
Nota N. Syamsuddin Ch. HAESY
Perdana Menteri X Malaysia, Anwar Ibrahim berdiri di balik podium upacara pembukaan Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke 58 (AMM-58), Rabu (9/7/25). Meski baru tiba pukul dua pagi dari Rio de Janeiro - Brasil, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi BRICS, ia nampak segar.
Tak hanya fisiknya, gagasan yang dikemukakannya ketika menyampaikan pidato pembukaan AMM 58, ini juga segar. Gagasan visioner yang konsisten dan komitmen yang kuat pada nilai inti, ideologi inti, dan budaya inti yang melandasi Visi ASEAN 2045: Masa Depan Kita Semua. Visi 20 tahun yang dicetuskan saat Deklarasi Kuala Lumpur di ruang yang sama (26 Mei 2025).
Anwar Ibrahim kembali menegaskan ASEAN harus bersatu dan tangguh di tengah meningkatnya ketidakstabilan global. Karenanya, ia menyerukan negara-negara anggota memperkuat Sentralitas ASEAN sebagai prinsip dasar panduan kawasan.
Sentralitas ASEAN menurutnya, harus menjadi 'Bintang Utara' kita sebagaimana tercermin dalam penguatan dan inovasi berkelanjutan lembaga-lembaga yang dipimpin ASEAN. Senafas dengan itu, ASEAN juga mesti memainkan peran sebagai jangkar utama dialog di kawasan ini, "sebagaimana Mitra Dialog harus terus menemukan nilai dalam berinteraksi dengan kita.”
Pandangan tersebut mengingatkan para pemimpin yang memang mengemban tanggung jawab menciptakan nilai (creating value) dan seluruh warga negara-negara dan bangsa-bangsa anggota ASEAN, mesti 'menjejak hingga ke dasar samudera, bertegak hingga ke cakrawala.' tak hanya para pemimpin. Terutama ketika kini, kita sedang hidup di tengah kegamangan, ketidakpastian, kerumitan, dan keraguan.
Persis sebagaimana gambaran tentang lanskap global saat ini -- yang dikemukakannya -- sebagai tempat di mana kepastian lama memudar dan ancaman baru muncul. Dan, pertemuan para Menteri Luar Negeri ASEAN berlangsung di tengah terurainya asumsi-asumsi, “di mana kekuatan menggoyahkan prinsip, dan ketenangan tidak lagi dapat dianggap remeh.”
Pandangan PM Anwar Ibrahim, relevan dengan tantangan Abad XXI, khasnya : membalikkan kemiskinan; mencapai gaya hidup berkelanjutan; menghadapi globalisme secara efektif; merawat bumi dan melindungi biosfer; menolak terorisme; mencegah perang 'habis-habisan;' memanfaatkan sains dan teknologi untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi; menaklukan penyakit (endemi dan pandemi); meningkatkan kecerdasan budaya untuk mengendalikan singularitas (khasnya artificial intelligent - akal imitasi); menghadapi risiko eksistensial; menjelajahi transhumanisma; menjembatani ketrampilan dengan kebijaksanaan; dan merancang peradaban lanjutan (James Marten, The Meaning of the 21st Century, Oxford Univeristy - 2007).
Pandangan Anwar Ibrahim tersebut juga relevan dengan realitas yang menjadi keprihatinannya: konflik berkepanjangan di Gaza yang meluas menjadi perang Iran - zionis Israel dan Amerika Serikat dan berdampak pada ketegangan kawasan di Timur Tengah. Risikonya. menurut Anwar sangat besar bagi keamanan energi, stabilitas global, dan integritas hukum internasional. Demikian pula halnya dengan perang di Ukraina, kekerasan yang terus berlanjut di beberapa bagian Afrika, dan situasi yang memburuk di Myanmar.

Bintang Utara
Tentang sistem multilateral, Anwar mengatakan tidak akan bertahan jika prinsip-prinsipnya hanya ditegakkan ketika keadaan memungkinkan. Karena itu, tegasnya, ASEAN harus berada di antara mereka yang memilih untuk menjunjung tinggi aturan, bahkan ketika yang lain memilih untuk mundur.
Kepada ara delegasi Anwar mengingatkan, menelusuri asal usul ASEAN, blok regional ini tidak dibangun atas dasar kemudahan atau kesederhanaan, melainkan atas kepercayaan yang diperoleh dengan susah payah antara negara-negara dengan sejarah yang kompleks.
Dalam kaitan inilah, ASEAN (dan Malaysia yang sedang mengemban amanah memimpin) mesti pula menjadi 'bintang utara' (polaris) di rasi bintang Ursa Minor sebagai navigator, karena posisi geo politik dan geoekonominya sebagai sentrum dalam keseluruhan konteks reorientasi dan reposisi Indo Pasifik dan Belt and Road Inisiative -- jalur sutra -- Tiongkok. 'Bintang utara; adalah simbolisma dari panduan, arah, stabilitas, dan harapan di tengah ketidak-pastian.
Karenanya, sangat wajar dan menggugah pernyataan Anwar, “.... kami telah menjaga perdamaian dan memperluas kemakmuran dengan cara yang hanya sedikit kawasan yang dapat menandinginya. Kami melakukannya dengan memupuk kebiasaan kerja sama, kemauan untuk terus terlibat, bahkan ketika masa lalu sulit dan masa kini penuh ujian.”
Apalagi, menurutnya, kekuatan ASEAN bukan terletak pada ketiadaan ketegangan, melainkan pada kemampuannya dalam mengelola kondisi secara konstruktif. Lebih jauh ia katakan, “Kekuatan kawasan kita bukan terletak pada ketiadaan ketegangan, melainkan pada komitmen kita untuk mengelolanya melalui rasa saling menghormati, dialog berkelanjutan, dan pencarian konsensus. Itulah cara ASEAN dan harus tetap menjadi panduan kita,” ujarnya.
Pernyataan tersebut, relevan dengan kuliah umum yang disampaikannya di Universitas Sorbonne Prancis (Eropa Mitra Setara ASEAN dan Kita Menolak Fatalisme Konflik) dan Forum Bisnis BRICS (Sabtu, 5/7/25). Maknanya adalah di bawah kepemimpinan Malaysia, ASEAN dengan pijakan inklusivitas dan keberlanjutan (inclusivity and sustainability), perlu melakukan pemetaan arah ASEAN, dalam beberapa dekade ke depan.
Pertemuan-pertemuan regional (termasuk dialog dengan para mitra strategis, khasnya Asia Timur, Negara-negara Teluk, Uni Eropa, BRICS) perlu dikelola sebagai bagian dari scenario plan. Khasnya untuk merumuskan ulang focal concern dan driving forces (sesuai dengan blue print sesuai dengan Visi Masyarakat ASEAN 2045 yang dilandasi oleh kesadaran membangun mutual respect, dalam melakukan kolaborasi dan memberikan kontribusi membangun ASEAN yang tangguh, inovatif, dinamis, dan bertumpu pada rakyat. Itulah pula manifestasi masyarakat Madani yang kosmopolit dalam kesetaraan dan keadilan sebagaimana pernah dirumuskan Al Farabi. Muaranya adalah kebahagiaan.

Merawat Otonomi Strategis
Dalam konteks ini, ASEAN Political-Security Community Strategic Plan; ASEAN Economic Community Strategic Plan; ASEAN Socio-Cultural Community Strategic Plan; dan, ASEAN Connectivity Strategic Plan.
Kesemuanya mesti menghadirkan narasi dan paradigma baru yang bermula dari pengetahuan yang fokus dan jernih tentang rakyat, dan pemahaman yang mendalam tentang aspirasi rakyat. Sehingga, program yang dirancang berdaya-cipta dan luas manfaat, dirasakan langsung oleh rakyat. Muaranya adalah rakyat selesa karena dilayani dengan telus.
Selepas menyimak dan memahami secara mendalam apa yang dikemukakan PMX Anwar Ibrahim, Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-58 (AMM-58) di Kuala Lumpur sungguh akan menjadikan sentralitas Malaysia (dan seluruh negara anggota) ASEAN menghunjam laksana jangkar utama, menjulang laksana bintang utara.
Selaras dengan pemahaman demikian, pandangan Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia Muhammad Hasan menjadi referensi yang penting. Khasnya terkait dengan pernyataannya, bahwa dalam ranah geopolitik, persaingan kekuatan besar membayangi kawasan ASEAN.
Menlu Muhammad Hasan menegaskan pula, "Proteksionisme membahayakan perdagangan multilateral terbuka yang mendorong pertumbuhan kita. Konflik yang terjadi di tempat yang jauh mengganggu pasar, rantai pasokan, dan ketahanan pangan kita. Isu-isu ini membahayakan kita semua, terutama kita yang berada di belahan bumi selatan. Kita, di ASEAN, harus memfokuskan upaya kita menuju Asia Tenggara yang siap menghadapi masa depan."
Kata kuncinya adalah, "Kita harus menjaga semangat dan merawat otonomi strategis dan aksi kolektif kita agar tetap hidup dan menyala. Dengan obor di tangan kita, kita harus memimpin rakyat kita menuju masa depan yang lebih aman dan lebih adil."
Sebagai bagian dari spirit merawat otonomi strategis dan kolektif tersebut, sangat bermakna ucapan PMX Anwar Ibrahim, pertemuan para pemimpin ASEAN tingkat menteri yang akan berlangsung selama 4 (empat) hari ini, yang mempertemukan sekitar 1.500 delegasi dari negara-negara anggota ASEAN, Timor Leste, Mitra Dialog ASEAN, Mitra Dialog Sektoral, Forum Regional ASEAN dan pimpinan senior sekretariat ASEAN melapangkan jalan bagi ASEAN di bawah kepemimpinan Malaysia sebagai obor menuju cahaya peradaban zaman baru. Termasuk mempercepat jalan bagi diterimanya Republik Demokratik Timor Leste sebagai anggota ASEAN, terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan di kawasan, sekaligus sebagai teladan dalam menebar nilai-nilai peradaban baru yang berpengharapan.
Dalam konteks sebagai 'bintang utara' dan sekaligus jangkar utama di kawasan, kepemimpinan yang paham menjadi penting. Karena saat ini, ASEAN dan negara-negara anggotanya laksana kapal Lancang Kuning yang sedang mengarungi samodera luas di malam hari. Sebagaimana tersirat dalam syair lagu klasik:
Lancang kuning berlayar malam / Haluan menuju ke laut dalam / Kalau nakhoda kuranglah paham / Alamat kapal akan tenggelam / Lancang kuning menentang badai / tali kemudi berpilin tiga / Kalau nakhoda tidaklah paham / Alamat kapal akan tenggelam //