
“PESTA sudah berakhir, sampah masih berserakan. Make up di wajah pun masih terlihat rona pupurnya. Masih perlu waktu membersihkannya, sehingga wajah asli, akan nampak sesungguhnya.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari celah bibir Lung, kala menyaksikan Ling membersihkan wajahnya di toilet dalam kamar. Ling menoleh. Dia tersenyum.
“Tumben berpuisi. Kayaknya udah lama banget gue gak denger lu berpuisi,” kata Ling, sang isteri.
Lung mendekati Ling, kemudian memeluk isterinya itu dari belakang.
“Ling, makin malem, lu keliatan makin cakep,” ujar Lung sambil mengeratkan pelukan di pinggang isterinya yang ramping itu. Ia meninggalkan Ling, lalu rebah di tempat tidur gaya permaisuri jaman Kaisar Ming.
Pujian Lung membuat Ling bahagia. Sambil terus membersihkan wajahnya, Ling membayangkan masa-masa indah, ketika Lung rajin berpuisi kala pacaran. Sudah sangat lama Lung tak berpuisi.
Kalau dulu Lung sering berurusan dengan kata-kata, kini dia lebih karib dengan angka-angka. Urusan dagang membuat Lung lebih menguasai angka-angka katimbang kata-kata.
Peristiwa apa saja selalu dihubungkan Lung dengan angka-angka. Mangga yang jatuh di halaman rumah dia hitung satu persatu, dia kalkulasi: berapa yang dimakan codot dan berapa pula yang masih pentil dan layu.
Ketika pesta menyambut arak-arakan Pak Lurah dari pengkolan jalan sampai ke Balai Desa, Lung juga asyik menghitung berapa banyak tetangganya yang mengelu-elukan Pak Lurah di pinggir jalan, berapa juga yang ngendon di dalam rumah. Lung juga sibuk menghitung potensi penurunan indeks harga saham gabungan, dan posisi rupiah atas dollar Amerika yang tetap saja nangkring di bilangan harga Rp12 ribuan.
Lung tak tahu, pikiran Ling mengembara sampai sebegitu jauh. Dia rebah saja di tempat tidurnya. Saking pulasnya, bahkan dia tak peduli, Ling sudah rebah di sebelahnya.
Ketika pagi mengembang. Matahari memancar dan berkas cahayanya. Lung dan Ling bergegas bangun. Ling buru-buru menyiapkan teh China kesukaan Lung, ketika Lung mandi. Ling juga menyiapkan bubur ayam yang biasa disantap Lung sebelum berangkat ke pasar.
Ada beberapa perubahan yang menyolok dalam kehidupan pagi Lung. Ling mencatat, sejak setahun belakangan, Lung tak lagi berlangganan koran. Bahkan, mendengar berita radio atau menonton televisi berita pun tidak. Ling bertanya soal kebiasaan yang berubah itu.
“Ling, ketika media sudah tidak lagi independen, sudah dijajah oleh kepentingan komersialnya semata, apapun kata-kata yang tersaji, pasti tidak memberi manfaat buat kita. Tidak memberi manfaat, tidak penting, dan tidak perlu,” jawab Lung suatu hari, ketika Ling bertanya.
Hanya media yang independen dan sungguh mengutamakan kepentingan para pembaca, pendengar, dan pemirsanya yang sungguh berpihak pada kebenaran, sungguh memperjuangkan amanat dan hati nurani rakyat. Selebihnya, tidak.
“Tapi kita tetap perlu koran dan majalah, Koh..”
“Ling bener, kita perlukan lembaran-lembaran koran dan majalah buat bungkus barang dagangan kita, karena kata-kata dan angka-angka yang dituliskannya tak banyak berguna buat kita. Paling tidak, buat gua,” jawab Lung.
Lung terkekeh sambil nyeruput teh China melihat Ling terperangah memandang wajahnya. “Ling, mulai hari ini kita kudu bagi peran.. lu ngurusin kata-kata, gua ngurusin angka-angka. Lu pilih kata-kata yang bisa gua ubah jadi angka-angka,” kata Lung.
Ling terbengong. Lung buru-buru bergegas menghidupkan mesin sekuternya. Kemudian berlalu meninggalkan Ling... |