
LUNG duduk di sofa sambil menonton film Manchuria Candidate, ketika Ling datang, meletakkan secangkir kopi, kemudian duduk di sebelah Lung. Film yang terinspirasi oleh peristiwa kampanye kandidat Presiden Amerika, itu termasuk salah satu film yang digemari Ling, selain Judge Bao.
“Besok, sehabis pelantikan di Sidang Paripurna MPR di Senayan, katanya, ada serah terima jabatan dari Presiden SBY ke Presiden Jokowi, ya?” tanya Ling iseng.
“Ah.. lu ada ada aja, Ling. Gak ada serah terima jabatan kayak yang diributin orang itu.”
“Terus apa yang bakal terjadi?”
“Pak SBY memberi penghormatan kepada Presiden yang melanjutkan tugas kepresidenan. Itu namanya keadaban. Etika seorang pemimpin untuk menghormati pemimpin lainnya.”
“Ooo.. gitu? Bagus ya.. Kalo kayak begini, pasti Indonesia bakal menjadi negara demokrasi yang bener-bener beradab.”
“Kok lu ngomong gitu, Ling?”
“Ah.. lu kaya kagak tahu aja. Pelantikan Pak SBY sebagai Presiden tahun 2004 kan gak dihadiri Presiden sebelumnya. Boro-boro mendapat penghormatan kayak begitu.”
“Udah lah Ling.. Gak usah ngomongin yang udah lewat. Ntar gak maju-maju.”
Keadaban dalam proses alih kepemimpinan yang bermartabat itu penting, kata Lung. Apa yang dilakukan Pak SBY, Pak Prabowo, dan Pak Jokowi itu sudah benar. Para pemimpin negeri ini, memberi keteladanan untuk saling hormat menghormati.
Peristiwa politik, kudu berbudaya. “Kalo nggak, peristiwa politik menjadi tidak meninggalkan apapun yang bisa dicontoh oleh generasi baru,” kata Lung.
Bel berbunyi. Ling bergegas ke pintu. Dia melihat ada tamu yang datang. Kerebet. Ling buru-buru membukakan pintu dan mempersilakan Kerebet masuk. Lung segera ke ruang tamu, menyambut Kerebet.
“Gak ke Monas, menyambut Presiden baru?” tanya Bang Kerebet.
“Gak lah Bang.”
Ling masuk dan menyediakan minuman untuk Bang Kerebet. Lung tersenyum, ketika Kerebet bercerita tentang penyambutan untuk Jokowi di Istana yang bakal menjadi tempat dia tinggal selama menjadi Presiden.
“Peristiwa penghormatan terhadap Presiden baru seperti yang dilakukan Pak SBY itu menarik disimak oleh siapa saja,” ujar Lung.
“Ya.. itulah yang namanya Datang Tampak Muka, Pergi Tampak Punggung,” ujar Kerebet.
Kerebet menjelaskan tentang kepatutan yang selalu mengalir dalam realitas kehidupan sebagai manusia. Bila ada yang datang, pasti ada yang pergi. Ada yang naik pasti ada yang turun. Dalam konteks datang dan pergi, serta naik dan turun itulah berlaku kepatutan dan keadaban.
Bila keadaban ini terus dijaga dan dipelihara, maka negara dan bangsa ini akan mampu mengembangkan nilai budaya yang akan membuat bangsa ini lebih bermartabat. “Senang kita melihat proses pergantian yang mengalir seperti ini. Karena itu jangan dirusak dengan cara-cara yang tidak beradab,” lanjut Kerebet.
Lung mengatakan, sebagai warga bangsa Indonesia, sudah sepatutnya kita bersyukur. Utamanya karena kita memiliki pemimpin yang berusaha memahami dan meneriam realitas dengan sikap legowo yang sesungguhnya. “Ya.. bener itu.. Sikap legowo untuk semua kalangan. Bukan legowo untuk orang lain, tapi tidak legowo untuk kita,”ujar Kerebet. Mudah-mudahan tradisi seperti ini bisa diteruskan… |