Maal Hijrah

| dilihat 114

Bang Sèm

Selain bersyukur kepada Allah Maha Pencipta dan Maha Pemelihara semesta,  yang tak pernah jemu mendengarkan dan mengabulkan do'a-do'a makhluk-Nya, pergantian tahun hijriah (1447 H ke 1448 H), yang kudu dilakukan umat Islam adalah meneguhkan cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang lebih islami.

Pergantian tahun dan tibanya bulan Muharram sering juga disebut sebagai Maal Hijrah, momentum berhijrah, agar kehidupan hari ini lebih baik dari hari kemarin, sehingga hari esok lebih baik dari hari ini.

Maal Hijrah terbabit dengan peristiwa migrasi Rasulullah dari Makkah ke Madinah yang terjadi pada tahun 622 Masehi.

Rasulullah menempuh migrasi sebagai siyasah atau cara berjuang, mengemban amanah Ilahiah, yakni dakwah islamiyah. Mensyiarkan firman Allah yang mewanti-wanti agar manusia selamat - bahagia di dunia, di akhirat, dan bebas malapetaka.

Secara dimensional, hijrah atau migrasi yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW bukan migrasi biasa, migrasi yang kompleks, termasuk migrasi ragawi dan sukmawi. Menyeru dan mengajak manusia bergerak meninggalkan situasi kegelapan menuju kondisi cahaya benderang (QS. Al Baqarah 257, QS Ibrahim 1, dan QS al Hadid 9).

Maal Hijrah dengan demikian, dipahamkan pula sebagai aksi yang dilakukan secara sadar, khasnya dalam konteks menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar (menyemai - menebar - merawat) kebajikan melawan kemunkaran (jahat, tak adil, semena-mena).

Beranjak dari pandangan demikian, Maal Hijrah juga merupakan peta jalan melakukan perubahan dramatik (transformasi) tamaddun - peradaban. Menyempurnakan fokus aksi peradaban: menyempurnakan penegakan hukum menjadi penegakan keadilan; Mengubah dan menyempurnakan estetika dan adab menjadi tamadun; serta Menyempurnakan cinta kasih menjadi kesadaran kemanusiaan.

Cara Baru dan Inovatif

Dari perspektif lain, Maal Hijrah dalam sebagai migrasi spiritual, menurut Syekh Saleem Bhimji, hijrah tak terlepas dengan relasi - hubungan manusia dengan Allah, insan sesama dan semesta. Momentum migrasi yang harus terus menerus mengalami penyegaran secara kontemporer, cara yang 'baru' dan 'inovatif.' Terutama dalam konteks syariah dan ibdah.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamahui wajhah, "Perbarui pencarian taubatmu (kepada Tuhan) dan hidupkan ibadahmu."

Ulama kelahiran Kanada, ini memandang, maal hijrah mesti dilihat konstelasinya dalam keseluruhan tata kehidupan sebagai momentum penyadaran, bahwa hidup manusia sesungguhnya merupakan jalan kembara menuju Allah, sebagaimana dicontohkan oleh nabi Ibrahim, penyeru tauhid (QS Ash-Shaffat 99).  

Nabi Ibrahim adalah satu dari sangat sedikit manusia di seantero jagad yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT. Syeikh Bhimji mengemukakan, Al Qur'an secara khas, menyajikan 'biografi,' sehingga kita -- melalui berbagai ayat di berbagai surah -- mengenali banyak hal tentang pribadinya.

Dari kisah hidupnya, kita beroleh deskripsi informasi, bahwa dalam untuk menguatkan cinta kita kepada Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW, para rasul dan nabi lainnya kreativitas dan inovasi sebagai cara menguatkan dimensi syari'ah dan ibadah dalam satu tarikan nafas.

Dalam konteks inilah, hijrah spiritual berasas syariah dan ibadah (aqidah, syariah, muamalah, akhlaq) merupakan aksi perubahan diri untuk berkontribusi pada pencapaian islam, iman, dan ihsan sebagai indikator kualifikasi insani.

Pilihan hijrah sebagai migrasi ragawi dan sukmawi yang ditempuh  Rasulullah Muhammad SAW bersama Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar as Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan para sahabat lainnya merupakan pilihan imani berpangkal tauhid. Pilihan dengan konsekuensi memelihara keberanian dan pola hidup optimistik dalam menghadapi berbagai tantangan yang sangat berat.

Bai'at Aqabah

Hijrah ragawi dan sukmawi dari Makkah (yang menekan berat aksi dakwah Rasulullah di lingkungan internal) ke Madinah (yang merespon positif dakwah Rasulullah, mulai dari penerimaan suku Khazraj, kemudian baiat Aqabah yang dilakukan oleh Mu'ab bin Umayr), meyakinkan Rasulullah Muhammad SAW tentang hijrah sebagai siyasah -- cara dan metodologi -- mewujudkan tujuan, visi dan misi kerasulan.

Allah SWT melalui malaikat (khasnya Jibril) memandu Rasulullah menghadapi konspirasi kaum Quraisy yang berkomplot hendak membunuhnya. “Dan ingatlah bagaimana orang-orang kafir bersekongkol melawan kamu untuk menahan kamu, membunuh kamu, dan mengusir kamu. Mereka merancang, tetapi Allah juga merancang. Dan Allah adalah Perancang yang terbaik.” (QS Al Anfal 30).

Ayat ini mengisyaratkan, Allah SWT melalui malaikat-Nya membekali Rasulullah dengan niat - kiat - siasat (motivasi, taktik, dan strategi). Kemudian Allah memerintahkan Rasulullah melakukan hijrah - migrasi. Hal ini tercermin dari bagaimana Rasulullah mengatur trip migrasi itu.

Secara taktikal, Rasulullah meminta Ali bin Abi Thalib tidur di tempat Rasulullah biasa tidur. Lalu, bersama Abubakar Shiddiq meninggalkan Makkah. Secara taktikal, bersama Abubakar Shiddiq Rasulullah bersembunyi di gua Thsur.

Kaum kafir Quraisy terkecoh dan kemudian menurunkan intensitas perburuan Rasulullah. Pada saat ancaman berkurang, Rasulullah dan Abubakar Shiddiq melanjutkan perjalanan migrasinya, dengan menempuh rute yang tak biasa dan jarang dipilih sebagai rute perjalanan ke Madinah.  

Ketika tiba di Quba di pinggiran kota Madinah (ketika itu masih bernama Yasthrib), Hal pertama yang dilakukan Rasulullah adalah membangun masjid. Secara taktikal, pembangunan masjid tersebut sebagai isyarat dimulainya era baru sejarah Islam dengan suar tauhid.

Di Quba inilah Rasulullah menetapkan garis awal pembangunan tamadun Islam.  Rasulullah menentukan model perubahan menyeluruh (reformatif) di seluruh aspek kehidupan (sosial, ekonomi, budaya, pertahanan keamanan).

Rancang bangun masyarakat Islam dimulai, dan kelak di Madinah, sistem ideologi - tata nilai, norma dan tata kelola kemasyarakatan digerakkan dari Madinah. Di Madinah ini juga, Rasulullah menggerakkan konsolidasi umat Islam.

2.4.4.3.4

Beranjak pada perancangan sistem kehidupan umat Islam dan dalam panduan Allah SWT, dari Madinah inilah Rasulullah mengejawantahkan konsepsi kemasyarakatan Islam berbeda dengan habitus sosial, tradisi, resam, dan istiadat di lingkungan masyarakat kafir Quraisy.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah sejak awal mewariskan kepada kita pola dan agenda aksi perubahan yang kompatibel dengan perkembangan zaman. Bila dikaji secara mendalam, saya menyebutnya sebagai Pola 17 : 2,4,4,3,4 (agenda).

Meliputi 2 pondasi : Rencana induk berasas Tauhid; dan Strategi Induk Dakwah (maqasid hasanah); 4 pilar focal concern meliputi ideologi inti (aqidah), norma inti (syariah), nilai inti (muamalah), dan budaya inti (akhlaq);

4 kekuatan pendorong  : Kualifikasi umat berasas modal insan (ya'lu wa la yu'la, muslim, mukmin, mukhsin, muttaqin); Sistem kepemimpinan kolektif kolegial berpangkal watak : amanah, shiddiq, fathonah, tabligh; Konsolidasi umat (ya'lu wa la yu'la, ummatan wahidah, ikhwah, ukhuwah, wasatha, ekuitas - ekualitas - egaliter); dan, Sistem Ekonomi beroientasi kesejahteraan dan keadilan (halalan thayyibah, anti riba);

3 teras pencapaian: Rahmat atas Semesta - rahmatan lil aalamin; Luas manfaat - hairun naas anfa'uhum lin naas; Bahagia duniawi - ukhrawi dan bebas petaka - fidduniya hasanah - filakhirati hasanah - wa qiina adaban naar.

4 penyangga asasi kebangkitan umat: Kemerdekaan insaniah sebagai kemerdekaan sejati yang runduk pada ketaqwaan; Kemenangan menaklukan egosentrisma dalam upaya pergerakan mencapai kualitas dari ahsanittaqwim bagi keseimbangan nalar, naluri, nurani, rasa, dan raga; Konsistensi (istiqamah) dalam berkontribusi pada penyelenggaraan negara dengan menegakkan prinsip kemandirian dan otonomi luas, nyeta, bertanggung jawab sebagaimana tercermin dalam pemikiran zelfbestuur HOS Tjokroaminoto (17/06/1916): dan Perjuangan kebangsaan dari narrow nationalism ke global nationalism dengan memajukan dakwah ekonomi sebagai inti.

4 warisan - legacy : Pertahanan keluarga sebagai basis ketahanan masyarakat - qu anfusakum wa ahlikum naaro; Kesalehan personal dan sosial; Keberanian menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar dalam berbagai skala; dan Menegakkan nilai-nilai asasi Islam sebagai cara menyelamatkan manusia dari petaka.

Bertolak pada kesadaran untuk mengamalkan nilai-nilai Islam yang merupakan selepas hijrah, maka yang harus digeluti kini adalah (a). Meneguhkan tauhid dalam spirit menegaskan tiada yang super power di dunia, karena bagi kita, hanya Allah SWT saja yang super power; (b) Dengan spirit dan kesadaran tauhid memelihara bara optimisme, termasuk dalam menyelamatkan masa dengan sistem universe prosperity (kesejahteraan semesta) karena terbukti, kapitalisme menyengsarakan manusia; (c)   Mengukuhkan diri sebagai benteng persatuan umat manusia secara universal, menghidupkan mutual respek secara mondial; dan (d) Menghidupkan ghirah dan ghairah pencapaian kualitas insani berbasis sains, teknologi, dan kecerdasan budaya - peradaban | padubonjer 17.06.26

 

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
Lingkungan
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 303
Jakarta Baur Budaya
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 479
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 878
Jangan Pernah Menentang Semesta
04 Agt 25, 02:48 WIB | Dilihat : 1567
Almaty Kazakhtan Sentra Suara Akal Sehat
Selanjutnya