HKWay dan Lean Construction

| dilihat 721

Catatan Luar Pagar Sém Haésy

Hutama Karya (HK) merupakan salah satu BUMN Konstruksi yang inovatif dan mampu menunjukkan eksistensinya sebagai 'petarung' di jagad bisnis yang berhubungan erat dengan infrastruktur yang sedang gencar dikerjakan dalam konteks 'political monument' Jokowi.

Beberapa tahun menjadi juri BUMN Award dan secara khas menyoroti kiprah BUMN ini dari sudut pandang imagineering - rekacita, untuk melihat bagaimana visi perusahaan adalah sungguh visi, bukan fantacy trap, dan bagaimana visi itu mewujud nyata.

Selama beberapa kali masa penjurian itu, HK menunjukkan potensi sangat besar dan inovatif. Tak terkecuali dalam aksi transformasi, termasuk memberikan ruang bagi anak perusahaan untuk berinovasi sebagai garda depan HK dalam kontestasi keunggulan di skala domestik, regional, dan internasional.

HK dengan visi yang tepat sebagai (as a) Pengembang Infrastruktur Terkemuka di Indonesia, dengan sesanti: "Inovasi untuk Solusi," telah menunjukkan focal concern yang jelas, seperti terumuskan dalam misi korporasinya.

Misi HK adalah : (a) Menyukseskan mandat pemerintah untuk membangun dan mengoperasikan Jalan Tol Trans Sumatera; (b) Mengembangkan multibisnis berbasis infrastruktur melalui usaha investasi jasa, konstruksi dan manufaktur yang mampu memberikan nilai tambah premium pada korporasi dan dalam rangka mempercepat pertumbuhan perekonomian Indonesia; (c) Membangun kapasitas dan kapabilitas korporasi yang berkesinambungan melalui pemantapan human capital dan financial, serta menciptakan safety culture di lingkungan perusahaan.

Misi realistis sesuai dengan bentang waktu pencapaian visi yang sekaligus merupakan corporate generator, dan memungkinkan gerakan aksi korporasi berorientasi profit dan benefit sesuai dengan misi BUMN.

Saya memandang misi korporasi HK merupakan misi akseleratif Dewan Direksi yang dipimpin Bintang Perbowo - selaku Direktur Utama yang memang concern dengan transformasi, dipayungi dan dikontrol oleh Dewan Komisaris yang dipimpin Burhanuddin selaku Komisaris Utama. Termasuk beberapa komisaris yang (saya kenal) berpengalaman di salah satu line business infrastruktur, Adityawarman. Pun, komisaris independen Wahyu Muryadi, yang berpengalaman di bidang komunikasi dan pemerintahan.

31 Juli 2019, salah satu anak perusahaan HK, PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) beroleh penghargaan inovasi dari salahdua media (cetak dan digital) dalam kategori The Best Product, atas keberhasilannya menerapkan Lean Construction pada salah satu proyek yang dikerjakannya, Jalan Tol Trans Sumatera ruas Pekanbaru - Dumai, tepatnya di Seksi 2            A. 

Dari berbagai referensi, diketahui, konsep lean costruction pertama kali digunakan untuk menggambarkan prinsip-prinsip produksi yang diterapkan dalam manufaktur mobil. Diciptakan John F Krafcik selama kiprahnya di MIT Sloan untuk mendeskripsikan kebijakan produksi yang mampu menghasilkan berbagai model, sambil tetap mempertahankan tingkat produktivitas dan kualitas tertinggi.

Krafcik mengemukakan, bahkan penggunaan teknologi tinggi tidak menghasilkan dampak yang diinginkan pada kualitas dan produktivitas, jika diterapkan tanpa kebijakan manajemen produksi yang tepat. Menurutnya, dengan menetapkan kebijakan utama yang diterapkan di pabrik paling produktif, yang telah menjadi dasar bagi prinsip-prinsip Produksi Lean yang kemudian berkembang menjadi lean policy.  

Yang menonjol pada sistem Lean Construction ini adalah standarisasi alur kerja sekaligus menghilangkan limbah. Titik beratnya pada tanggung jawab peningkatan proses yang didesentralisasi - pekerja lebih main generator dengan kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas untuk terus menerus melakukan achievement dan enhancement.

System Lean Construction memungkinkan tim kerja yang solid dan dihidupkan oleh rasa hormat, rasa saling percaya dan pengembangan rekan kerja dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan atau proyek. Dengan pengalamannya di bidang konstruksi, HK dan tentu HKI, tidak sulit untuk mengenali betapa berbedanya proyek konstruksi dan lokasi konstruksi dari mayoritas pabrik dan produk manufaktur. Di bidang manufaktur, sebuah tim dapat menganalisis efisiensi dan produktivitas suatu produk berulang-ulang sampai mereka mampu menyempurnakan proses dan kualitas produk.

Dalam konstruksi, setiap proyek adalah "prototipe". Tidak ada salinan persis lainnya, dengan kondisi yang sama, orang yang sama dan proses yang sama dibangun sebelum untuk "berlatih".

Setiap minggu dan setiap hari selalu berbeda dari yang sebelumnya, dan di situ, pelajaran yang didapat dari satu sprint mungkin sama sekali tidak berlaku untuk yang berikutnya. Kendati demikian, ada pelajaran dan prinsip yang pasti dari lean manufacturing yang dapat diterapkan pada konstruksi menjadi lean construction, untuk mencapai tingkat produktivitas dan kualitas yang lebih tinggi. Terutama pada proyek-proyek prestisius yang menghadirkan wajah transformasi dan kemampuan bangsa.

Dalam konteks ini, Lean Construction yang diformulasi pertama oleh Lauri Koskela memberikan tantangan paradigma industri dan konstruksi ihwan kualitas biaya dan waktu saling berpacu satu dengan lainnya.

Pengamatan Glenn Ballard dan Gregory Howel tentang Lean Construction, menunjukkan, perubahan menarik mulai dari wawasan dan prinsip-prinsip yang diterapkan untuk manajemen konstruksi tradisional. Khasnya untuk mendorong produktivitas sekaligus kualitas pekerjaan. Antara lain terkait dengan efisiensi, ketepatan waktu, dan pengendalian biaya dalam keseluruhan konteks belanja proyek.

Lean Construction relevan diterapkan dalam aksi korporasi pembangunan Jalan Tol Lintas Sumatera. Terutama untuk peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas, eksekusi tingkat lanjut - follow up, pencegahan terjadinya fraud, efisiensi biaya operasi, dan penerapan good corporate governance berbasis kewajaran dan kemandirian. Muaranya adalah percepatan waktu terkait return of investment, sehingga proyeksi risk, profit, dan benefit dapat diproyeksi sejak dalam perencanaan proyek.

 “Less is more !” Inilah prinsip dasarnya, yang selama berbilang masa, luput dari industri konstruksi. Padahal, proyek konstruksi justru semakin kompleks dan menantang. Tuntutan yang lebih ketat pada garis waktu dan anggaran, penggunaan bahan baru dan kustomisasi keseluruhan, sistem bangunan yang kompleks dan peraturan yang lebih ketat, hanya beberapa faktor yang berkontribusi terhadap proyek konstruksi menjadi lebih berlebihan dan pada akhirnya lebih berisiko bagi semua pihak yang terlibat.

Penerapan Lean Construction memacu perusahaan untuk tetap kompetitif dan menguntungkan. Menerapkan prinsip-prinsip manajemen konstruksi Lean Construction ke sebuah proyek adalah cara paradigmatik untuk bertransformasi dari proses lama yang sudah mapan dan terus menerus menilai cara untuk menghilangkan limbah dan pemborosan.

Dalam konteks Visi, Misi, dan Moto HK, tak keliru bila Lean Construction boleh disebut sebagai HKWay. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 380
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
03 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 126
Pertamina Bersinergi dengan PLN di Bisnis Kelistrikan
04 Okt 19, 12:21 WIB | Dilihat : 142
Sekolah Percaya Diri Pertamina
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 879
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1336
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 505
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 930
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya