
Puisi-Puisi Gus Nas
SERANGAN CINTA DARI UTARA
Cukuplah puisi membidik hati
Biarkan rindu menusuk kalbu
Tapi serangan cinta dari utara
Membuatku merana
Menjadikan bait-bait puisiku meregang cinta
Kucari pagar mantra
Tapi buluh perindu ini membuatku terlena
Sebab kilau senyumnya yang seindah seribu bunga
Dan bibirnya yang semerbak puisi
Adalah mabukku pada secangkir arak dunia
Serangan cinta dari utara
Membuat syair-syairku siaga
Tak akan kuserahkan perih rindu ini
Walau senja terus menggoda
[Gus Nas Jogja, 29 Oktober 2020]
SUMPAH PEMUDA
Kepada para pemuda dan pemudi Indonesia
Yang sibuk bernyanyi di kamar mandi
Yang tangannya menggapai ke langit
Tapi jiwanya hampa menggantang asap di cakrawala
Puisi ini kutulis sebagai sumpahku
Kupahat daulat nusa-bangsa-bahasa di seluruh bait dan stanza lagu Indonesia Raya
Bangunkan jiwa bangsa ini
Di atas kaki-kaki kokoh budi pekerti
Ketika bangunan megah menjulang tinggi
Hanya menggusur tanah fakir miskin pemilik bumi Ibu Pertiwi
Ketika etalase gemerlap runmh-rumah kaca
Hanya memantulkan perih dan luka anak-anak bangsa
Bangunlah badanmu wahai pemuda
Di atas puing dan reruntuhan ideologi
Ketika demokrasi dan khilafah terus bersaing berebut simpati
Tatkala kerajaan baru tumbuh bersemi
Untuk memuaskan halu diri sendiri
Carilah Sumpah Palapa di dalam lagu Indonesia Raya
Carilah nada Indonesia Raya dalam Sumpah Palapa
Apakah nusa dan bangsa masih bergemuruh di sana?
Apakah kebangsaan masih menjadi partitur permata para pemuda?
Ataukah ia hanya tinggal retorika yang tak lagi menginjakkan kaki di bumi Indonesi?
Inflasi logika dan defisit aksara
Surplus gincu dan kebencian merebak tak tentu rimba
Sumpah ini kutulis kembali menjadi bait-bait mantra dalam pena puisi
Pada bendera merah-putih yang berkibar malu-malu setengah hati
Sebab Sumpah Pemuda di Zaman Now ini
Telah dikalahkan oleh sampah kata-kata pada poster-poster Pilkada
Dan menghadirkan milenial manja yang hanya jago main game saja
Satu Nusa telah dikebiri oleh partai-partai politik dimana-mana
Satu Bangsa hanya slogan kosong
Dan dilecehkan oleh fatwa membabi-buta untuk kemenangan golongannya
Kebangsaan sudah terasing di negeri sendiri
Nasionalisme termangu-mangu dan tanpa daya
Terusir oleh suara gaduh dan genderang demo tak henti-henti di Ibukota
Atas nama kelompok dan sempalan partisan dalam agama dan idiologi
Atas nama daya kritis atau sakit hati
Anarkisme menari-nari menaburkan duri
Hari ini kutulis kembali Sumpah Pemuda ini
Di kedalaman palung gurindam dan lautan puisi
Agar gelombang kebangsaan bergetar kembali di dalam samudera nurani
Dengan Sumpah Pemuda ini
Kubangunkan kembali bahasa Indonesia yang telah terkubur sekian lama
Bahasa Indonesia yang telah lama terkilir dalam nyinyir
Dan membuahkan sampah retorika
Bahasa Indonesia yang telah kehilangan energi
Pada esensi maknanya
Bahasa Indonesia yang seharusnya merdeka
Dari penjajahan dalil dan fatwa
Bahasa Indonesia yang lahir kembali menjadi puisi dan warisan tak benda
Bahasa Indonesia yang dibebaskan dari penjara retorika orang-orang yang fakir literasi
Yang tak pernah membaca tapi pidato berbuih-buih dan berkhotbah dimana-mana
Tanpa berpegang data
Hanya menyebar ghibah semata
Wahai Kaum Muda dalam pelukan dusta janji Pilkada
Bangunlah kalian semua
Lihatlah dengan mata hati dan mata jiwa
Darurat korupsi dan dan darurat narkoba
Sudah mengepung kota dan desa
Sudah saatnya Ibu Pertiwi terjaga dari nikmat syahwat dalam mimpinya
Bangunlah jiwamu wahai putra-putri Indonesia
Bangunlah ragamu agar siap siaga menendang bola dunia
Di tangan kananmu wahai para pemuda
Ada obor menyala untuk membakar surga
Sedangkan di tangan kirimu
Ada seember air untuk memadamkan api neraka
Laksanakan amanah sejarah ini
Agar gairah hati pada Ibu Pertiwi terus menyala
Tulislah cinta pada teks Sumpah Pemuda
Tulislah cinta pada teks Pancasila
Tulislah cinta teks UUD 45
Tulislah cinta pada bendera merah-putih dan burung garuda
Merdeka!
Gus Nas Jogja, 28 Oktober 2020

SYAHADATAIN
Kucari Sekaten dalam bait-bait gurindamku
Saat alun-alun utara Jogja semakin membisu
Ketika nasi uduk di selasar Masjid Gede Kauman tak kunjung kutemu
Kenapa Jogja hanya menyisakan hampa?
Gamelan Kyai Guntur Madu seperti sudah berlalu
Dan Kyai Sekati mulai kehilangan gema di dalam detak jantungku
Kucari suara Al Barzanji di antara reruntuhan puing-puing puisiku
Tradisi leluhur yang penuh arti saat merayakan Maulid Nabi
Bukankah Sekaten itu asal-muasalnya adalah Soko Ati?
Pilar kalbu sejati agar dua syahadat itu tetap lekat di sepanjang waktu?
Kurenungkan kembali bait-bait Syahadatain dalam dzibaan rindu
Seperti saat Sultan Agung mengucap maklumat agar alun-alun Kerto tak tumbuh benalu
Agar Grebeg Maulid dirayakan untuk mengasihi anak-anak yatim dan para piatu
Lihatlah Jogja hari ini
Masih adakah ketajaman ruhani memaknai tradisi
Mensedekahi fakir-miskin di kanan-kiri agar makna Al Ma'un makin berarti?
Jika tradisi dan paugeran sudah dianggap basi
Adakah jati diri dan harmoni kawula-gusti akan tumbuh bersemi?
Sudah saatnya Jogja mawas diri
Menatap awas dan waspada pada diri sendiri
Sebab warisan budaya dan warisan tradisi tak hanya kosmetika purbakala tanpa arti
Sudah waktunya Jogja mengheningkan cipta
Sebab generasi milenial yang buta peta masa lalu tak akan menemukan kecerahan masa depannya
Gus Nas Jogja, menjelang Grebeg Maulid 1442 Hijriah
TANAH PABELAN
Ode untuk Ajip Rosidi
Kutemukan sisa usia itu di Tanah Pabelan
Pada lelaki yang mewakafkan hatinya pada keindahan
Dari Majalengka mata air itu mengalir
Menjadi anak-anak sungai yang membasahi hati
Mempertemukan Sunda dan Jawa dengan cinta
Begitu setia ia mencatat gerak-gerik rindu
Begitu perkasa ia mengasah sejarah masa lalu
Dan di Tanah Pabelan ia pahat prasasti menjelang takbir Idul Adha
Ada air mata bercampur doa dalam puisi ini
Saat setangkai bunga gugur di taman hati
Selamat jalan, Kang Ajip
Perjuanganmu mengalirkan mata air cinta tak mungkin sia-sia
Dengan kelembutan doa ini kuharumkan namamu dalam puisiku
Gus Nas Jogja, 29 Juli 2020

TUGU PROKLAMASI
Tak ada Sukarno dan Hatta di sini
Jejak juang dwi-tunggal itu telah lama sirna dari sejuk sanubariku
Yang tersisa hanya taburan debu dan patung perunggu
Pidato Bung Karno yang memuntahkan deburan ombak laut selatan itu terus kucari di sini
Tapi yang kudengar hanya suara-suara cemas sudah mulai berkemas
Pekik merdeka menjelma rintih jelaga
Kepada Bung Karno aku bertanya
Dimana wajah Marhaen dan senyum Sarinah itu kini berada?
Kenapa para elite politik itu kian sontoloyo?
Kenapa para kawula alit itu terus menyantap galau?
Dimana penyambung lidah itu menyembunyikan batang hidungnya?
Kepada Bung Hatta kubisikkan suara sanubariku
Tentang koperasi yang kehilangan harga diri
Tentang sokoguru ekonomi yang ditebang habis kaum serakah yang tanpa urat malu?
Di Tugu Proklamasi hanya tersisa suara sukmaku yang parau
Suara renta yang terbata-bata mengeja luka
Inikah gotong royong yang diperas jadi ampas
Eka Sila yang gemetar menerjemahkan dirinya?
Gus Nas Jogja, 17 Agustus 2020
GENERASI GOOGLE
Generasi google telah lahir dengan bermilyar wajahnya
Manusia virtual yang menghabiskan waktu dengan gadget
Dan menjadikan viral sebagai berhala
Masih adakah ruang rindu di rumah jiwaku?
Masih adakah tahta cinta di singgasana kalbuku?
Aku bertanya pada jutaan whatsapp dan instagram dengan suara terbata
Sepertinya baru kemarin mesin ketik tua itu menemaniku bekerja
Bersama tumpukan buku-buku tebal dan ensiklopedia
Sepertinya baru kemarin kutulis namaku pada papan sabak
Dengan grip yang kuruncingkan pada ujungnya
Sepertinya baru kemarin kutulis surat-surat cinta
Pada kekasihku yang kini entah dimana
Dengan kertas putih bergaris-garis dan ballpoint warna biru yang sarat kenangan lama
Kini semua episode penuh cinta itu telah sampai pada ajalnya
Melodrama telah digantikan budaya cadas yang serba tergesa
Kini sarapan pagi tak perlu dicerna
Makan siang selalu tertunda oleh meeting dan sejenisnya
Makan malam digantikan temu klien di ruang hampa
Manusia macam apa aku ini
Lalai pada petani yang menanam padi dan sayur-mayur untuk menu makananku
Lupa pada nelayan yang menjaring ikan untuk lauk-paukku
Khilaf pada buruh kasar yang setia melayani aneka macam kebutuhan hidupku
Generasi millenial yang gagal paham pada sejarah
Yang tumpul rasa pada kemanusiaan
Yang turun ke jalan dengan idiologi buta berkubang anarki
Ataukah aku hanya meniru generasi tua yang kehilangan marwahnya?
Generasi tua yang tuli budaya
Generasi tua yang pongah dalam beragama
Generasi tua yang gagal-total mewujudkan keteladanan sebagai negarawan dan bapak bangsa
Generasi google telah tiba
Bermental genit-genit manja dan kadangkala sontoloyo tingkah lakunya
Penuh topeng pada statusnya
Waspadalah!
Gus Nas Jogja, 28 Oktober 2020
KOLOM PUISI ini terbuka untuk siapa saja yang gemar berekspresi lewat puisi. Sesuai dengan standar norma artistika, estetika dan etika, puisi-puisi yang wajar. Merdeka berkreasi tanpa melukai. Layangkan via email : nhaesy@yahoo.com | [Ma'af sebelumnya puisi yang dimuat belum beroleh imbalan]