
Bang Sem
MALAM merambat. Malin Kundang didampingi Abu Nuwas mengumpulkan seluruh warga Balairung. Mereka duduk bersila. Malin memberi amanat, agar semua warga Balairung, besok pergi ke tempat pemungutan suara (TPS) Pemilihan Umum 2014 untuk menggunakan hak pilihnya.
“Semua harus mencoblos,” perintah Malin.
“Kalian sudah tahu, siapa yang harus dicoblos, kan? Ingat, salah mencoblos, dampaknya akan sangat buruk bagi kehidupan kita berbangsa lima tahun ke depan,” perintah Malin.
Pahit Lidah yang memandu pertemuan, itu mempersilakan Abu Nuwas memberi nasihat. Lelaki berjenggot dengan serban indah, itu pun menyampaikan nasihatnya.
“Bagi kalian, menggunakan hak pilih merupakan kewajiban. Terutama, kewajiban untuk menunjukkan, bahwa kalian adalah rakyat yang bertanggung jawab,” tegas Abu Nuwas.
Mencoblos, kata Abu Nuwas, sama dengan berbai’at. “Tentu, kalian wajib berbai’at kepada pemimpin yang mau berbai’at kepada kalian,” ungkap Abu Nuwas.
“Siapa dia, wan Abu?” tanya Oyot.
“Tentu calon anggota legislatif yang menurut kalian paling pantas menerima amanat untuk melayani kalian,” jawab Abu Nuwas.
“Jadi, yang harus dicoblos adalah mereka yang mau melayani kita?” sambung Kabayan.
“Betul. Rakyat wajib melayani pemimpin yang melayani rakyatnya,” jelas Abu Nuwas lagi.
Malin masih menambahkan lagi, pemimpin yang dimaksudkan Abu Nuwas adalah mereka yang sugguh mau dan mampu melayani rakyat. Pahit Lidah memberi kesempatan terakhir kepada mereka untuk bertanya.
Lantaran tak ada yang bertanya, Pahit Lidah yang bertanya: “Semua sudah paham?”
“Pahammm... !!!,” jawab mereka.
“Ingat, mencoblos dengan paku, ya..” sambung Pahit Lidah.
Oyot dan Kabayan segera meninggalkan Balairung. Pahit Lidah memanggil Kabayan, dan mengingatkan, malam itu giliran dia berjaga di gardu, bersama Pak Belalang.
“Siap komendan,” ujar Kabayan, lalu bergegas ke kamar, mengganti kaos oblong dengan baju Kampret dan sarung. Dia sempat mengingatkan Oyot untuk menyiapkan paku untuk esok hari. Ketika Oyot mengatakan paku sudah disiapkan di TPS, Kabayan masih ngotot. Ia memahami TPS sebagai Toko Pangan Serbaada, tempat dia biasa membeli beras, kopi, gula, dan garam.
Sambil melaksanakan tugas di gardu jaga, Kabayan mencoba mengingat-ingat semua yang dijelaskan Malin dan Abu Nuwas. Beberapa kata kunci mengendap di benak Kabayan. Dia mengulang-ulang kata kunci itu sambil terkantuk.
“Harus mencoblos... Wajib.. Mencoblos yang mau dan mampu melayani rakyat... Hmmhh.. saya rakyat. Jadi harus mencoblos yang sungguh mau dan mampu melayani saya,” begitu gumamnya berulang-ulang. Lalu, ia mengingat-ingat, siapa sungguh orang itu.
Keesokan harinya, ketika tiba saat menyontreng, Kabayan dan Oyot mendatangi TPS depan Balairung. Oleh petugas dia diarahkan ke TPS lain, berbeda dengan TPS tempat Malin, Pahit Lidah, dan Mat Jantuk mencoblos. Kabayan menyiapkan paku di sakunya.
Tiba-tiba, kehebohan terjadi. Proses pemungutan suara terganggu. Petugas keamanan TPS memberangus Kabayan, karena dianggap mengacau.
Pahit Lidah yang mendapat kabar, kontan bergegas ke lokasi kejadian heboh itu, untuk mengatasi masalah. Kepalanya pening tak alang kepalang. Dari Oyot dia mendapat informasi: Kabayan mencoblos dada Kepala Desa dengan paku. Itulah pangkal keributan. Bagi Kabayan, Kepala Desa-lah yang selama ini dia rasakan sangat mau dan mampu melayani, dan sering melayani dia.
Ketika dimarahi Pahit Lidah dan Oyot, Kabayan berbalik marah dan protes kepada petugas keamanan yang meringkusnya.
“Kalian ini gimana sih? Tadi malam saya diperintah mencoblos orang yang sudah terbukti melayani saya, ‘kan? Makanya saya coblos dada Pak Kepala Desa. Dia ‘kan sudah terbukti melayani saya selama ini,” ungkap Kabayan, kesal.
Pahit Lidah menepuk jidatnya.. Capek dehhh....|