Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya

| dilihat 161

Ngopi Sore Bang Sém

Usai jalan sehat, Jum'at (18/9/20) di kawasan Gelanggang Olah Raga Bung Karno (GBK) yang ketat menerapkan protokol Covid-19, saya ngopi sore dengan beberapa teman - para mantan Menteri, Direktur BUMN, petinggi kementerian perindustrian dan perdagangan, serta anggota DPRD Banten, seorang notaris, dan seorang pemain di bursa saham.

Setiap pekan, saya manfaatkan waktu hari Jum'at untuk keluar rumah sambil menyegarkan kepala, agar tak suntuk melakukan isolasi diri di rumah.

Ngopi sore berjarak, sesuai aturan social distancing yang bukan kerumunan, itu biasa kami lakukan di kedai Dapur UMA - sudut kedai di kawasan GBK.

Topik kali ini, soal naik turunnya harga saham, yang pekan lalu terkesan dipolitisasi oleh Menko Perekonomian uang juga Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto beserta segelintir menteri dan wakil menteri 'menyerang' Anies Baswedan, Gubernur Jakarta yang mengketatkan kembali pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang selalu disertai dengan Kontibusi Sosial Berskala Besar.

"Naik turun harga saham di bursa itu soal biasa, dan niscaya, termasuk yang terjadi pekan lalu, setelah Anies mengumumkan akan menerapkan kembali pengketatan PSBB. Sebenarnya, pasar sudah memantau kinerja pemerintah menangani pandemi Covid-19 sejak diberlakukan pelonggaran PSBB untuk menentukan aksi investasi, tentu aksi ambil untung atau wait and see," kata teman, pemain di bursa saham Indonesia.

Teman lain, yang kini meninggalkan profesinya sebagai pialang saham, menyebut, pengumuman Anies relevan dengan analisis dan prediksi mereka.

"Jadi, betulkah pengumuman Anies mempengaruhi anjloknya harga saham?" tanya saya.

"Bukan satu-satunya faktor, meskipun tak bisa dipungkiri, kini Gubernur Jakarta itu satu dari amat sedikit orang di Indonesia yang omongannya bisa menimbulkan sentiman negatif atau sentimen positif di pasar. Tapi, yang kemarin itu, sentimen politik, karena anjloknya harga saham sekaligus mereview kinerja mereka," kata teman yang bekas pialang itu.

Dia mengambil amsal, dari awal tahun sampai pekan pertama Agustus 2015, lima tahun lalu, pasar modal Indonesia pernah mengalami penurunan nilai kapitalisasi pasar sampai 13,68 persen. Angka penurunan ini, tercatat merupakan yang terlemah di Asia, kala itu.

Situasi di bursa saham Indonesia saat itu, dipengaruhi juga oleh situasi bursa di negara jiran, seperti Singapura, Malaysia, Australia, Thailand, Korea Selatan dan lain-lain. Terutama, ketika investor luar negeri menahan modal mereka di negaranya masing-masing.

Penurunan tersebut disebabkan oleh banyak faktor, melemahnya ekonomi global dan goyahnya fundamental ekonomi Indonesia, sehingga investor menahan diri untuk melakukan aksi investasi. Apalagi kini, ketika di seluruh dunia, ketahanan ekonomi masing-masing negara mengalami pelemahan. Walaupun, misalnya, Bursa Efek Indonesia sudah memperbaiki aturan fraksi saham yang memberatkan investor, yang juga tak mempunyai daya hebat untuk mendongkrak kinerja nilai transaksi harian secara signifikan. Paling, hanya berdampak pada pencapaian tujuan menambah likuiditas transaksi.

"Banyak faktor yang mempengaruhi harga saham. Misalnya informasi tentang kinerja dan fundamental bisnis korporasi yang sahamnya melantai di bursa, seperti informasi tentang pendapatan dan keuntungan, perkiraan pendapatan ke depan, pengumuman tentang dividen, pengenalan produk baru atau penarikan kembali suatu produk, dan lainnya. Termasuk informasi tentang pemutusan hubungan kerja karyawan, akuisisi atau merger manajemen, perubahan dalam tim manajalan, kesalahan dan skandal akuntansi, kinerja industri dan lain-lain.

Teman yang pemain di bisnis saham, itu juga mengemukakan, seringkali harga saham perusahaan yang berbeda dalam industri yang sama bergerak dipengaruhi oleh kondisi pasar yang sama.

Kendati demikian, ungkapnya, harga saham perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dari kabar buruk yang mempengaruhi salah satu pesaingnya, jika terjadi persaingan beberapa perusahaan di pasar yang sama.

Memang tak bisa dipungkiri, psikologi atau kepercayaan investor dapat menyebabkan pasar naik atau turun, dan menyebabkan harga saham berfluktuasi. Bisa juga, karena tren umum yang yang diamati di pasar saham dapat mempengaruhi harga suatu saham.

Dalam dunia pasar modal dunia, juga dikenal jenis-jenis pasar dengan istilah tertentu. Pasar banteng, misalnya, untuk menggambarkan pasar saham yang kuat, kalaq harga saham dan kepercayaan investor meningkat. Pasar banteng menggambarkan tren yang sering dikaitkan dengan pemulihan ekonomi atau ledakan ekonomi serta optimisme investor.

Akan halnya istilah pasar beruang dipergunakan untuk menggambarkan pasar yang lemah, kala harga saham dan kepercayaan investor menurun. Biasanya, tren ini sering terlihat pada saat terjadi aneka krisis, termasuk masa resesi, ketika tingkat pengangguran tinggi dan harga barang naik.

Teman lain, mantan direktur BUMN juga menyebut faktor guncangan ekonomi dan politik. Dikemukakannya, perubahan dunia dapat mempengaruhi perekonomian dan mempengaruhi harga saham. Kenaikan biaya energi, misalnya, dapat menurunkan penjualan, keuntungan, dan harga saham. Juga situasi krisis kesehatan yang ditangani lamban, yang berakibat pada perlambatan aktivitas ekonomi, sekaligus anjloknya indeks harga saham gabungan.

Dalam situasi sedang menghadapi situasi krisis kesehatan yang merebak menjadi krisis sosial dan ekonomi, tindakan petinggi mencari kambing hitam, dan mewaspadai seorang pemimpin potensial secara berlebihan dengan waswas politik justru menunjukkan kualitas dan kompetensi petinggi itu.

Selain karena naik turunnya harga saham, melejit dan anjloknya indeks harga saham gabungan adalah keniscayaan, dan tak perlu ditanggapi dengan reaksi berlebihan. Untuk itu petinggi yang mengurusi perekonomian bangsa, mesti fokus, cermat, dan cerdas dalam membaca situasi. Tak perlu mencari kambing hitam untuk menutupi kinerja yang tidak optimum.

Saya mengangguk-angguk, berusaha untuk paham. Saya setuju dengan substansi penjelasan itu, dan tambah yakin, ternyata semakin dijadikan kambing hitam, Anies justru menjadi kambing putih. Ketika diinjak, dia bagai pegas, dan bisa membuat siapa saja yang menginjaknya, melenting hingga jauh sampai ke lautan masalah... |

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 108
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 94
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 162
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 288
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya
Energi & Tambang