Cermin dari Jogjakarta

Tilik Indonesia Gaya Bu Tedjo

| dilihat 371

Catatan Film Bang Sém

Tilik adalah kosakata yang saya akrabi sejak belia. Ketika sejumlah orang tua di lingkungan Pasar Kliwon, Solo, khasnya emak-emak suka 'ngerasani' saya.

Bahkan sampai beberapa tahun terakhir, setiap kali liburan selama beberapa hari, rumah keluarga tempat saya menginap, selalu dikunjungi emak-emak, saudara dan sahabat-sahabatnya tante.

Mereka minta di-tilik-i. Kadang, bila saya liburan ke Tawangmangu, mereka juga ikutan boyong. Lantas menyuguhi semua kudapan dan santapan kegemaran saya, mulai dari kue ka'ak, roti maryam, samboza, pastel, gethuk, pecel, nasi mandi, nasi briyani, dan sejenisnya.

Penghujung tahun 80-an, ketika mengasuh harian Pelita Minggu, saya sengaja menyiapkan rubrik Tilik Film yang berisi resensi.

Tiga tahun terakhir, ketika Sjahrir Lantoni menggagas portal berita, saya langsung setuju dengan usulnya, menggunakan kata 'Tilik' sebagai nama portal itu.

Secara harafiah, tilik bermakna penglihatan, terawangan, tinjauan yang teliti. Bisa juga dipahami sebagai sorot mata, visionery.

Secara budaya, kata tilik juga dipergunakan sebagai istilah untuk menyebut tradisi atau kebiasaan menjenguk orang sakit.

Belakangan sekelompok anak muda kreatif dari Ravacana Film bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan -  Pemerintah Provinsi Jogjakarta menggunakan kata Tilik untuk tajuk film pendeknya yang viral, sejak dipublish 17 Agustus 2020 di saluran YouTube, meski produksi sendiri dilakukan 2018.

Film yang disutradarai Wahyu Agung Prasetyo itu dari berbagai sisi, menarik. Kesederhanaan cerita, setting, talent, pemeranan, dramaturgi, pengadeganan, visualisasi, editing, dan ritme menarik.

Secara sinematografi inilah karya film yang mampu menjadi katarsis di tengah ketidakpastian realitas kehidupan pertama menghadapi pandemi yang dampaknya sudah meruyak ke mana-mana secara sosial, ekonomi, dan politik secara dimensional.

Tilik merefleksikan realitas sosial masyarakat Indonesia kini  yang mengalami ambivalensia, keterbelahan. Tidak saja dalam konteks fase peradaban (agraris, industri, informasi) dan pola relasi - korelasi sosial yang clientelistic, melainkan jauh dari itu, menghadirkan desa di tengah proses transformasi budaya sebagai sosok Indonesia yang sedang berubah tanpa pola.

Menonton film ini saya teringat kolom Emha Ainun Najib beberapa dekade lalu, "Indonesia adalah Bagian dari Desa Saya." Dalam banyak hal, yang diungkapkan Emha -- termasuk berbagai pemikiran ke-Indonesia-annya kini, menunjukkan pilihan reformasi sebagai cara perubahan yang melelahkan, akhirnya melenceng jauh menjadi deformasi.

Film Tilik, memotret hal itu, meski hanya dari perspektif ghibah yang menjadi busana yang dikenakan dan menyertai watak semua kalangan, mulai dari kalangan petinggi, selebritas, sampai warga desa.

Hedonisme dalam bentuknya yang lain, yang merambah ke watak perempuan desa kini, tampil lewat sosok Bu Tejo. Dan orientasi nilai tentang pembenaran (dan bukan kebenaran), terwakili oleh sosok Bu Tri.

Film Tilik memilih perspektif yang khas Indonesia, naratif dan verbal. Bercerita tentang sosok Dian, kembang desa yang digunjingkan karena performa kehidupannya yang dianggap tidak umum.

Dian (Luly Shahkisrani) datang dari keluarga biasa saja, diterlantarkan ayahnya, ibunya hanya punya sedikit sawah, tidak kuliah, berpesona laiknya gadis metropolis, hape model mutakhir, motor baru, dan segala pesona persona yang mudah dicurigai memperoleh semuanya dengan cara yang tak lazim.

Sebagai kembang desa, Dian menarik perhatian para lelaki, dan dikuatirkan dapat mengganggu para suami.

Cerita yang diangkat dari naskah yang ditulis Bagus Sumartono, ini dimulai dari inisiatif Yu Ning (Briliani Desy) untuk 'nilik' Bu Lurah yang sedang dirawat di rumah sakit. Dengan menyewa truk, ibu-ibu itu pergi dari desa ke rumah sakit tempat Lurah di rawat.

Sepanjang perjalanan itulah Dian jadi bahan gunjingan Bu Tejo (Siti Fauziah) yang tampil dengan gaya khas emak-emak desa berharta, istri pemborong yang berteman dengan pejabat, rada congkak tapi tetap menampakkan diri sebagai perempuan yang berangkat dari kemiskinan, tapi punya daya pengaruh yang kuat.

Gunjingan Bu Tejo bersambut dengan sikap presumtif  Bu Tri (Angelia Rizky). Yuk Ning -- selalu mengingatkan Bu Tejo untuk tidak memproduksi fitnah, tapi beroleh respon dari Yu Sam (Dyah Mulani) yang terkesan netral dan cenderung tak berpendirian, merepresentasikan kebanyakan orang Indonesia dalam menyikapi gosip.

Kedekatan Dian dengan Fikri (Hardiansyah), putera Lurah dicurigai menjadi penyebab sakitnya Lurah. Tak seorang pun emak-emak yang tahu, kalau sesungguhnya Dian berhubungan dengan Minto (Tri Sudarsono), suami Lurah yang sakit, ayahnya Fikri. Informasi kebenaran itu, memungkas seluruh adegan film ini.

Ada tokoh-tokoh lain yang mewarnai film ini, Gotrek - sopir truk, Yati (Ratna  Indriastuti) dan polisi lalu lintas (Wahyu Gumilar).

Film ini menjadi sangat menarik karena menilik realitas Indonesia - lautan ghibah -- dengan cara sederhana, menghadirkan mini friksi antara sosok antagonis (Bu Tejo) dan protagonis (Yu Ning) secara diematral, mengungkap realitas masyarakat (transisi - pra budaya digital)  yang mudah dilahap infodemi yang menebar virus hoax - ghibah, buhtan - dan fitnah.

Sepanjang presentasi film berdurasi setengah jam, ini berlangsung, realitas Indonesia kini, terutama secara sosiologis (juga psikososial), tersaji dengan apik. Disertai beberapa gimmick yang menarik: semi sarkasme tentang  derma yang sulit dibedakan dengan politik uang (ketika bu Tejo memberikan amplop kepada Gotrek), rumors resonance ketika Gotrek menyebut nama Dian sebagai alternatif calon dalam Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) yang spontan dijewer istrinya, emak-emak yang muntah karena masuk angin dan langsung dieksplorasi sebagai gosip menyerang Dian oleh Bu Tejo yang nyinyir, Bu Tejo yang kebelet buang air kecil, ibu-ibu mendorong truk, dan bagaimana 'serangan' mereka terhadap polisi yang akan menilang Gotrek, karena membawa muatan manusia dengan truk-nya.

Sutradara film ini, Wahyu Agung Prasetyo terlihat menggarap film ini dengan serius, dan berhasil menghadirkan kesederhanaan sebagai formula menarik mengangkat realitas pertama kehidupan sosial sehari-hari, menjadi realitas kedua yang mengendap di benak penonton. Pilihan bahasa Jawa sebagai tuturan sangat pas untuk merefleksikan dominansi kultur.

Hasil akhir film ini, menunjukkan, Wahyu berhasil memainkan peran sentralnya sebagai pengarah, tidak hanya kepada para pemain, produser (Elena Rosmeisara) dan seluruh kru produksi film ini.

Saya hormat dengan seluruh unsur yang terlibat dalam produksi film ini, dan angkat topi dengan Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi Jogjayakarta, yang telah mendudukkan fungsinya secara tepat. Sekaligus menjadikan film -- sebagai produk budaya -- sebagai medium artikulasi sikap budaya.

Film Tilik ini menjadi cermin pas untuk Indonesia yang sedang hilang muka.|

Editor : Web Administrator
 
Seni & Hiburan
06 Okt 20, 11:37 WIB | Dilihat : 237
Warkah Pelangi di Ujung Cakrawala
03 Sep 20, 21:13 WIB | Dilihat : 336
Cerita Seputar Alterasi Seni Rupa - Seni Tari
26 Agt 20, 09:04 WIB | Dilihat : 372
Tilik Indonesia Gaya Bu Tedjo
25 Jul 20, 17:36 WIB | Dilihat : 632
Butong Tak Bisa Pisah dengan Akordeon
Selanjutnya
Lingkungan
04 Okt 20, 19:49 WIB | Dilihat : 118
Bangkitkan Marwah Banténois
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 686
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
16 Agt 20, 12:41 WIB | Dilihat : 254
Wak Wak Gung
10 Agt 20, 15:39 WIB | Dilihat : 230
Melihat Ferry Membayangkan Cainis dan Bolsonaroan
Selanjutnya