
ISWAMI (Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia - Indonesia) mengimbau media kedua negara memperkuat narasi yang harmonis dalam menyikapi isu penyelesaian perbatasan Indonesia - Malaysia di Kalimantan Utara - Sabah, agar dapat menghindari konten kesalahpahaman khalayak (Jum'at - 17/4/26)
Lewat keterangan tertulis (Sabtu,18/4/26), Presiden ISWAMI Malaysia Datuk Ahmad Zaini Kamaruzzaman dan Presiden ISWAMI Indonesia Asro Kamal Rokan menekankan, pemberitaan media harus memprioritaskan sumber resmi dari kedua negara, dengan pendekatan yang seimbang, bijaksana, dan didasarkan konteks dalam setiap liputan.
Keduanya menjelaskan, negosiasi mengenai penetapan batas dan pengukuran wilayah "Masalah Perbatasan yang Belum Terselesaikan (Outstanding Boundary Problem / OBP)" tidak didasarkan pada prinsip timbal balik, kompensasi, atau pertimbangan untung rugi.
Menurut Zaini dan Asro, “Media harus bertindak sebagai jembatan pemahaman yang memperkuat hubungan bilateral, bukan pemicu kesalahpahaman. Laporan yang tidak akurat, tidak seimbang, atau spekulatif hanya akan memengaruhi hubungan baik yang telah lama terjalin antara Malaysia dan Indonesia,” menurut Zaini dan Asro.
ISWAMI berkeyakinan, para pemimpin kedua negara terus memprioritaskan pendekatan diplomatik yang berdasarkan niat baik, rasa hormat, dan persahabatan dalam menangani masalah ini.
ISWAMI mendesak pemerintah Malaysia dan Indonesia untuk memberikan penjelasan resmi khusus kepada praktisi media untuk memastikan bahwa fakta yang jelas, akurat, dan konsisten dapat dikemukakan kepada masyarakat, sehingga menghindari kebingungan dan spekulasi yang tidak berdasar.
ISWAMI menekankan bahwa peran media sangat penting dalam memastikan bahwa isu-isu sensitif seperti perbatasan nasional dilaporkan secara bertanggung jawab, dengan memprioritaskan sumber yang otentik dan pelaporan yang seimbang, demi kepentingan bersama dan stabilitas regional. | rilisa