Duta Besar Iran untuk Indonesia

Jaga Persatuan Dunia Islam

| dilihat 277

Duta Besar Iran untuk Indonesia Muhammad Boroujerdi. berkias kalam. Kepada wartawan -- dalam konferensi pers di kediamannya -- ia mengemukakan. persatuan dunia Islam laksana atap rumah yang melindungi penghuninya (Jakarta, Senin, 2.03.26).

"Jika atap rumah itu runtuh, maka seluruh elemen di dalamnya akan menjadi korban," katanya. Atap rumah yang runtuh, itu tak menyaring, apa mazhab dan golongan penghuninya. Apakah mereka Syiah, Ahlussunnah wal Jamaah, Maliki, Hanafi, Syafii, dan lain sebagainya.

Dalam konteks kehidupan yang lebih luas,  secara tersurat dan tersirat, Boroujerdi mengisyaratkan pesan, bahwa persatuan dunia Islam mesti sungguh dijaga... agar tak diruntuhkan oleh laku buruk pengkhianatan.

Membayangkan negara laksana sebuah rumah raksasa, upaya pengkhianatan untuk meuntuhkan atap tersebut, merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Demikianlah halnya dengan Iran, sehingga dapat diinfiltrasi oleh pihak asing.

Ia menyatakan, pengkhianatan sebagai salah satu bentuk infiltrasi pihak asing sangat mungkin terjadi di internal pemerintahan Republik Islam Iran. Pernyataan ini  mengemuka, saat dia merespons berbagai spekulasi yang muncul selepas serangan Amerika Serikat (AS) dan zionis Israel kepada Iran (Sabtu, 28.02.26).

Serangan AS dan zionis Israel tersebut menewaskan ratusan siswa yang sedang belajar di sekolahnya di salah satu sudut Teheran. Serangan serempak tersebut juga menyebabkan Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, isterinya, anak dan cucunya, tewas sebagai martir dalam keadaan syahid - syahidah. 

Boroujerdi tak mengelak, syahidnya Ayatollah Khamenei kemungkinan karena adanya adanya pengkhianatan, sebagaimana terjadi dan dialami pada sejumlah pemimpin Iran di berbagai peristiwa sebelum-sebelumnya.

Tantangan Semua Negara

Dalam kancah geopolitik global, Iran merupakan negara yang paling disalah-pahami dan diperlakukan secara tak adil dengan beragam stigma dan tuduhan. Karenanya senantiasa menjadi sasaran operasi intelijen -- mata-mata -- negara lain (khususnya AS dan anak semangnya - zionis Israel).

Borourjedi mengemukakan, praktik mata-mata tak hanya menyasar satu negara, secara spesifik, melainkan menjadi tantangan bagi semua negara di dunia dalam menjaga kedaulatannya.

"Pengkhianat mungkin saja ada. Dan hal itu mungkin saja terjadi di negara mana pun, dan saya yakin di semua negara di dunia pengkhianat dan mata -mata  ada," ujar Boroujerdi, diplomatis.

Pengkhianat adalah Musuh Bersama

Ia menyoroti peran aktif intelijen zionis Israel yang telah tersebar luas di berbagai wilayah dan negara, terutama di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Agen mata-mata dan jaringannya, menurutnya, telah dididik sedemikian rupa untuk menjalankan misi di luar batas wilayah mereka sendiri.

Duta Besar kelahiran Hamedan (19.07.1966), ini menyatakan, "Rezim Zionis Israel telah mendidik agen mata-mata dan intelijen mereka hampir di semua negara dunia, khasnya negara-negara Islam. Dan hal ini tidak terbatas atau tidak berhenti di Iran." Boroujerdi mengingatkan keberadaan jaringan intelijen asing yang mungkin juga sudah beroperasi di Indonesia.

Salah satu indikator aktivitas mata-mata zionis Israel dan AS dapat dilihat dari kecenderungan kalangan tertentu dalam mendukung langkah politik zionis Israel, dI Indonesia, lihatlah pihak mana yang mendukung langkah Rezim Zionis Israel.

Mengacu kepada apa yang terjadi dan dialami di negaranya, Boroujerdi secara tersirat mengemukakan,  bahwa negaranya beberapa kali telah dirugikan oleh aksi individu yang membelot.

"Pengalaman menghadapi pengkhianatan tersebut telah memberi pelajaran yang berharga bagi Teheran dalam memperkuat ketahanan internalnya," katanya lagi.

"Tentu negara saya telah dipukul oleh para pengkhianat yang pernah ada dan sedang ada. Tetapi kami telah belajar banyak dari hal-hal tersebut. Kita harus meyakini secara bersama bahwa pihak yang berkhianat merupakan pihak yang tidak mungkin memberikan dukungan langsung dan nyata kepada pihak di mana dia berafiliasi," jelas Boroujerdi.

Duta Besar lulusan Universitas Kementerian Luar Negeri Iran -- hubungan politik internasional -- ini mengemukakan,  modus operandi yang sering digunakan oleh para pengkhianat, yakni dengan memicu polarisasi dan perbedaan pendapat di tengah umat Islam.

"Hal ini dipandang merupakan upaya sistematis untuk meruntuhkan persatuan yang seharusnya menjadi atap pelindung bagi dunia Islam," ungkapnya. Secara sadar dan terencana mereka menyebarluaskan perbedaan pendapat antara berbagai kalangan dan golongan dunia Islam.

Ketika persatuan diperlukan oleh umat Islam, pihak pengkhianat ini berusaha melakukan polarisasi, mengkotak-kotakan ummat Islam.

Tegas, Duta Besar Iran menyatakan, "Pengkhianat adalah musuh bersama seluruh negara Islam dan seluruh negara dunia," paparnya. | haedar

Editor : haedar
 
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 283
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 603
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 714
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya
Energi & Tambang
09 Apr 26, 07:17 WIB | Dilihat : 68
PHE Pastikan Langkah Strategis Ketahanan Energi
06 Apr 26, 11:32 WIB | Dilihat : 96
PHE Perkuat Eksistensi di Industri Energi Global
21 Mar 26, 09:31 WIB | Dilihat : 416
Berlebaran di Anjung Tengah Laut
29 Des 25, 06:55 WIB | Dilihat : 668
Pertamina Hulu Rokan Pelopor Teknologi CEOR di Indonesia
Selanjutnya