Perang Bisnis AC vs China Meningkat

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat

| dilihat 272

Bang Sem

Geliat perang bisnis China versus Amerika Serikat sedang menghangat. Presiden Donald Trumph menyerukan pengusaha AS hengkang dari China. Relokasi ke dalam negeri atau Asia Tenggara.

Situasinya mirip tahun 2008, ketika fakta-fakta brutal ekonomi global menebar resesi.

Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Kamboja, siap menampung investor yang hengkang, itu. Indonesia, masih berkutat dengan layanan investasi yang belum prima.

Bahkan, perdagangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan. Bank Indonesia, nampak sigap merespon situasi.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (21-22 Agustus 2019) memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%. 

Tak bisa disangkal, kebijakan BI tersebut, memang konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran. Terutama untuk menjamin,  imbal hasil investasi aset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal tetap menarik.

Kebijakan itu, diakui BI sebagai langkah pre -emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak perlambatan ekonomi global.

BI menempuh cara, strategi operasi moneter tetap diarahkan untuk memastikan kecukupan likuiditas dan meningkatkan efisiensi pasar uang, sehingga memperkuat transmisi kebijakan moneter yang akomodatif.

BI juga menegaskan, kebijakan makroprudensial tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian, termasuk pembiayaan ramah lingkungan.

Apalagi, menurut Dewan Gubernur BI,  bank sentral itu juga memperkuat kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan, guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Bahkan, ke depan, Bank Indonesia berkomitmen melanjutkan bauran kebijakan yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi.

BI juga memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, sekaligus meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA). 

 Apa sungguh yang menekan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi kita?

Rapat Dewan Gubernur BI itu hanya menyebut, ketegangan hubungan dagang dan sejumlah risiko geopolitik. Yang tertekan tak hanya pertumbuhan ekonomi Indonesia, tapi ekonomi dunia secara keseluruhan.

 Perekonomian AS tumbuh melambat akibat menurunnya ekspor dan juga investasi nonresidensial. Pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, Tiongkok dan India juga lebih rendah, dipengaruhi penurunan kinerja sektor eksternal serta permintaan domestik.

Menurut laporan Bank Indonesia, pelemahan ekonomi global terus menekan harga komoditas, termasuk harga minyak.

Nah, untuk merespons dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut, berbagai negara melakukan stimulus fiskal dan memperlonggar kebijakan moneter, termasuk bank sentral AS yang pada Juli 2019 telah menurunkan suku bunga kebijakannya.

BI mencermati, ketidakpastian pasar keuangan global juga berlanjut dan mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman seperti obligasi pemerintah AS dan Jepang, serta komoditas emas.

Dinamika ekonomi global tersebut, menurut BI, perlu dipertimbangkan dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga arus masuk modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal.

 Dari perspektif BI, mengemuka pandangan, bahwa bauran kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah dapat mendorong berlanjutnya momentum pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2019 tercatat 5,05% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan capaian triwulan sebelumnya sebesar 5,07% (yoy), terutama akibat pertumbuhan ekspor yang masih mengalami kontraksi.

Selaras dengan itu, permintaan domestik naik dipengaruhi konsumsi yang lebih tinggi dan investasi yang stabil, sehingga tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh membaiknya ekonomi Sumatera, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, serta stabilnya pertumbuhan ekonomi Jawa.

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi tetap baik didukung permintaan domestik, khususnya investasi yang akan tumbuh tetap tinggi.

Berlanjutnya momentum pertumbuhan ekonomi didukung oleh bauran kebijakan Bank Indonesia yang akomodatif serta kebijakan fiskal dan reformasi struktural yang ditempuh Pemerintah.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2019 berada di bawah titik tengah kisaran 5,0 - 5,4% dan meningkat menuju titik tengah kisaran 5,1 - 5,5% pada tahun 2020. 

Akankah Indonesia mampu bertahan dengan situasi perekonomian global yang mulai murung?

Investor AS Kudu Hengkang dari China

Ketika sejumlah investor hengkang dari China, mestinya Indonesia bisa menangguk investasi. Ternyata tidak. Para investor yang hengkang dari China lebih suka berinvestasi di Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina.  Terutama perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, yang diminta Donald Trump hengkang dari China.

Seruan Trump, lewat cuitan di akun twitter-nya (23/08/19) sempat mengguncang Wall Street. Seruannya jelas, perusahaan-perusahaan AS, kudu ketika memindahkan produksi (relokasi) dari China.

Dalam seruannya, Trump meminta para pengusaha AS, terutama sekali memindahkan sentra produksi mereka ke dalam negerinya. Juga ke negara-negara alternatif, antara lain Asia Tenggara.

Seruan Trump merujuk pada Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) - yang disahkan pada 1977 untuk menghadapi "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa terhadap keamanan nasional, kebijakan luar negeri, atau ekonomi Amerika Serikat."

Seruan Presiden AS, itu sempat meresahkan para investor, dan menggelincirkan ke posisi terendah pada sesi tengah hari, ketika saham Dow Jones Industrial Average merosot lebih dari 600 poin .

Secara eksplisit, bahkan Trump mendesak General Motors mempertimbangkan keberadaannya yang signifikan di China.

Asia Tenggara adalah lokasi paling mungkin ditempuh para pengusaha itu, ketika terjadi relokasi bisnis mereka. Tapi, yang siap sekali menampung mereka adalah Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Kamboja. Indonesia masih berkutat dengan persoalan kualitas layanan investasi, terutama terkait dengan perizinan. | 

Editor : Web Administrator | Sumber : bank indonesia, cnbc
 
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 269
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1388
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
Selanjutnya
Budaya
28 Okt 19, 11:57 WIB | Dilihat : 498
Sumpah (Serapah) Pemuda
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 665
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 507
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
Selanjutnya