Embun Malam Mengusik

| dilihat 588

Ketika kuterbangun di malam hari

Malam yang pekat dengan selimut embun menutup dedaunan

 Mengingatkan aku akan temaramnya  kehidupan

 Kubasuh tanganku,  mulutku, mukaku, kepalaku, kakiku.

Tangan yang selama ini kupergunakan 'tuk menggerakkan
semua daya  keinginan
'tuk kepentingan ku.

 Sudahkah cukup kugunakan tuk ibadah, memikirkan orang lain?

Mulut yang selama ini kulakukan untuk menyampaikan segala hal yang keluar dari pikiran,
dari hati, dari kepala, juga kubasuh tuk menjernihkan segala hal yang meredam
ku

memikirkan hal-hal, yang barangkali tidak semestinya kufikirkan dan kuucapkan.

Kaki yang selama ini telah membawa aku melangkah ke berbagai tempat ke berbagai penjuru dunia.

Sudahkah jalan yang kulalui, kujelajahi, telah menggiring aku ke jalan yang benar jalan yang diridhoi oleh-Mu  Ya Rabb?

Jalan yang akan menjadi bekal 'tuk menuju pintu, tempat di mana kelak, aku akan berlabuh menemui Mu.

Ya Allah , berilah aku petunjuk, agar semua yang kubasuh menjadi amalku, menjadi ibadahku.

Aamiin  Yaa Rabbal Alamiin.

 

Puisi naratif bertajuk Embun Malam, ini ditulis spontan, begitu saja, oleh Prof. Dr. Endang Caturwati, ST.,MS., di Bandung, persis diawal waktu 31 Desember 2019. Selepas beberapa hari ia mengajak cucunya berlibur ke sebuah dusun di Ciamis.

Berwudhu' dan kemudian salat tahajjud adalah cara guru besar ilmu seni budaya di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung, ini bersyukur.

Ia merasa, Allah tak pernah bosan mengabulkan permohonannya, dan tak pernah enggan memberi apa yang dia perlukan. Di penghujung tahun 2019, terkait dengan hari kelahirannya ke 63 tahun (ia dilahirkan tanggal 25 Desember 1956 di Cibangkong, Bandung).

Sabtu, 21 Desember 2019, Paguyuban Pasundan secara khas menggelar acara peluncuran buku biografinya, Pok Pek Prak Endang Caturwati di Tatar Sunda dan buku yang digagasnya, Perempuan Indonesia: Dulu dan Kini (Membangun Kecerdasan Bangsa di Bumi Nusantara).

Buku Perempuan Indonesia, menghimpun tulisan 30 perempuan hebat Indonesia, bergelar Profesor, Doktor, dan Magister dengan ragam profesi dan posisi, ada Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Dosen, Peneliti, Atase Kebudayaan, dan lain-lain.

Endang menjadi editor buku yang memancarkan kecerdasan nalar dan kearifan naluri kaum perempuan cendekia, itu.

"Allah memberi hadiah ulang tahun yang luar biasa. Peluncuran kedua buku itu dihadiri oleh Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Pimpinan Paguyuban Pasundan, para Tokoh Jawa Barat, dan orang-orang tercinta. Kakak, adik, anak, menantu, dan cucu-cucuku," ujarnya bahagia.

Pada Ahad, 29 Desember 2019, di Gedung Pakuan - rumah dinas Gubernur Jawa Barat, bersama Lenny Marlina dan sejumlah tokoh perempuan, Endang beroleh penghargaan Wanoja Kareueus (Perempuan Kebanggaan) Jawa Barat, dari Daua Mahasiswa Sunda (DAMAS).

Endang, puteri keempat dari lima putera-puteri pasangan R. Bardjo Hermandijoyo - karyawan Pindad (yang juga seniman karawitan dan cinta literasi) dan R. Ngtn Sri Sudarmi (perempuan kreatif berjiwa entrepreneur) yang mengalirkan nilai budaya, seni, tradisi, dan optimisme hidup, dan berkiprah di dunia pendidikan.

Seperti namanya yang bermakna kehalusan budi dan mencerminkan watak alamiah : bumi, matahari, air, dan angin.

Sosok perempuan dengan ketangkasan dan kehalusan akalbudi yang berani hidup, konsisten, konsekuen, dan punya kedalaman cinta untuk menjalani prinsip "urip iku urup." Hidup itu mencerahkan, mempunyai manfaat bagi banyak manusia lain.

Dalam bahasa agama, Endang lahir, hadir, dan mengalir mencapai kualifikasi diri sebagai manifestasi dari hairunnaas anfa'uhum lin naas (sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat luas bagi banyak manusia lain).

Karenanya, dia punya daya membentang silaturrahim dengan sesama insan, tak peduli apa latar belakang sosial, akademis, etnis, budaya, dan agamanya. Dia menjadi telangkai, fasilitator sekaligus katalisator dengan kekuatan silaturahmi.

Perempuan yang disunting Ir. Asep Djadja, seorang vulkanolog (pada usia 23 tahun), ini dikarunia dua putera puteri (Putty Hapsari dan Kukuh Argaditya) dan dipanggil Uti oleh cucu-cucunya, adalah sosok yang ulet dan tahan banting. Ia menguatkan konteks jalan hidupnya dengan sesama insan, semesta dan Tuhan.

Boleh jadi, dia mempunyai kesadaran kontekstual secara spiritual, karena kerap menyaksikan ayahnya melakukan tirakat selama beberapa hari dengan berpuasa (mutih). Di kalangan tasawwuf, tirakat lebih dikenal dengan bersuluk.

Puisi Embun Malam yang mengawali tulisan ini mencerminkan kesadaran untuk bercermin diri, mawas diri, kemudian mengenali diri, sebagai insan.

Puisi ini kontekstual dengan puisi sebelumnya, yang dia tulis antara bulan Oktober - November 2019, bertajuk, "Di Atas Langit Ada Langit." Begini, puisi itu: Kalau kita berasal dari tanah dan kembali ke tanah, mengapa harus melangit?/ Biarkan orang tahu kita,/ dari  apa yg kita lakukan! // Bukan memaksa orang harus tahu, / apa yang kita lakukan! // Biarkan orang menghargai  kita,/dari prestasi yang kita raih!//Bukan memaksakan orang / harus tahu apa yang kita raih! // Apakah kita tidak malu dengan sebatang padi yang semakin berisi makin merunduk?// Apakah kita tidak malu dengan air,/ yang semakin tenang semakin menghanyutkan?// Apakah kita tidak malu dengan pohon pisang,/ yang selalu berkorban untuk berbuah serta meninggalkan tunas-tunas baru sebagai pengganti,/ setelah itu, rela mati lenyap ditelan bumi...//

Dua dari begitu banyak puisinya ini, mengusik saya, memahami hakikat dirinya.

Penari multi talenta yang pernah menjabat Ketua (Rektor) Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan Direktur Kesenian dan Pembinaan Film - Ditjen Kebudayaan - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ini agaknya sesosok insan yang sangat paham, bahwa "manusia tertinggi dan mulia adalah yang paling rendah hatinya, dan yang paling rendah adalah yang paling tinggi hatinya."

Cendekiawan muslimah yang juga pengurus ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), Asosiasi Guru Besar Indonesia, Ketua Umum Citra Srikandi Indonesia (CSI), Ketua Klaster Sosial Humaniora Asosiasi Profesor Indonesia) dan berbagai organisasi lainnya, ini sangat paham ruang dan fungsi.

Meski punya keberanian untuk bersikap dan bertindak tegas dan lugas sesuai situasi, ia lebih memilih menghadapi setiap persoalan dengan senyuman. Dia tidak suka bergosip, tidak suka mengganggu orang lain, tentu tak suka pula diusik dan diganggu oleh siapapun.

Ia selalu ingin membasuh dirinya dalam pengertian maknawi dengan mengutamakan akhlak. Karenanya, karya-karyanya (tari, lagu, lukisan, dan puisi) selalu diusahakannya sebagai jalin harmoni artistika, estetika, dan etika.

Embun malam di penghujung tahun yang di dalamnya, Allah menguji kesabaran dan keikhlasannya. Pada 7 Mei 2019, suami yang menjadi pendukung dan memotivasi dirinya, berpulang ke haribaan Ilahi.

Membaca Puisi Embun Malam, saya merasakan gerak lembut imajinya, memahami fenomena semesta untuk melakukan introspeksi di ujung tahun. Sebelum menyambut tiba hari baru tahun berikutnya dengan semangat, gairah dan ghirah berkarya.   | Bang Sèm

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
03 Jun 20, 22:49 WIB | Dilihat : 115
Sapu Lidi
27 Mei 20, 07:27 WIB | Dilihat : 138
Serangan COVID-19 Merusak Paru Paru secara Abadi
22 Mei 20, 08:48 WIB | Dilihat : 572
Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan
21 Mei 20, 00:28 WIB | Dilihat : 112
Ke Mana Nalar Keadaban
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 223
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 245
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 211
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya