Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies

| dilihat 287

Bang Sém

SEPARUH hari Jum'at - 11 September 2020, saya belajar senyum lepas, karena tak hendak senyum kecut. Bermain-main di antara harapan dan kecemasan, seperti cover Kompas (2/09/20), "Bersiap yang Terburuk, Berharap yang Terbaik."

Pada hari Jum'at, itu Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19, Erick Thohir coba meyakinkan, bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih lebih baik jika dibandingkan negara-negara G20 lainnya di kuartal II masa pandemi Covid-19.

Secara virtual, Erick mengemukakan saat peringatan Dies Natalis Universitas Padjadjaran (UNPAD) ke 63 tahun, Pandemi Covid-19 membuat peluang Indonesia masuk peringkat lima ekonomi dunia menjadi lebih besar.

Seperti diberitakan Tempo.co, pada hari yang sama, Erick mengatakan, ada data yang menggelitik, di tahun 2024 dengan krisis dihadapi banyak negara, justru kita ada kesempatan menyusul. Dia mengibaratkan lomba siput, semuanya lambat, tapi selambatnya kita bisa masuk ranking dunia dalam ekonomi tahun 2024.

Erick juga mengemukakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II juga lebih baik dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya. Hanya minus 5,3 persen, dibandingkan Malaysia (minus 17 persen), Singapura (-13,2 persen), dan Thailand (-12,2 persen). Indonesia minus 5,3 persen, menurut Erick, lantaran Presiden Joko Widodo memutuskan untuk tidak menerapkan lockdown alias pembatasan wilayah.

Upaya Erick meyakinkan civitas academica Unpad, boleh diacungi jempol. Apalagi, pegangannya adalah data dari Bank Dunia dan IMF, yang mengemukakan peringkat Asia terus naik dalam kekuatan ekonomi dunia.

Dua badan keuangan dunia, itu memprediksi, pada 2024 empat negara Asia akan berada di antara 5 negara teratas dunia dengan PDB (Pendapatan Domestik Bruto) tertinggi, bersamaan dengan menurunnya kekuatan Eropa ke peringkat yang lebih rendah.

 

Data Bank Dunia dan IMF, itu mengemukakan, PDB China, yang pertumbuhan ekonominya meledak sejak tahun 1990-an, akan melebihi PDB Amerika Serikat dalam empat tahun. China akan memimpin negara-negara di dunia dengan PDB tertinggi.

Bersamaan dengan itu, India dan Indonesia yang belakangan ini memasuki 10 besar kekuatan ekonomi (sejak dekade 2004-2014) masing-masing diperkirakan akan mencapai posisi ketiga dan kelima pada tahun 2024. Sedangkan untuk Jepang, diperkirakan akan tetap berada di posisi keempat setelah disusul oleh China pada tahun 2010.

Data yang dikemukakan IMF, sertamerta juga menunjukkan, Rusia akan berada pada ranking ke 6 setelah Indonesia, disusul Jerman, Brasil, Inggris dan Perancis.

Ini yang bikin saya tersenyum. Karena realitas hari ini, dalam konteks penanggulangan pandemi Covid-19, dari 100 negara, posisi Indonesia ada di urutan ke 97, sehingga Indonesia sangat ditakuti banyak negara di dunia. Setidaknya, 68 negara menutup diri dari warga negara Indonesia. Mereka melarang warga negara Indonesia dan siapa saja yang datang dari Indonesia, kecuali warga negaranya sendiri secara ketat.

Musababnya jelas, Indonesia di mata 68 negara itu merupakan salah satu kluster penyebaran Covid-19 yang parah. Para investor mencermati dengan tekun bagaimana pemerintah Indonesia mengatasi pandemi ini. Mulai dari senda gurau dan cengéngésan di awal berkembangnya info pandemi ini (Maret 2020), lalu sibuk dengan perdebatan 'mencari ketiak ular' yang tidak perlu, dalam konteks penerapan PSBB.

Kepercayaan muncul, ketika Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Let. Jend (TNI). Doni Munardo diangkat menjadi Ketua Satgas Percepatan Penanggulangan Covid-19. Kurva penyebaran mulai melandai.

Boleh jadi cara Satgas Covid-19 yang tegas, fungsional, proporsional dan menggunakan prosedur ketat dengan standar prosedur WHO (world health organizations), merisaukan banyak kalangan. Sebagaimana mereka risau dengan aksi Gubernur Jakarta, Anies Baswedan dengan prinsip 'mendahulukan penyelamatan nyawa manusia dengan tetap mengutamakan ekonomi.'  

Setelah Presiden Joko Widodo misu-misu, disertai ancaman akan melakukan reshuffle kabinet -- yang sulit terjadi -- sangat terasa nafas oligarki dalam tata kelola pemerintahan dan berbagai gimmick, terbentuklah apa yang disebut dengan Komite Penanganan Covid-19 yang secara paralel menangani krisis kesehatan dan ekonomi.

Tapi, bagaimanakah sesungguhnya fundamental sosio ekonomi Indonesia dan beberapa bangsa yang diunggulkan Bank Dunia dan IMF? Dari sudut pandang IMF yang sudah bikin bangsa ini susah di awal fase reformasi Indonesia (yang kini terus bergulir ke arah deformasi), tentu akan semacam itu. Apabila sejumlah prosedur mereka dipakai.

Dari 1998 sampai 2004, IMF terus meyakinkan, karena sejumlah politisi dan petinggi negeri sibuk mengikuti prosedurnya secara tersurat dan tersirat. Antara lain, patut diduga, mewujud dalam bentuk amandemen Undang Undang Dasar 1945 yang berlangsung empat kali, dan penerbitan berbagai undang-undang telah membuat perubahan formasi meruyak ke mana-mana. Bukan perubahan dramatik yang jelas mengikuti tatanan visioneering, efektif dan efisien.

Kali ini pun demikian. Bisa diduga, penghiburan yang dilakukan Bank Dunia dan IMF akan mewujud, dengan sejumlah agenda. Antara lain memberi porsi tetap besar pada penanaman modal luar negeri - foreign direct invesment, karena modal yang diandalkan adalah sumberdaya alam dan populasi penduduk.

Senyatanya, dari apa yang bisa dirasakan dalam realitas kehidupan pertama yang dirasakan rakyat, fundamental ekonomi dengan mengikuti platform globalisme kapitalistik, terbukti rapuh. Globalisme itulah yang dikesampingkan Jerman, Inggris, Swiss, dan bahkan Jepang. Termasuk sosialisme mondial yang disisihkan Rusia dan Perancis.

Malaysia dan sejumlah negara lain, seperti Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, Turki, bahkan Iran mengembangkan alternatif lain yang membuat mereka lebih leluasa, termasuk dalam mempertimbangkan skema utang luar negeri (baik pemerintah maupun swasta) ke arah universe prosperity.

Adalah kenyataan terbuka, negara-negara yang diunggulkan oleh Bank Dunia dan IMF, seperti Amerika Serikat, Brasil, India, ternyata mengalami masalah dalam menangani pandemi Covid-19. Bersamaan dengan itu secara sosial ekonomi, juga tidak seperti yang diproyeksikan.

Dual policy yang diterapkan, menangani krisis kesehatan dan krisis ekonomi secara berbarengan, bukan pilihan yang tepat. Brasil dan Equador mengalaminya. Di Asia Tenggara, Filipina mengalami hal yang sama dan kemudian lekas banting stir, mendahulukan penyelamatan rakyat dengan cara yang keras.

Bagaimana dengan kita? Sehari sebelum Erick menyampaikan penghiburan Bank Dunia dan IMF secara virtual pada Dies Natalis Unpad, sejumlah menteri, Kamis (10/09/20) beraksi negatif terhadap pernyataan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan (Rabu, 9/9/20) yang akan menarik tuas pelonggaran dan memberlakukan kembali PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) seperti semula, sejak Senin (14/09/20). Suasana makin gaduh ketika broken can alias kaleng rombeng pun bicara di media sosial.

Kamis, (10/9/20) seperti diberitakan banyak media, sehari setelah Anies bicara, indeks harga saham gabungan (ISHG) langsung anjlok sampai 1,26 persen sampai ke level 5.084,33 saat dibuka. Untuk itu, perdagangan sempat dihentikan. Ketika dibuka lagi pukul 09.18, ISHG mengalami pelemahan hampir 4 persen.

Tentu, para penikmat riba yang sangat bergantung pada derivasi pasar saham, galau gebalau. Ruang untuk berburu rente di pasar resmi jadi seret. Makanya mereka memainkan aksi ambil untung seketika dan melarikan uang panas ke kampung halamannya.

Seperti biasanya, sejumlah petinggi bukan mencermati fundamental persoalan dan menemukan cara mengatasi masalah, karena yang paling gambang adalah mencari kambing hitam dan menudingnya dengan artikulasi setengah geram.

Tak hanya menko perkonomian, perindustrian dan perdagangan yang melontarkan sergah, wakil menteri luar negeri (Mahendra Siregar, yang ekonom) pun melontar sergahan dengan melontar pikiran kaum pemburu rente. "COVID-19 to kill people, but economic collapse would kill livelihood,” ( Covid-19 membunuh manusia, tapi tanpa ekonomi membunuh kehidupan) ujar Mahendra.

Walaupun dia mengatakan jangan mempertentangan antara pandemi dan ekonomi, mestinya dia juga berfikir sebagai manusia normal, "La vie rétablit l'économie, la mort due à Covid est incapable de ramener les morts à la vie." (Kehidupan dapat memulihkan ekonomi, kematian karena Covid tidak bisa menghidupkan yang mati).

Di sisi ini PSBB dengan segala persiapan yang matang, terkait bantuan sosial dan lainnya, mesti dilihat. Ekonomi, politik, sosial, dan berbagai aspek kehidupan tidak bermanfaat tanpa dialiri kemanusiaan. Karena bangsa ini dibentuk dan ada, antara lain untuk mewujudkan kemanusiaanh yang adil dan beradab.

Anies memberlakukan PSBB, menarik tuas rem darurat seperti dia omongkan ketika mengantar transisi PSBB tidak atas kemauannya sendiri, banyak pertimbangannya, termasuk pertimbangan berdasarkan realitas di lapangan. Tidak hanya karena fasilitas rumah sakit dan tenaga kesehatan yang sudah tidak seimbang. Pun, bisa diduga, karena sebagai Gubernur dia memanifestasikan apa yang dinyatakan Presiden Joko Widodo, memberi prioritas utama untuk mengatasi krisis kesehatan lebih dulu.

Saya justru tertarik dengan pandangan ekonom Aviliani, dalam diskusi Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta, Kamis, 10 September 2020. Avi mewanti-wanti pemerintah berkaca pada penerapan PSBB, Maret 2020, yang berimbas kepada sektor usaha kecil menengah. Karenanya dia memberi signal sekaligus warning, hati-hati dalam menerapkan PSBB.

Anies memilih jalan yang tepat. Para petinggi bongsor yang mengurusi ekonomi, sila memanfaatkan waktu dua pekan untuk bergerak lebih cepat dan sama membangun pemikiran kolektif, dahulukan keselamatan nyawa rakyat, utamakan pemulihan ekonomi. Para petinggi dan rakyat, jangan mudah terlena oleh penghiburan Bank Dunia dan IMF. Kita punya pengalaman getir.

Dari cara para petinggi merespon keputusan Anies selaku Gubernur Jakarta dan pasukan broken can bergaduh, jelas Anies tidak sedang menghadapi nanomonster COVID-19 dan pemerintah pusat yang cenderung terlambat merespon keadaan. Anies sedang menghadapi monster lain, yang sama tak nampak.. Jadi mesti senantiasa berpandai-pandai siasah.. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1491
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1906
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1044
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1458
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Energi & Tambang