Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak

| dilihat 1277

Endang Caturwati

Saya, masih tertegun belum sempat menanyakan khusus, mengapa Prof. Fatimah, yang fokus dengan ilmu bahasa, baik bahasa Indonesia, maupun bahasa Sunda, serta Filsafat Ilmu, sangat menyukai  syair lagu saya dalam bahasa Sunda, yang ketika tahun 1975,  saya buat  mengalir begitu saja, tanpa memikirkan nilai-nilai hakiki Kasundaan.

Saya menuliskan berdasarkan ajaran  kebajikan dengan melihat kedua sosok ibu dan bapak saya, dengan bahasa yang sangat sederhana.

Akan tetapi Prof. Fatimah selalu mengatakan, bahwa lagu tersebut  mengandung nilai yang dalam, jadi perlu diperdengarkan kepada para mahasiswa generasi muda yang terkadang lupa, dari mana mereka berasal  dan lupa akan nilai-nilai kasundaan, tata titi, etika kepada kedua orang tua.  

Lagu Kanyaah indung Bapak menurut Prof. Fatimah sarat dengan filosofi Kasundaan,  dan sebaiknya orang Sunda harus mempunyai sifat sebagaimana nilai-nilai dalam lagu tersebut, mempunyai rasa hormat kepada ibu yang melahirkan dan bapak yang selalui mendukung, baik dengan tenaga, materi, dan do'a.

Implementasiya sangat luas, ibu yang melahirkan, ibu pertiwi,  ibu bangsa dan tanah air tempat kita dilahirkan. Begitu juga dengan keberadaan bapak, interpetasi dan implementasinya sangat luar biasa, seorang pemimpin atau suatu negara dan bangsa, tempat kita dibesarkan dan berlindung, dan harus berperan menjadi manusia yang berguna. Saya hanya diam tertegun, antara tersanjung dan termenung. (baca: Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan)

Ketika Prof. Fatimah meminta saya menyanyikan lagu itu, segera melayang kembali kenangan kepada Bapak Nano S, yang meminta lagu tersebut dan lagu saya yang lain (Katineung) harus segera ditransformasi dari serat kanayagan (notasi Sunda) tangga nada ‘pentatonis‘ ke notasi solmisasi tangga nada ‘diatonis’. 

Pada saat Bapak Nano meminta lagu itu saya berikan untuk Tati Saleh, saya ragu dan takut. Betapa tidak, pada tahun 1975, di saat saya masih remaja, harus memberikan dua lagu kepada Tati Saleh - seorang artis besar pada masa itu. Saya sungkan menyampaikan lagu tersebut kepada penyanyi yang saya hormati, sampai Ceu Tati Saleh pun meninggalkan dunia yang fana ini. Padahal beberapa tahun sebelum Ceu Tati Saleh dipanggil oleh Allah yang Mahakuasa, saya sering bersama dengan almarhumah. Baik untuk silaturahmi antar seniman, maupun dalam hubungan profesional.

Antara lain saya sering diminta menjadi MC pada acara Ceu Tati untuk TVRI, dan juga acara-acara pertunjukan besar. Akhirnya saya berceritera kepada Bapak Yus Wiradireja dan Ibu Ida Koko Koswara.

Alhamdulillah, mereka memberi jalan, kemudian lagu tersebut direkam dengan versi kacapi Kawih Sunda,  dan versi musik Pop Sunda,  yang selanjutnya diberikan kepada Rita Tila, walaupun baru di launching untuk konsumsi publik pada tahun 2017di gedung De Majestik Braga Bandung. 

Lagu Kanyaah Indung Bapak, kemudian sering dibawakan di berbagai acara, antara lain oleh siswa-siswa sekolah pada acara Operet Ki Lengser Ringkang Gumawang;  dalam Acara pergelaran Cinta Budaya Sunda (2017) oleh Dewi Gita pada Konser Musik  Haleuang Asih Dayang Sumbi  di Taman Budaya (2018)  pada  seminar-seminar Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi (2014 - sekarang). Pada musim pamdemik Virus Covid-19 dikumandangkan  di siaran Salam Radio - streaming, Jakarta.

Saya tidak mempunyai pretensi apapun, ketika menciptakan lagu ini. Hanya ungkapan hati seorang gadis remaja yang ingin berterima kasih kepada ibu dan bapak, yang dalam banyak hal memberikan saya pelajaran dan pendidikan hidup yang luar biasa. Tidak hanya pelajaran dan pendidikan hidup tentang kemandirian, 'tangan di atas' - dalam keadaan apapun, tidak melemparkan masalah dan tanggungjawab kepada orang lain. Bapak dan ibu yang mendidik dan mengajar saya tentang hakekat kemanusiaan dalam hubungan personal dan sosial, termasuk tenggang rasa dan toleransi alamiah.

Di dalam lagu Kanyaah Indung Bapak, saya menggunakan pola rumpaka dengan jalan pikiran (linear) gadis remaja masa itu. "Ceuk beja nya'ah indung lir sagara / Ceu beja nyaah ka indung panto sorga / Ceuk beja dosa ka indung matak doraka / Nyaahna indung taya babandinganana // Ceuk beja bapak ajen hirup urang / Ceuk beja bapak  medarkeun kahirupan / Ceuk beja bapak ngayuga hirup urang / Kanyaah bapak lir srangéngé nu marahmay// Indung anu ngandung kuring / Bapak ngageudékeun kuring / Indung bapak nu teu kendat welas asih / Indung jeung Bapak tempat nyalindungna urang//"

Secara bebas bisa diterjemahkan: "Katanya  kasih sayang ibu bagai lautan / Katanya mengasihi ibu pintu ke surga / Katanya dosa ke ibu akan durhaka / Kasihnya ibu tiasa bandingannya // Katanya bapak kebanggaan hidup kita /Katanya bapak membekali  kehidupan /Katanya bapak mendukung hidup kita/Kasih sayang bapak bagai matahari yang bersinar // Ibu yang mengandung kita / Bapak membesarkan kita / Ibu bapak yang selalu welas asih / Ibu dan bapak tempat berlindungnya kita."

Ini lagu pertama dari dua lagu tugas saya sebagai siswa Kokar (Konservatori Karawitan) Bandung. Sepenuhnya ekspresi hati saya tentang orang tua saya. Orang tua yang dalam keterbatasannya tak pernah lelah berjuang mendorong anak-anaknya maju. Berpendidikan. Karena pendidikan, diyakininya, merupakan cara meningkatkan kualitas anak keturunannya.

Belakangan hari, ketika beberapa kali berdiskusi tentang lagu Kanyaah Indung Bapak, dengan seorang budayawan yang mengikuti perkembangan kreativitas saya (terutama dalam seni karawitan dan tari masa itu), saya baru ngeh, kalau pilihan kata dan struktur dalam rumpaka (syair) lagu itu, mengandung pesan tersurat dan tersirat tentang dimensi perilaku budaya masyarakat Sunda. Terutama tentang akhlak anak kepada orang tua. Rumpak lagu itu memberi isyarat, tentang nilai budaya Sunda, yang membuat almarhumah Prof. Fatimah sangat mengapresiasi. 

Dia mengingatkan saya tentang kecap anteuran yang khas hanya ada di dalam bahasa Sunda. Almarhumah Prof. Fatimah secara khusus menunjukan kepedulian terhadap hal tersebut, yang menjadi fokus penelitian dalam disertasi ketika almarhumah mengambil studi doktoral di Universitas Indonesia. Almarhumah Prof. Fatimah adalah doktor pertama yang meneliti kekhasan kecap anteuran terkait dengan semantik dan struktur dalam bahasa Sunda.

Kecap anteuran mengandung lambang-lambang atau tanda-tanda linguistik yang keberadaannya dalam struktur bahasa Sunda tidak berhenti hanya sebagai bahasa, melainkan sekaligus sebagai gambaran nilai dan budaya masyarakat Sunda keseluruhan. Pada Kanyaah Indung Bapak, tanda-tanda seperti sagara, panto sorga, bapak lir srangéngé nu marahmay, dan lainnya menggambarkan sikap akhlak anak kepada orang tua, yang sekaligus menggambarkan kepribadian mulia, antara lain, dengan nilai andap asor.

Prof. Fatimah sebagai tokoh utama yang berhasil memasukkan ke UNESCO, bahasa Sunda sebagai bahasa daerah ke 33 di dunia. Dalam konteks Indonesia sendiri, penutur bahasa Sunda, populasinya nomor dua setelah bahasa Jawa.

Budayawan itu mengatakan, almarhum Prof. Fatimah, seorang cendekiawan di wilayah ilmu kebahasaan, sastra dan budaya yang concern dan konsisten memperjuangkan pentingnya keberadaan bahasa daerah. Antara lain dengan melakukan usaha-usaha untuk merevitalisasi bahasa daerah yang belakangan hari terkesan “tersisihkan.” Lagu berbahasa Sunda dengan kecap anteuran yang tepat, menurut budayawan, itu seolah merupakan respon atas kekuatiran Prof. Fatimah, yang selalu mewanti-wanti, jangan sampai bahasa daerah musnah karena ditinggalkan oleh penuturnya, karena musnahnya bahasa daerah juga mengindikasikan musnahnya pula satu peradaban manusia di dunia.|

Editor : Web Administrator
 
Seni & Hiburan
06 Okt 20, 11:37 WIB | Dilihat : 237
Warkah Pelangi di Ujung Cakrawala
03 Sep 20, 21:13 WIB | Dilihat : 336
Cerita Seputar Alterasi Seni Rupa - Seni Tari
26 Agt 20, 09:04 WIB | Dilihat : 372
Tilik Indonesia Gaya Bu Tedjo
25 Jul 20, 17:36 WIB | Dilihat : 632
Butong Tak Bisa Pisah dengan Akordeon
Selanjutnya
Humaniora
15 Okt 20, 08:09 WIB | Dilihat : 136
Maestro Musik Shajarian Masih Meninggalkan Ratapan
26 Sep 20, 06:38 WIB | Dilihat : 150
Memelihara Harapan
22 Sep 20, 14:32 WIB | Dilihat : 126
Monopoli Pikiran
Selanjutnya