
SERANG, BANTEN | Perkuat ekosistem media, Malaysia membentuk Majelis Media Malaysia (MMM) -- sejenis Dewan Pers di Indonesia -- sebagai lembaga independen pengaturan pers (media), sekaligus menguatkan transformasi media di era digital. dengan menyiapkan Dana Inovasi Media.
Wakil Menteri Komunikasi Malaysia, Teo Nie Ching mengemukakan kabar demikian dalam dialog dengan media dan pengurus ISWAMI (Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia) di Serang - Banten, Senin (9/2/26).
Teo bersama pengurus ISWAMI Malaysia dan 30 wartawan Malaysia (dari Semenanjung, Sarawak dan Sabah) berada di Serang untuk menghadiri Puncak Acara Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Tentang hubungan kedua negara, peran strategis media dan ISWAMI, Teo mengemukakan, hubungan baik Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (X) Malaysia akan terus menjadi dasar untuk kerja sama yang lebih bermakna di masa depan.
Dikemukakannya, Indonesia merupakan mitra dagang Mlaysia terbesar ketujuh secara global dan terbesar ketiga di antara negara-negara ASEAN, dengan nilai perdagangan melebihi Rp399,6 triliun atau RM111 miliar tahun lalu. Hal tersebut, menurut Teo, menunjukkan pentingnya hubungan strategis antara kedua negara.
Beranjak dari realitas demikian, ungkap Teo, media memainkan peran penting dalam membentuk persepsi khalayak, memperkuat hubungan regional, serta mempromosikan narasi konstruktif antara Malaysia dan Indonesia. Apalagi, ujarnya, hubungan antara Malaysia dan Indonesia telah terjalin sejak lama dan perlu diperkuat lebih lanjut.
Pada kesempatan tersebut, Presiden ISWAMI Malaysia Ahmad Zaini Kamaruzzaman, mengemukakan, peran wartawan dan organisasi media sangat penting dalam menghidupkan dan merawat ekosistem media tetap sehat, sehingga mampu mendukung pembangunan ekonomi dan stabilitas negara.
Sedangkan Asro Kamal Rokan, salah seorang pendiri dan Presiden ISWAMI Indonesia mengemukakan bagaimana gagasan awal tentang pembentukan lembaga tersebut sejak awal percakapan pada Hawana (Hari Wartawan Nasional) Malaysia - I / 2018 di Kuala Lumpur - Malaysia.

Kontribusi ISWAMI
Secara terpisah, N. Syamsuddin Ch. Haesy (Bang Sèm) mengemukakan, percakapan gagasan pembentukan MMM tersebut, cukup mengambil waktu yang lama, melibatkan beberapa pengasas ISWAMI. Gagasan mendirikan lembaga semacam Dewan Pers mengemuka ketika berlangsung Hari Wartawan Nasional (HAWANA) Malaysia I - 2018 di Kuala Lumpur.
Lalu pada Hawana II - 2022 di Melaka, gagasan tersebut mengemuka dan dibincangkan dengan Perdana Menteri (PM IX) Malaysia, Ismail Sabri Yaakob. Pada Hawana III - 2023 di Ipoh - Perak, gagasan tersebut dibincang dengan PMX Anwar Ibrahim dan Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil.
Asro mengemukakan, bila hendak 'bangga,' ISWAMI (Malaysia dan Indonesia) sedikit banyak berkontribusi pemikiran dalam proses terbentuknya MMM. Kendati, sampai kini, ISWAMI belum berhasil meyakinkan para wartawan Malaysia untuk membentuk organisasi kewartawanan bersifat nasional, seperti PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia), PRSSNI (Persatuan Radio Siawan Swasta Nasional Indonesia), dan lainnya yang merupakan konstituen Dewan Pers.
Memang masih agak sulit. Karena, menurut Zaini, di Malaysia perkumpulan masih banyak berbentuk klub.
Bagaimanapun juga, Teo mengajak,“Mari kita pastikan media terus menjadi jembatan pemersatu.” Ia yakin, ISWAMI, para wartawan dan media kedua negara akan terus memainkan peran penting dalam memperkuat hubungan kemitraan strategis antara Malaysia dan Indonesia, sekaligus mendorong pemahaman yang lebih dalam antara warga kedua negara.
Pemahaman tentang realitas dua negara, terutama aspek historis dan budayanya, menurut Bang Sèm, harus terus dikembangkan dan diperkokoh. Supaya arus informasi, khasnya dari media sosial yang diproduksi jurnalisma warga tak mudah memantik dan memicu kesalahfahaman yang dapat menganggu hubungan kedua negara.
Bang Sèm mengemukakan ilustrasi, khalayak Malaysia dan Indonesia, ibarat piring dalam rak, sekali sekala boleh jadi berbenturan untuk kemudian melangkah bersama lagi dalam damai. Dalam konteks, itu ia menilai keberadaan MMM dan Dewan Pers boleh diharap menjadi institusi penggerak jurnalisme damai.

Dana Inovasi Media
Menurut Teo, pembentukan MMM untuk memperkuat standar etika dalam mengembangkan profesionalisma profesi kewartawanan dan industri media di Malaysia. Sekaligus sebagai komitmen Pemerintah Madani Malaysia dalam menjaga kemerdekaan wartawan dalam prinsip kebebasan yang bertanggung jawab, sebagaimana berlaku di Indonesia.
MMM juga didirikan sebagai lembaga yang menjalankan fungsinya memediasi media dan wartawan dengan pemerintah serta khalayak. Melalui mekanisme pengaduan khalayak secara profesional, sehingga suara (aspirasi) khalayak tersalurkan secara tepat.
Teo mengungkapkan, keberadaan MMM memungkinkan bagi kerjasama kedua negara, memperkuat ekosistem media, sekali membuka peluang lebih luas untuk menimba pengalaman Indonesia (dengan keberadaan Dewan Pers) dalam memperkuat sistem tata kelola media (pers) secara independen.
Pada bagian lain pernyataannya, Teo mengemukakan, Pemerintah Madani Malaysia, kini sedang merancang pula berbagai langkah strategis untuk menjaga dan merawat keberlanjutan industri media. Untuk itu, dalam budget negara, pemerintah menyediakan dana inovasi media sebesar 30 juta ringgit atau sekira Rp108 miliar untuk membantu organisasi media tempatan.
"Bukan untuk memastikan liputan yang berpihak kepada pemerintah," tegasnya. melainkan untuk memungkinkan media Malaysia beradaptasi dengan perubahan lanskap digital dan pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial.
Dana tersebut diperuntukan bagi media lokal mentransformasi operasionalnya, dalam memanfaatkan teknologi, termasuk artificial intelligent dan terus menerus menyajikan informasi berkualitas kepada khalayak.
Terkait upaya pemerintah menjamin keberadaan media Malaysia tetap relevan dan kompetitif dengan platform digital global, pemerintah Malaysia mendukung media dan kewartawanan dengan berbagai pelatihan insan media melalui berbagai pelatihan dan kursus yang relevan dan kontekstual bagi wartawan.

Kerjasama ISWAMI Malaysia - Indonesia
Pada kesempatan tersebut, Presiden ISWAMI Malaysia, Ahmad Zaini Kamaruzzaman mengemukakan, pentingnya kolaborasi wartawan Malaysia dan Indonesia kini dan mendatang adalah untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas dalam menghadapi tantangan transformasi industri media. Selain perkembangan artificial intelligent, dominasi platform digital global, dan meruyaknya informasi hoaks - berita palsu tentang banyak hal, termasuk informasi tentang kedua negara.
Dikemukakannya, peranan wartawan dan organisasi media diperlukan untuk memastikan hubungan Malaysia dan Indonesia terpelihara baik, bermanfaat untuk untuk rakyat dan khalayak. Fenomena yang berkembang pada media digital yang dikenal sebagai media sosial dan citizen journalism (jurnalisme warga), mesti diimbangi dengan penyampaian informasi yang tepat dan bertanggung jawab.
Ia tegaskan hal ini mengingat kini, media sosial dan jurnalisme warga sedang menekan berat media arus utama (mainstream media). Khasnya, media sosial dan jurnalisme warga lebih mendahulukan kecepatan tanpa verifikasi. Sedangkan media arus utama lebih mendahulukan ketepatan dan kecepatan informasi terverifikasi.
Dalam konteks demikian, kerjasama wartawan dan media dua negara menjadi penting dalam melakukan upaya menghidupkan profesionalisma, memelihara kualitas data dan informasi.
Menurutnya, media dan jurnalisma profesional penting dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk menghadapi berbagai cabaran. Media dan jurnalisma profesional harus bergerak dan selalu berada di depan dengan menjaga kualitas informasi yang tepat dan benar.
Bila tidak, menurut Zaini, kita akan tertinggal. Dalam konteks demikian, iamemandang peran ISWAMI sangat strategis. Berbagai program ke arah peningkatan kualitas jurnalis dan media harus dilakukan.
Pada Dialog dengan Teo tersebut, hadir Wakil Duta Besar Malaysia di Indonesia Farzamie Sarkawi, Ketua Pegawai Eksekutif (Chief Executive Officer) Bernama Datin Paduka Nurul Afida Kamaludin, Pemimpin Redaksi Bernama Arul Rajoo Durar Raj, Wakil Ketua Pengarah Penyiaran (Strategik) di RTM (Radio Talivisyen Malaysia) Hamzah Ishak, Ketua Pengarah Utusan Borneo Lichong Angkui, Presiden ISWAMI Malaysia Datuk Ahmad Zaini Kamaruzzaman, Kolomnis/Pensyarah Universiti Malaysia Serawak Prof. Dr. Jeniri Amir. Nampak pula hadir Direktur Utama LKBN Antara Benny S. Butar-butar, Pemimpin Redaksi Kumparan Arifin Asydad, Pemimpin Redaksi SindoNews Purwanto, CEO RMOL Network Dr. Teguh Santosa, Pwmin Redaksi ElShinta Radio Haryo Ristamaji. | ATian - URadio