Kuliah Umum Anwar Ibrahim di Universitas Sorbonne Paris (I)

Eropa Mitra Setara ASEAN

| dilihat 837

Perdana Menteri X (PMX) Anwar Ibrahim, tak mengubah perangainya dalam berpidato, yang kadang mengundang gelak, namun pada bagian-bagian tertentu aksentuatif dengan nada yang sangat serius, ketika menyampaikan syarahan (kuliah) umum di Universitas Sorbonne, Paris (5/7/25).

Dalam syarahan dengan tema utama ihwal menilai ulang kerjasama Asia Tenggara dengan Eropa, lantang ia sampaikan pandangannya, tentang Islamphobia yang semakin marak di berbagai wilayah Eropa (tanpa kecuali di Prancis).

Ia juga menyinggung tentang sesanti nasional negara Prancis, "Liberté, égalité, fraternité" sebagai semboyan nasional Prancis, yang berarti kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Sesanti atau semboyan tersebut merupakan ekspresi prinsip nilai in ti Republik Prancis yang menjadi dasar Revolusi Prancis. Namun, ungkapnya, jangan hanya berhenti sebagai batas identitas semata.

Anwar Ibrahim pun bicara ihwal keadilan yang tak bisa dipilah-pilih, nilai hak asasi manusia dan martabat yang harud dilindungi untuk semua orang, tanpa memandang ras, agama, atau geografi.

Selama menyampai syarahannya, sekali sekala khalayak bertepuk tangan dan tergelak, khasnya ketika ia nampak 'berjuang' mengucapkan lafadz dalam bahasa Prancis.

Mengawali kuliahnya, Anwar Ibrahim mengungkapkan rasa hormatnya. Dia menyebut, pernah berada di situ, tapi di pinggiran. Bahkan beberapa peserta kuliah semuanya berasal dari pinggiran, di antara mahasiswa yang lebih radikal.

"Namun, di sinilah saya diberi hak istimewa yang langka ini. Terima kasih telah berada di pusat institusi hebat yang kecerdasannya tak pernah berhenti. Tak hanya memengaruhi  Prancis, tetapi juga memiliki getaran di seluruh dunia, dari posisi dialektis Peter Abelard pada abad ke-12 hingga idealisme perubahan tahun 1968. Saya kebetulan berjalan di Latin Quarter dan melihat para mahasiswa di Paris menuntut dan berteriak-teriak untuk perubahan dan reformasi," urainya.

Anwar Ibrahim nampak punya daya cendekia yang tersimpan baik. Tokoh yang disebut dalam konteks 'dialectica' abad ke 12, itu mengacu pada studi logika di lingkungan universitas yang tengah berkembang pesat, bangkit 'berontak' dari pembelajaran klasik. Kala itu, kaum terdidik seperti Peter Abelard menguliti dan mendalami karya-karya logika Aristoteles, dengan teks-teks dasar lainnya untuk mengeksplorasi seni penalaran dan argumentasi. Beririsan dengan pemahaman tentang sastra, filsafat, dan teologi..

Bukan Sekadar Retorika Kosong

Sorbonne Universitè, ungkapnya, tidak pernah menjadi tempat untuk berpuas diri. Civitas academica, khasnya pensyarah dan mahasiswa, menantang ortodoksi, sekaligus mempertajam nalar. "Anda memimpin dalam komputasi kuantum, ilmu iklim, dan matematika tingkat lanjut," ungkapnya.

Ia melanjutkan, "Ini berbicara tentang tradisi di Sorbonne yang tak gentar menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit. Berkat budaya progresif seperti itu, sesanti tadi (Liberté, Êgalité, Fraternité) bukan sekadar slogan untuk hal-hal yang tidak masuk akal.

"Anda telah membuat langkah signifikan dalam energi terbarukan, inisiatif keanekaragaman hayati, dan kepemimpinan lingkungan menuju masa depan yang berkelanjutan," serunya.

"Di bidang filsafat politik dan tata kelola, saya yakin bukan klise untuk mengatakan bahwa pemikir pencerahan seperti Voltaire dan Montesque telah mempertajam prinsip-prinsip demokrasi modern secara mendalam, bahkan saat kita terus diingatkan tentang demokrasi Tocqueville di Amerika," lanjutnya. Yang dimaksud Anwar Ibrahim boleh jadi Alexis de Tocqueville dengan karyanya "La Democracia en America."

Bukan sekadar retorika kosong, tetapi sesuatu  yang benar-benar penting. Lantas, Anwar menyatakan, "Dapatkah Anda bayangkan staf, profesor, fakultas, dan mahasiswa di sini. Para cendekiawan yang saya maksud memiliki pengaruh sangat besar terhadap seni dan kebijakan tata kelola hingga prinsip pemisahan kekuasaan," lanjutnya.

"Oleh karena itu," ujarnya, "saya tidak dapat berkata, betapa senangnya saya berada di pusat keunggulan ini," ungkapnya sambil menyebut sejumlah begawan, antara lain Jean Paul Sartre hingga Albert Camus.

Khalayak tergelak, ketika hampir perlahan, Anwar Ibrahim tersenyum sambil berkilah, "Saya mengucapkan seperti orang Inggris, bukan seperti kata Prancis, maafkan saya.."

Lalu, dia mengeluarkan jurus kiat Permatang Pauh, "Kita mereguk dari mereka sumber wawasan mendalam tentang keadilan sosial dan kesetaraan. sedangkan fantasi para tokoh sastra Prancis -- yang terlalu banyak untuk disebutkan di sini -- memberi dunia tema-tema universal yang melintasi kepercayaan dan budaya."

Singkatnya, katanya kemudian, kemajuan peradaban Prancis telah memberikan kontribusi yang signifikan di seluruh spektrum ikhtiar manusia. 'Pokok' yang kaya akan kegiatan peradaban, ungkap Anggota Dewan Raktar dari wilayah parlemen Tambun, ini 'harus berfungsi sebagai landasan untuk membina hubungan Prancis -- dengan perluasan Eropa -- dengan Asia Tenggara khususnya Malaysia. Lalu ia mengemukakan, "Pertanyaannya kemudian adalah dengan syarat apa ini harus dilakukan?"

Kemajuan Asia Tenggara

Memandang  Tok Mat (Mohammad Hasan) Anwar Ibrahim  sambil bicara, "Menteri luar negeri ada di sini, duta besar ada di sini. Kami ingin tahu dengan syarat apa dan atas dasar apa?"

Ia melanjutkan, tanopa menunggu jawaban. "Sekarang kembali pada tahun 1990-an, saya mendalilkan dalam kebangkitan Asia, khususnya dalam konteks ASEAN, tentang kawasan yang mengalami kelahiran kembali politik dan ekonomi yang diambil dari identitas budaya dan pengalaman sejarahnya yang unik," ungkapnya.

Saat ini, menurut Anwar Ibrahim, kemajuan Asia Tenggara dapat dipetik dari lintasan pertumbuhan ASEAN yang tidak diragukan lagi, merupakan manifestasi dari fusi integrasi ekonomi, politik, sosial budaya ASEAN.

"Saya akan menyamakan perubahan politik yang dialami negara-negara Asia Tenggara dengan metamorfosis demokrasi. Beralih dari rezim otoriter ke pemerintahan yang lebih partisipatif, tata kelola dengan akuntabilitas demokratis," ungkapnya dengan bahasa terang.

Dalam beberapa kasus, menurutnya, bahkan lebih demokratis daripada beberapa sistem yang mapan, saya tidak akan menyebutkan Eropa atau Amerika Serikat. "Bagaimanapun, ini merupakan bukti nyata dari proses politik yang sehat dan pertumbuhan masyarakat sipil di kawasan tersebut," tegasnya.

Dalam kuliah berbahasa Inggris, itu Anwar Ibrahim mengungkapkan, "Ini sangat cocok untuk stabilitas politik dan tata kelola. Dalam semangat itu, saya katakan kepada Anda bahwa inilah saatnya untuk Asia Tenggara."

"Mengingatkan saya pada bertahun-tahun kasus pengadilan...ketika mereka memiliki pendapat, mereka berkata "Anda tidak punya pilihan selain mengatakan ya. Ini sangat cocok untuk stabilitas politik dan tata kelola.

"Jadi saya sampaikan kepada Anda bahwa sudah saatnya bagi Asia Tenggara dan Eropa untuk mendefinisikan ulang ketentuan keterlibatan kita sebagai rekan kreator yang setara sebagai mitra di dunia yang mendambakan keseimbangan," ungkap Anwar Ibrahim.

Dialog Terbuka

Ia menjelaskan pertemuannya dengan Perdana Menteri  Italia, Giorgia Meloni (sehari sebelumnya), ".. dan malam ini dengan Presiden Macron merupakan bagian dari perjalanan yang disengaja untuk memperbarui dan menyeimbangkan kembali hubungan antara dua wilayah yang terikat oleh sejarah, tetapi tidak dibatasi olehnya. Karena itu untuk memperluas, meningkatkan, dan memperkuat.

PMX Anwar Ibrahim kemudian mengemukakan, hanya sedikit wilayah yang merasakan beban kertidakpastian saat ini setajam itu. "Apa saja itu? Tentang pencegahan, ketergantungan, ketahanan perdamaian," lanjutnya. Ia menyebut, "Perang Rusia dengan Ukraina tidak hanya mengguncang rasa aman benua itu tetapi juga asumsinya."

Perang yang oleh banyak orang dianggap mustahil menjadi perhitungan yang menghancurkan ilusi keabadian dan mengingatkan kita bahwa bahkan di jantung Eropa, sejarah masih bernafas.

"Eropa mendapati dirinya bergulat dengan ketidakpastian dalam aliansi tertuanya. Saat perdebatan tentang pengeluaran militer dan tekad kolektif terungkap, keseimbangan perjanjian trans atlantik sedang diuji dengan cara yang tidak terlihat selama beberapa generasi," jelas Anwar Ibrahim.

Pandangan Eropa telah beralih ke timur. Strategi Indo-Pasifik telah terbentuk, tidak hanya di antara ibu kota Eropa tetapi juga di tingkat serikat itu sendiri. "Di antara suara-suara yang membentuk visi kebijakan dan diplomasi ini adalah seruan Presiden Macron baru-baru ini untuk koalisi baru perdagangan terbuka, dialog terbuka, dan tatanan berbasis aturan yang menawarkan artikulasi mendalam tentang aturan Eropa di Asia. Yang berprinsip, kooperatif dan berwawasan ke depan," urai Ketua ASEAN ini.

Dikemukakannya, "Kita tahu bahwa dulu, di masa lampau yang tidak terlalu jauh, perintah semacam ini diperlukan untuk doktrin suci tentang kesamaan misi. misi peradaban akan menjadi sesuatu yang lahir kembali selama beberapa masa untuk diucapkan dengan benar.  Diproklamasikan sebagai pembenaran bagi kolonialisme dan imperialisme."

Ia melanjutkan, "Itu sakral karena konon ada kewajiban moral untuk menyebarkan nilai-nilai barat, budaya barat, dan peradaban ke masyarakat non-barat."

Menurut PMX Anwar Ibrahim, "Saat ini, meskipun tidak ada klaim atas potensi menggurui seperti itu yang akan muncul. Namun demikian, ketentuan keterlibatan antara Eropa dan Asia Tenggara belum sepenuhnya dikalibrasi. Yang pasti, kami menyambut mitra, kami menyambut mereka sebagai pihak yang setara. Bukan sebagai lawan bicara yang merendahkan. Bukan sebagai instrumen untuk penahanan. Bukan sebagai kedok untuk kecemasan dan bukan sebagai proyeksi perang dan ketakutan orang lain." | tique françoise

Editor : delanova
 
Lingkungan
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 761
Jangan Pernah Menentang Semesta
04 Agt 25, 02:48 WIB | Dilihat : 1449
Almaty Kazakhtan Sentra Suara Akal Sehat
16 Jun 25, 13:19 WIB | Dilihat : 1655
JFF 2025 Menyegarkan Imagineering Jakarta
Selanjutnya
Sainstek