Index Kemerdekaan Pers 2026

Jurnalisme Tengah Dicekik

| dilihat 74

Langit kemerdekaan pers yang didamba insan pers dan khalayak di seantero bumi, sedang tertutup kabut tebal. Anne Bocandé - Direktur Editorial Reporters Without Borders (RSF) - Kamis (30/4/26) -  memperingatkan, sepanjang 25 tahun berjalan, kali ini kemerdekaan pers di seluruh dunia, sangat teruk.

Kemerdekaan pers dunia, 'jatuh' ke tingkat paling rendah. Hampir separuh negara di dunia, kata Bocandé, menghadapi masa sulit atau sangat serius.

Mekanisme perlindungan atas kemerdekaan pers, tak cukup kuat. "Hukum internasional sedang dirusak dan impunitas merajalela," katanya. "Kita memerlukan jaminan dan sanksi yang tegas dan lebih berarti," tambahnya.

Ia mengandaikan, jurnalisme tengah 'dicekik'. Berapa lama lagi  kita akan mentolerir, sehingga penghambatan sistematis atas kerja jurnalistik wartawan, sembari membiarkan kemerosotan kemerdekaan pers terus berlanjut.

Selanjutnya Bocandé mengemukakan, pendorong utama penurunan indeks kemerdekaan pers dipicu oleh meluasnya negara-negara otoriter, yang disebabkan oleh kekuatan politik dikelola 'penguasa' yang tak kompeten.

Mereka berkolaborasi dengan aktor ekonomi predator, seirama dengan platform daring yang kurang diatur dengan penyebaran otoritarianisme dan kerapuhan ekonomi yang tak terhindarkan.

Hilang Independensi

Jurnalisme secara luas bakal terus tercekik oleh keadaan yang kian gamang, tanpa kepastian, ribet dan mendua. Bocandé mengemukakan, dalam temuan RSF sepanjang tahun 2025, kemerdekaan ekonomi kian mengecil. Bila hal ini berlangsung terus, kemerdekaan pers tak bisa diharap.

Setarikan nafas, kualitas pers dan kinerja wartawan juga bakal terus hilang independensi, tersebab oleh  kesulitan keuangan.

Dalam situasi demikian, menurutnya, media mendorong persaingan tak sehat untuk mendapatkan perhatian khalayak. Untuk mempertahankan eksistensi, tak kan sedikit pengelola media bakal mengorbankan kualitas konten medianya.

Selain masalah ekonomi, sesungguhnya sejak 2001 kecenderungan 'pencekikan' media pers mulai terasa di berbagai negara. Khasnya oleh hukum yang semakin membatasi, dan praktik jurnalistik wartawan dihadapkan oleh aksi kriminalisas, bahkan persekusi. Dilakukan tak lagi dengan sembunyi-sembunyi.

Amerika Serikat yang kerap mengklaim sebagai negara paling demokratis, media dan insan pers pun mengalami penurunan.

Di beberapa negara Amerika Latin yang kian terjerumus dalam pusaran kriminalitas dan penindasan, media dan insan pers kewalahan menghadapi penindasan dari penguasa -- bukan hanya pemerintah, tetapi kalangan khalayak yang dipelihara penguasa -- untuk membungkam media dan insan pers.

Sulit dan Sangat Serius

Di masa khalayak tak mampu menghadapi singularitas dan tak kuasa menahan gelombang informasi palsu -hoaks, seperti diisyaratkan tokoh revolusioner Universitas Oxford, James Martin (2007). 

Dalam situasi demikian, di sejumlah negara yang sedang kehilangan daya menunjukkan independensinya, media dan jurnalis yang kukuh menjaga news room dari masuk dan mencengkeramnya 'tangan-tangan tersembunyi,'  tak henti dihadang oleh teror.

Di negara-negara otoriter -- termasuk yang sedang menuju otoriterian -- tak lagi didapat langkah-langkah efektif untuk melindungi jurnalis sebagai katalis perubahan.

Dalam situasi demikian, Insan pers akan lebih banyak 'menggantang asap' - mengharapkan perlindungan yang tak mungkin datang, seraya terus terempas arus penyebaran otoritarianisme yang tak terhindarkan.

RSF mengemukakan lima poin penting Indeks Kemerdekaan Pers 2026, yakni: (1) Skor rata-rata untuk semua negara dan wilayah di seluruh dunia belum pernah serendah ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah 25 tahun Indeks ini, lebih dari separuh negara di dunia sekarang termasuk dalam kategori "sulit" atau "sangat serius" dalam merawat dan memperjuangkan kemerdekaan pers;

(2) Dari lima indikator yang digunakan untuk menilai kemerdekaan pers di seluruh dunia — yang menentukan lingkungan ekonomi, hukum, keamanan, politik, dan sosial, indikator hukum yang paling teruk, dan telah mengalami penurunan paling tajam tahun ini;

(3) Amerika Serikat telah turun tujuh peringkat dan negara-negara lain di Amerika, seperti Ekuador dan Peru, telah merosot dalam peringkat; (4) Norwegia mempertahankan posisi teratas untuk tahun kesepuluh berturut-turut, sedangkan Eritrea berada di posisi terakhir untuk tahun ketiga berturut-turut;

(5) Suriah -- pasca-Assad -- telah mengalami peningkatan terbesar dalam kemerdekaan pers di antara semua negara dan wilayah dalam Indeks 2026, naik 36 peringkat. | iasha, sharia

Editor : haedar | Sumber : RSF, AlJazeera, CNA
 
Sporta
Humaniora
30 Apr 26, 15:18 WIB | Dilihat : 136
Layanan Fast Track Memudahkan Jamaah Haji 2026
25 Apr 26, 18:31 WIB | Dilihat : 195
Dahilang
20 Apr 26, 13:48 WIB | Dilihat : 486
Perihal Wartawan Senior Indonesia 60 Plus
17 Apr 26, 08:10 WIB | Dilihat : 325
Menguatkan Fungsi BAZNAS Melayani Umat
Selanjutnya