HIV - AIDS Dapat Dicegah

HIV - AIDS dan Keluarga

| dilihat 4816

AKARPADINEWS.COM |  HIV/AIDS ibarat fenomena gunung es. Jumlah penularan hingga jumlah data penderita lebih besar dari yang terdata selama ini. Permasalahan HIV/AIDS telah sejak lama menjadi isu bersama yang terus menyedot perhatian berbagai kalangan, terutama sektor kesehatan. Namun, sesungguhya masih banyak informasi dan pemahaman tentang permasalahan ini yang masih belum diketahui lebih jauh oleh masyarakat.

Setiap tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Peringatan itu pertama kali dicetuskan pada 1 Desember 1988 oleh penggagasnya, James W. Bunn dan Thomas Netter dari Program AIDS global di Organisasi Kesehatan se Dunia di Geneva, Swiss - bersama Direktur Program AIDS Global, Dr. Jonathan Mann pada pertemuan menteri kesehatan sedunia. Tujuannya untuk memberi edukasi soal penyakit AIDS lewat peringatan Hari AIDS se Dunia.

Di dunia ini sudah jutaan orang yang hidup dengan HIV AIDS, kita tidak akan mengetahuinya jika mereka tidak terus-terang mengatakan bila di tubuhnya terdapat virus tersebut. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan penyakit yang paling ditakuti, penyakit ini disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). HIV terdapat dalam cairan tubuh seseorang seperti darah, air mani atau vagina dan air susu ibu yang telah terinfeksi.

Virus tersebut menyerang kekebalan tubuh manusia.  Virus HIV yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit dan kekebalan tubuhnya semakin berkurang. 

PENDERITA HIV AIDS atau ODHA

ODHA alias Orang yang hidup Dengan HIV AIDS, sejarahnya bermacam-macam, ada yg karena tertular jarum suntik, gaya hidup yang tidak wajar (seks bebas, dsb), atau karena tertular oleh suami atau dari ibu yang sebelumnya sudah terjangkit virus tersebut (umumnya pada bayi dan balita).

Setiap tahun, prevelensi HIV/AIDS bergerak dengan laju yang sangat mengkhawatirkan. Mengkilas balik pada penghujung 2014 silam, media-media di Indonesia sempat ramai memberitakan bahwa satu keluarga di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur meninggal akibat HIV/AIDS. 

Supriyanto,  Kabid Rehabilitasi dan Kesetiakawanan Dinas Sosial mengemukakan, pada awalnya sang ayah lebih dulu terjangkit virus mematikan ini. Lelaki itu itu seringkali menyambangi beberapa lokalisasi di Kukar. Kemudian virus itu ditularkannya kepada sang istri lewat hubungan intim. Hingga buah hati mereka pun ikut terinfeksi HIV yang menyebabkan pada kematian.

Data lain yang mengejutkan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di tahun 2007-2014 mengungkapkan bahwa di tahun 2007-2014, dari banyaknya orang yang terkena HIV/AIDS di Indonesia, ibu rumah tangga menempati tempat teratas. Jumlahnya mencapa 6539 di tahun 2014. Jumlah penderita HIV/AIDS dari ibu rumah tangga jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah sopir truk, pekerja seks komersial maupun sektor pekerja lainnya.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, mengapa penyebaran HIV/AIDS justru muncul dari ranah domestik atau keluarga yang seharusnya menjadi ruang yang aman?  Keluarga umumnya dibentuk sebagai sumber utama pola perilaku sehat. Dalam sistem keluarga, perilaku sehat diperoleh dengan membentuk suatu sistem sosial dimana masing-masing anggota keluarga membentuk suatu ikatan bersama, mencapai suatu tujuan agar tubuh masing-masing anggota keluarga sehat dan mengelola pertumbuhan anak dengan baik.

POSTER TENTANG HIV AIDS

Penderita HIV/AIDS yang ditularkan oleh pasangan atau seorang ibu pada anaknya cenderung tidak mengetahui atau memiliki informasi atau pengetahuan mengenai HIV/AIDS. Kebanyakan berasal dari kalangan ekonomi bawah. Sehingga resiko terkena HIV lebih memungkinkan.

Suatu perilaku yang tepat dapat menghindari bahaya HIV/AIDS harus dimulai dari pengetahuan yang memadai mengenai HIV/AIDS itu sendiri. Di samping untuk mencegah diri dari melakukan berbagai hal yang beresiko menularkan HIV/AIDS.

Dilansir dari Stanford.edu bahwa HIV/AIDS dapat dicegah dengan memutus rantai penularan, yaitu: menggunakan kondom pada setiap hubungan seks yang berisiko, tidak menggunakan jarum suntik secara bersama-sama, dan tidak memberi ASI pada anak bila ibu positif HIV. HIV tidak mudah ditularkan, dan tidak menular melalui bersalaman, bersentuhan, berpelukan, batuk atau bersin, memakai peralatan rumah tangga bersama; seperti alat makan, telefon, kamar mandi, WC umum, kolam renang. Juga tidak ditularkan melalui gigitan nyamuk, bekerja berseko-lah atau berkendaraan bersama. HIV tidak ditularkan lewat udara dan cepat mati bila berada di luar tubuh, kemudian mudah dibunuh dengan cairan pemutih (bleach) atau dengan sabun dan air. HIV tidak dapat diserap oleh kulit yang utuh.

Sampai saat ini belum ada obat yang tepat mengobati HIV/AIDS meskipun berbagai penelitian telah dilakukan, yang ada adalah obat untuk menekan perkembangan  Virus HIV sehingga kulaitas hidup ODHA tersebut meningkat. Obat ini harus diminum sepanjang hidup.

Hal penting lainnya yang juga perlu untuk diperhatikan adalah tes HIV/AIDS. Tes HIV adalah gerbang untuk penanganan, perawatan, dan prevensi yang baik (apabila dilakukan dengan benar dan sejak dini). Sebagian besar orang yang hidup dengan HIV mendapatkan tes dan konseling hanya ketika mereka telah mendapatkan penyakit klinis yang parah terutama di negara berkembang seperti di Indonesia.

KAMPANYE TENTANG AIDS

Peran keluarga seperti dua mata sisi pisau, ketika salah satu anggota keluarga terkena viru maka keluarga menjadi bagian utama untuk memberikan dukungan.  Mungkin ketika pertama kali mendapati anggota keluarga terkena HIV/AIDS rasa sangat sedih, marah, panik, terguncang serta berbagai rasa tak enak lainnya tentunya berkecamuk. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul biasanya : “Mengapa harus menimpa keluarga kami?” atau “mengapa harus saya?” bagi penderita. Namun reaksi shock semacam ini secara pasti harus segera digantikan dengan sikap mendukung penderita. Apalagi, jika penderita HIV atau AIDS adalah pencandu narkotika suntik dengan jiwa yang labil dan rentan bunuh diri.

Hal yang mengharukan juga terjadi dari reaksi kalangan para perempuan yang mengetahui suaminya terkena penyakit tersebut. Umumnya, para perempuan ini diuji untuk mempraktikkan sumpah setia perkawinan mereka.

Menurut Dr. Nirmala, konselor Klinik Khusus Jakarta yang melayani pengidap HIV dan AIDS. Dari Kasus-kasus yang HIV terjadi, banyak keajaiban pada pasien AIDS yang diterima dengan keikhlasan serta mendapat dukungan keluarga yang luar biasa.

“Mereka yang sudah sampai stadium empat itu ibarat tumbuhan yang dimakan ulat, sangat sakit dan tidak berdaya. Namun banyak kasus menunjukan, dengan dukungan dan pendampingan keluarga serta memperoleh terapi HIV secara kontinu, pasien bisa kembali berseri-seri. Dukungan orang-orang terdekat dan keluarga benar-benar obat paling mujarab, di samping obat-obatan itu sendiri,” tuturnya. | Ratu Selvi AGNESIA

Editor : Web Administrator | Sumber : Berbagai sumber
 
Budaya
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 307
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 470
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 724
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
Selanjutnya
Humaniora
26 Mei 26, 06:53 WIB | Dilihat : 356
Dimensi Haji
21 Mei 26, 21:54 WIB | Dilihat : 399
Jamaah Haji Syarikat Islam Apresiasi Peningkatan Layanan
11 Mei 26, 09:34 WIB | Dilihat : 635
Sandal dan Kain Ihram Gratis
Selanjutnya