Gambaran Fantasi Gaza Baru seolah Singapura

Dewan Perdamaian Gaza di Tengah Kegamangan Politik Global

| dilihat 19

Dunia sedang dilanda tengkujuh (monsun). Tak hanya tengkujuh alam yang menghantarkan petaka, seperti Petaka Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) dan banjir di Semenanjung. Lebih dahsyat dari itu adalah tengkujuh politik, yang memicu kegamangan politik global.

Di tengah situasi semacam itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersama '' - anak semangnya (Perdana Menteri zionis Israel, Benyamin Netanjahu) terus memelihara ambisi menguasai Gaza - Palestina.

Dari pemberitaan dan penyiaran media massa arus utama dan media sosial (multi media, multi channel, dan multi platform), sejak fase kampanye kontestasi Pemilihan Presiden AS 2024 (versus Kamala Harris), Donald Trump telah menunjukkan wataknya sebagai Presiden paling kontroversial.

Kebijakan-kebijakan politiknya yang selalu bermuatan kepentingan paradoks dengan aspirasi sebagian rakyatnya dan sebagian terbesar penduduk dunia. Ia cukup piawai memecah belah bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia.

Terkesan, ia sengaja, seraya memantik bara perang dan konflik berkepanjangan di berbagai belahan dunia. antara lain di Timur Tengah, Eropa Timur, Amerika Selatan, bahkan Asia Tenggara.

Perangainya yang laku lajak mencerminkan watak antagonis di 'panggung sandiwara'  kerap mengemuka. Dukungannya kepada zionis Israel menonjol kuat. Ia secara terbuka membiarkan zionis Israel melantakkan Gaza, menduduki Tepi Barat Palestina dan menguasai Al Quds - Jerussalem.

Setarikan nafas, ia membiarkan konflik dan perang melebar ke negara-negara teluk dengan menekan berbagai negara di kawasan itu. Ia pun membiarkan perang Rusia versus Ukraina. Belakangan hari ia arahkan pasukan khas AS melakukan pendudukan dan 'menculik' sekaligus menghinakan Presiden Venezuela Maduro dan istrinya, Flores.

Dewan Perdamaian Gaza

Pada saat bersamaan, ia mengintai dan mencari momen yang pas untuk menduduki Argentina dan Kuba. Ia gemar mengancam negara-negara yang diposisikannya sebagai musuh utama, seperti Iran. Pada saat bersamaan dia tak ambil peduli suara dan ungkapan protes jutaan manusia di dunia yang merutuk aksi kejahatan kemanusiaan, genosida, pembersihan ras dan etnis yang dilakukan zionis Israel.

Beberapa kali, Trump mengekspresikan ambisinya menguasai Gaza dan tanah Palestina, sekaligus hendak memindahkan penduduk dari tanah airnya sendiri...., antara lain dengan sesumbar mengambil alih greenland.

Dengan sangat terbuka, Trump menunjukkan sikapnya sebagai Bapak Semang yang begitu kuat melindungi anak semangnya, Benyamin Netanjahu, yang sudah diputuskan Mahkamah Internasional di Den Haag. Karenanya, Netanjahu tak berani datang ke Davao, kuatir ditangkap.

Trump juga menabuh genderang perang di bidang ekonomi, melalui keputusan sesuka hati tarif perdagangan dunia dalam kapasitasnya sebagai pedagang politik dunia (global political trader) yang rakus dan tamak.

Di Davao, ia tunjukkan pesona personanya sebagai -- seolah-olah -- pemimpin dunia dengan inisiatif perdamaian permanen. Dengan jambulnya yang khas dan seolah-olah merupakan mahkota abadi dirinya sebagai perlambang raja atas dunia.

Boleh jadi, di balik jambul itu ada beragam pemikiran taktis, solusi kemanusiaan imitasi yang membuat banyak petinggi dunia terpukau. Lantas -- dengan pendekatan intuitive reason-nya masing-masing -- terpikat dengannya dan bersetuju atas inisiatif pembentukan board of peace alias dewan perdamaian (Kamis, 22 Januari 2026). Inisiatif perdamaian di 'rumah orang' tanpa melibatkan 'pemilik rumah' yang bertahun-tahun digempur, dipinggirkan, dan disingkirkan.

Perang Total

19 petinggi berbagai negara (besar kecil, kaya miskin) terperangkap 'muslihat si jambul,' lantas bersetuju menanda-tangani dokumen deklarasi pembentukan board of peace, itu. Sambil bersetuju mengeluarkan dari koceknya dana sebesar USD 1 bilion agar tetap menjadi anggota selamanya. Uang tersebut, yang terkumpul tersebut, tanpa jaminan kepastian,  konon akan digunakan untuk membangun kembali Gaza yang porak-poranda akibat perang.

Para (19) petinggi negara dari berbagai belahan dunia yang masuk perangkap 'muslihat jambul' itu adalah:  Isa bin Salman bin Hamad Al Khalifa, menteri urusan mahkamah di kantor Perdana Menteri Bahrain; Nasser Bourita, Menteri Luar Negeri Maroko; Javier Milei, Presiden Argentina; Nikol Pashinyan, Perdana Menteri Armenia; Ilham Aliyev, Presiden Azerbaijan; Rosen Zhelyazkov, Perdana Menteri Bulgaria; Viktor Orban, Perdana Menteri Hongaria; Prabowo Subianto, Presiden Indonesia; Ayman Al Safadi, Menteri Luar Negeri Yordania; Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Kazakhstan; Vjosa Osmani-Sadriu, Presiden Kosovo; Mian Muhammad Shehbaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan; Santiago Peña, Presiden Paraguay; Mohammed Bin Abdulrahman Al Thani, Perdana Menteri Qatar; Faisal bin Farhan Al Saud, Menteri Luar Negeri Arab Saudi; Hakan Fidan, Menteri Luar Negeri Turki; Khaldoon Khalifa Al Mubarak, Utusan Khusus untuk UEA di AS; Shavkat Mirziyoyev, Presiden Uzbekistan; dan Gombojavyn Zandanshatar, Perdana Menteri Mongolia.

Tak semuanya petinggi dari negara-negara kaya yang selama ini sekawanan dengan AS (dan zionis Israel yang bersembunyi dalam kantung jas Trump). Petinggi dari negara miskin -- termasuk yang kerap sesumbar sebagai negara kaya dan mengakui rakyatnya bahagia dalam kemiskinan -- tanpa pikir-pikir dan konsultasi dengan rakyat, kontan bersetuju.

Gaza, agaknya memang sudah dirancang untuk dihancurkan dengan serangan rudal dan bom dalam serangan udara biadab aksi kejahatan kemanusiaan - genosida selama berbilang bulan dan tahun untuk menancapkan kembali kolonialisma baru di Palestina.. Apa yang dikuatirkan pemikir revolusioner dari Oxford University, mendiang James Martin (2017) menjadi kenyataan. Perang total bakal terjadi, sedangkan upaya membalik kemiskinan (karena alasan politik praktis secara domestik) bakal terus tertunda.

Gaza dalam Fantasi

Para petinggi pengekor Trump telah dan teken pernyataan dengan dakwat (tinta) basah sebagai penanda otentik bersetuju dengan inisiatif seketika. Mereka tak hirau apa yang diinisiasi dan dilakukan Trump bakal berdampak sangat buruk, yakni aksi pencaplokan Gaza.

Sebagaimana halnya Trump, yang senang ngagul (pongah dan berbangga hati) memuji dirinya sendiri. Ia pun menyeret berbagai petinggi dunia masuk ke dalam jebakan fantasi. Semua, agaknya terpukau dengan presentasi Trump, yang dirancang dan direkayasa membangun wajah baru Gaza di masa depan.

Wajah kota Gaza dalam fantasi (laksana Singapura) yang menonjolkan pembangunan fisik kota global - kapitalistik dengan dinamika budaya baru yang sekular sebagai sentra destinasi wisata baru. Kota yang tak lagi punya kaitan historis dengan peradaban -- tamaddun -- yang sudah berbilang alaf.

Mereka berbeda pandangan dan sikap dengan sejumlah petinggi negara-negara Eropa yang setelah mencermati dokumen pendirian Dewan Perdamaian (Trump) tersebut, menolak untuk bergabung. Jum'at (23/1/26)  secara terang benderang, tujuh negara Eropa (Spanyol, Prancis, Italia, Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Slovenia) tersebut mengumumkan penolakan mereka untuk bergabung dengan inisiatif Dewan Perdamaian.

Belgia, Inggris, Jerman, Belanda dan beberapa negara di Eropa lainnya, dikabarkan pula menolak Dewan Perdamaian (Trump). Lantaran di dokumen perdamaian, itu tersirat hasrat untuk mengelola Jalur Gaza setelah perang. Para petinggi negara-negara Eropa, itu menegaskan komitmen mereka terhadap sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan tatanan internasional berdasarkan legitimasi multilateral.

Mereka menolak ikut bergabung lantaran kuatir dengan persoalan hukum, konstitusional, dan politik terkait inisiatif tersebut. Apalagi, mereka meyakini, inisiatif tersebut dirancang dan bakal dikelola oleh satu negara (AS) di luar kerangka konsensus internasional.

Dalam percakapan kalangan cendekiawan di Paris, misalnya, para petinggi 'melihat' kemungkinan bakal terjadinya aneka pelanggaran yang dilakukan zionis Israel. Apalagi, sampai kini, zionis Israel masih melakukan tekanan terhadap penduduk bangsa Palestina.

Posisi Eropa memang bervariasi. Kendati demikian demikian esensi penolakannya akan sama. Seperti diungkap oleh Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez. Ia menegaskan, negaranya menghargai upaya untuk mengakhiri perang di Gaza. Tetapi mereka tidak akan bergabung dengan kerangka kerja apa pun yang tidak selaras dengan sistem PBB. Ia juga menekankan komitmen Madrid terhadap multilateralisme.

Perbedaan Perspektif

Maud Bregeon, juru cakap (Porte-parole du Gouvernement) Presiden Emmanuel Macron menjelaskan, bahwa rancangan undang-undang untuk 'Dewan Perdamaian' melampaui cakupan Gaza. Hal tersebut, bakal menimbulkan pertanyaan serius ihwal penghormatan terhadap Piagam PBB dan struktur hukumnya.

Di Italia, sebagaimana dikabarkan surat kabar Corriere della Sera, Roma menolak untuk bergabung,  lantaran kuatir keterlibatan dalam entitas negara tunggal dapat menyebabkan potensi konflik dengan Konstitusi Italia.

Pun, demikian halnya dengan Inggris, Jerman, Belanda, dan Swedia, yang dikabarkan menolak untuk mendukung usulan Dewan Perdamaian (Trump) untuk Gaza, serupa dengan sikap yang diambil Prancis.

Pada forum diskusi diplomat yang berlangsung di Paris, mengemuka informasi, perbedaan perspektif ihwal pengaturan regional lebih luas. Perbedaan perspektif itu, berkaitan dengan pemikiran tentang posisi Uni Eropa di tengah situasi Timur Tengah yang ribet, gamang, tidak menentu, ambigu, dan tak dapat diprediksi secara presisi. Apalagi, selama ini perangai AS dan zionis Israel seringkali inkonsisten atas apa yang sudah mereka setujui..  zionis (18/12/25).

Uni Eropa telah mengikuti situasi di Timur Tengah dengan sangat cermat sejak peristiwa 7 Oktober 2023. Dalam bahasa diplomasi yang fleksibel, Kendati demikian, Uni Eropa memaklumi adopsi Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB 2803 perihal pembentukan Dewan Perdamaian dan Pasukan Stabilisasi Internasional sementara, sebagaimana terurai dalam 'Rencana Komprehensif untuk Mengakhiri Konflik Gaza.'

Karenanya, Uni Eropa menyerukan semua pihak untuk memberi prioritas pada upaya mengimplementasikan Resolusi DK PBB tersebut secara keseluruhan. Sesuai dengan prinsip-prinsip politik dan hukum internasional yang relevan, seraya menstabilkan lingkungan Gaza yang aman. Uni Eropa menegaskan kembali komitmen kuat negara-mnegara anggotanya terhadap langkah 'best practise' hukum internasional dan perdamaian yang komprehensif, adil, dan langgeng berdasarkan solusi dua negara.

Resolusi yang kerap menjadi buah bibir para petinggi, yakni dua negara demokratis, Israel dan Palestina, hidup berdampingan dalam damai di dalam perbatasan yang aman dan diakui. Uni Eropa akan berkontribusi pada semua upaya menuju solusi ini.

Distribusi Bantuan Kemanusiaan

Saat ini, Uni Eropa lebih memprioritaskan kontribusi pada langkah-langkah implementasi resolusi tersebut. Tanpa kecuali melalui mandat yang ditingkatkan menjadi Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa untuk Titik Penyeberangan Rafah, Misi Polisi Uni Eropa untuk Wilayah Palestina (EUPOL COPPS), serta melalui keterlibatan dalam Pusat Koordinasi Sipil-Militer (CMCC).

Uni Eropa memandang solusi terkait Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina. Karenanya, Uni Eropa menegaskan komitmen perlunya pengiriman bantuan kemanusiaan yang cepat, aman, tanpa hambatan, serta distribusi yang berkelanjutan dalam skala besar ke dan di seluruh Gaza.

Uni Eropa memberi perhatian khas pada distribusi bantuan kemanusiaan untuk Gaza - Palestina, termasuk melalui Koridor Maritim Siprus guna melengkapi jalur darat, sesuai dengan hukum humaniter internasional, dan juga menekankan perlunya PBB dan badan-badannya, serta organisasi kemanusiaan, untuk dapat bekerja secara independen dan tidak memihak.

Dewan Perdamaian yang ditolak Uni Eropa dan disetujui 19 negara, itu agaknya tak peduli dengan beragam sikap yang meragukannya. Di Gedung Putih, Trump sudah membentuk Dewan Eksekutif, yang terdiri dari:  Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS; Steve Witkoff, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah; Jared Kushner, menantu Trump; Sir Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris; Marc Rowan, CEO - Apollo; Ajay Banga, presiden Bank Dunia; dan, Robert Gabriel, penasihat keamanan.

Pertikaian pandangan dan sikap atas Dewan Perdamaian (Trump) nampaknya bakal mengemuka terus. Rakyat Gaza - Palestina, kian panjang menjalani kepedihan hidup nan sansai di tengah kehidupan yang masih gamang, tak pasti, ribet, dan mendua..

Selama itu, para aktivis kemanusiaan peduli Palestina, masih harus terus menyanyikan lagu "Long live Palestine, crush Zionism" yang pertama kali populer didendangkan Kofia and Medina. Lagu perjuangan ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia :

Long live Palestine and crush Zionism / Long live Palestine and crush Zionism // Long, long, long live Palestine / Long, long, long live Palestine / Long live Palestine and crush Zionism / Long live Palestine and crush Zionism // 

(Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme / Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme // Hidup Palestina / Hidup Palestina / Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme / Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme //)

And we have cultivated the earth / And we have harvested the wheat / We have picked the lemons / And pressed the olives / And the whole world knows our soil / And the whole world knows our soil //

( Dan kami telah mengolah tanah / Dan kami telah memanen gandum / Kami telah memetik lemon / Dan memeras zaitun / Dan seluruh dunia tahu tanah kami / Dan seluruh dunia tahu tanah kami //)

Long, long, long live Palestine / Long, long, long live Palestine / Long live Palestine and crush Zionism / Long live Palestine and crush Zionism //

(Hidup Palestina / Hidup Palestina / Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme / Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme //)

And we have thrown stones at / Soldiers and police / And we have fired missiles /At our enemies / And the whole world knows our struggle / And the whole world knows our struggle//

(Dan kami telah melempari batu ke / Tentara dan polisi / Dan kami telah menembakkan rudal / Ke musuh kami / Dan seluruh dunia tahu perjuangan kami / Dan seluruh dunia tahu perjuangan kami //)

Long, long, long live Palestine / Long, long, long live Palestine / Long live Palestine and crush Zionism / Long live Palestine and crush Zionism //

(Hidup Palestina / Hidup Palestina / Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme / Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme //)

And we will liberate our land / From imperialism / And we will build our land /To socialism / And the whole world will witness / And the whole world will witness // 

(Dan kami akan membebaskan tanah kami / Dari imperialisme / Dan kami akan membangun tanah kami / Menuju sosialisme / Dan seluruh dunia akan menyaksikan / Dan seluruh dunia akan saksi // )

Long live Palestine and crush Zionism / Long live Palestine and crush Zionism / Long live Palestine and crush Zionism //

(Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme / Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme / Hidup Palestina dan hancurkan Zionisme //) | jeahan

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber