Hafez dalam Abadi Cinta

| dilihat 362

Jeehan Esfahani

Berkunjunglah ke Iran. Pergilah ke Shiraz. Kunjungi makam penyair sohor abad ke 14, Shams-ud-din Muhammad Hafez (1320-1389).

Shiraz dan Hafez dua hal yang terkait satu dengan lainnya.

Shiraz dibangun dan dikenal sebagai pusat peradaban Persia sejak 20 abad silam. Pada masa dinasti Zand (1747-79 M), Shiraz adalah ibukota Iran.

Kota ini merupakan kota paling penting di dunia Islam abad pertengahan. Kini, ibukota Provinsi Fars ini, merupakan salah satu tujuan kunjungan paling populer di Iran.

Bagi peminat sejarah, puisi, seni, atau alam, Shiraz menawarkan sesuatu yang khas untuk semua orang. Meskipun, untuk mengalami sejarah Persia lebih lengkap, kita perlu menjelajah ke luar Shiraz, seperti Persepolis, kompleks istana-kota megah yang dirancang untuk menunjukkan kekayaan dan kekuatan Kekaisaran Persia di masanya.

Shiraz kota yang sejuk, di musim apapun, tak peduli musim dingin atau musim panas, kendati yang paling pas untuk berkunjung adalah di musim semi. Karena di musim itulah, melati berbunga dan harumnya semerbak di udara kota. Di musim semi juga, burung bul-bul menghiasi atmosfir kehidupan, seperti teh bunga jeruk menjadi kenangan saat minum teh sore hari, atau nikmati anggur Iran yang kaya rasa.

Rayakan cinta di musim semi dan biarkan diri yang sedang dimabuk cinta tersesat di kebun-kebunnya, sebelum merunduk sujud di masjid-masjid sambil mengagumi arsitekturnya.

Atmosfir kota Shiraz memungkinkan kreativitas berkembang dan puisi-puisi indah tercipta.

Di kota inilah penyair yang dikagumi oleh Goethe lahir, hidup, dan terkenal sebagai penyair klasik abad ke 14.

"Puisi-puisi Hafez terukir abadi di dalam kebenaran nyata. Hafez tiada bandingnya," sebut Goethe tentang khwaja -- sebutan lain pujangga -- yang juga dikenal sebagai forecaster lewat kitab ramalan gaib bertajuk Voul Hafez.

Sejumlah pemerhati sastra dari Eropa dan Amerika memuji Hafez. Emerson, misalnya, menilai Hafez menunjukkan pada kita kebesarannya di masa yang tidak mengenalnya dan mengacuhkannya. Hafez sangat berani. Dia visioner, pandangannya jauh ke masa depan dan sangat dalam.

Saya dan begitu banyak orang Iran, di manapun dia tinggal kemudian, sangat mengagumi karya-karyanya. Dia penyair paling dintai dan mewariskan puisi-puisi istimewa bagi para penyair, hingga kini dan bahkan sampai entah bila.

Benar pernyataan Getrude Bell, Hafez melihat dengan matahatinya, dan berbicara dengan batinnya yang tajam. Ekspresi perasaannya yang indah menembus batas-batas relung fikiran, zaman, dan kebiasaan insan.

Hafez hidup dalam lingkungan sastra klasik, tetapi puisi-puisinya kontemporer, tidak terpenjara oleh waktu. Terutama karena kearifannya yang menghubungkan hati manusia dari masa ke masa, meskipun berjarak waktu ratusan bahkan ribuan tahun.

Bersama kekasih yang kemudian menjadi suai saya, kala pulang ke Esfahan, Iran, saya selalu sempatkan mengunjungi makamnya yang berubah menjadi taman puisi yang indah dan terawat.

Shams-ud-din Muhammad Hafez (sekitar 1320-1389), bagi kami, juga sahabat terkasih yang tercinta. Puisi-puisinya merupakan ekspresi cinta seorang sahabat di segala zaman.

Puisi Hafez, meluap dengan apresiasi asasi  akan keindahan dan kekayaan hidup, kala hidup dan kehidupan dilihat dengan mata cinta. Dengan wawasan yang tepat, ia mengeksplorasi perasaan dan memandu kita mengenali motif yang berada di setiap peringkat cinta.

Puisi-puisi Hafez menelusuri setiap dinamika halus emosi secara rinci dan asasi. Puisi-puisinya adalah fase panjang jalan cinta, yang realis dan surealis, fisika dan metafisika. Puisi-puisinya mengalir getar mistisisma bagi mereka yang menempuh perjalanan batin yang terbentang di cakrawala, kala cinta meniadakan batas-batas pribadi.

Puisi-puisi Hafez memandu kita masuk ke dalam perubahan dramatik,  transformasi yang lebih besar untuk mengenali hakikat cinta insani yang berkembang menjadi cinta insan dengan al Khaliq, Kekasih paling abadi.  

Meminjam istilah Isabella Colalillo Katz (2017), puisi-puisi Hafez menjadi cahaya dalam cinta yang sesungguh cinta. Puisi-puisi itu lahir dari kreativitas yang dihidupkan oleh kesadaran imani, betapa insan terlahir dari, oleh dan untuk cinta. Kreativitas yang menjelma menjadi pesona harmoni fikiran dan jiwa dalam satu tarikan nafas.

Simak dan nikmati puisinya bertajuk, "Wanita yang Kucinta." Begini :

Karena Wanita yang kucintai hidup / Di dalam dirimu, / Aku bersandar sedekat mungkin dengan tubuhmu bersama kata-kataku /  Yang aku bisa //

Aku memikirkanmu sepanjang waktu, musafir sayang.// Karena yang aku cintai pergi bersamamu /  Kemanapun kamu pergi, / Aku senantiasa dekat //

Jika kau duduk di hadapanku, musafir sayang, /Dengan aura cerahmu / dari banyak pesonamu //

Bibirku bisa menahan diri 'tuk tak tergesa / Dan perlu berteman dengan pipimu merona merah //

Tapi mataku tak bisa lagi bersembunyi / Adalah fakta menakjubkan / tentang siapa sungguh kamu / Yang cantik, yang aku kagumi//

Kau mendirikan kemah kekuasaan-Nya di dalam diriku //

Aku senantiasa bersandar di hatimu / Sedekat dengan jiwamui / Itu Yang kubisa. |

Kubacakan puisi ini di makamnya, sambil mengunci jemari kekasih. Kutemukan pada puisi ini koliberasi seperti yang diungkap Bernie DeKoven (2017), kala "aku" menjelma menjadi "kami." Pertemuan dua persona dalam satu irama batin, ketika rasa dan dria bersekutu padu.

Koliberasi menghantar pemahamanku tentang Nol, baik sebagai bilangan maupun sebagai peleburan rasa dengan dria, akal dan jiwa. Tentang Nol, Hafez menulis puisi alit:

Di sinilah kesenangan nyata dimulai.

Terlalu banyak menghitung,

Di tempat lain!

Nol, akhirnya kufahami sebagai konfluensa, yakni pengalaman yang tampak hampir universal dalam kesenangan cinta yang dibawanya. Inilah yang kukenali sebagai harmoni, kebersamaan, atau murmur (gumaman yang mengandung makna keterpaduan yang "mengalir bersama.")

Dengan pemahaman atas keterpaduan itu, aku mengenali esensi puisi Hafez bertajuk:  Keluarkan Semua Pilihanmu untuk Menari (Sortez tous les choix pour la danse).

Kutahu suara terhimpit / Masih memanggilmu/ Kutahu kebiasaan itu merusak hidupmu/ masih mengundangmu / Tapi kau dan kekasihmu kini / nampak jauh lebih kuat / Kau bisa seperti itu / Bahkan, mekar !//

Teruslah meremas matahari //

dari do'a dan kerja dan musikmu / dari indah senyum kasihmu//

Teruslah meremas matahari //

dari tangan suci dan tatapan Kekasihmu//

Dan, sayangku / dari gerakan paling tak penting/dari tubuh sucimu/ Belajarlah mengenal koin palsu / Itu kan membuatmu senang sesaat / Lalu menyeretmu berhari-hari seperti insan lantak / di belakang unta melepas angin busuk //

Kau bersama kekasihmu, kini / Pelajari tindakanmu: apa yang menyenangkan Dia /Tindakanmu mengundang kebebasan dan cinta /

Setiap kali kau sebut nama Tuhan, musafir sayang //

Mereka akhirnya bisa saling mencium / Dan, bertepuk tangan atas semua

kebijaksanaan sehatmu //

O terus meremas tetes Matahari / Dari doa, kerja, dan musikmu / dari tawa indah kekasihmu /dari gerakan yang paling tidak penting/ dari tubuh sucimu sendiri / Sekarang, yang manis.. ?/ Bijaklah../ Keluarkan semua suaramu untuk menari //

Puisi Hafez ini memandu manusia keluar dari kerumitan persoalannya sendiri, sesuatu yang sebenarnya mudah, tak penting dirisaukan, dan dipersoalkan. Terutama, ketika manusia mengerti, merayakan hari-hari kehidupannya dengan satu kata: gembira.

Hal itu hanya akan mungkin dilakukan, bila kita mampu melakukan pertemuan fikiran dan batin, ketika kita sendirian, berbicara dengan diri kita sendiri, merenung. Dalam situasi semacam itu batin dan jiwa dengan berbagai suara, kesadaran, dan kemampuan yang kita miliki terlibat dengan diri kita sendiri. Semuanya tampak selaras, harmonis, seimbang dengan mudah tumbuh berkelanjutan, menghidupkan kekariban alami.

Hafez dan karya-karyanya, seperti Shiraz - kota kehidupannya, abadi dalam cinta. | (Dago Pakar, 11/6/19)

Editor : Web Administrator
 
Budaya
24 Agt 19, 16:44 WIB | Dilihat : 127
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 378
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 572
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya
Lingkungan