Menyimak Pidato Anwar Ibrahim di Forum Bisnis BRICS 2025

Bicara dari Posisi Kuat Negara Merdeka

| dilihat 1189

Perdana Menteri X (PMX) Malaysia, Anwar Ibrahim dengan lantang menyebut nama tokoh-tokoh pejuang revolusioner Asia, Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno, Perdana Menteri RRC Chow En Lai (Zho Enlai), Perdana Mentri India  Jawaharlal Nehru, Presiden Ghana Francis Kwame Nkrumah dalam pidatio singkatnya yang lantang di hadapan BRICS Business Forum 2025 di Rio de Janeiro (5/7/25).

Anwar Ibrahim terlihat mengelola retorikanya dengan sangat baik dan mempengaruhi khayak, termasuk Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva. Sebelum tiba di Rio de Janeiro Anwar melakukan lawatan ke Roma - Italia, menjumpai PM Italia Giorgia Meloni dan Paris, menjumpai PM Prancis Francois Bayrou dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Agaknya, sepanjang melintasi udara antara Paris - Rio de Janeiro, memanfaatkan waktu melayari sejarah masa lampau untuk menyampaikan gagasan kini dan masa depan. Baik dalam kapasitasnya sebagai PM Malaysia maupun sebagai Ketua dalam Presidensi ASEAN.

Bila di Paris saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Sorbonne dan saat menyampaikan pernyataan bersama dengan Presiden Macron, ia menggunakan retorika dengan gaya komunikasi yang relatif soft, di Rio sebaliknya.

PMX Malaysia yang di kala muda merupakan tokoh ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) nampak memainkan strategi sebagai sosok pemimpin yang berpengaruh di Asia Tenggara. Kawasan yang secara fungsional mempunyai posisi strategis dalam perubahan orientasi geo politik dan geo ekonomi dari Amerika Serikat - Eropa ke Indo Pasifik.

Pada detik-detik awal pidatonya, Anwar Ibrahim melontar narasi dan diksi yang menggoda khalayak, termasuk Presiden Lula, sejumlah mentri dan pengusaha. Lantas, tak buang waktu untuk menghunjam pikiran dan rasa.

Anwar Ibrahim mengelola logika dan rasa bahasa Inggris yang digunakannya. "Ini adalah momen bersejarah bagi siapa saja yang yang telah mengikuti jejak sejarah," ungkapnya.

Lantas ia mengungkapkan diksi naratif yang menggugah.  "Kita menyadari upaya untuk menyelamatkan suara ekonomi dan negara-negara yang baru muncul pascakolonialisme, sebagaimana dilakukan oleh Sukarno dari Indonesia, Zhon Enlai dari Tiongkok, Jawaharlal Nehru dari India, Nkrumah dari Afrika. Upaya yang berani untuk memastikan bahwa suara hati nurani mereka yang berjuang untuk kebebasan dan keadilan didengar," serunya yang segera bersambut tepuk tangan.

"Tidak banyak yang berhasil, tetapi semua itu merupakan upaya yang berani. Kemudian kita memiliki gerakan nonblok yang sedang berlangsung dan kita memiliki G7 yang masih belum mencapai hasil yang diinginkan," lanjutnya.

"Saya Salut kepada Anda, Presiden Lula."

Dengan nada suara bervibrasi khas, sambil memandang Presiden Lula, Anwar Ibrahim mengemukakan, "Sekarang saya salut kepada Anda, Presiden Lula, karena memiliki keberanian untuk melanjutkan dengan visi yang jelas, komitmen yang jelas, untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, khususnya di belahan bumi selatan."

Dengan daya 'speech squash' seperti pola retorika Cicero yang menjadi ciri Presiden Sukarno, Anwar Ibrahim melanjutkan. "Mengapa kita sangat terdorong? Karena ini bukan lagi upaya kepemimpinan politik semata. Pemimpin politik memiliki peran untuk memulai reformasi ini. Namun, yang spektakuler di BRICS ini adalah karena partisipasi komunitas bisnis, sektor swasta yang akan melengkapi upaya ini, memastikan bahwa suara akal sehat, suara keadilan didengar dan dilaksanakan bersama, dengan kepemimpinan politik dan komunitas bisnis yang kita lihat saat ini, perempuan, pemuda, dan sektor swasta. Saya salut kepada Anda semua ....," ungkapnya disambut tepuk tangan.

PMX Malaysia yang juga dikenal sebagai 'singa mimbar' (podio del león) ini jeda sekejap. Lantas melanjutkan. "Saya melihat konferensi ini lebih positif. Kita tidak berbicara tentang keluhan dan ratapan mereka yang percaya pada tindakan sepihak tarif atau proteksionisme. Di sini kita memiliki suara untuk multilateralisme, untuk kolaborasi, bekerja dengan negara-negara di selatan, tetapi masih terlibat dengan negara-negara di utara sebagai teman dalam aliansi baru ini," luahnya.

Sekelip kemudian, Anwar Ibrahim telah memasukkan ke dalam benak khalayaknya, posisi dan konstelasinya dalam blok negara-negara selatan ini. "Kami ingin memastikan, bahwa kami berbicara dari posisi yang kuat, bukan sebagai negara eks-kolonial yang lemah, melainkan sebagai negara merdeka dengan posisi tertentu," ungkapnya penuh percaya diri.

Ia melanjutkan, "Sekarang, Anda lihat, dari pesawat terbang hingga teknologi AI (artificial intelligent), hingga teknologi pangan, kita memiliki kekuatan baru yang muncul dari negara-negara ekonomi berkembang dan saya pikir kita dapat membuat perbedaan."

Selanjutnya, Anwar Ibrahim menyatakan, "Saya yakin bahwa upaya pembangunan BRICS ini akan menjadi keberhasilan signifikan, yang akan mengubah (dan menyebabkan perubahan) dalam perjalanan sejarah umat manusia. Terima kasih banyak atas upaya ini."

Cepat dan aksentuatif, Anwar Ibrahim melontarkan gagasan, "Saya berasal dari Malaysia dan ASEAN, kami membahas masalah-masalah ini. Pertama, kita harus bersatu. Kita harus berbicara sebagai satu kesatuan berdasarkan pengaturan multilateral."

Pernyataan tersebut mengusik kesadaran dan sikap untuk menghidupkan 'mutual respect' untuk memelihara kerjasama dengan menrawat multilateralisma dalam hubungan antara bangsa. Pernyataan ini juga memberi signal kepada Amerika Serikat yang melalui Donald Trump 'membubarkan' dan mengabaikan multilateralisma. Politik pilah pilih mitra.

"Kita harus mencoba dan mempromosikan prinsip berteman dengan semua orang. Mendukung tujuan yang adil, tetapi tidak lagi memainkan retorika dan basa-basi, serta pernyataan politik melalui tindakan konkret. Itulah sebabnya salah satu pilar di ASEAN adalah komunitas ekonomi bisnis. Kita harus meningkatkan perdagangan intra ASEAN sekarang," ungkapnya.

Konferensi Asia Afrika Bandung 1955

Anwar Ibrahim mengingatkan, "Kita harus meningkatkan perdagangan intra BRICS. Kita memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang karena hanya dengan kekuatan, itu kita dapat bernegosiasi dengan aman dan adil dengan semua mitra multilateral lainnya."

Suara Anwar Ibrahim bertenaga, ketika menyatakan, "Kita harus menuntut perubahan organisasi internasional dan multilateral yang demokratis, adil, dan multilateral dari Perserikatan Bangsa-Bangsa ke WTA (World Trustmark Alliance), dari WTO (World Trade Organization) ke IMF ( International Monetary Fund) di Bank Dunia."

Dengan siasat Melayu, ulo' Anwar Ibrahim 'masuk ke nalar, nurani, dan rasa. "Saya kembali mendukung posisi yang diambil oleh Presiden Lula, salah satu pemimpin pemberani yang kita temukan saat ini, untuk menyuarakan pendapat atas nama mereka yang tidak didengar. Jadi terima kasih sahabatku," ucapnya.

Dengan gaya bicara yang memikat, disempurnakan oleh gestur dan mimiknya yang khas, PM Malaysia yang juga Menteri Keuangan, ini menyatakan, "Kita telah berupaya di ASEAN. Selain meningkatkan perdagangan antar negara, bahkan menggunakan sistem penyelesaian keuangan."

Di sisi lain, Anwar menyampaikan pernyataan berisi informasi jernih dan khas. "Kita menggunakan mata uang lokal kita. Tentu saja, kita tidak berbicara tentang dedolarisasi karena masih banyak yang harus dilakukan. Tetapi setidaknya kita mencoba Malaysia dengan Indonesia, Malaysia dengan Thailand dan bersama-sama dengan Cina mencoba menggunakan mata uang lokal kita sendiri, dimulai dengan 10 atau 20 persen. Itu membuat perbedaan karena kita tidak boleh terus mengeluh tetapi tidak melaksanakan rencana kita sendiri, di antara negara-negara kita dan tetangga kita yang bersahabat"

Lebih jauh, PMX Anwar Ibrahim mengemukakan ungkapan rasa percaya diri, "Saya yakin bahwa apa yang dikatakan presiden dan apa yang dikatakan ketua konfederasi tentang memastikan, bahwa hal-hal ini dipertimbangkan secara serius oleh sektor swasta, akan membuat perbedaan. Namun, saya kembali ke isu utama dan prinsip, yang menjadi pokok bahasan hari ini.

Tahun 2025, katanya, bukanlah upaya pertama, (prinsip demikian pernah dinyatakan pada..) Konferensi Bandung tahun 1955. Maksudnya Konferensi Asia Afrika. "Saat itu kita sedang berjuang. Tidak ada industri, tidak ada teknologi baru, tidak ada kompetensi, kecuali negara yang bersatu, negara dan kepemimpinan politik," ungkapnya.

"Sekarang kita memiliki kepemimpinan politik dengan visi itu dan kita memiliki komunitas bisnis yang kuat. Saya yakin kolaborasi ini dengan (kaum) perempuan dan kaum muda serta sektor swasta dan masyarakat sipil, kita akan membuat perbedaan."

Anwar Ibrahim pun menutup pidatonya, ketika khalayak masih berharap mendengar banyak. Cara memungkas pidato yang tangkas dan bernas. "Saya berterima kasih sekali lagi, Tuan Presiden. Sampai jumpa di Kuala Lumpur  pada bulan Oktober. Terima kasih." Dan applause khalayak pun terdengar, mengiringinya turun mimbar. | bangsèm

Editor : delanova
 
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1178
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3320
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis