Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan

| dilihat 762

Catatan Sém Haésy

Jakarta Melayu Festival (JMF) 2019 yang akan memasuki 9 (sembilan) tahun akan digelar, insyaAllah pada Sabtu, 17 Agustus 2019, di Ancol Beach City.  Kali ini bertajuk "Merengkuh Keadilan."

Akan tampil dalam perhelatan yang kini sudah menjadi salah satu calendar of event pariwisata DKI Jakarta, itu Alvin Habib, Maya, Glow Rozza, Irsya, Yofi, Yoda, Karena Christy, Henri Lamiri, Butong Olala, Tony Q band, dan tentu Anwar Fauzi Cumsuis Band. Termasuk di dalamnya, musisi yang selama ini tergabung dalam Serojacoustic Band. Konsentra Sumut juga tampil dengan ragam rentak tari Melayu.

Setiap tahun memang selalu terjadi penyegaran -- yang dimaksudkan sebagai bagian dari proses regenerasi -- penampil. Para senior, seperti Nong Niken Astri, Takaeda, Sulis, Shena Malsiana dan kawan-kawan dalam Gita Cinta production, akan memfasilitasi dan mengkatalisasi yang lebih muda. Ini proses edukasi alamiah yang diharapkan menjadi bagian dari komitmen memajukan dan mengembangkan musik Melayu ke depan.

Seperti kata Anies Baswedan, salah seorang inisiator aksi budaya ini sejak sembilan tahun lalu, aksi budaya dan kebudayaan harus bergerak ke depan, berkembang, dan tidak tertambah di hari kemarin atau hari ini.

Anies yang sekarang beroleh kepercayaan rakyat sebagai Gubernur DKI Jakarta itu, selalu mengingatkan, komitmen menggelar JMF setiap tahun adalah, komitmen budaya. Komitmen terhadap harmoni nalar, naluri, rasa, dan dria yang diekspresikan melalui paduan karya seni dan nilai budaya itu sendiri.

Spiritnya tak hanya, 'tak kan melayu hilang di dunia,' lebih dalam dari itu adalah menebar kemajuan negara bangsa dan kebahagiaan rakyat, yang dalam tagline khas untuk Jakarta, terungkap dalam sesanti: "maju kotanya, bahagia warganya."

Sejak pertama, pergelaran yang diniatkan untuk mengangkat, memelihara dan mengembangkan musik (sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya) Melayu berbasis harmoni artistika - estetika - etika, diinisiasi oleh Anies Baswedan, Ferry Mursidan Baldan, Geisz Chalifah,  dan kawan-kawan. Saya terlibat di dalamnya.

Musik (sebagai bagian dari budaya) Melayu, tak berhenti hanya sebagai musik, melainkan ekspresi nilai hidup. Pilihan iramanya bisa dalam beragam format dan genre, tetapi syair - liriknya, mengekspresikan nilai akalbudi, menebar kecerdasan budaya, menghaluskan dimensi insaniah berbasis kasih sayang, cinta dan kesetiaan.

Tak hanya dalam konteks hubungan manusia dengan manusia, melainkan jauh dari itu, dalam konteks hubungan manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan sebagai sumber segala sumber kehidupan, Mahakreator yang tak pernah lelah membahagiakan manusia, menyuburkan semesta dengan segala fenomena dan dinamikanya.

Merengkuh Keadilan menjadi tajuk yang sekaligus merupakan tema pergelaran ini, karena keadilan merupakan inti keadaban dan peradaban yang akan memberikan nilai lebih pada kemanusiaan. Ini juga yang menjadi nafas pergerakan JMF, mulai dari ruang kafe hotel, panggung besar teater Taman Ismail Marzuki --  yang baru dimulai renovasinya sebagai pusat kebudayaan dunia -- ke pantai Ancol.

Pantai - pesisir - syair dan musik adalah raga dan sukma budaya Melayu. JMF menetas di ruang kafe hotel untuk menegaskan eksistensi musik dan ekspresi budaya Melayu sebagai budaya kontemporer yang tak terkungkung zaman, sebagai deklarasi atas sumpah abadi Hang Tuah : "tak melayu hilang di bumi."

Pantai dan pesisir adalah tempat bagi manusia menempatkan dirinya sebagai kaum panoramis yang melihat kehidupan dan dunia secara luas dari perspektif manapun. Dalam ungkapan Geisz Chalifah,  "Pantai dan pesisir menyadarkan kita sebagai manusia sebagai sosok kecil yang harus melihat luas dunia dengan segala fenomena yang bergerak dinamis di hampar semesta. Di situ, manusia berinteraksi dengan ruang dan waktu, tak sekadar menjadi bagian alam belaka."

Pernyataan Geisz menghidupkan kembali kesadaran tentang sikap dan pandangan hidup yang dalam dinamika kemasyarakatan - kenegaraan - kebangsaan menghadirkan sikap demokratis yang sesungguhnya: adil dan setara, equit dan equal. Dua kosakata yang menjadi daya bagi sikap hidup insan beradab yang kosmopolit dan egaliter, dua nilai penting dalam memahami demokrasi sebagai cara mewujudkan harmoni kebangsaan.

Merengkuh Keadilan adalah mengayuh kesadaran demikian, sehingga manusia tak hanya harus diposisikan dalam dikhotomi kalah - menang, lawan - kawan, dungu - cerdas, oposan dan penguasa, melainkan subyek kehidupan kebangsaan setara yang hanya dibedakan oleh fungsi dan ruang berperan.

Karenanya, JMF seperti sejak semula ditetas, diperuntukan bagi semua orang, siapa saja, tak peduli latar dan kedudukannya. JMF merupakan ajang untuk siapa saja berekspresi kreatif tanpa kehilangan nilai budayanya, ajang bergembira, ajang merentang silaturahmi, ajang mewujudkan komitmen kolektif: bahagia di dunia, bahagia di akhirat, terbebas dari petaka.

Itulah gairah hidup, yang semestinya tak lekang oleh panas, tak pula lapuk oleh hujan.

Tahun 2018, pergelaran JMF dibasuh oleh hujan ketika pergelaran baru dimulai dan pergelaran tak henti, bahkan hujan seolah menyuburkan semangat sukacita, gembira, dan menjadi bagian indah dari seluruh pergelaran yang berakhir dengan senyuman.

Pergelaran itu sendiri, menghadirkan rasa haru, rentak gembira, dan hentak dinamis kaum yang tak pernah lelah berkomitmen menjaga dan memelihara harmoni Indonesia, menyimpan sesal dan kesal di tempatnya. Untuk terus bergerak tanpa henti dalam rentak kehidupan melangkah ke garis azimuth kebangsaan menuju tujuannya: Indonesia Raya dan Jaya !

Editor : Web Administrator
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1385
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1082
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 1075
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Budaya
24 Agt 19, 16:44 WIB | Dilihat : 131
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 382
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 572
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya