Sentilan Pedas untuk Perdana Menteri Muhyiddin

Raja Malaysia Tolak Nyatakan Keadaan Darurat

| dilihat 158

Yang Di-Pertuan Agong (Raja) Malaysia (ke 16), Al - Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah Ibni Almarhum Sultan Haji Ahmad Shah Al-Musta’in Billah, Ahad 25 Oktober 2020, menyatakan, tidak ada keperluan untuk menyatakan Malaysia dalam keadaan darurat.

Pernyataan itu secara resmi disampaikan secara tertulis kepada media, oleh Kepala Sekretariat Istana Negara, atau dikenal sebagai Datuk Pengelola Bijaya Diraja Istana Negara, Dato’ Indera Ahmad Fadil Shamsuddin, usai pertemuan para Sultan Negeri se Malaysia, yang berlangsung selama tiga jam.

Delapan dari 9 Sultan menghadiri musyawarah, itu. Hanya Sultan Kelantan, Muhammad V yang tak nampak hadir di Istana Negara, Kuala Lumpur, itu.

Pernyataan resmi itu bermakna, permohonan Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin, yang disampaikan kepada Sultan Abdullah di Istana Azizi, Kuantan pada Jum'at - 23 Oktober petang, tidak dikabulkan.

Perdana Menteri mengajukan permohonan supaya Sultan mengumumkan keadaan darurat untuk menghadapi serangan wabah Covid-19, yang selepas penyelenggaraan Pilihan Raya Negeri (Pemilihan Umum lokal) Sabah, awal Oktober lalu, meningkat. Pada Sabtu - 24 Oktober dikabarkan rakyat yang wafat akibat wabah itu bertambah tujuh orang.

Memperhatikan pendapat dan pertimbangan para Sultan dalam musyawarah, setelah menimbang dan memperhatikan dengan seksama situasi yang sedang dihadapi oleh negara, Al-Sultan Abdullah merasa, bahwa pemerintah sekarang telah berhasil menangani wabak ini dengan baik dan menunjukkan hasil yang baik.

Sultan Abdullah dan para Sultan Negeri amat percaya, ikhtiar dan kerja keras pemerintah di bawah pimpinan Perdana Menteri perlu diapresiasi untuk terus melaksanakan aksi seluruh lini pemerintahan membendung gejala wabak COVID-19 yangt belakangan terus merebak.

Kendati demikian, Sultan Abdullah mengingatkan seluruh anggota parlemen dan politisi untuk berhenti segera dari segala bentuk aksi politicking yang dapat menggangu kestabilan pemerintahan negara.

Al-Sultan Abdullah berpendapat, tak ada perlunya para anggota parlemen meneruskan tindakan tidak bertanggungjawab yang dapat mengganggu gugat kestabilan pemerintah yang sedang berlangsung.

Yang Di-Pertuan Agung juga menegaskan bahwa Anggaran Belanja (Belanjawan) Negara 2021 yang akan dibentangkan dalam sidang Parlimen amat penting bagi rakyat dalam menangani wabah COVID-19 dan memulihkan ekonomi negara.

"Peruntukan keuangan amat diperlukan oleh petugas garda depan untukl melancarkan tugas dan tanggungjawab mereka," tegas Sultan.

Sultan Abdullah dan para Sultan lainnya, amat prihatin atas kegelisahan seluruh rakyat yang ditimbulkan oleh kenaikan mendadak beberapa kluster baru dan kasus penularan positif (secara harian) COVID-19 di negara ini.

Ia meyakini, semangat perpaduan (persatuan) dan semangat juang yang tinggi, seperti yang telah ditunjukkan bersama oleh seluruh kalangan, membuktikan, "Kita mampu sekali lagi bahu membahu memerangi gelombang ketiga penularan wabah ini," ungkap Sultan meyakinkan.

Terkait dengan hal itu, Sultan Abdullah menyeru seluruh rakyat Malaysia, tanpa membedakan latar belakang, khususnya aliran politik, menepikan segala perbedaan dan pertikaian, untuk bersatu padu dan bersatu hati memainkan peran masing-masing dalam membantu pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, membendung wabah COVID 19 demi keselamatan diri dan kesejahteraan negara secara bersama.

Sultan Abdullah mengajak seluruh rakyat Malaysia, untuk bersamanya berikhtiar dan berdo'a agar wabah COVID-19 ini dapat dibanteras secara lebih serius dan diakhiri dengan segera.

Musyawarah para Sultan itu berlangsung sejak pukul 02.30 waktu setempat dan berakhir pukul 05.30 petang. Terlihat, Sultan Johor, Sultan Ibrahim Sultan Iskandar paling awal keluar dari pekarangan Istana Negara dan pulang ke Johor, diiringi beberapa petuga polis diraja Malaysia, disusul oleh para sultan negeri lainnya.

Selain membahas permohonan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin tentang pernyataan darurat, musyawarah itu juga membahas berbagai isu lain yang tak dikabarkan kepada media.

Sentilan Pedas bagi Muhyiddin

Pernyataan Sultan Abdullah dan keputusan para Sultan Negeri, itu sesuai dengan berbagai harapan dan pandangan sejumlah anggota parlemen, yang mengemuka beberapa hari terakhir, termasuk pandangan bekas Menteri Pemuda dan Olah Raga Syekh Sadiq anggota parlemen independen, daerah pemilihan Muar - Johor. Sadiq menyarankan Perdana Menteri menempuh solusi lain untuk meloloskan persetujuan parlemen atas rancangan belanja 2021, berkongsi dengan beberapa anggota tak berpartai atau dari kalangan pembangkang untuk tetap memperoleh mayoritas suara, ketika dilakukan pemungutan suara dalam proses pengambilan keputusan.

Usulan Sadiq didukung oleh politisi senior, Lim Kit Siang dari Democratic Action Party dan Shafie Apdal - Ketua Partai Warisan Sabah, meskipun partainya dikalahkan koalisi Perikatan Nasional pimpinan Muhyiddin dalam Pilihan Raya Negeri (PRN) Sabah.

Ditengarai, Muhyiddin menyampaikan permohonan agar Yang Di-Pertuan Agong Sultan Abdullah menyatakan keadaan darurat untuk menyelamatkan posisinya yang hanya beroleh dukungan mayoritas lemah di parlemen. Belum lagi aksi Barisan Nasional yang dimotori UMNO, yang meninjau kembali dukungan kepada Perikatan Nasional. Tetapi, Partai Pribumi Bersatu pimpinan Muhyiddin dan Partai al-Islam se Malaysia, dan Gabungan Partai Serawak berkomitmen memberikan dukungan penuh kepada Muhyiddin.

Anwar Ibrahim - pimpinan Partai Keadilan Rakyat (PKR) dan Muhammad Sabu - Partai Amanah jelas-jelas menyatakan, bahwa pemerintahan Muhyiddin sudah tumbang, karena sebagian pendukungnya memberikan dukungan kepada Anwar Ibrahim untuk membentuk pemerintahan, seperti dikemukakan Anwar penghujung September 2020 lalu.

Di dalam Kabinet Perikatan Nasional yang dipimpin Muhyiddin saat ini, selain terdapat para menteri dari Partai Bersatu dan PAS juga dari Barisan Nasional, terutama dari unsur UMNO.

Lepas dari bagaimanapun, pernyataan Sultan Abdullah sebagai refleksi musyawarah para Sultan, merupakan sentilan pedas bagi Muhyiddin dan para politisi.

Sultan Selangor, Sharafuddin Idris Shah terus terang menyatakan,  bahwa rakyat "bosan dan muak dengan perilaku politisi." ( Baca: Para Sultan Negeri Akan Bahas Keadaan Darurat Malaysia).

Perilaku politisi dari hampir seluruh partai, dinilai hanya mementingkan diri mereka sendiri yang sibuk bertikai, tidak peduli pada derita rakyat. Itu sebabnya berulang kali Sultan Abdullah mengingatkan, agar mereka menahan diri, bertegak di atas konstitusi negara, dan bersatu mengatasi keadaan.

Dari pernyataan Sultan Abdullah usai musyawarah para Sultan Negeri, diperkirakan, Tan Sri Muhyiddin akan bertahan sebagai Perdana Menteri Malaysia sampai berlangsung Pilihan Raya Umum ke 15, yang entah bila akan terjadi.

Anwar Ibrahim tak senang dengan situasi ini, karenanya dia terus memelihara mimpinya dan pengikutnya, bahwa dirinya sudah patut dilantik sebagai Perdana Menteri menggantikan Muhyiddin. Dia tak yakin partainya yang berkoalisi dengan DAP dan Amanah bakal memenangkan pemilihan umum, itu. Apalagi Tun Dr. Mahathir Mohammad sudah mendirikan Partai Pejuang. | delanova.

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 172
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 155
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 213
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 345
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya
Humaniora
22 Nov 20, 20:02 WIB | Dilihat : 94
Mentimun Bungkuk atawa Ketimun Bongkeng
22 Nov 20, 09:20 WIB | Dilihat : 122
Duri Beracun dalam Daging
20 Nov 20, 03:42 WIB | Dilihat : 89
Masih Banyak Profesor Sungguh Cendekiawan
19 Nov 20, 09:10 WIB | Dilihat : 100
Secercah Harapan kepada Muhammadiyah
Selanjutnya