Diresmikan Toh Puan Datuk Patinggi Fauziah Mohd Sanusi

Kapal Tempur Pesisir itu Bernama Sharief Mashor

| dilihat 126

Matahari memancar menghangatkan pagi di atas galangan kapal LUNAS (Lumut Naval Shipyard), Selasa (10/2/26) siang. Sejumlah tenda terpasang, dan para tetamu duduk rapi di bawah tenda terpasang.

Di latar belakang, Kapal Tempur Pesisir (LCS 3) ketiga Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM), terlihat sandar di dermaga, mencitrakan alat utama sistem persenjataan yang modern dan tangguh.

Hari itu, upacara pelancaran yang dihadiri Tuan Yang Terutama (TYT) Yang di-Pertua Negeri Sarawak Tun Dr. Wan Junaidi Tuanku Jaafar dan istrinya Toh Puan Datuk Patinggi Fauziah Mohd Sanusi. Juga Wakil Menteri Pertahanan, Adly Zahari, Panglima TLDM Laksamana Tan Sri Zulhelmy Ithnain.

Toh Puan Fauziah kemudian menyampaikan sambutan singkat, lalu menekan tuas telegraf perintah mesin EOT sebagai tanda pelumcuran khusus, diikuti beberapa ledakan kecil kembang api ke udara, bunyi terompet, dan nyanyian lagu Samudra Raya oleh Band Pusat TLDM.

Pembacaan ayat suci al Qur'an mengawali seremoni. Qari-nya, Muhammad Shamram bin Ramli - Komandan Kepala Divisi TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia) Central Band dari KD Pelandok.

Perwira tersebut juara Musabaqah Tilawatil Qur'an di lingkungan TLDM 2025, itu membaca dengan tartil firman Allah SWT dalam Surah Al Baqarah 164.

Ayat ini berisi firman Allah SWT tentang tanda-tanda kebesaran Allah berupa kapal-kapal yang berlayar di laut, dengan membawa apa yang berguna bagi manusia, juga air yang Allah turunkan dari langit, lalu dengan (air tersebut) Allah menghidupkan bumi sesudah mati (kering). Dia sebarkan di bumi segala jenis hewan. Pun, pengisaran angin dan awan yang dikendalikan diantara langiot dan bumi. Bagi yang memikirkan fenomena itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Selepas itu, Kolonel (L) Ahmad K. Abdullah memimpin pembacaan do'a yang merangkum rasa syukur dan berkah sekali.

Penanda Kemampuan Industri Pertahanan Malaysia

Rangkaian acara seremoni menarik perhatian karena kapal LCS 3 sudah lama dibincangkan orang, termasuk anggota parlemen di sidang Dewan Rakyat Malaysia. 

Wakil Menteri Pertahanan Adly Zahari, hadir membacakan  pidato Menteri Pertahanan Dato' Seri Mohamed Khaled Nordin, bahwa LCS 3 ini merupakan kapal kelas fregat pertama yang dibangun sepenuhnya oleh perusahaan lokal, Lumut Naval Shipyard Sdn Bhd.

Sambutan Menteri Pertahanan yang dibacakan wakilnya, itu isinya relatif sama dengan penjelasan Menteri Pertahanan dalam sidang Dewan Rakyat. Khasnya, ketika menjawab pertanyaan salah seorang anggota parlemen dari kalangan  pembangkang (oposisi).

Pembuatan kapal tersebut dimaknai sebagai tanda daya upaya kemampuan industri pertahanan negara serta keahlian lokal di bidang konstruksi kapal perang berteknologi tinggi.

Kapal tempur kelas atas ini merupakan kapal kelas Maharajalela yang dibangun berdasarkan desain korvet Gowen 25000 oleh kelompok angkatan laut. Merupakan salah satu aset paling canggih dalam armada TLDM yang dirancang untuk melakukan operasi maritim empat dimensi termasuk peperangan permukaan, bawah permukaan, udara, dan elektronik.

Sebagai aset strategis terbaru, kapal fregat Sharif Mashor diharapkan memperkuat agenda modernisasi armada TLDM secara keseluruhan.

Hal tersebut sejalan dengan aspirasi Angakatan Tentera Malaysia (ATM) menuju pengembangan kekuatan masa depan dan rencana transformasi TLDM 1525 untuk memastikan keamanan perairan dan kedaulatan negara tetap terjaga.

Sharif Mashor Lelaki Pemberani dari Melanau

Kapal fregat tersebut diberi nama Sharif Mashor pejuang Melanau - Sarawak yang hebat dalam perlawanan kepada penjajah Inggris.

Dilihat dari nama depannya (Sharif atau Syed) Mashor bin Muhammad As Shahab adalah keturunan Arab dari kalangan umat Islam yang diyakini bernasab hingga ke Rasulullah Muhammad SAW melalui garis Imam Hasan dan Imam Hussein bin Ali bin Abi Thalib, putera - putera Sayyidah Fatimah az Zahra binti Muhammad Rasulullah.

Lelaki pemberani  kelahiran Melanau ini juga memainkan peran penting dalam politik Selangor di masa itu, dan memerintah di wilayah Sungai Rejang, meliputi Sibu, Mukah, Sarikei, Kapit, Bintulu, dan Miri di bawah pemerintahan Sultan Brunei pada dekade 1840-an.

Ia menyatukan rakyat Melanau dan memimpin gerakan menentang pelepasan Sarawak oleh Sultan Brunei kepada James Brooke, penjajah swasta Inggris, pada tahun 1842.

Perlawanan dan penentangan tersebut digerakkannya karena memperluas otoritas Inggris yang kekuasaannya yang bertumpu di Kota Kucing, Sri Aman, Samarahan, dan Betong ke Melanau.

Sharif Mashor menolak memberikan dan mempertahankan wilayah Sungai Rejang, sehingga Brooke meminta bantuan pemerintah kolonial Inggris di Singapura untuk menekan Sultan agar menekan Sharif Mashor.

Akibatnya terjadilah perlawanan dan penentangan sengit dari Sharif Mashor dan pasukan Melanau yang dipimpinnya. Sharif Mashor sang pemberani, itu berhasil pula melakukan aliansi dengan Kepala Suku Iban, Rentap dari Kanowit -- dengan menyatukan suku Iban yang juga tangguh dan kukuh dan memukul mundur serdadu Inggris selama beberapa tahun.

Dibuang dan Menjadi Penasihat Sultan Selangor

Perjuangan Sharif Mashor tak dapat dibendung oleh Brooke, apalagi Datuk Patinggi Abang Abdul Gapur menyatakan keberpihakannya kepada Sharif Mashor. Sikap ini berbeda dengan pamannya, Abang Muhammad Ali, yang mendukung Brooke.

Perubahan arah politik Abang Abdul Gapur yang berbeda dengan pamannya, Ali yang berpihak kepada Brooke, karena hendak menguasai Kesultanan Sarawak.

Abang Abdul Gapur juga kecewa karena penguasa Inggris di Sarawak, James Brooke menyiapkan  kemenakannya, Charles Brooke, sebagai pewaris tahta Sarawak.

James Booke dan Charles Brooke mendapat dukungan penuh dari Sultan Brunei. Serdadu Inggris berhasil mematahkan perlawanan Sharif Mashor, Rentap, dan Abang Abdul Gapur.

Sharif Mashor 'dibuang' ke Selangor, lantas menjadi penasihat siyasah dan militer Sultan Abdul Samad Shah, Sultan Selangor.  Rentap diampuni dan diizinkan tinggal di Kanowit hingga kematiannya. Abang Gapur diasingkan ke Betawi, lalu ke Mekah dan kembali ke Sarawak di masa tuanya, kemudian wafat dan dimakamkan di kota Kuching.

Masyarakat adat Temuan meyakini dan memperlakukan Sharif Mashor yang menetap di Kerling dekat Kuala Kubu Baru sebagai 'orang saleh dan berilmu' dan seorang Sayyid yang akhlaknya menjadi teladan bagi masyarakat  di Selangor. Ia wafat di Negeri Selangor (1890).

Semangat Perjuangan dan Kepahlawanan Sarawak

Kerabat Sharif Mashor, Tun Tuanku Bujang Tuanku Osman yang juga gigih melanjutkan perjuangannya, dan sempat memerintah sebagai Gubernur Negara Bagian Sarawak (1969-1977).

Kerabatnya yang lain, Abdul Rahman Yaakub (1970-1981) sempat menjadi Ketua Menteri Sarawak ketiga Tun Abdul Rahman Yaakub (1970-1981).

Kemenakannya, berkuasa sebagai Ketua Menteri Sarawak keempat, yakni Tan Sri Abdul Taib Mahmud. Puterinya. Hanifah Hajar Taib menjadi anggota parlemen di Mukah.

Hanifah diangkat sebagai Timbalan Menteri Ekonomi di penggal (periode) pertama kepemimpinan Anwar Ibrahim. Kini mengemban amanah sebagai Timbalan Menteri Kesehatan - Malaysia.

Karena itulah, mengabadikan nama Sharif Mashor sebagai nama kapal fregat LCR 3, menurut Menteri Pertahanan  Mohammed Khaled terkait dengan  semangat perjuangan dan kepahlawanan tokoh sejarah Sarawak dalam mempertahankan wilayah dan melawan kolonialisme pada abad ke-19.

Nama Sharif Mashor yang tertera di dinding pada kapal tersebut diharapkan nilai dan daya juang serta semangat kepahlawanan, perjuangan dan keberaniannya relevan dengan kemampuan Kapal Tempur Pesisir Angkatan Laut Kerajaan Malaysia (RMN) yang mampu menangkis serangan musuh dari berbagai dimensi.

Pertahanan Maritim Malaysia

Dalam pidatonya, Wakil Menteri Pertahanan Adly Zahari mengatakan, “Untuk menghargai jasa dan perjuangannya, nama Sharif Mashor diabadikan dan disematkan pada kapal yang diluncurkan hari ini,” katanya.

Selain itu, penamaan kapal LCR 3 dikatakan oleh Zahari, sekaligus merupakan implementasi Kebijakan Industri Pertahanan Nasional. Sekaligus menunjukkan komitmen kekal pemerintah dalam mengembangkan industri pertahanan yang berkelanjutan.

Melalui transfer teknologi, kata Zahari, pemberdayaan talenta dan peningkatan konten lokal, termasuk melalui implementasi strategis Industrial Development Corporation (IDC).

Oleh karena itu, pelancaran Kapal Sharif Mashor pun, menurutnya, menandai pencapaian penting lainnya dalam memperkuat kedaulatan maritim negara dan kemampuan pertahanan maritim Malaysia.

Prosesi upacara dilanjutkan dengan pembacaan puisi dan fragmen singkat yang mengapresiasi sejarah perjuangan Sharif Mashor yang disajikan oleh Azamin Itam dan sejumlah anggota pasukan khusus TLDM bertajuk 'Parang Ilang.'

Puisi dan fragmen tersebut menampilkan pesan esensial kiprah Sharif Mashor, yang terasa menyimpan 'bara' semangat kepahlawanan, perjuangan, dan keberanian.

Menyandang nama Syarief Mashor yang menjadi inspirasi bagi TLDM mengemban tugasnya melindungi tanah air, sekaligus memberi isyarat, Kapal Tempur Pesisir TLDM yang dilancarkan, itu mampu menangkis serangan musuh dari berbagai dimensi.

Upacara sepenuh istiadat itu dihadiri dan disaksikan pula oleh Laksamana Madya Datuk Sabri bin Zali, Laksamana Madya Dato’ Abu Bakar bin Md Ajis, Laksamana Madya Dato’ Pahlawan Hj Muhammad Ruzelme bin Hj Ahmad Fahimy dan warga The Navy People Pangkalan TLDM Lumut.| sharia

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
04 Feb 26, 08:06 WIB | Dilihat : 193
Sebagai Agen Perubahan Guru Wajib Sejahtera
12 Jan 26, 12:45 WIB | Dilihat : 426
Teladan Kesabaran dan Keikhlasan itu Berpulang
24 Des 25, 07:37 WIB | Dilihat : 293
Sukacita Natal Warga Panti Werdha Kowani
Selanjutnya
Polhukam
12 Feb 26, 18:15 WIB | Dilihat : 127
Kapal Tempur Pesisir itu Bernama Sharief Mashor
06 Feb 26, 00:35 WIB | Dilihat : 217
Menghindari Perang Tanpa Mengabaikan Martabat Bangsa
02 Feb 26, 22:16 WIB | Dilihat : 223
Khamenei dan Iran Tak Gentar Hadapi Musuh
Selanjutnya