan dan keluarga Wahono, beberapa rumah kemudian, persis di ujung Jalan Sungai Gerong, tinggal keluarga Sitompul (Hotma Sitompul) yang berhadapan dengan kediaman Menteri Muda Perdagangan Arifin Harapan, yang bersebelahan dengan keluarga Siregar (antara lain Mulya Siregar - belakangan menjabat Direktur Perbankan Islam Bank Indonesia) yang menghadap Jalan Kotabumi.

Di Jalan Kotabumi ini, tinggal keluarga La Bintang (ayah Zaenal Bintang dan Ilham Bintang), Sutradara Film Sjumandjaja, Sidi Mansyurdin (diplomat Indonesia yang lama bertugas d Jepang), KH Marjudin Hambali (pejabat urusan haji Kementerian Agama).

Di belakang rumah kami tinggal Abdillah Harris - sutradara film pencipta lagu Kudaku Lari Kencang, yang menikah dengan janda allahyarham P. Ramlee, Junaedah - puteri seniman Daeng Harris. Juga tinggal keluarga Bolang, keluarga Syahril, dan keluarga Tjakrawigoena.

Terakhir saya bermain Wak Wak Gung, sehari sebelum berlaku jam malam, listrik padam, bahkan lampu petromax - yang bisa untuk cadangan ketika liustrik mati, tak boleh di-'nyala'-kan. Hanya lampu tempel yang boleh dinyalakan.

Kakak tertua kami, allahyarham Choriyana mengingatkan kami untuk tidak bermain Wak Wak Gung di laman rumah pada malam hari. Saya sempat mencuri dengar diskusinya dengan allahyarham ibu, ihwal keadaan ekonomi yang berlangsung sejak awal tahun.

Beras hanya bisa dibeli di warung Asiong -- sebelah rumah keluarga Sitompul, warung Bang Janing di sebelah rumah kami, atau di warung Babah Oei (yang hobi menggelar kesenian Cokek) di Jalan Martapura Gang I. Situasi ekonomi memang parah.

Allahyarham Ibu, mengubah menu masakan, dalam sepekan empat hari kami makan nasi beras, dua hari nasi jagung dan sehari bulgur (yang dimasak menjadi bubur). Bubur kacang ijo dan ketan hitam bersantan yang biasa kami kudap sebelum menderas al Qur'an menjelang Ashar, hanya disediakan ibu pada Senin dan Kamis saja.

Di rumah, kebiasaan mendengar siaran radio untuk mendengarkan siaran berita, serta musik dan lagu Melayu dari Sam Saimun, Husein Bawafie, Mashabi, Ellya M. Harris (kemudian dikenal menjadi Ellya Khadam), lagu Sunda Upit Sarimanah, musik gambus Syeikh Albar, musik keroncong dan hawaian juga on and off. Radio di rumah masih radio tabung dengan 'mata kucing.'  Teknologi transistor baru saja masuk dan dipergunakan dalam produksi Radio Cawang dari industri milik Mohammad Gobel.

Pada masa itulah pertama kali saya mendengar istilah krisis dan resesi ekonomi. Ketika itu hampir setiap hari saya menyaksikan rakyat dengan kupon di tangan, antre beras, minyak tanah, minyak kelapa (minyak goreng), sabun, dan lain-lain di beberapa tempat dengan pengawalan OKD (semacam hansip). Tapi, mereka tak mendapat lagi beras, melainkan jagung (lalu berganti lagi dengan bulgur).

Lepas dari soal itu, Wak Wak Gung adalah permainan anak-anak Betawi yang mengalirkan nilai, bahwa keseimbangan hidup dalam memaknai kemerdekaan  (khasnya kebebasan) mendatangkan kegembiraan.

Selebihnya, kedaulatan memilih cara adalah keniscayaan bagi manusia yang dalam hidup garus melewati gerbang tantangan yang bisa juga menyiapkan jerat. Terutama dalam berdemokrasi sebagai cara mewujudkan kehidupan sosial yang harmonis dan berkeseimbangan. Karena harmoni tak harus hanya dihidupkan oleh persamaan sikap dan pandangan. Harmoni justru bisa terjadi karena adanya perbedaan.

Sejak masa kanak-kanak lingkungan keluarga dan lingkungan sosial sudah memfasilitasi anak untuk hidup bergembira di tengah keragaman latar belakang sosial dan budaya.

Hidup di tengah pluralisma dan multikulturalisma, termasuk menjalani kehidupan beragama, seperti yang mengalir dalam permainan Wak Wak Gung, Galasin, Takadal, Dampu, dan lainnya.

Sejak masa kanak-kanak, kami terbiasa menikmati tarian Cokek, Samarah, Serampang 12, Tanjung Katung, Tari Merak, juga Dansa. Seperti kami terbiasa menikmati musik Gambang Keromong, Hadarah, Rebana Biang, Gambus, Keroncong, Hadarah, Musik Melayu, bahkan musik dan lagu gereja. Belakangan, juga Musik Pop: Rock, dan lain-lain.

Toleransi umat beragama, ke-Indonesia-an adalah realitas kehidupan. Karenanya, jangan pernah mengajari anak-anak Betawi soal toleransi. |

Editor : Web Administrator
 
Budaya
21 Okt 20, 11:43 WIB | Dilihat : 113
Ronggeng Dulu dan Setelahnya
18 Okt 20, 19:10 WIB | Dilihat : 108
Reposisi Seni Budaya di Tengah Ketidakpastian
02 Okt 20, 22:21 WIB | Dilihat : 152
Seni Etalase Peradaban
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 108
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 94
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 161
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 288
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya