Isyarat dari Johor

Merawat Kepercayaan Rakyat

| dilihat 103

Nota Iasha

Dato’ Onn Hafiz Ghazi, angkat sumpah lagi di hadapan Pemangku Sultan Johor, Tunku Mahkota Johor (TMJ) Ismail sebagai Menteri Besar Johor (Ahad, 12/07/26) penggal kedua.

Upacara pelantikan Dato’ Onn berlangsung di Istana Bukit Serene pukul 14.00 waktu tempatan. Ia nampak bersegak, tampan dan berwibawa dengan telok belanga, samping dan songkok hitam.

Pelantikan tersebut menyusul kemenangan besar Barisan Nasional (BN) dalam Pilihan raya Negeri (PRN) Johor ke 16. BN memenangkan 48 dari 56 kursi legislatif Dewan Undangan Negeri (DUN) yang dikontestasikan.

Dato’ Onn sendiri berhasil meraih 20,238 (80,28 persen) suara di Machap yang merupakan wilayah parlemennya. Sedangkan pesaingnya, Nor Hafiz Roslan (PH - Pakatan Harapan) hanya beroleh suara 5,007 (19.72 persen).

Perikatan Nasional (PN) pimpinan Muhyiddin Yassin (PM Malaysia VIII) -- wakil rakyat Pagoh di Parlemen -- yang berkontestasi untuk 33 kursi, tak mendapat kursi sama sekali.

PN merupakan koalisi partai Bersatu, PAS (Parti Al-Islam Se Malaysia) dan Gerakan yang berkontestasi untuk 33 kursi, tak mendapat satu pun. Enam calon Bebas (non partai), sebagaimana Bersama (berkontestasi untuk 15 kursi), Muda (4), PSM (Parti Sosialis Malaysia) dan Asli yang masing-masing mencalonkan untuk 1 kursi, tak ada yang mendapat.

BN pimpinan Dato' Onn berjaya, karena masfhum posisi dan konstelasinya sebagai petahana. Rakyat bangsa Johor puas dengan prestasi kerja pemerintah negeri Johor pada penggal pertama perkhidmatannya. 

 

Merawat Kepercayaan Rakyat

Kemenangan BN  karena partai ini  tidak mengubah posisi para calon di daerah DUN sebelumnya. Rakyat melihat, dengan demikian, BN bersungguh - sungguh hendak mengamalkan prinsip transformasi, tanpa mengurangi perkhidmatan berkelanjutan.

Prinsip demikian merawat kepercayaan rakyat, bahwa dalam perkhidmatannya lima tahun ke depan, BN konsisten dan konsekuen memenuhi janjinya. Prinsip ini juga meyakinkan jentera partai di garis depan untuk bekerja lebih optimal.

Di sisi lain, sebagai pemimpin Dato' Onn membuktikan dirinya, para calon anggota DUN, dan jentera partai bertungkus-lumus dan bekerja cerdas meyakinkan rakyat, akan mampu menambah-baikan layanan pemerintah BN mereka berasas.

Faktor kemenangan lainnya adalah kemampuan Dato' Onn, seluruh calon dan jentera BN meyakinkan bangsa Johor, bahwa sebagai wakil rakyat di DUN dan sebagai penyelenggara pemerintahan mereka akan lebih amanah, shadiq, fathanah, dan tabligh.

Keberanian Dato' Onn bicara sangat lantang, tak mau duduk bersama dengan DAP (Democratic Action Party). Ia lebih rela tak menjadi Menteri Besar daripada harus  bekerja sama politik dengan DAP. (Artikel terbabit : Langkah Berani Dato Onn Hafiz).

Rapat Akbar (Ahad, 07.06.26) yang digelar Dato' Onn Hafiz dan BN Johor, hadir Presiden BN/UMNO Zahid Hamidi bersama para petinggi (Presiden MCA Datuk Seri Wee Ka Siong, Presiden MIC Tan Sri SA Vigneswaran, dan Presiden Partai Progresif Rakyat (PPP) DatukJ Loga Bala Mohan.

Nampak pula 'ayahcik" (pamannya), anggota parlemen Sembrong, Hishamuddin Husein. Nampak pula Noh Omar dan beberapa petinggi BN/UMNO lainnya.

Kebersamaan tersebut memberi sinyal positif kepada bangsa Johor, khasnya para pemilih, bahwa BN/UMNO mampu mengakhiri perseteruan mereka selama ini.

 

BN "Rumah Bangsa'

Bangsa Johor pun melihat, BN/UMNO bersungguh-sungguh melakukan konsolidasi organisasi, rekonsiliasi dan saling berkontribusi menjadikan BN/UMNO solid sebagai 'Rumah Bangsa.'

Sinyal ini penting untuk menjawab harapan bangsa Johor ihwal stabilitas politik untuk melanjutkan upaya-upaya kreatif dan inovatif melanjutkan pembangunan sebagai upaya bersama dalam melanjutkan pembangunan guna mewujudkan kesejahteraan bersama.

Bangsa Johor kian yakin, bahwa BN merupakan alamat yang tepat untuk menitipkan aspirasi dan amanah. Apalagi kepemimpinan Dato' Onn mendapat dukungan dari Tunku Mahkota Johor Ismail.

Sejak menggantikan Datuk Seri Hasni Mohammad sebagai MB Johor ke 19 (15/03/22) menyusul kemenangan BN dalam PRN Johor ke-15 tahun 2022, Dato' Onn telah memberi bukti kepemimpinannya, yang sering dipandang sebagai representasi kepemimpinan generasi millenial baby boomer, Gen Z, dan Gen Alpa.

Ketika diserang oleh para petinggi tingkat persekutuan -- lawan-lawan politiknya -- mulai dari Anthony Loke Siew Fook (Menteri Pengangkutan/Sekretaris Jendral DAP), Mat Sabu (Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan / Presiden partai Amanah), bahkan dari Anwar Ibrahim (Presiden PH/Parti Keadilan Rakyat, PM X Malaysia).

Pernyataan Anwar Ibrahim yang menyebut Johor sebagai 'negeri kaya, namun banyak bocor,' langsung mendapat reaksi dari Tunku Mahkota Ismail yang segera 'mengirim balik' pernyataan tersebut, bahwa kebocoran itu dilakukan oleh para petinggi di pemerintah persekutuan.  

Menanggapi isu ihwal kemandirian, Tunku Mahkota Johor langsung beaksi keras dan telak, biarkan Johor lepas dari persekutuan Malaysia, Johor akan membuktikan dirinya mampu membangun walau kendiri.

Merespon reaksi Tunku Mahkota Johor, Anwar Ibrahim dan sejumlah menteri dalam kabinet pemerintahan Malaysia Madani, terburu-buru bertandang menghadap Tunku Mahkota Johor.

Try Out 'Bersama'

Pola kampanye dan sikap PH nampak belum berubah : merasa paling piawai dan bersih. Senang menghantam 'lawan politik' dengan retorika politisi gaèk padahal hanya pandai menebar harapan.

Anwar Ibrahim seolah lupa, mimpinya sebagai PM X tak kan mewujud, bila BN/UMNO tak bersedia untuk kongsi selepas Pilihan Raya Umum ke 15.

Kepercayaan rakyat kepada PH terus surut, karena banyak janji yang mereka sampaikan banyak yang tak mewujud nyata dalam kehidupan.

Keluarnya Rafizi - Wakil Rakyat Pandan (2013-2018, 2022 - 2026), Menteri Ekonomi Kabinet Madani (2022-2025) dan petinggi -- dari PKR mengisyaratkan PKR bentukan Anwar Ibrahim sedang tidak baik-baik saja.

Rafizi membentuk Parti Bersama Malaysia (Malaysian United Party) dan meluluskan para kader dari kalangan profesional yang belum tersentuh politik praktis di 15 daerah DUN dalam PRN Johor ke 16, menarik perhatian. Dengan cara demikian, baru pertama kali partai memandang kontestasi pilihan raya sebagai ajang try out.

Yang mengenaskan adalah PN yang terkulai layu pada PRN Johor ke 16. Rakyat Bangsa Johor yang kian jeli melihat realitas politik, kontan 'menghukum' dengan caranya sendiri.  

Tak ada yang dapat menyangkal, fakta telah menunjukkan, di ajang kontestasi PRN Sabah dan Johor, partai-partai yang tak mengubah caranya melayani rakyat dan tak mampu merawat keutuhan, kapan saja dapat ditinggalkan rakyat.  Dato' Onn dan BN Johor membuktikan, kerja nyata kreatif melayani dan memuliakan rakyat berbuah manis. |

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber dan royal_TMJ
 
Sainstek
Ekonomi & Bisnis