Fosil Yang Membuat Kita Bertahan [1]

Faktor Dominan Teknologi dan Sains

| dilihat 2576

Oleh Dr Arif S. Siregar | Profesional Pertambangan 

Banyak pihak, khususnya penggiat di bidang kekayaan perut bumi memprediksi, sekitar sepuluh tahun ke depan, bangsa Indonesia akan dipaksa memasuki sebuah era di mana energi nasional akan menjadi problem sangat serius. Sebagian, malah telah berani meraba-raba, apa kiranya yang akan dihadapi anak cucu kita pada tahun 2020. Tahun yang ketika itu pasokan bahan bakar minyak [BBM] sudah jauh menipis, setipis harapan masa depan bangsa secara keseluruhan.

Sebagaimana diprediksi banyak kalangan, BBM akan langka pada 25 tahun ke depan, gas akan habis pada 50 tahun ke depan, sementara batubara akan tuntas dari perut bumi pada era 100 tahun mendatang.

Mulai sepuluh tahun ke depan, bangsa kita akan mengalami krisis energi nasional karena terbatasnya ketersediaan BBM atau semakin mahalnya harga BBM. Hampir tak bisa disangkal bahwa kehidupan sehari-hari kita amat bergantung kepada teknologi listrik yang komponen utamanya mengandalkan energi BBM, air atau batubara. Padahal, dari sejak bangun tidur di pagi hari hingga tidur kembali di malam hari, listrik menjadi teman yang amat sulit dipisahkan dari kehidupan kita.

Bayangkanlah sehari saja listrik mati ! Lalu, bagaimana kita melihat ini semua ?

Sejatinya, semakin dekat sebuah bangsa kepada teknologi maka akan semakin kecil resikonya kehabisan energi untuk menggerakkan roda kehidupan bangsa tersebut. Sebaliknya, semakin jauh ditinggalkan oleh laju perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, maka sebuah bangsa juga akan kian terseok-seok, meski memiliki ketersediaan sumber daya alam [SDA] yang melimpah. Yang perlu selalu disadari, teknologi dan ilmu pengetahuan (sains) tetap merupakan faktor yang sangat penting (the determinant factor).

Baik teknologi maupun ilmu pengetahuan, keduanya memiliki keterkaitan yang amat mustahil saling menisbikan satu dengan lainnya.

Pada bagian pertama, dengan mudah kita menemukan banyak bangsa di dunia yang tetap bertahan (survive) meski alam tak memberinya kesempatan yang memadai, contohnya Singapura, Jepang atau Korea Selatan. Tetapi, kita jangan sampai masuk kategori kedua; memiliki SDA yang membuat bangsa-bangsa di dunia iri atau geleng-geleng karena takjub, tetapi tak mampu berbuat apa-apa, hanya karena kita tak tahu bagaimana seharusnya memanfaatkannya.

Sekarang, bayangkan Anda sedang dikejar-kejar waktu dan tiba-tiba listrik "ngadat", atau contoh yang paling umum, begitu masuk kamar mandi di pagi hari lantas mendadak mati lampu. Karena tidak sabaran, lalu kita mengumpat sana-sini seakan dengan itu lampu akan otomatis menyala. Atau, bisa saja di rumah kita tidak menemui hambatan apapun.

Bagaimana seandainya ketika kita hendak menghidupkan kendaraan, mendadak terjadi hal yang tidak biasa. Mesin tidak bisa aktif, dan setelah dicermati, ternyata tangki belum terisi bahan bakar. Begitu seterusnya, jika kita mencoba melalui deret hitung, maka sesungguhnya kehidupan kita amat bergantung pada ketersediaan BBM untuk menggerakkan pasokan listrik bagi kebutuhan kita sehari-hari. | [ikuti artikel sambungannya: BBM Energi Fosil Tertua]

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
13 Jun 26, 06:26 WIB | Dilihat : 449
Langkah Berani Dato Onn Hafiz
08 Jun 26, 09:46 WIB | Dilihat : 339
Gelombang Biru di Negeri Johor
03 Jun 26, 10:21 WIB | Dilihat : 333
Cabaran Kewartawanan Era Baru
30 Mei 26, 04:47 WIB | Dilihat : 381
Kampanye Humor Kemerdekaan Pers
Selanjutnya
Humaniora
25 Jun 26, 00:19 WIB | Dilihat : 101
Duka Ashura
26 Mei 26, 06:53 WIB | Dilihat : 507
Dimensi Haji
21 Mei 26, 21:54 WIB | Dilihat : 465
Jamaah Haji Syarikat Islam Apresiasi Peningkatan Layanan
Selanjutnya