Kuliah Umum Anwar Ibrahim di Universitas Sorbonne Paris (II)

Kita Menolak Fatalisme Konflik

| dilihat 783

Kuliah Umum Anwar Ibrahim selain menambah wawasan yang menghubungkan masa lalu, hari ini, dan esok. Pun mengajak kita untuk menempatkan pemikiran lampau di Eropa untuk melihat realitas hari ini dan kemungkinan terjadi di hari esok. Khasnya dalam konteks hubungan Eropa dengan ASEAN.

Sikap Anwar Ibrahim sangat jelas. "Kami mendesak Eropa untuk menolak dorongan yang menguniversalkan kesulitan dan pilihannya yang besar atau kecil," ungkapnya.

"Kawasan kita dan khususnya ASEAN bukanlah cermin geopolitik yang dapat dijadikan tumpuan dalam krisis negara lain. Kawasan ini memiliki jalannya sendiri, perhitungannya sendiri, dan bentuk pengendaliannya sendiri," tegasnya.

Kejelasan strategis, menurut Anwar Ibrahim, sama pentingnya di Asia seperti di Eropa. Namun, hal itu harus dimulai dengan pengakuan akan perbedaan. Sama seperti kita menolak fatalisme konflik, kita juga harus menolak sinisme yang terlalu sering terjadi dalam perdagangan.

Kemudian dikemukakannya, "Agar Asia Tenggara dan Eropa dapat membangun kemitraan yang bermakna, keterlibatan ekonomi kita harus dipandu oleh prinsip-prinsip yang sama yang kita minta dari keamanan, rasa hormat, fleksibilitas, dan pengendalian diri. Karena di kedua arena, keamanan dan perdagangan, pertanyaan utamanya sama: Apakah kita bertindak untuk memaksakan atau kita bertindak untuk mengakomodasi?"

Tentang hubungan dagang, dalam paparannya yang menyajikan kecerdasan, kearifan, dan kewibawaan sebagai PMX Malaysia dan Ketua ASEAN, Anwar Ibrahim mengemukakan, "Perdagangan harus menjadi jembatan, bukan penghalang. Mari kita perjelas. Kita tidak meminta toleransi. Kita hanya meminta agar Eropa menemui kita di mana kita berada, bukan di mana model menganggap kita seharusnya berada."

Tegas dan jelas, Anwar Ibrahim mengemukakan, "Yang kita cari adalah keadilan, bukan pengecualian. Kesetaraan. Jika kita hendak membuat kesepakatan yang memiliki substansi sama, kesepakatan itu harus didasarkan bukan hanya pada logika ekonomi, tetapi juga pada pemahaman bersama."

Anwar Ibrahim kemudian mengemukakan, "Maksud saya, persaudaraan bukanlah sebuah ciptaan, itu bukan kata baru,... inti dari masa yang telah ada selama beberapa dekade dan abad. Kini, persaudaraan adalah proposisi moral bagi dunia. Ia meminta kita untuk melihat orang lain bukan sebagai orang asing yang harus diatur, tetapi sebagai orang yang setara yang tak pantas direndahkan"

Persaudaraan menurut Anwar Ibrahim, menyarankan bahwa di balik kedaulatan terdapat sesuatu yang lebih dalam, yaitu solidaritas. Namun, saat ini gagasan persaudaraan itu dipaksakan di banyak masyarakat. Persaudaraan berakhir pada usia identitas.

Prasangka Islamofobia

Lalu PMX Anwar Ibrahim mengemukakan. "Islamofobia yang terkadang tersirat, terkadang terbuka, telah menjadi prasangka yang diterima secara sosial di kalangan tertentu. Hal itu terwujud tidak hanya dalam kebijakan, tetapi juga dalam sikap, dalam pengucilan diam-diam suara Muslim. Dalam membingkai Muslim sebagai tersangka permanen kisah Barat."

Diungkapkannya, "Jika kita mengaku menjunjung tinggi nilai-nilai universal, maka biarlah nilai-nilai itu universal. Jika Anda berbicara tentang kebebasan, kebebasan dan martabat, legalitas, maka nilai-nilai itu harus berlaku bagi mereka yang tidak berpenampilan, beribadah, atau hidup seperti mayoritas."

PM X menngingatkan seluruh khalayak syarahannya, apa yang mesti menjadi focal concern kini. "Tidak ada tempat yang lebih mendesak daripada di Gaza," tegasnya.

Apa yang terjadi di sana, menurut Anwar Ibrahim, bukan sekadar tragedi. Itu adalah runtuhnya hati nurani, empati, kepemimpinan, dan kemampuan untuk membedakan penderitaan dari strategi.

"Kita telah melihat sekolah-sekolah berubah menjadi puing, rumah sakit tanpa listrik, keluarga-keluarga lenyap dalam hitungan detik. Ketika kita gagal mengakui kemanusiaan orang lain, kita berisiko kehilangan kemanusiaan kita sendiri," ungkapnya.

Dikemukakan pula, "Statistik bukan sekadar angka. 20 tewas, 300 terbunuh.. Bukan angka untuk setiap orang yang mewakili kisah manusiawi para ibu, orang tua, dan pengalaman mereka yang seharusnya membangkitkan bukan hanya simpati, tetapi juga panggilan untuk bertindak dalam diri kita masing-masing. Kita berbicara tentang hak asasi manusia."

Jelas Anwar Ibrahim mengemukakan, "Saya mendengar ocehan terus-menerus tentang demokrasi dan hak asasi manusia, serta keharusan untuk melindungi kesucian hidup, namun masyarakat global tampaknya tidak berdaya untuk mengakhiri genosida yang berlarut-larut ini. Keharusan untuk kejelasan moral berlaku bagi semua orang."

Sayangnya, ungkapnya lagi, yang kita saksikan adalah standar ganda, kemunafikan, dan ketidakjelasan moral dalam cara dunia mendekati masalah Iran. Tidak seorang pun berada di atas hukum internasional, tetapi tidak ada negara yang berada di luar dialog. Penerapan norma secara selektif merusak tatanan yang berdasarkan aturan.

Sekarang ini lagi-lagi tentang menemukan koherensi karena tanpanya kata-kata seperti ketertiban, aturan, keadilan mulai kehilangan maknanya. Dan kita harus membangun kembali kepercayaan lintas benua, lintas agama, dan lintas sejarah.

Jika dilihat dari sudut pandang ini, persaudaraan bukan sekadar slogan kosong, tetapi diambil alih untuk digunakan secara selektif dalam upaya mengejar rasisme dan xenofobia yang berbahaya.

Zaman kegelapan, Invasi Barbar

Pernyataan Anwar Ibrahim ini, direspon tepuk tangan khalayak. Lalu, merujuk pandangan Marcel Prawy,  jurnalis dan dramaturg Prancis. Dikatakannya, mungkin jika kita melakukan perjalanan kembali ke abad ke-8 Masehi, kita juga dapat mempelajari kembali beberapa hal. Di antaranya, penelitian tentang waktu yang hilang.

Sekarang, ungkap Anwar Ibrahim, seperti yang diceritakan dalam cerita, Kaisar Romawi Suci Charlemagne dan Khalifah Abbasiyah Harun Al Rashid merupakan representasi yang benar dari iman mereka masing-masing dan dengan demikian secara nasional merupakan musuh bebuyutan.

"Meskipun demikian, ada perintah geopolitik dan ekonomi yang kuat yang mendorong mereka untuk berjalan di sepanjang jalan kebaikan dan niat baik yang melampaui batas-batas peradaban," jelasnya.

"Oleh karena itu, bertentangan dengan anggapan umum, Kristen dan Islam tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi musuh bebuyutan, kecuali oleh rencana mereka yang bertekad untuk menyulap kesan yang berbeda dengan menebar perselisihan dan permusuhan," urainya.

Anwar Ibrahim lantas menyebut Henri Pirenne, sejarawan besar Belgia yang terkenal karena karyanya tentang sejarah demikian bukan karena Islam, tetapi jika bukan karena Islam, dinasti Carolingian mungkin tidak akan pernah melihat cahaya.

Oleh karena itu, kesimpulan logisnya adalah apa yang terjadi tanpa Muhammad. Harley Talman, sejarawan dan missionaris yang telah menulis tentang sosok Muhammad. tidak akan terbayangkan. Khasnya dalam konteks hubungan Kristen - Islam.

Postulasi ini, menurut Anwar Ibrahim, yang kita kenal sebagai wajah-wajah yang menentang arus umum opini, bahwa zaman kegelapan disebabkan oleh kehancuran Kekaisaran Romawi Barat oleh invasi barbar pada abad keempat dan kelima.

Pembaruan Gagasan

Kala berbicara tentang geopolitik, Anwar mengemukakan, Asia Tenggara telah dilihat melalui lensa pinjaman sebagai sayap dalam persaingan kekuatan besar, rantai pasokan, zona pertikaian antara kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Kita terbiasa dideskripsikan tetapi kita kurang terbiasa didengar. Ini seruan untuk konsistensi. "Jika kita mengaku menjunjung tinggi nilai-nilai universal, maka biarlah nilai-nilai itu universal. Jika Anda berbicara tentang kebebasan, kebebasan dan martabat, legalitas, maka nilai-nilai itu harus berlaku bagi mereka yang tidak terlihat, beribadah, atau hidup seperti mayoritas. Tidak ada tempat yang lebih mendesak dalam hal ini selain di Gaza," urainya.

Apa yang terjadi di sana bukan sekadar tragedi. Itu adalah runtuhnya hati nurani, empati, kepemimpinan, dan kemampuan untuk membedakan penderitaan dari strategi.

Sekarang ini lagi-lagi tentang menemukan koherensi karena tanpa itu kata-kata seperti ketertiban, aturan, keadilan mulai kehilangan maknanya. Dan kita harus membangun kembali kepercayaan lintas benua, lintas agama, dan lintas sejarah.

Menurut Anwar Ibrahim, Eropa dan ASEAN misalnya, harus dimulai dengan pembaruan gagasan bahwa martabat bukanlah sumber daya yang langka. Itu memang warisan bersama.

"Biarlah itu menjadi dasar keterlibatan kita. Biarlah itu menjadi ukuran yang akan digunakan sejarah untuk menilai, apakah kita bangkit untuk mewujudkan momen ini tanpa tekad yang teguh dan keberanian yang maksimal atau tidak menyerah pada keputusasaan dan kedamaian yang memecah belah," ungkap Anwar.

Eropa adalah bagian dari barat dan Asean di Asia berada di timur, lanjutnya. Namun 'saudara kembar' itu, tidak seperti cerita Rudyard Kipling yang terkenal. 'Saudara kembar' itu tidak akan bertemu dengan cara menyangkal perbedaan-perbedaan kita, tetapi dengan mengatasinya dengan keberanian atas keyakinan, yang meneguhkan komitmen kita dengan keuletan tujuan dan tekad, mengetahui bahwa usaha kita hari ini akan memengaruhi generasi-generasi mendatang.

Dari kuliah umum ini, terasa Anwar Ibrahim sebagai pemimpin, menghidupkan isyarat perubahan kesadaran dari narrow nasionalisma menjadi global nasionalisma. Menegakkan ASEAN setara dengan Eropa.| tique françoise

Editor : delanova
 
Polhukam
10 Apr 26, 20:49 WIB | Dilihat : 228
70 Negara Kutuk Serangan Terhadap UNIFIL
10 Apr 26, 17:21 WIB | Dilihat : 178
Iran Kian Tangguh Hadapi AS dan Zionis Israel
03 Apr 26, 19:23 WIB | Dilihat : 353
Rudal Iran sebagai Platform Baru Media
03 Apr 26, 11:46 WIB | Dilihat : 311
Perlawanan Iran Terus Berlangsung
Selanjutnya
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 985
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3058
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya