Panggil Aku Tok Sengon

| dilihat 1613

Bang Sèm

Tok Sengon. Panggil aku begitu saja. Aku tak tahu mengapa orang-orang sekitar memanggilku begitu dan seperti itu.

Atok adalah panggilan penghormatan dari kata datuk atau datok, karena aku memang sudah bercucu. Usiaku pun tak muda lagi. Mungkin hanya mereka yang mengalami rabun senja atau terkena katarak yang memandangku masih muda.

Aku lahir, hadir dan mengalir di peralihan era agraris, industri dan informasi. Aku mengalami era mesin tik, mesin tik listrik dan komputer (tentu termasuk laptop, iPad, kapsul, dan bimbit pintar alias smartphone).

Karenanya, ketika zaman bergerak ke era konseptual, menawarkan disrupsi, kedustaan - post trust era, dan segala macam istilah lain yang kusebut zaman sungsang, aku banyak belajar kepada cucu dan generasi seusianya.

Termasuk belajar memahami, bagaimana mungkin bisa, presumption diyakini sebagai jalan utama konsep berfikir, serta alasan dan intuitive reason dijadikan tameng dalam menyikapi masalah, cara menyelesaikan masalah atau façons de résoudre les problèmes, diabaikan.

Dari cucu dan generasinya aku belajar, bagaimana banyak petinggi menghabiskan waktu memproduksi alasan, menjadi bagian dari masalah, lalu menyeret khalayak amah - masyarakat kebanyakan terjebak dalam katastrop.

Kepada mereka aku mencari tahu, mungkinkah lantaran banyak petinggu begitu getun mengambil watak semut sebagai amsal, sehingga begitu banyak orang memindahkan masalah dari satu realitas ke realitas lain.

Akibatnya tak pernah ada masalah asasi terselesaikan pada suatu rentang masa, dan tak pernah usai menjadi pekerjaan rumah generasi berikutnya. Tak satupun yang berani mengambil keputusan final, untuk tidak membiarkan generasi baru terseret persoalan masa lalu, yang kian dibicarakan kian dubieus, tak sekadar konfius alias samar dan buram.

Di tengah zaman yang begitu banyak memuja para nabi dan keyakinannya masing-masing, tak satupun yang mau paham, meski merasa mengerti, bagaimana Musa menegakkan law enforcement, seperti apa Daud memandu manusia memahami dimensi artistika dan estetika dalam kehidupan manusia, bagaimana Isa mengalirkan pemahaman esensial tentang cinta dan kasih sayang. Bahkan, tak bersedia paham, meski mengerti, bahwa Rasulullah Muhammad SAW ditugaskan Allah menyempurnakan law enforcement menjadi keadilan (justice), mengubah-suai artistika dan estetika sebagai peradaban dengan menegaskan prinsip etik di dalamnya, lantas memformulasi pengembangan cinta dan kasih sayang menjadi kemanusiaan?

Panggil Aku Atok Sengon, seperti orang-orang sekelilingku memanggil. Bukan lantaran aku seolah pokok Sengon yang mampu memadamkan seluruh sistem dan jaringan energi listrik dalam sekejap. Bukan pula karena aku senang menanam pokok Sengon yang cepat tumbuh dan bisa dipanen untuk dijadikan bagian material utama rumah murah untuk rakyat.

Aku tak tahu alasan mereka memanggilku Atok Sengon, tapi aku suka dipanggil begitu, terutama setiap kali aku terbahak menyaksikan begitu banyak orang sibuk dengan kosakata kesatuan sambil mengabaikan persatuan, sibuk dengan kosa kata pilar, sambil tak lagi tahu membedakannya dengan pondasi, lantaran kosakata ini begitu dekat dengan kosakata fundamental.

Atau, ketika aku terlongong bingung ketika banyak orang menyoal kosakata radikal yang selalu dihubungkan dengan jadiannya, radikalisma karena tak pernah menyediakan waktu untuk mengetahui, kosakata radikal bermula dari kata radiks yang maknanya sangat dalam dan positif: manusia yang berurat akar di lingkungan masyarakatnya.

Walhal.. aku suka dipanggil Tok Sengon! Terutama setiap aku mengalami gatal-gatal, setiapkali petinggi berkata, "negara hadir," justru ketika negara kerap absen di tengah persoalan pelik rakyat.

Aku Tok Sengon. Aku memilih jalan budaya untuk memahami realitas bagian-bagian kecil kebudayaan, seperti politik, sosial, ekonomi, dan beragam aspek kehidupan lainnya.

Dan, aku akan berada di tempatku, rumah sejati kebudayaan, yang akan kukuak jendelanya untuk memandang geliat fenomena seluruh aspek kehidupan itu. Termasuk ketika aku melihat aneka paradigma yang menjawab setiap fenomena itu.

Aku Tak Sengon. Karena jalan yang kupilih adalah jalan budaya, aku akan memilih cara dalam menyikapi peristiwa dan persoalan di tengah dinamika kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam mempertanyakan: apa hebatnya bangsaku, yang sering mengalir dalam retorika di dalam pidato para politisi. Termasuk di masa lalu.

Aku hanya peduli pada pertanyaan cucuku: Bagaimana membuat bangsaku hebat? Tanpa mesti terjebak sesanti, tema, dan jargon. Ini soal cara. Mulai dari bagaimana mengenali perbedaan halus antara fantacy trap dan visi, termasuk mengenali vision killer!

Aku Tok Sengon! Lelaki baya,  pembelajar sepanjang hayat!

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
14 Agt 26, 09:40 WIB | Dilihat : 402
Hentikan Perusakan Demokrasi dan Politik
08 Agt 26, 19:13 WIB | Dilihat : 252
Negara Utang Budi kepada Rakyat
05 Agt 26, 20:16 WIB | Dilihat : 412
Rakyat Negeri Sembilan Bagi Kuasa kepada BN & PN
15 Jul 26, 23:02 WIB | Dilihat : 537
Merawat Kepercayaan Rakyat
Selanjutnya
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1225
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3379
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya