Butong Tak Bisa Pisah dengan Akordeon

| dilihat 631

Haédar Muhammad

Di lingkungan musisi Melayu di Jakarta, mutakhir, salah satu nama yang tak bisa dipisahkan adalah Butong dengan nama beken Butong Olala. Ada juga yang menyebutnya Butong Akordeon.

Tak semua orang bisa memainkan instrumen yang mulai masuk ke dalam musik Melayu modern di dekade 60-an itu. Khasnya, ketika instrumen harmonium yang digenjot seperti mesin jahit, berangsur tak digunakan lagi.

Butong bahkan tak memikirkan asal usul musik yang dia sangat piawai memainkannya. Sebelumnya Butong sudah karib dengan electone dan piano. Pada tahun 2000-an, ketika hijrah dari Medan ke Jakarta, Butong mulai mempelajari secara otodidak.> "Awak tengok, akordeon lebih asyik dibanding organ," ungkapnya, ketika berbincang Sabtu (25 Juli 2020) pagi, ketika dia mengabarkan akan live show di laman facebook-nya dari anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada malam harinya.

Karena pertimbangan itulah, dia belajar secara otodidak. Lalu, 'karib' dan mencintainya, dan kini menjadi bagian dari eksistensinya sebagai musisi Melayu. Termasuk ketika musik melayu dipadu-padan dengan genre musik lain, termasuk jazz.

"Syooor-lah awak memainkan akordeon," ungkap musisi yang sangat menghanyutkan setiap kali mendendangkan lagu melayu Patah Hati, Zapin Budi, dan Pantun Budi yang padat petuah baik, itu. Butong tak bisa dipisahkan dengan akordeon.

Butong kian piawai memainkan akordeon, termasuk untuk langgam Melayu joget. Kehadiran Butong dengan akordeonnya memang memberi nilai tambah pada sajian musik melayu, termasuk yang populer. Paling mutakhir, bisa dinikmati kolaborasi dia dengan Alvin Habib yang piawai bermain biola (anak Medan juga) dan Roger Kajol (pemain oud dari Kuala Lumpur - Malaysia). Ketiganya membuat cover Cinta Dulu Cinta Sekarang gubahan (dan dipopulerkan oleh) Allahyarham Tan Sri SM Salim yang mengingatkan terjadinya perubahan nilai budaya dalam gaya bercinta.

Saya kenal Butong sekitar tahun 2007. Di hampir setiap perhelatan pernikahan sejumlah toko bangsa asal Melayu, saya selalu melihat dan bertemu dengan Butong. Ketika berlangsung Jakarta Melayu Festival 2014 besutan Gita Cinta Production besutan Geisz Chalifah, saya jumpa lagi dengan Butong. Kala itu dia bergabung dalam Anwar Fauzi Big Band, yang diminta Geisz mengaransemen dan mengiringi sajian musik-musik Melayu. 

Tahun 2014 itu pergelaran diselenggaran di Taman Ismail Marzuki, kemudian sejak 2016 sampai 2019 dipentaskan di pantai Ancol Big City. Butong selalu ada. Dia melakukan jam session untuk lagu-lagu tertentu dengan musisi nasional dan dunia (Henri Lamiri dan Daniel Lerner pemain sax dari Amerika Serikat, misalnya). Sekali dua dia juga bernyanyi.

Ketika berlangsung pergelaran Melayu Forever Nite (2015) di salah hotel di Kemang, dia diminta mendendangkan Patah Hati yang menghanyutkan itu. Di Ancol (2016) dia melantunkan tembang Budi yang digubah dari syair karya Buya Hamka, yang kesadaran tentang mulai hilangnyan budi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tahun berikutnya, ketika budi atau pekerti atau akhlak makin tergerus dari tata kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa, bersama Maxi Blues, dia menyajikan lagu Zapin Budi yang juga menggugah.

Musisi yang sangat sayang dengan ibunya ini, menyiasati kondisi pandemi Covid-19 dengan terus memelihara semangat kreatifnya. Dari kamar tidurnya, dia berkolaborasi kreatif dengan Alvin Habib dan Erie Suzan, dia membuat cover virtual atas lagu Semenjak Kita Berpisah.

Atas inisiasi Geisz Chalifah, Butong yang sangat santun, meski juga senang berkelakar, ini bersama kawan-kawan bermusiknya, seperti Darmansjah, Tom Salmin, Ade, dan beberapa lainnya berkolaborasi kreatif dalam Serojacoustic Band.

Setiap Selasa malam, kelompok musik ini tampil di Al Jazeera Signature, Menteng, Jakarta Pusat. Beberapa waktu, sempat juga mengisi acara di Al Jazeera Signature - Bandung, tapi tak berlanjut. Karena banyak peminat, porsi penampilannya ditambah lagi dengan Ahad malam. Namun, terhenti sejak nanomonster Covid-19 menerjang. Praktis sejak Maret 2020, Serojacoustic Band mengalami masa rehat yang panjang.

"Awak manfaatkan waktu berlatih terus di rumah.. sambil menikmati kicau burung," ungkapnya. Lantas membuat beberapa cover lagu melayu yang diinisasi Alvin Habib.

Butong yang juga gabung dengan komunitas Ronggeng Deli di Anjungan Sumatera Utara TMII, Sabtu malam (25/07/20) bersama Rani Dahlan, menggairahkan lagi musik melayu secara virtua dengan mulai on locus, via live facebook. "Do'akan ini jadi langkah awal, Bang," pesannya lewat komunikasi di saluran pribadi WhatsApp.. |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Humaniora
15 Okt 20, 08:09 WIB | Dilihat : 136
Maestro Musik Shajarian Masih Meninggalkan Ratapan
26 Sep 20, 06:38 WIB | Dilihat : 150
Memelihara Harapan
22 Sep 20, 14:32 WIB | Dilihat : 126
Monopoli Pikiran
Selanjutnya