
Catatan Bang Sèm
Perbincangan khas ihwal zakat, infaq dan sadaqah di tengah perkembangan masyarakat, negara, dan bangsa di tengah gelinjang geopolitik dan geoekonomi yang dinamis kini, amat menarik.
Hal demikian, mengemuka, ketika Presiden Lajnah Tanfidziah (LT) Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam (SI) Hamdan Zoelva (beserta pengurus SI) berdialog dengan Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAZ) H. Sodik Mudjahid (Kamis, 16/4/26) di Kantor SI - Jakarta.
Bagi kaum SI, Zakat, Infaq, dan Sadaqah (ZIS) merupakan siyasah kebajikan (deugdenstrategie) berorientasi manfaat dan menjadi salah satu budaya organisasi yang melekat kuat dalam seluruh aktivitasnya.
Pemimpin SI Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto pada masa kepemimpinannya menyatakan, "Jika semua manusia taat dalam hal zakat, ditambah kebaikan- kebaikan lain sesuai yang dikehendaki (dan diajarkan) oleh Islam, maka di dunia kita akan mencapai keadilan sosialistik, keadilan, kesetaraan (yang) adalah keadilan keamanan. (HOS Tjokroaminoto, 1905).
Pada masa itu sangat terbiasa, kala kaum SI bertandang ke berbagai kegiatan dan kantor SI, hal pertama yang dicari adalah kotak ZIS. Maknanya, kesadaran berzakat, berinfaq, dan bersadaqah menggerakkan kaum secara entusias, tak hanya dalam menjaga kemandirian dan muru'ah organisasi.
Lebih jauh dari itu, ZIS menjadi bagian hidup kaum dalam menumbuhkan, merawat, dan menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta (perjuangan organisasi). Pondasi penting dalam mengejawantahkan prinsip-prinsip aqidah, syariah, muamalah, dan akhlaq, sesuai kaidah perjuangan 'syari'ah wal ibadah' dengan nilai inti organisasi (sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah - dalam konteks mayor ajaran Islam sebagai addien, way of life).
Dalam satu tarikan nafas, ZIS sebagaimana dimaksudkan Tjokroaminoto, berkaitan langsung dengan misi aksi pergerakan organisasi : mendidik dan mengembangkan kaum SI sebagai warga bangsa Indonesia yang berkesadaran religius, kebangsaan, dan keumatan (kerakyatan).
Di bawah kepemimpinan Hamdan Zoelva, dilakukan secara khas reaktualisasi pemikiran dan praktik kepemimpinan para pemimpin SI (HOS Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, Haji Agus Salim, AM Sangaji, dan kawan-kawan). Tanpa kecuali budaya ZIS sebagai manifestasi idealistic frame : Mewujudkan kehidupan insaniah yang utuh sebagai hamba Allah yang berpedoman kepada Al Qur'an dan sunnah Rasul yang nyata.

Dalam pengantar percakapan dengan Ketua BAZNAS, itu Hamdan menegaskan penting dan perlunya aksi kerjasama (sinergi) kelembagaan organisasi kemasyarakatan Islam dengan BAZNAS. Terutama dalam konteks kemitraan yang menguatkan daya BAZNAS sebagai lembaga yang amanah, shadiq, fathanah, dan tabligh. Dapat dipercaya, benar (clean and clear), cerdas - kreatif inovatif, dan komunikatif.
Hamdan menyatakan, SI mesti memainkan peran dalam upaya transformasi dan orientasi kerja BAZNAS sebagai lembaga yang memperkuat tata kelola dengan prinsip-prinsip good governance (transparan - jelas, akuntabel, responsibel, independen, wajar berkeadilan - fairness).
Kerjasama dalam wujud kemitraan strategis sebagai yang mampusecara sistemik mengubah umat dari posisi sebagai mustahik (penerima ZIS) menjadi muzakki (penunai ZIS). Lembaga yang mampu membalik kemiskinan dan luas manfaat.
Gayung bersambut, Ketua BAZNAS Orientasi BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) berfokus pada penguatan tata kelola zakat yang amanah, transparan, dan profesional untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Dalam praktiknya meningkatkan kepercayaan umat, terutama dalam konteks pemberdayaan dan pemajuan ekonomi umat, melalui berbagai program produktif.
Selaras dengan itu, melalui berbagai perubahan dan pembaruan dengan memastikan pengumpulan dan penyaluran ZIS secara proporsional dan profesional, terstruktur, dan transparan di berbagai program. Setarikan nafas adalah peningkatan kualitas modal insan berorientasi layanan umat. Muaranya adalah keadilan.
Baik Hamdan maupun Sodik memandang hal yang sama ihwal potensi ZIS yang diproyeksikan mencapai Rp327 triliun hingga mendekati Rp1.000 triliun, yang perlu dijangkau dengan norma -- antara lain yang pernah tumbuh di SI -- yakni, "Menunaikan dan mengelola ZIS, serta melayani umat itu mulia."
Optimalisasi pemumpunan dan penghimpunan, serta penyaluran ZIS tepat sasaran mesti menjadi komitmen bersama, apalagi sampai lima tahun ke depan, umat akan berhadapan dengan berbagai cabaran kemungkinan krisis ekonomi, yang dapat berdampak pada krisis finanasial dan moneter.
Hamdan dan Sodik sama bersepakat, kemitraan strategis antara BAZNAS dan organisasi kemasyarakata Islam, harus konsisten dan konsekuen mematuhi aturan pokok yang sesuai dengan hukum agama dan hukum positif negara.
Melalui pengembangan kesadaran pengelolaan ZIS sesuai ketentuan ajaran Islam, dengan kesadaran atas dhamir ummah, mampu menguatkan akses umat terhadap modal, pasar, pendidikan, dan jaminan sosial yang menguatkan harmoni kebangsaan. |