
Sem Haesy
YUUK Keep Smile (YKS) yang ditayangkan TransTV boleh dibilang programa siaran hiburan televisi yang menarik diikuti perkembangannya belakangan hari. Acara ini mengingatkan saya ketika harus memilih program siaran dangdut di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), saat mengemban fungsi sebagai Manajer Program di televisi itu (awal 90-an).
Kala itu situasi perekonomian sedang tak menarik. Fluktuasi rupiah berbanding US Dollar pun sedang dalam pusaran ‘badai krisis.’ Meski harus menghadapi tantangan dan kecaman yang begitu dahsyat, beberapa programer dan saya harus mengambil keputusan: kembali ke basis televisi, yaitu hiburan.
Dengan bantuan sejumlah musisi dan artis dangdut, seperti Camelia Malik dan Rhoma Irama, jadilah program siaran dangdut yang ‘khas TPI.’ Ada kategori dan kriteria tertentu: siapa pantas dan patut masuk ke dalam programa siaran itu. Termasuk bagaimana melakukan proses edukasi terhadap penyanyi dangdut belia. Mulai dari performance, public speaking, sampai cara berdandan, dengan melibatkan desainer Almarhum Ramli. Alhasil, proses berlanjut dan memuncak pada pergelaran Semarak Dangdut 50 Tahun Indonesia Emas (1995).
Dangdut kembali merebak. Meskipun kemudian terkontaminasi lagi dengan merosotnya taste. Antara lain dengan masuknya artis dangdut yang menjual goyang dan geyol, mengabaikan esensi: vocal.
Sejak tak lagi berkarir sebagai brodkaster tv di Indonesia, saya cukup kecewa dengan perkembangan performa dangdut belakangan hari. Ketika YKS hadir dan mendapat berbagai kecaman, termasuk penilaian dari tokoh pendidik anak-anak Kak Seto, saya cermati perkembangan YKS secara khas.

Ternyata menarik. Soimah, sinden Pati yang mengalami quantum leap sampai menembang di New York City, saya dengar, melakukan aksi rekoreografi. Hasilnya? Ya, joged yang dilakukan Caisar, itu. Boleh jadi karena dia orang pantura, cepat memilih beat dangdut dengan ritme yang kuat.
Berkolaborasi dengan Deny Cagur yang mendapat ‘turunan’ bakat joged dari (ayahnya) Bang Jali, membuat rekoreografi itu menjadi pas dangdut. Bahkan kemudian, membebaskan dangdut dari keseronokan yang berlebihan.
Dari sisi programatik, YKS menarik sebagai programa siaran televisi yang lumayan efisien. Dengan siaran live dan ‘menabrak’ pakem, plus keberanian melakukan reformulasi format variety show dengan melibatkan audience di studio dan seluruh kru, YKS ‘membongkar jarak’ programa siaran televisi dengan khalayaknya di rumah.
Wajar, dengan striping live broadcast, programa ini berhasil melakukan interven secara penetratif – hipodermis. Dengan format indoor (sekali-sekali outdoor) dengan durasi yang lumayan panjang, tentu terjadi cost eficiency. Paling tidak mengurangi beban belanja program, seperti block buster movie yang berbasis US dollar. Maka, jadilah YKS program efisien kala Rupiah limbung.

Saya tak memungkiri realitas, pada perjalanannya, programa siaran ini terkesan tak mendidik. Terutama dengan beragam kekonyolan yang tak perlu dari beberapa pemain (Seperti Olga Syahputra). Tapi dengan kemauan berubah dan berbenah, kolaborasi Soimah, Denny Cagur, Wendy Cagur, Caisar, Bopak Castello, dan belakangan Cinta Laura serta beberapa bintang tamu (kecuali Saipul Jamil yang lebay itu) YKS akan bisa lebih dapat diterima.
Denny Cagur cukup cerdas untuk bisa menjadi telangkai perubahan gradual menjadi ke arah lebih baik. Apalagi, bila kemauan untuk mendudukkan YKS sebagai programa siaran hiburan yang juga ‘berisi’ terus dipelihara. Sajian hipnotis dengan takaran yang wajar, penghadiran atlet panco, dan artis dangdut senior (seperti Elvi Sukaesih, Iis Dahlia, Rita Sugiarto, Evi Tamala, Cici Faramida, Siti, Ikke Nurjanah) eksplorasi kreatif bisa lebih dikendalikan.
Perlu waktu memang, mengubah Yuuk Keep Smile menjadi Yang Kreatif (dan) Sehat. Motivasi kuat melakukan transformasi mindset programa siaran hiburan, akan bisa membat YKS lebih bermakna. Apalagi bila beberapa pemain yang ‘tak menambah nilai’ adanya, dan ‘tak mengurangi’ nilai tiadanya, secara gradual, fade out dari acara itu.. |