Antara AI dan Kita

Joki Pengendali Kuda

| dilihat 41

Catatan Haedar

Percakapan ihwal Society 5.0 -- yang terespon cepat ilmuan Jepun --  disangga pilar-pilar artificial intelligence (AI) dan internet of things (iot) telah berlangsung relatif lama. Paling tidak, sejak awal abad ke XXI (dekade 2000-an).

Futuris dan tokoh guru besar revolusioner Universitas Oxford - Inggris, James Martin (2007) sudah mengingatkan lewat karya pemikirannya ihwal cetak biru vital bagi memastikan masa depan umat manusia.

Martin sangat serius mengembangkan pemikiran tentang perubahan dramatik (transformasi) peradaban, yang dipicu dan dipacu oleh 17 cabaran (tantangan) dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari perubahan ekologi, ekosistem, dan ekonomi (melalui aksi serempak membalik kemiskinan dan mengendalikan demografi).

Manusia -- sebagai rahmat atas semesta -- bertanggungjawab melindungi biosfer, karena proses perubahan dan pemajuan bangsa-bangsa -- antara lain dengan deforestasi dan pengembangan pertanian monokultur telah menyebabkan kita kehilangan spesies tumbuhan dan hewan (flora dan fauna), serta eksploitasi ikan di samudera secara tanpa kendali. Terutama karena hukum belum cukup melindungi lautan.

AI dan IoT dalam dimensi transformasi -- bukan reformasi, tidak pula revolusi -- adalah penanda penting agar setiap  manusia berubah cepat. Khasnya dalam merawat keselarasan nalar, naluri, nurani, dan rasa sebagai dara integritas dan integralitas manusia. Kesadaran merawat kewarasan -- secara harfiah -- dengan aksi menaklukan penyakit, mencegah pandemi (lokal, regional, dan global).

Hal ini terkait dengan perubahan cara menghadapi 'penyusutan planet' akibat meningkatnya eksploitasi bandwidth. Titik beratnya adalah merancang globalisme yang memungkinkan terjadinya interaksi - dialektik budaya lokal, nasional dan global dalam satu tarikan nafas. Mengusik tanggung jawab bangsa-bangsa besar yang kaya menolong bangsa-bangsa yang 'gagal' bertransformasi.

Kesadaran demikian mesti dihidupkan oleh gaya hidup baru, yakni gaya hidup berkelanjutan (sustainable life data-style), atau gaya hidup berkualitas tinggi tanpa membebani lingkungan. Seirama dengan hal tersebut, yaitu memperluas potensi manusia. Antara lain dengan memanfaatkan teknologi yang mempercepat potensi manusia sebagai pembelajar.

Sejalan dengan pandangan ini, Martin menyebut tantangan besar yang dihadapi manusia adalah melawan terorisma, seraya mencegah dan menghentikan perang total (habis-habisan) yang berdampak menghabiskan kehidupan umat manusia. Perang dengan ancaman yang jauh lebih besar dari ancaman penggunaan nuklir dan biologi (senjata pemusnah massal).

Hubungan Subyek - Obyek

Hal tersebut berkaitan langsung dengan tantangan laten menghadapi risiko eksistensial, antara lain risiko yang dapat menghentikan homo sapiens, sebagai akibat dari pelepasan patogen yang dimodifikasi secara genetik sangat berbahaya. Inilah risiko yang secara terperinci memberikan umat manusia hanya 50 persen peluang untuk bertahan hidup di abad ini.

Tantangan lain yang susah dikendalikan -- khasnya di negara-negara berkembang yang menjadi pasar primer produk industri gawai -- yakni Singularitas yang terbentuk oleh reaksi berantai kecerdasan komputer dengan beragam produk (termasuk smartphone). Singularitas memungkinkan banyak teknologi yang berkembang secara 'tak terbatas ke segala arah.'

AI dan IoT (juga, kelak artificial humans - manusia imitasi)  yang mengalami transisi cepat dari alat perangkat lunak dasar menjadi mitra otonom yang mampu meningkatkan kapasitas diri sendiri. Momentum ini sedang berproses di titik hipotetis : kecerdasan mesin - komputasi melampaui kemampuan manusia. Secara fundamental momentum ini mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berinovasi.

Di tengah arus singularitas, umat manusia tertantang untuk mengendalikan AI. Antara lain dengan membentuk kembali industri global dan peradaban manusia.

Hubungan manusia dengan AI harus sungguh merupakan hubungan subyek dengan obyek. Manusia menjaga kuat kedudukan dan fungsi AI sebagai 'pekerja' yang dikendalikan manusia, seperti Gemini Pro - milik Google atau Claude Code yang siap digerakkan sebagai perangkat yang mampu melakukan perencanaan arsitektur otonom, debugging, dan pemecahan masalah yang kompleks.

Belakangan, via media sosial kita temukan merebaknya model AI yang dapat beroperasi terus menerus. Algoritma AI -- berbasis keterhubungan manusia dengan komputer -- kini semakin banyak digunakan untuk menganalisis, merefaktor, dan menulis kode AI yang lebih baik.

Dalam konteks digital ekonomi, AI dimanfaatkan dalam proses restrukturisasi ekonomi dan sosial, penggerak pergeseran ekonomi dan psikologi manusia. Kendati tak mampu memenuhi seluruh ekspektasi manusia. Sekaligus menegaskan kognisi yang menghargai pemikiran manusia sebagai faktor utama perubahan yang dipercepat.

Tanpa kendali, AI dapat dimanfaatkan dalam 'melayari' trans humanisma. Alaf XXI merupakan abad melalui AI kita dapat mengubah manusia secara radikal. Kemajuan teknologi komputasi - mesin, akan memungkinkan kita bergerak ke berbagai dimensi masa : masa lalu, kini, dan masa depan. Sekaligus memungkinkan kita belajar lebih banyak untuk hidup lebih lama, dan mendapat kemampuan untuk terhubung ke objek nanoteknologi pada tengkorak kita sebagai superkomputer yang menghubungkan otak manusia   ke perangkat eksternal lainnya.

Peradaban Lanjut Apa?

Dalam pandangan Martin, transhumanisme akan sangat kontroversial. Namun dari situasi ini akan meningkatkan argumen etika utama. Kita perlu melakukan perubahan tanpa menderita konsekuensi negatif secara keseluruhan. Transhumanisme dapat membimbing kita menjawab tantangan, membangun peradaban yang jauh lebih maju daripada saat ini.

Manusia yang mengendalikan AI dalam konteks menata  singularitas dan transhumanisma, akan menghantarkan kita pada titik baru untuk aksi besar, 'Merencanakan Peradaban Lanjutan.'

Transhumanisme dan singularitas menghantar  kita ke depan cermin 'raksasa,' untuk mempertanyakan, "Peradaban macam apa yang kelak akan anak cucu kita bangun, jika AI dan teknologi komputer bisa melakukan apa saja?"

Bila kita konsisten dan bertanggung jawab menempatkan diri sebagai subyek atas AI dan teknologi komputer, Martin meyakini, umat manusia dapat memodelkan Sistem Planet - sesuai dengan kehendak Sang Maha Kuasa atas semesta. yang berotoritas mengendalikan sains dan sistem tatasurya yang harus dimodelkan secara teliti.

Dengan demikian, kita akan mampu memainkan peran utama menjembatani kesenjangan antara keterampilan dan kebijaksanaan yang sungguh menjadi masalah serius saat ini. Terutama, karena sains dan teknologi meningkat dengan cepat, tetapi kebijaksanaan, tidak.

Itulah sebabnya, refleksi dan proyeksi mendalam kita tentang keadaan masa depan dihalangi oleh aksi industrial yang terburu-buru membangun industri gadget yang lebih cepat, lebih murah, lebih pintar, dan lebih efisien. Sesuatu yang meningkatkan keuntungan perusahaan dan kerugian tanpa terasa  kala otak terbaik kita dipenuhi oleh-oleh isu-isu mendesak yang lebih kompleks.

Tak bisa tidak, akhirnya kita harus memperlakukan AI dan teknologi komputer dan sistem komputasi laiknya kuda, dan menempatkan diri kita sebagai Jokinya. |  

Padu Bonjer 10.06.26

Editor : haedar | Sumber : foto-foto produk AI
 
Ekonomi & Bisnis
Sainstek