
Rezim Zionis Israel pimpinan Benjamin Netanjahu -- yang oleh mahkamah internasional ditetapkan sebagai penjahat perang -- tak puas menebar genosida, pembersihan etnis, dan menghancurkan Gaza.
Mereka juga bernafsu menyerang Iran dan melantakkan beberapa kota, seperti Isfahan, Shiraz, dan Qom. Tapi tak kesampaian. Medannya tak semudah mereka bayangkan.
Sebagaimana halnya Amerika Serikat (AS), zionis Israel sengaja memilih Iran sebagai musuh utama. Alasannya? Selain Iran selama ini mendukung perlawanan pejuang Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.
Juga karena presumsi -- yang diyakini sebagai kebenaran -- Iran melakukan pengayaan uranium untuk membuat senjata nuklir. Presumsi ini menjalar di kepala para petinggi AS, Inggris, Prancis, dan sekutunya yang berada di belakang zionis Israel.
Dengan taktik menyerang lebih dulu, zionis Israel memicu perang, melakukan serangan udara ke Iran, sejak Jum'at (13/6/25). Iran menyerang balik dan berhasil menembus sistem pertahanan udara 'iron dome' yang 'dibanggakan' itu.
Serangan Iran membuat ibu kota zionis Israel, Tel Aviv dan dua kota lain: Haifa dan Beer Sheva berantakan. Serangan balik Iran tak diduga akan sedahsyat, itu.
Netanjahu was was dan merengek kepada Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Iran. "Sekarang Tel Aviv, setelah ini New York," cetus Netanjahu memanas-manasi Presiden 2.0 Trump.

Serangan AS Inkonstitusional
Sekonyong-konyong, AS pun menyerang tiga lokus : Isfahan, Fordow dan Natanz (22/6/25) yang mereka dipresumsikan sebagai sentrum pengayaan uranium untuk membuat senjata nuklir. Ini pertanda, perang tak usai sudah.
Serangan AS sempat menggetarkan khalayak. Tapi, tak berdampak luas pada kehidupan sosial sehari-hari. Terutama di Isfahan.
Sejak serangan 13 Juni 2025, menurut Asghar Jahangir - juru cakap pengadilan Iran, tak kurang 935 orang (sebagian besar anak-anak dan perempuan) gugur. 5000 orang lainnya terluka.
Serangan AS menimbulkan protes di Senat dan kalangan masyarakat luas AS. Selain serangan AS ke tiga sentra pengayaan uranium Iran melanggar konstitusi (tanpa persetujuan Kongres AS). Juga gegabah.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak dapat membuktikan klaim, bahwa Iran sedang memproduksi senjata nuklir. Namun, informasi yang bocor dari badan intelijen Barat menyebut, tujuan serangan yang dilakukan zionis Israel dan AS semata-mata hanya untuk mengacaukan situasi di Iran.
Zionis Israel dan AS sengaja melakukan intimidasi, seraya mengincar sejumlah petinggi militer dan ilmuwan nuklir Iran, sebagaimana mereka lakukan pada serangan sebelumnya (13/6/25).
Lewat para penghianat yang menjadi kaki tangan badan intelijen zionis Iran, Mossad pada serangan sebelum fajar, itu sejumlah petinggi militer dan ilmuwan Iran tewas. Di Tel Aviv muncul ucapan terima kasih kepada Trump -- di berbagai billboard dalam ukuran besar -- atas serangan AS ke tiga situs pengayaan uranium di Iran

Penghianat 'Bahdeh Mahdeh'
Penjahat perang dan induk semangnya itu memang berniat menghabisi para petinggi militer sembari menghasut rakyat Iran untuk melakukan aksi protes.
Mereka juga bermaksud menghabisi Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei dan melenyapkan Presiden Iran Masoud Pezeskhian. Juga Ketua Parlemen Mohammad Baghir Ghalibaf dan Krtua Mahkamah Agung Gholam Hossein Mohseni Eje'i, dan Penasehat Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran, Larijani.
Zionis Israel dan AS memang gencar dan aktif membina dan merawat para penghianat untuk menjadi kepanjangan tangan zionis Israel dan AS di Iran.
Mereka sengaja dibina, selain karena berseberangan dengan pemerintah. Mereka adalah kaum 'bahdeh madeh' alias hamba perut, yang menjual keyakinan untuk kepentingan materi dan uang.
Di tengah perang 12 hari yang menggetarkan zionis Israel, itu Trump memilih jalan taktis 'mengelabui' Iran. Targetnya, Iran mau melakukan gencatan senjata. Trump memilih jalan itu untuk mengamankan kepentingan bisnisnya di Israel dan negara--negara teluk.
Sejumlah petinggi Iran, sebagaimana halnya Larijani, telah mendapatkan iming-iming agar meninggalkan pemerintah Iran yang sah, lalu bergabung dengan lawan pemerintah. Saat bersamaan, yeknafs - setarikan nafas dirinya dan keluarganya akan dibinasakan, bila menolak.

Perang Tak Akan Usai
Larijani menolak dan malah menantang, karena dia tak akan pernah meninggalkan Iran. Sikap Larijani diikuti oleh beberapa petinggi Iran lainnya. Apalagi, reaksi rakyat Iran menakjubkan.
Selama 12 hari perang dengan zionis Israel, dukungan rakyat terus bertambah, termasuk kaum perempuan. Ini pertanda, perang tak akan usai, sepanjang zionis Israel dan AS masih terus menyerang Iran dan Palestina belum merdeka!
Jaringan intelijen AS yang berpusat di Washington dan jaringan Mossad di Tel Aviv dan di berbagai negara teluk tak berhenti melakukan intimidasi dan operasi, sehingga zionis Israel tak henti menyerang Gaza dan Lebanon Selatan, sambil mengancam Yaman. Agresi terhadap Gaza tak akan berhenti, termasuk kota-kota yang mereka presumsikan sendiri sebagai sentrum pergerakan.
Mereka tak peduli, perang yang mereka rancang bakal memakan korban sipil -- khususnya perempuan tak peduli sedang hamil atau sakit dan anak-anak .
Iran. melalui Ayatollah Sayyed Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeskhian paham soal ini. Itu sebabnya, Ali Khamenei menolak gencatan senjata palsu. Ali Khamenei menyatakan, tak akan ada perdamaian yang dipaksakan. Ia juga menyatakan, tak akan ada gencatan senjata tanpa melibatkan Palestina.
Karenanya, ia tak menggubris ancaman Trump. Iran akan membalas serangan yang dilakukan zionis Israel dan AS. Karena sikap Iran sedemikian, Israel bersama sekutunya, menggencarkan kampanye melalui kaki tangannya di seluruh dunia, termasuk di negara-negara Arab menebar berita bahwa zionis Israel + AS didukung negara-negara Arab melalui "Abrahamic Alliance" untuk memulai kehidupan regional Timur Tengah yang aman.
Kampanye tersebut hendak mengesankan, seolah-olah Iran berjuang untuk kepentingannya sendiri. Tak terhubung dengan dengan Palestina. Tentu masa depan Palestina akan dibiarkan merana sendiri.
Kampanye yang juga mengagung-agungkan Trump sebagai pahlawan dan penyelamat kawasan itu, dan karenanya zionis Israel menyampaikan terima kasih kepada Trump melalui berbagai billboard di Tel Aviv. Akankah Iran menyerah?
Iran tak gentar. Apalagi Presiden Putin (Rusia) dan Presiden Xi Jin Ping (Tiongkok) dan sejumlah pemimpin negara lain, seperti Presiden Venezuela Maduro, kian tegas menyatakan komitmen untuk mendukung rakyat Iran, dan bakal melindungi mereka.

Pemakaman Agung Syuhada
Khamenei tak gentar menghadapi apa yang bakal terjadi. Di kalangan rakyat, para aktivis menyayangkan mengapa Iran tak melanjutkan serangan dan melantakkan kota-kota di Israel.
Sikap tersebut mengemuka dan terasa di tengah prosesi pemakaman agung kenegaraan 60 syuhada (martir) (Sabtu, 27/6/25) yang diikuti ribuan massa. Prosesi itu terbentang dari Taman Eghelab-e sampai Menara Azadi.
Sambil mengikuti gerak lambat trailer yang membawa peti jenazah para syuhada, mereka meneriakkan yel-yel, "Mati lah Israel," "Mati lah Amerika,""Serang terus Israel !!" Ratus bendera Iran mereka kibarkan di antara massa yang mengenakan pakaian hitam, melambaikan bendera Iran, dan memegang foto para komandan militer yang terbunuh.
Di tengah ribuan massa rakyat Iran tersebut, ada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, bersama dengan pejabat senior pemerintah dan para komandan militer lainnya. Tampak juga Esmail Qaani, komandan Pasukan Quds, sayap operasi luar negeri Garda Revolusi Iran.
Tampak juga Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran ada dalam prosesi pemakaman yang mengharu biru, di tengah suara pembaca puisi dan muadzin yang mengumandangkan adzan lirih, mengekspresikan pedih luka.
Sebelumnya, di Menara Azadi, Orkes Simponi Tehran dipimpin konduktor, maestro Nasir Heidarian menggelar konser ruang terbuka untuk penghormatan kepada para syuhada.
Sejumlah tembang patriotik dan renjana seperti Ey Iran, Pavane, Annen Polka, dan Tomorrow of the Homeland mereka sajikan dengan antusias. Ratusan orang berada di plaza Azadi menikmati konser itu.
Perlawanan Iran mengejutkan banyak pihak. Negara itu bertahun-tahun dikucilkan, bertahun-tahun mengalami embargo ekonomi dan sanksi Perserikatan Bangsa Bangsa, dipandang sebagai musuh oleh AS dan Barat.
Ternyata, dalam kehidupan sedemikian, Iran mampu melakukan apa yang tak mampu dilakukan banyak negara lain. Yaitu melakukan eksplorasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dahsyat.
Dengan kemampuannya, Iran memutus dan memblok sistem GPS AS dan lalu berkolaborasi dan Tiongkok dan Rusia membangun sistem teknologi militernya sendiri. Kolaborasi Iran dengan Tiongkok dalam penguatan sistem teknologi militer, termasuk menggunakan sistem artificial intelligent mengisyaratkan Iran selalu siaga menghadapi kemungkinan perang yang bakal terjadi. | jeahana farzaneh