
PANGGUNG Indonesia Economic Summit (IES) 2026 kian hidup, gunemcatur makin terasa 'segar'-nya serius tapi santai (sersan) Haslinda Amin dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya kian 'cair.' Sekali sekala Purbaya memanfaatkan interaksi dengan khalayak.
Dengan gaya Kabayan, Menkeu Purbaya berhasil membuat khalayak 'jeda' sekejap-sekejap. Haslinda terkesan sekali hendak membawa 'sembang-sembang' (percakapan) terus berada di jalur plot yang 'dirancang'-nya. Ia bertanya bagaimana sikap Purbaya terkait 'ancaman' MSCI. "Apakah Anda khawatir tentang kemungkinan penurunan peringkat?" tanyanya.
Purbaya menjawab cepat. Tidak, karena kondisinya membaik. "Kecuali jika kita mengabaikan peringatan MSCI hingga Mei, kita harus khawatir. Tetapi saya pikir pemerintah dan setiap regulator pasar telah mengambil pendekatan yang tepat untuk memastikan, sebelum Mei tahun ini, kita akan memenuhi apa yang diinginkan MSCI," ujarnya. "Jadi, berinvestasi di negara saya seharusnya baik-baik saja. Kami akan mengikuti dan mematuhi praktik terbaik global," lanjutnya.
Purbaya berhasil 'menyeret' perhatian Haslinda ke isu mutakhir pengunduran diri Direktur Utama BEI dan sejumlah petinggi OJK. "Bantu kami memahami. Kami melihat 'kepergian' CEO bursa serta regulator keuangan. Apakah mereka bersalah? Apakah mereka mengulur waktu? Mengapa mereka dipaksa pergi? Di mana letak kesalahannya?"
Lagi, Purbaya menggunakan 'jurus Kabayan menghadapi mertua dan istrinya (Ambu dan Iteung) dalam kisah folklore Sunda, Kabayan. Pertanyaan Haslinda dijawab dengan awalan pertanyaan pula.
"Tidakkah menurut Anda itu pertanda baik? Pasar tidak dikelola dengan benar.Ketika pasar mengalami koreksi yang dalam, mereka harus bertanggung jawab. Kita tahu, mereka tidak menanggapi MSCI dengan benar dan bertanggung jawab untuk mengendalikan pasar," ungkap Purbaya, lanjut. Ia menyebut direksi BEI kudu bertanggung jawab untuk itu, termasuk ketua OJK. "Bagi saya, itu pertanda baik. Artinya mereka memahami telah melakukan kesalahan dan mereka harus bertanggung jawab atas hal itu," ungkap Purbaya.
Haslinda memanfaatkan momen, sambil bertanya, "Anda mengungkapkan kepercayaan diri, tetapi ada risiko nyata MSCI (bakal) menurunkan peringkat BEI. Apakah Anda siap untuk itu? Langkah-langkah apa yang ada yang mungkin dapat mengurangi dampak penurunan peringkat?"
"Tidak, kami akan memenuhi semua persyaratan yang dikehendaki MSCI. Termasuk transparansi. Bagi saya -- sebagai menteri keuangan --, saya tidak terlalu terlibat dengan apa yang terjadi di dewan direksi BEJ, tetapi saya fokus untuk memastikan bahwa ekonomi bergerak ke arah yang benar. Kami memastikan, bahwa pemerintah kami membelanjakan cukup uang di kuartal pertama dan kedua, tepat waktu," ungkap Purbaya.

Iklim Bisnis yang Lebih Baik
Puebaya juga mengemukakan, pemerintah juga memastikan, ada cukup likuiditas di pasar dan memastikan pemerintah meningkatkan iklim bisnis. "Kami memiliki gugus tugas khusus untuk mengatasi hambatan dimana setiap pengusaha dapat melapor kepada kami dan setiap minggu kami mengadakan pertemuan untuk memastikan bahwa hambatan yang mereka hadapi dihilangkan dengan benar," lanjutnya.
Purbaya lantas menyatakan, "Saya pikir satu tahun dari sekarang kita akan memiliki kondisi iklim bisnis yang berbeda dan jauh lebih baik. Itu cukup untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan lebih cepat. Pada akhirnya, hal itu akan tercermin pada peningkatan harga saham di pasar modal kita."
Secara meyakinkan, Purbaya mengemukakan, "Agar Anda memiliki iklim bisnis yang lebih baik, Anda memerlukan kepercayaan di (ekosistem) bisnis. Tidakkah Anda pikir saya cukup percaya diri?" ungkapnya dengan nada tanya.
Gaya Kabayan Purbaya terasa lagi, ketika dia menyatakan, "Saya sedikit bangga. Saya akan mengatakan bahwa baru-baru ini kita melihat penyitaan tambang emas Jardine Martabe. Beberapa orang mengatakan, mungkin -- hal -- itu mencerminkan kurangnya proses hukum di Indonesia."
Menurut Purbaya, "Proses hukum seperti itu telah terjadi di negara kita selama mungkin 20 atau 30 tahun terakhir. Kita sedang memperbaiki. Kita sedang menghilangkan praktik buruk di industri pertambangan. Salah satu contohnya adalah penghapusan izin perusahaan tersebut."
'Anak Bogor" ini lantas mengemukakan, "Ini merupakan salah satu langkah untuk memastikan, bahwa kita menjalankan iklim investasi dengan praktik yang baik. Tak berarti kita menolak pertambangan, tetapi kita menentang pertambangan ilegal." Lantas Purbaya mengemukakan, kasus Jardien Martabe yang dicabut izinnya memang mengejutkan mereka. "Hal itu mengejutkan para investor dan sekarang ,ereka sedang kuatir untuk menanamkan uang di Indonesia karena mereka tidak yakin investasi tersebut aman."
Purbaya tetiba berkata kepada Haslinda, "Anda mewakili Jardine?" Haslinda tak menjawab. Purbaya melanjutkan pernyataannya, "Jardine selalu dapat mengajukan keluhan kepada pemerintah kami, selama mereka menjalankan bisnisnya dengan benar. Ini bukan akhir dari segalanya. Ini bukan akhir dari permainan. Mereka dapat datang kepada kami, bukan kepada saya, -- tetapi -- kepada menteri yang bertanggung jawab atas hal itu dan menyampaikan kasus mereka. Pemerintah kami sangat adil untuk menindaklanjuti hal tersebut."

Fokus Peningkatan Ekonomi
Pemerintah, kata Purbaya, berbicara dengan banyak investor yang tampaknya beranggapan bahwa pemerintah Indonesia terpusat dalam kendali dan kekuasaan. Pemerintah telah menindak para taipan. Pemerintah telah melakukan penguasaan tambang. Apakah investor perlu kuatir dengan adanya sentralisasi kekuasaan di Indonesia?
"Tidak, kita tidak melakukan sentralisasi," ungkap Purbaya. "Yang kita lakukan adalah memperbaiki sistem desentralisasi. Selama beberapa tahun terakhir setelah krisis, kami, telah menjalankan sistem desentralisasi ini, tetapi praktiknya belum begitu baik. Banyak korupsi di sana-sini di setiap daerah," lanjutnya.
Purbaya mengungkap, mungkin ratusan bupati telah dipenjara karena korupsi. Sekarang yang ingin dilakukan Presiden adalah memperbaiki praktik tersebut dengan 'menyerap' beberapa kegiatan daerah ke pemerintah pusat. Kemudian pemerintah pusat akan menginvestasikan uang tersebut di daerah yang sama dengan arahan. Dikemukakannya, lima tahun dari sekarang, setelah pemerintah daerah belajar dari itu, "Saya pikir -- pemerintah pusat -- akan mengembalikan proses desentralisasi seperti semula, tetapi dengan kualitas yang lebih baik, termasuk kualitas manajemen yang lebih baik.
"Kita harus mendidik para pemimpin daerah. Kita tidak akan melakukan sentralisasi lagim karena jumlah uang yang mereka belanjakan di wilayah tersebut sebenarnya sama," jelas Purbaya.
"Jadi Anda yakin bahwa kejelasan akan datang kepada investor?" kejar Haslinda. "Apakah Anda juga yakin akan menarik FDI -- foreign direct investment -- yang diinginkan negara ini? Apakah Anda yakin? Karena saat ini investor menahan FDI dan menunggu 'di pinggir lapangan.'
Purbaya langsung menjawab, "Saya yakin. Saya bangga seperti yang saya katakan sebelumnya.... Tentu.. FDI akan datang ke negara ini, ke tempat yang menawarkan pengembalian yang lebih baik atau terbaik. Benar. Ketika ekonomi kitam nanti tumbuh sebesar enam persen, tujuh persen, atau lebih."
Hal tersebut, kata Purbaya, menawarkan pengembalian yang lebih baik untuk setiap investor yang datang ke negara ini. "Jadi bagi saya, lebih baik saya fokus pada peningkatan kondisi ekonomi, yang secara otomatis akan mengundang mereka, akan menarik mereka ke negara ini," jelas Purbaya.

Jalan Pertumbuhan Ekonomi
Purbaya mengatakan, "Saya tidak ingin mendatangi dan memohon kepada mereka, sementara pada saat yang sama kondisi ekonomi domestik tidak baik. Jadi, kondisi ekonomi domestik yang lebih baik adalah suatu keharusan sebelum mengundang FDI."
Ketika negara memiliki kondisi ekonomi domestik yang baik, seperti pertumbuhan 6 persen atau 7 persen, akan mudah bagi pemerintah (investor) untuk menarik mereka ke negara ini. Pada saat yang sama, sekarang pemerintah memiliki cukup uang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 6 persen, 6,5 persen, atau 7 persen.
"Apa jalan menuju pertumbuhan di atas 5 persen?" tanya Haslinda.Purbaya melontar joke a la Kabayan yang mengundang senyum, "Karena sekarang menteri lebih baik dari sebelumnya."
Purbaya menjawab pertanyaan, itu. "Selama 20 tahun terakhir, mesin pertumbuhan kita telah lumpuh. Dalam 10 tahun pertama -- masa konsolidasi demokrasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) -- masa "tidak melakukan apa-apa," hanya sektor swasta yang menggerakkan ekonomi, sedangkan pemerintah 'hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa.' Tidak membangun banyak infrastruktur.
Lantas, masa Joko Widodo, terjadi kebalikannya. "Jokowi membangun infrastruktur di mana-mana di negara ini, tetapi sektor swasta agak lesu karena kebijakan moneter tidak mendukung sektor swasta," jelas Purbaya. "Sekarang kita berusaha menggerakkan kedua mesin pertumbuhan, sektor pemerintah dan sektor swasta. Dengan itu, pertumbuhan di atas 6 persen menjadi mudah," sambungnya.
Selain itu, tambahnya, kami sedang memperbaiki iklim bisnis." Saya pikir setelah itu, pertumbuhan di atas enam persen tidak terlalu sulit. Jadi, kami memanfaatkan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi kami untuk memastikan bahwa kami tumbuh pada kapasitas penuh ekonomi," ungkapnya.
"Berikan kami time line. Apakah Anda melihat tahun ini persen, tahun depan 6,5 persen, tahun berikutnya mendekati tujuh persen, mendekati 8 persen pada tahun 2029? Jika saya masih di sini..," katanya sambil tertawa. Khalayak pun ikut tertawa dan tersenyum. | Haedar Mohammad
Artikel Terkait terdahulu : Kabayanomic Menghadapi Badai Ekonomi