Film Horor Berkualitas, Tak Harus Dibumbui Sensualitas

| dilihat 6232

AKARPADINEWS.COM | PERINGATAN Hari Film Nasional (HFN) pada 30 Maret 2016 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengangkat tema Film Indonesia Adalah Kita.

Berbagai insan perfilman turut terlibat dalam berbagai kegiatan seperti workshop, roadshow di lima kota, kelas inspirasi  sinema, pemutaran film pendek, penyerahan penghargaan perfilman, dan pesta rakyat. Tujuannya untuk merangkul masyarakat, khususnya generasi muda agar semakin mencintai film nasional dan mendorong terjadinya regenerasi insan perfilman.

Selain film-film berkualitas seperti bergenre sejarah, religi dan budaya yang memiliki pesan moral dan mendidik, Film Indonesia adalah Kita juga tak luput dari keberadaan film horor berbalut komedi hingga adegan seks yang masih bertebaran di layar bioskop Indonesia. Bisa jadi, film bergenre tersebut merefleksikan pikiran masyarakat Indonesia yang masih menyukai mistik, klenik, dan sesekali membutuhkan kejutan yang menggairahkan melalui adegan mesum dalam film tersebut.

Banyak sutradara, produser hingga penonton Indonesia yang mencibir jika film-film tersebut tidak berkualitas. Namun, pasar masih menyambut film horor yang berbalut seks. Di tahun 2015. ada sekitar 20 film horor berbalut seks yang beredar di bioskop Indonesia. Maxima Pictures sebagai salah satu jawara di rumah produksi film horor mengklaim, film yang dibuatnya rata-rata ditonton di atas 500 ribu orang.

Dari survey yang dilakukan koran Tempo, film horor plus mesum semacam Suster Keramas, Dendam Pocong Mupeng, Kain Kafan Perawan, mempunyai penonton yang cukup banyak, sekitar 200 ribu hingga 800 ribu orang. Bahkan, film Air Terjun Pengantin yang dibintangi Tamara Blezinsky, mampu menembus 1,4 jutaan penonton. “Suka aja lihatnya, apalagi yang main kan cantik, jadi kadang menakutkan tapi juga merangsang,” ungkap Haris, penonton yang gemar menonton film di Cinema 21/XXI.

Haris menambahkan, banyak juga film-film yang berkesan dan berkualitas. Namun, dia mengkritik, ada film yang menjadi alat pencitraan dan kepentingan politik. Jadi, menurutnya, film tersebut sama dengan film horor berbau mesum, yang sama-sama manipulatif.

Sebenarnya film yang benar-benar menampilkan film horor, termasuk genre yang populer di Indonesia dan dunia. Di Indonesia, genre film horor mulai dikenal sejak tahun 1960-1970 an. Film Beranak Dalam Kubur yang dibintangi Suzanna dan dibuat tahun 1971 berdasarkan komik karya Ganesh TH dengan judul Tangisan di malam Kabut, dianggap sebagai masterpiece film horor Indonesia.

Setelah dunia film nasional sempat vakum dengan genre film horor, lalu muncul film Jelangkung di tahun 2001, besutan Rizal Mantovani dan Jose Purnomo. Film itu mampu membangkitkan genre film horor di Indonesia.

Film ini mengusung ritual kuno di Indonesia dengan permainan Jelangkung yang mengundang arwah. Sejak itulah, pasar film bergenre horor makin dilirik para produser yang memproduksi ratusan film horor hingga saat ini.

Sebenarnya, film horor yang kebanyakan berurusan dengan hal-hal supranatural, mistik, dan klenik, diakui atau tidak, memiliki dasar pijakan yang kuat dalam kultur masyarakat Indonesia. Hingga saat ini, mistik menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Sebenarnya, ini adalah sebuah tema yang sangat dekat dengan cara berpikir dan memori kultural sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sayangnya, kesuksesan film horor serupa Jelangkung, dinodai film horor yang dibumbui komedi, sekaligus seks yang semakin menjamur dan diminati. Lembaga sensor film pun dibuat kebingungan untuk menyensornya agar tidak merusak pikiran generasi muda. Maka, selain dengan menyensor, diumumkan pula peringatan kepada masyarakat jika penonton yang dapat menontong harus harus berusia 17 tahun ke atas.

“Kesuksesan film genre horor dibumbui seks tidak akan surut, di kepala saya saat menulis ceritanya adalah bagaimana menciptakan peristiwa semenakutkan, seperti kalau perlu orang mati di dalam gilingan mesin cuci. Tetapi, di sisi lain, butuh juga yang dapat merilekskan dari ketegangan tersebut,”  tutur Al, bukan nama sebenarnya, sebagai penulis skenario film yang diakuinya tunduk pada pasar film tersebut karena tetap memenuhi kebutuhan hidupnya.  

Masyarakat juga perlu memilah antara genre film horor sesungguhnya dengan film horor berbau sensual yang mutunya rendah dan dianggap sebagai film kacangan. Apalagi, kebanyakan penonton Indonesia melihat film hanya sebagai hiburan, belum sampai pada taraf menikmati hingga mengkritisi sebuah film.

Sebenarnya bila bercermin dengan film horor seperti yang dibuat Amerika Serikat dan Jepang, kisah menakutkan ini masih dapat dipetik pesannya.  Pada genre film horor yang biasanya bercerita tentang kematian, dendam hingga kehidupan di alam lain, ternyata dapat menuai prestasi di berbagai negara. Banyak pula film-film horor lainnya yang membuktikan berkualitas, tanpa adegan sensual. Film horor itu tetap menjadi tontonan yang "menegangkan" dalam arti sebenarnya.

Tanpa perlu mendatangkan bintang seksi, film ini tetap menarik karena kualitasnya dan teknik sinematografinya, bukan karena kontroversinya yang sensasional. Seperti film Rumah Dara karya Timo Cahyanto dan Kimo Stambul tahun 2009 yang mendapat penghargaan di Bucheon International Fantastic Film Festival, Korea Selatan. Film itu lebih dulu beredar di Singapura, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Film itu juga diputar di Fantastic Fest 2009 di Los Angeles, Amerika Serikat, dan Fantastic Film Festival Germany 2009.

Cepat atau lambat, film horor bergenre sensual akan mengalami titik jenuh dan kembali digantikan oleh film horor sesungguhnya. Asalkan, para sineas tetap memiliki idealisme dan kreativitas untuk menciptakan film-film berkualitas dengan berbagai tema yang menarik. Dengan demikian, pasar dan penonton akan digiring untuk menyimak film yang berkualitas sebagai refleksi dari manusia Indonesia yang berkualitas.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Budaya
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 453
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
15 Nov 25, 12:24 WIB | Dilihat : 643
Jakarta dalam Kopor Afrizal Malna
14 Okt 25, 20:21 WIB | Dilihat : 559
Masihkah Kita Sungguh Sebangsa Se-Tanah Air ?
Selanjutnya
Energi & Tambang