Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy

| dilihat 207

Tak Cermin Harus Dimaki 

 Orang-orang berwajah keruh
Dengan bisik dan kemul menyulut gaduh
Menyoal rezeki orang yang dirancang Tuhan
Membanding kerja orang tanpa kenal akar dan dahan
Mengubah lidah jadi belati memburu jabatan
Mengubah kata jadi sembilu diajar setan
Orang-orang berwajah keruh
Menakar rezeki orang mengukur pengaruh
Memecah cermin mendarah paruh
Jemarinya menghitung harap tak pernah penuh
Membilang hari menyimpan peluh membuncah keluh
Mari ajari mereka bagaimana cara mendaki
Membasuh seluruh sisi hati kumuh berdaki
Tak cermin harus dimaki
Tak wajah harus dicaci

(Jakarta, September 2012) 


Kucium Punggung Tanganmu

 Kucium punggung tanganmu ketika takbir menggema, 
di sela ruang sunyi, ditatap pilar kokoh rumah sukma
karena kucintai kecerdasan, kumuliakan keikhlasan, kuhargai kearifan, kukagumi kesabaran, kupahami bagaimana bekerja mengucur peluh membuang keluh.

Persaudaraan ini tak kan pernah dilumatkan oleh apapun, kecuali keikhlasan melangkah bersama, di jalan yang kita yakini kebenarannya.
Kucium punggung tanganmu ketika sunyi menebar, irama harmoni tentang bagaimana mengukuh hati, menegaskan ibadah bagi Ilahi. Tanda hormatku pada kegigihan mengemban amanah, memikul beban, dalam keikhlasan diri tanpa henti.
Kucium punggung tanganmu ketika remang merembang, persahabatan berkembang dalam ikhlas persaudaraan, tidak untuk hasrat apapun, kecuali kebersamaan menjemput hari esok lebih gemilang.

(Jakarta, 20 Agustus 2012)




Jalan Cinta

Jalan ini jalan cinta, kekasihku
Bukan jalan biasa tempat kita melangkah mesra.
Bukan jalan biasa tempat kita berlari ceria.
Jalan ini jalan cinta, kekasihku
Jalan bertebar duri menebar pedih
Jalan bertebar luka bertabur duka
Jalan yang kuyakini memberi suka
Ketika kaki-kaki kita kokoh oleh kasih sayang
Bersedia memberi tanpa mengharap pemberian
Bersedia menghadapi gebalau badai
Yang kelak kan berbuah damai
Bukan jalan sukacita berakhir duka
Bukan jalan riuh berakhir sunyi
Bukan jalan tawa berakhir tangis
Bukan jalan canda berakhir sengketa
Jalan ini jalan cinta, kekasihku
Jalan tempat kita melangkah ikhlas
Tak henti bersyukur
Memaknai cinta dan kasih sayang
Sepenuh hidup terjaga

(Jakarta, September 2012) 




Melintas Gelap


Debur ombak pada malam ketika rembulan pergi
Badai menghempas terkurung gelap
Tak kulihat terang cahaya 
Hanya kerlip lampu pembatas pantai 
Jauh di sana
Berkali-kali perahu ini oleng dipermainkan gelombang
Kendali kemudi kita pegang tanpa bimbang
Gelap akan sirna akan fajar akan merembang
Dengar... dengarlah... debur ombak membentur karang
Saatnya kita tafakkur hingga luas hati membentang
Memilin keyakinan dalam keteguhan
Merajut keteguhan dalam ketegaran
Memintal ketegaran dengan kasih sayang
Mengubah gelap malam laksana benderang siang
Jangan pernah berputus asa
Jadikan perahu ini tempat kita mengolah rasa
Bergerak melintasi masa
Meninggalkan gelap menjemput cahaya 
Meninggalkan ragu menghadirkan daya percaya
Gelap kan sirna, terang kan tiba
Jangan pernah menghiba
Karena kita manusia
Diberi daya fikir, daya nalar, daya rasa, daya indria

(Cibangban, Agustus, 2012)



Memorialita 

Kuhantar kalian satu persatu ke pemakaman
Ketika usai kutabur bunga dan do‘a
Kukenangkan segala kebaikan kalian 
Kematian bukan tidur panjang seperti dalam nyanyian
Kematian adalah perjalanan melintasi aneka taman
Di atasnya tumbuh aneka bunga
Yang benihnya kita tanam ketika nyawa bersatu raga
Bunga-bunga itu menyambut kalian
Bunga-bunga kebajikan
Yang tumbuh dari benih kebaikan
Tinggallah aku kini
Memberi makna atas ruang dan waktu
Menabur kebajikan dengan kebaikan
Menyisihkan dan membuang segala keburukan
Membersihkan diri dari iri dan dengki
Membersihkan diri dari mencerca dan mencaci
Membebaskan diri dari kebebalan
Mengurusi kerja dan rezeki orang lain
Memusatkan perhatian pada kecerdasan
Mengurusi kerja diri sendiri
Sambil mensyukuri rezeki diberi Tuhan
Mengurusi dan rezeki orang lain
Adalah pengkhianatan atas kecerdasan
Seperti menghitung-hitung peluru
Yang hendak kita tembakkan kepada siapa saja
Lalu menembus otak, jantung, dan hati sendiri
Di makam kalian tak kuteteskan air mata
Karena dari setiap kalian
Kuperoleh pelajaran sungguh berharga
Bagaimana menjalani hidup
Laksana ikan hidup dalam kawanan jenisnya
Orang-orang baik dan berusaha untuk baik
Hanya akan berteman dengan orang-orang baik pula
Para pendengki akan berhimpun dengan jenisnya
Kupetik dari setiap hidup kalian
Kebaikan dan kebajikan
Karena selalu dapat kuyakinkan
Kalian adalah orang-orang baik
Meninggalkan kebaikan dan kebajikan
Kalian adalah orang-orang baik
Meninggalkan kami pelajaran terbaik
Bagaimana merenangi pergaulan
Sesama insan.

(Jakarta, September 2012) 

Editor : Web Administrator | Sumber : foto khas
 
Ekonomi & Bisnis
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 298
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 156
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
08 Sep 19, 19:47 WIB | Dilihat : 147
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat
Selanjutnya
Budaya
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 540
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 373
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 490
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 619
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya