Waspada, Virus Zika Mewabah di Singapura

| dilihat 2052

SINGAPURA, AKARPADINEWS.COM | KEKHAWATIRAN melanda warga dan pekerja di Aljunied Crescent dan Sims Drive. Pasalnya, kawasan itu menjadi tempat berkembangnya virus Zika. 41 orang dilaporkan terpapar virus tersebut.

"Saya merasa takut," kata Ng Kai Yee, mahasiswi berusia 18 tahun yang tinggal di dekat lokasi berkembangnya wabah Zika. "Saya mendengar banyak hal tentang bahaya virus Zika untuk perempuan, terutama ibu hamil," imbuhnya.

Pihak berwenang telah menghimbau warga, terutama perempuan hamil dan para pekerja di kawasan berisiko itu, untuk mengecek kondisi kesehatan dan mencari bantuan medis jika merasa ada gangguan kesehatan.

41 kasus yang ditularkan virus Zika di Singapura juga menimbulkan kekhawatiran tentang seberapa cepat bisa mengancam warga di seluruh wilayah di Asia Tenggara. Kekhawatiran itu muncul setelah ditemukan ribuan kasus mikrosefali (microcephaly) di Brasil tahun lalu. Microcephaly merupakan kelahiran bayi yang tidak biasa, dengan ukuran kepala yang lebih kecil.

Di Brasil, tercatat 3.893 kasus microcephaly sejak Oktober 2015 lalu. Brasil merupakan negara yang pertama kali terpapar virus Zika. Virus itu lalu menyebar di seluruh kawasan Amerika seperti Barbados, Kolombia, Ekuador, El Salvador, French Guiana, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname dan Venezuela. Kepala Badan Kesehatan Dunia (WHO), Margaret Chan, sebelumnya menegaskan, hingga saat ini, belum dipastikan penyebab microcephaly akibat virus Zika.

Senin (29/8), petugas kesehatan menyemprotkan insektisida dan membersihkan saluran air yang tergenang di wilayah tersebut, yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Dengan menggunakan masker, petugas juga menyisir perumahan warga di tujuh titik, memeriksa pot-pot tanaman dan menyemprotkan insektisida dengan menggunakan mesin fogging (termal forgger).

Kementerian Kesehatan Singapura dan Agensi Lingkungan Nasional (NEA) melaporkan, virus Zika pertama kali ditemukan pada perempuan berusia 47 tahun, dan dengan cepat menyebar. Orang-orang yang terinfeksi sebagian besar pekerja di lokasi konstruksi milik GuocoLand, Aljunied. "Kami berharap dapat mengidentifikasi kasus dengan lebih positif," kata Kementerian Kesehatan Singapura, dalam pernyataannya, Senin (29/8).

Otoritas setempat telah melakukan pemeriksaan dan sebagian besar mereka yang terinfeksi, tidak menunjukkan gejala signifikan. GuocoLand, yang berkantor pusat di Singapura juga telah diperintahkan untuk menghentikan aktivitasnya lantaran 36 pekerjanya terinfeksi Zika. WHO dalam pernyataannya Minggu (28/9) tidak mengetahui asal Zika yang beredar di Singapura. Sementara Kementerian Kesehatan Singapura melaporkan, ada sekitar 19 habitat perkembangan nyamuk yang terdeteksi dan telah dibersihkan di Aljunied dengan melakukan penyemprotan di sekitar 6.000 rumah milik warga. Dari 41 orang yang terpapar virus Zika, 34 orang dilaporkan sudah pulih.

Otoritas setempat juga telah memeriksa 124 orang, kebanyakan para pekerja konstruksi asing. 78 orang dinyatakan negatif, dan lima kasus ditangguhkan. 34 pasien lainnya dilaporkan tidak mengalami gangguan kesehatan. Penyebaran virus Zika di kawasan Asia Tenggara yang beriklim tropis cenderung kurang dilaporkan. Otoritas kesehatan setempat gagal melakukan screening.

"Zika kurang dilaporkan dan didiagnosis," kata Khin Myint, kepala unit penelitian penyebaran virus di Eijkman Institute yang didanai Pemerintah Indonesia. "Kami menemukan banyak kasus tidak dialporkan rumah sakit karena penyakit relatif ringan dengan gejala ringan dan orang-orang tidak ke dokter," imbuhnya.

WHO telah memasukan Indonesia, Thailand, Filipina dan Vietnam sebagai negara dengan kemungkinan mengalami transmisi endemik nyamuk di tahun 2016. Namun, Eijkman Institute yang berbasis di Jakarta melakukan pengujian pada 1.000 orang tahun lalu dan ditemukan hanya satu kasus positif, meskipun ada laporan bahwa Zika lazim di Indonesia.

Thailand tercatat paling tinggi. Hampir 100 orang di 10 propinsi terinfeksi Zika tahun ini. Kemungkinan jumlah itu meningkat karena pengujian tidak dilakukan secara menyeluruh. Kriengsak Limkittikul, asisten profesor Departemen Kedokteran di Mahidol University, Bangkok menilai, orang yang tanpa gejala, sering kali tidak diperiksa. "Screening tidak memadai di negara-negara kawasan itu," katanya.

Vietnam mencatat tiga kasus infeksi Zika. Sedangkan Kamboja melaporkan tujuh kasus dan Hong Kong mengkonfirmasi kasus pertamanya pada Jumat (26/8), pada wanita yang telah melakukan perjalanan ke Karibia. Dampak utama yang muncul adalah demam ringan dan mata merah serta 80 persen orang-orang yang terinfeksi tidak menunjukan gejala gangguan kesehaan.

Hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat yang dapat menyembuhkan seseorang yang terjangkit Zika, yang merupakan "sepupu" demam berdarah dan chikungunya, yang ditularkan oleh nyamuk.

Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara mulai melakukan upaya antisipasi menyusul wabah virus Zika di Singapura. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, Mohamad Subuh menyatakan, pihaknya meningkatkan pemeriksaan kesehatan di bandara dan pelabuhan, termasuk di Batam, pulau terdekat dari Singapura. Pemeriksaan dilakukan kepada warga yang datang dari Singapura.

Pemerintah Kota Batam Kepulauan Riau melakukan pemeriksaan kesehatan kepada penumpang di pelabuhan laut internasional dan bandara. "Antisipasi ini dilakukan karena di Singapura sudah terdeteksi virus Zika," kata Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Batam, Ardiwinata di Batam, Senin (29/8). Pemeriksaan diintensifkan karena mobilitas warga, baik warga Batam maupun Singapura melalui lima pelabuhan internasional, sangat tinggi.

Petugas mengaktifkan kembali thermo scanner dan menyebarkan selebaran dan spanduk tentang bahaya virus Zika. "Jika terindikasi suhu badannya tinggi, akan direkomendasikan ke klinik di pelabuhan, dan kalau dinilai akut, maka dirujuk ke rumah sakit terdekat," jelas Ardiwinata.

Sementara Menteri Kesehatan Malaysia Subramaniam Sathasivam mengatakan, wisatawan yang masuk Johor Bahru, yang jumlahnya mencapai sekitar 200.000 orang, yang bolak-balik setiap hari ke dan dari Singapura, akan menjalani screening di pos pemeriksaan wilayah perbatasan. Orang yang menyeberang dengan menggunakan kendaraan pribadi diberikan pamflet yang merinci gejala terserang virus Zika dan meminta segera untuk melapor ke pihak berwenang.

Malaysia juga meningkatkan mekanisme pengendalian nyamuk, termasuk penyemprotan fogging dan larvasida di Johor Bahru. "Demam berdarah masih merupakan masalah besar dari Zika karena orang bisa mati dari demam berdarah," kata Subramaniam.

Sedangkan Departemen Pengendalian Penyakit Thailand menyatakan pemeriksaan dilakukan pada atlet yang kembali dari Olimpiade, Brasil. Sementara Vietnam dan Kamboja tidak mengubah kontrol di kawasan perbatasan.

Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Taiwan, mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning) kepada warganya yang akan berangkat ke Singapura. CDC mengeluarkan peringatan perjalanan level dua ke Singapura, perempuan hamil dan perempuan yang merencanakan kehamilan disarankan untuk lebih berhati-hati.

Berdasarkan sistem tiga tahap CDC, peringatan perjalanan level 1 adalah saran kewaspadaan dan pencegahan penyakit, sedangkan level 2 mendesak kehati-hatian tingkat tinggi dan tindakan perlindungan yang ketat. Sedangkan level 3 adalah imbauan kepada agen perjalanan menuju atau dari destinasi tertentu.

CDC telah mengeluarkan peringatan perjalanan level 2 untuk 58 negara dan wilayah yang dilaporkan terkena infeksi virus Zika, termasuk Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Indonesia. Negara-negara itu menjadi jalur terpadat lalu lintas manusia ke dan dari Taiwan.

Dr Thomas Sleweon, direktur medis penyakit menular Rumah Sakit Methodist, mengatakan, virus Zika telah ada sekitar sejak beberapa dekade lalu di daerah tropis Afrika, Asia, dan Kepulauan Pasifik.  Para dokter mengira gejala yang timbul akibat virus Zika mirip flu, tidak akan banyak merugikan. Tapi, pada Oktober tahun lalu, dokter di Brazil bagian utara mulai melihat dampak berbahaya yaitu peningkatan pada bayi yang dilahirkan dalam kondisi microcephaly yang otaknya juga rusak.

Di Amerika Serikat, kasus yang berhasil didiagnosis berasal dari orang-orang yang bepergian ke negara-negara yang menjadi tempat virus Zika aktif dan berkembang. Namun, ada satu kasus yang dilaporkan sebagai akibat dari penularan seksual.

Sebagian besar kasus Zika menyebar melalui nyamuk Aedes aegypti, tapi nyamuk itu biasanya hanya di Florida, Pantai Teluk dan Hawaii. Aedes albopictus atau nyamuk macan Asia, dapat menularkan virus Zika dan aktif di bagian utara New York dan Chicago di musim panas.

Menurut WHO, virus Zika pertama kali terindentifikasi di Uganda tahun 1947 yang menyerang monyet di Hutan Zika. Kemudian, virus Zika teridentifikasi pada manusia tahun 1952 di Uganda dan Republik Tanzania. Wabah penyakit virus Zika juga ditemukan di Afrika, Amerika, dan Asia Pasifik. Dari tahun 1960 ke tahun 1980-an, infeksi pada manusia ditemukan di Afrika dan Asia, biasanya disertai dengan sakit ringan.

Wabah besar pertama yang disebabkan infeksi Zika dilaporkan di Pulau Yap (Negara Federasi Mikronesia) pada tahun 2007. Pada Juli 2015, Brasil melaporkan hubungan antara infeksi virus Zika dan sindrom Guillain-Barré. Lalu, pada Oktober 2015, Brasil melaporkan ada hubungan antara infeksi virus Zika dan microcephaly.  Virus Zika ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi dari genus Aedes, terutama Aedes aegypti di daerah tropis. Nyamuk aedes biasanya menggigit pada siang hari, memuncak pada pagi dan sore atau malam. Ini adalah nyamuk yang juga menyebabkan demam berdarah, chikungunya dan demam.

Menurut Ari Fachrial Syam, dosen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI RSCM), virus Zika merupakan Flavivirus kelompok Arbovirus, bagian dari virus RNA. Pertama kali  diisolasi tahun 1948 dari monyet di Hutan Zika Uganda (Baca: Waspada Virus Zika)

“Jadi sepertinya Zika sendiri merupakan nama hutan tempat di mana virus ini diisolasi. Selanjutnya, beberapa negara Afrika, Asia khususnya Asia tenggara, Mikronesia, Amerika Latin, dan Karibia, melaporkan penemuan virus Zika ini,” terangnya kepada akarpadinews.com, Selasa (26/1).

Penularan virus ini sama seperti virus demam berdarah akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti, pembawa virus Dengue. Kasus demam berdarah Dengue terus meningkat di Indonesia, apalagi saat musim hujan. Selain menjadi vektor atau pembawa virus Dengue dan virus Zika, nyamuk ini juga membawa virus Chikungunya.

Di Indonesia, di tahun 2015, lembaga Eijkman Jakarta telah berhasil mengisolasi virus Zika di Indonesia. “Bahkan, pada tahun 1981, peneliti Australia telah melaporkan pasien penderita virus Zika setelah bepergian ke Indonesia,” kata Ari yang juga menjadi konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi.

Pada tahun 2013, peneliti Australia juga melaporkan penemuan satu kasus infeksi virus Zika pada seseorang warga negara Australia setelah melakukan perjalanan selama sembilan hari ke Jakarta. Penemuan kasus tersebut dipublikasi di American Journal Tropical Medicine and Hygiene. “Dari laporan beberapa kasus terdahulu, virus Zika sudah ada di Indonesia."

Gejala virus Zika, seperti infeksi virus pada umumnya. Awalnya, pasien akan merasakan demam mendadak, lemas, kemerahan pada kulit badan, punggung dan kaki, serta nyeri otot dan sendi. Berbeda dengan dengan infeksi virus Dengue, pada infeksi ini, mata pasien akan merah karena mengalami radang konjungtivitis. Pasien juga akan merasakan sakit kepala.

Pada saat pemeriksaan laboratorium, hanya menunjukkan penurunan kadar sel darah putih seperti infeksi virus lainnya. Berbeda dengan infeksi demam berdarah, infeksi virus Zika, tidak menyebabkan penurunan kadar trombosit. Sementara masa inkubasinya, mirip dengan infeksi virus Dengue, yaitu sampai satu minggu.

Lalu bagaimana upaya penyembuhannya? Ari menjelaskan, dengan istirahat dan banyak minum, pasien dapat sembuh. Sementara obat yang diberikan hanya bertujuan untuk mengatasi gejala yang timbul. Misalnya, jika gatal, diberikan obat gatal, dan jika demam diberikan obat demam.

Saat ini memang vaksin untuk virus ini belum ada. Namun, jangan panik. Pengobatan dilakukan dengan istirahat cukup, banyak minum, jika demam, minum obat penurun panas dan tetap mengonsumsi makanan yang bergizi.

Pencegahannya sama seperti pencegahan infeksi demam berdarah, yaitu dengan memberantas sarang nyamuk. Temukan jentik dan lakukan 3M (Mengubur, Menguras, dan Menutup) yang sudah menjadi slogan Kementerian Kesehatan tatkala membasmi demam berdarah.

M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Reuters/Chicago Tribune/Antara/WHO
 
Humaniora
11 Jan 21, 13:34 WIB | Dilihat : 338
Mat Seni Cermin Perjuangan Kaum Betawi
05 Jan 21, 10:16 WIB | Dilihat : 214
Kala Uti Merajut Kasih Menyulam Cinta
04 Jan 21, 09:57 WIB | Dilihat : 436
Hidup Adalah Dunia Yang Akan Pecah Berkeping
04 Jan 21, 10:01 WIB | Dilihat : 189
2021 Tahun Pertobatan Semesta
Selanjutnya
Lingkungan
26 Des 20, 19:59 WIB | Dilihat : 157
Tsunami Dahsyat Menggempur Aceh 1394 dan 2004
05 Des 20, 16:53 WIB | Dilihat : 204
Menghirup Udara Bersih Adalah Hak Asasi Manusia
01 Nov 20, 23:18 WIB | Dilihat : 589
Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta
Selanjutnya