Catatan Seputar Naypyidaw Ibukota Myanmar (1)

Istana Megah Menanti Suu Kyi di Kota Sunyi

| dilihat 2331

Catatan Bang Sem

AUNG San Suu Kyi dari partai NDL (National Democratic League) alias Liga Demokratik Nasional yang baru saja memenangkan pemilihan umum bersejarah Myanmar, agaknya sudah harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya di Ibukota Myanmar Naypyidaw. Istana megah berkemilau emas di kota sunyi, menanti dia memimpin Republik Myanmar yang baru saja melangkah memasuki demokrasi.

Di ibukota dengan istana berkilauan warga kuning keemasan yang terletak di 320 utara ibukota lama, Yangon itu.  Sebagai Presiden, kelak dia akan tinggal di istana yang sangat megah dengan konsep ruang yang luas bertiang tinggi dengan sirkulasi udara bagus untuk mengatasi panas yang menyengat.

Semua itu jelas berbeda dengan kondisi lingkungan dan kehidupan dia sebelumnya di Yangon, yang padat dengan kantor partai yang tak begitu luas. Di Naypyidaw, Suu Kyi berada di sebuah kota baru dengan buleverd yang sangat luas, dengan tata ruang menggunakan sistem blok.

Ketika berkunjung ke ibukota baru Myanmar, setahun lalu, kesan pertama terhadap ibukota negara yang sangat lama dikendalikan militer ini adalah sepi. Kota ini memang sungguh baru dan belum sepenuhnya menjadi sentra habitus sosial. Istana Kepresidenan dan Kompleks Parlemen dibangun bersebelahan. Tak ada lalu lalang kendaraan, kecuali kendaraan Presiden, Menteri, Anggota Parlemen, dan pegawai negeri.

SALAH SATU SUDUT  ISTANA NAYPYIDAW DAN RUANG KHAS PRESIDEN MYANMAR BICARA EMPAT MATA DENGAN KEPALA NEGARA/PEMERINTAHAN YANG DATANG BERKUNJUNG

Sepanjang jalan dari Bandara Internasional Naypyidaw yang juga sepi dan belum sepenuhnya beroperasi, yang terlihat hanya hamparan sawah dan perkampungan tua tersebar, dengan petani miskin mengolah lahan secara tradisional. Sejumlah prajurit dan polisi, dikerahkan ke tepian jalan untuk berjaga dengan caranya yang khas (menghadap kampung) ketika tamu negara datang berkunjung.

Boleh jadi, Suu Kyi sudah langsung beradaptasi dengan lingkungan Naypyidaw, ketika dia memulai langkahnya sebagai anggota parlemen. Lantas, mafhum akan melakukan apa di ibukota baru yang sangat luas, itu.

Seorang pemandu menjelaskan, Naypyidaw bermakna: tempat bermukim para raja. Pembangunan ibukota ini, disamping karena alasan rasional: menghindari hiruk pikuk dan kemacetan Yangon, dan lebih memungkinkan Presiden dan petinggi negara berkonsentrasi melaksanakan pekerjaan, juga karena pertimbangan lain : nasihat dukun.

Secara keseluruhan Naypyidaw meliputi luas 4.800 km2, yang oleh penulis Amerika Serikat secara lebai dikatakan sebanding dengan dengan 78 kali ukuran Manhattan. Tata ruang ibukota ini didesain sedemikian rupa, sehingga mudah terkendali.

KORPS MUSIK ISTANA KEPRESIDENAN MYANMAR UNTUK MENYAMBUT PARA TAMU NEGARA

Apartemen untuk para pegawai negeri dibangun dalam satu blok, di blok lain sentra permukiman penduduk yang masih kosong. Blok untuk sentra pariwisata dengan hotel dan aneka fasilitasnya, termasuk golf cource dan driving range, terbangun sendiri. Demikian juga halnya dengan blok komersial untuk aktivitas niaga. Beberapa danau dan telaga dibangun tersebar sebagai reservoir, sekaligus sebagai kantung air. Ada juga pusat pembangkit listrik.

Kota yang dibangun laksana teratai di lihat dari udara, itu dilengkapi dengan bangunan Pagoda Uppatasanti, menyerupai pagoda Shwedagon yang beken di Yangon. Pagoda ini dibangun dengan ketinggian  99 m (325 kaki), lebih pendek dari Pagoda Shwedagon, dan selesai dibangun tahun 2009. Ke pagoda dengan sepasang gajah putih, ini para wisatawan berkunjung, khasnya wisatawan lokal, sambil memadu kasih.

Jangan berkeliling tengah hari di Naypyidaw, karena panas yang sangat menyengat. Bahkan, ketika malam melintasi kota yang cukup pantas disebut sebagai ghost city – kota hantu, udara masih terasa hangat. Selain pagoda, bagi penggemar akik dan permata, boleh berkunjung ke museum gemstone yang menjadi kebanggaan di tepi bulevar ibukota ini.

Semangat menghiasi kota dengan kolam air mancur di bundaran, tiga patung raja Birma legendaris, nampak terasa. Sejumlah oase kota juga disiapkan sebagai sentra penghijauan, yang kelak akan menjadi oase dan paru-paru kota, dilengkapi dengan kebun binatang yang dibangun menyerupai taman safari.

BULEVAR - JALAN UTAMA IBUKOTA MYANMAR NAYPYIDAW

Pusat ibukota yang paling menonjol adalah kompleks pemerintahan dengan konsentrasi pada Istana Kepresidenan dan Gedung Parlemen (Pyidaungsu Hluttaw). Istana ini terdiri dari 100 kamar dan basih kinclong. Dibangun dengan atap khas gaya Birma, dengan hiasan kemilau emas. Di dalam Istana, mulai dari Presiden sampai petugas biasa – kecuali petugas keamanan – mengenakan sarung dan baju koko khas birma. Pegawai perempuan yang sebagian masih nampak belia, juga demikian.

Para staf dan pegawai istana disiapkan tempat tinggal di belakang istana. Sebuah halaman luas untuk upacara tersedia di depan Istana, berbatas sungai. Ketika malam tiba, kemilau Istana sangat nampak, karena cahaya lampu yang memancar. Ibukota Naypyidaw merupakan satu-satunya kota di Myanmar yang dialiri listrik selama 24 jam.

Meski Naypridaw termasuk kota yang tak dinilai baik perencanaan pembangunannya, dan berbeda konsep tata ruangnya dengan Putera Jaya – Malaysia, dibandingkan dengan ibukota negara-negara ASEAN lain yang padat, Naypyidaw termasuk satu-satunya ibukota yang masih bersuasana pedesaan. Inilah ibukota yang masih karib dengan sawah, ladang, sapi, kerbau, dan alat pengolah lahan sangat tradisional.

Di tepian jalan utama ibukota masih terlihat para petani bekerja mengolah sawah dan ladang pertanian. Beberapa bagian dari sawah dan ladang itu, menjadi sentra penelitian untuk pengembangan teknik dan teknologi pertanian.

Konsep spasial ruang dalam keseluruhan tata ruang ibukota Naypyidaw dengan sistem blok, ini agaknya dirancang dengan sistem kontrol warga yang ketat. Kecuali kompleks wisata (perhotelan) dibangun blok-blok untuk pegawai negeri sipil berbentuk apartemen empat lantai. Masing-masing blok diberi warna berbeda untuk mengenali instansi tempat mereka bekerja, posisi jabatan di lingkungan instansinya, dan status perkawinan mereka.

MARKAS BESAR PARTAI UNI SOLIDARITAS DAN PEMBANGUNAN (USDP) YANG DIKALAHKAN PARTAI NDL PIMPINAN AUNG SAN SUU KYI

Apartemen warna biru yang sangat menonjol dan terlihat dari bulevar adalah blok pegawai Kementerian Kesehatan, tak jauh dari blok apartemen itu adalah apartemen karyawan Kementerian Pertanian yang berwarna hijau. Begitulah seterusnya.

Di bagian lain terlihat bangunan kokoh kantor Union Solidarity and Development Party (USDP) pimpinan Htay Oo yang dikalahkan NDL – Suu Kyi. Bangunannya mirip dengan bangunan rata-rata Kementerian Pertahanan di berbagai negara. Boleh jadi, inilah bangunan kantor partai sangat luas yang pernah saya lihat.

Tak jauh dari kantor partai itu, bangunan baru sedang dibangun, tak lebih dari empat lantai dengan sisa lahan yang cukup luas. Saya tak mendapat konfirmasi tentang rencana pembangunan jangka panjang ibukota ini, apakah disiapkan juga untuk membangun gedung pencakar langit seperti laiknya ibukota negara lain.

Kendati demikian,pemerintah Myanmar sudah menyiapkan area khas untuk olah raga dan pembangunan stadion. Termasuk rancangan jalan tol yang akan menghubungkan ibukota ini dengan ibukota lama, Yangon. Sentra-sentra seremonial juga sudah disiapkan, termasuk sentra niaga yang akan dibangun pusat-pusat perbelanjaan. Yang tak nampak adalah gedung lembaga pendidikan, seperti kampus, rumah sakit, bioskop, dan ornamen hidup kota lainnya. Sekolah-sekolah dasar dan menengah terlihat di pinggiran kota dekat dengan Bandara Internasional Naypyidaw. Suu Kyi, dikabarkan mengontrak rumah di pinggiran ibukota yang lengang ini.

PETANI MISKIN DENGAN GEROBAK SAPI MASIH TERLIHAT DI SISI BULEVAR NAYPYIDAW, JALAN BELUM DIPADATI KENDARAAN

Di Naypyidaw partai pimpinan Suu Kyi berhasil memenangkan 4 dari 43 kursi parlemen yang dimenangkannya. Kemenangan 4 kursi di Naypyidaw itu dianggap istimewa, karena menunjukkan, NDL berhasil merebut kursi yang sudah disiapkan untuk kalangan partai petahana. Termasuk kemenangan Zeyar Thaw, artis hip hop berusia 31 tahun, yang ketika berkampanye di pinggiran Naypyidaw mengangkat isu ekonomi lokal.

Menurut Zeyar, ketika Naypyidaw dibangun,  banyak rakyat yang kehilangan tanah dan pekerjaan mereka – yang umumnya adalah petani dan peternak. Mereka harus meninggalkan kampung halamannya, karena pembangunan Naypyidaw ini.

"Sekarang banyak dari mereka tidak memiliki pekerjaan, sebagian besar peternakan telah pergi. Orang-orang menginginkan perubahan, dan saya ingin membantu mereka. Itulah salah satu alasan saya menang," ungkap Zeyar.

Ibukota baru yang dibangun dekade 2000-an di bawah kepemimpinan Jendral (Senior) Than Shwe ini, sangat terasa sunyinya, karena jalan 20 jalur yang sangat luas, yang kelak akan menghubungkan masing-masing blok, termasuk ke Istana Kepresidenan dan Kompleks Parlemen. Ibukota ini diperkirakan telah menghabiskan dana $ 6 miliar anggaran negara, ketika pertama kali dibangun. |

Editor : sem haesy
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1266
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1657
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 838
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1262
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Polhukam
01 Jul 20, 19:43 WIB | Dilihat : 45
Memahami Ideologi
15 Jun 20, 23:20 WIB | Dilihat : 259
Menebar Virus Akalbudi Kemuliaan Melayani Rakyat
07 Jun 20, 23:14 WIB | Dilihat : 813
Jakarta Bergerak Menuju Peradaban Baru
06 Jun 20, 15:47 WIB | Dilihat : 657
Trump Sebabkan AS sebagai Adidaya Disfungsional
Selanjutnya