LIPI Lakukan Penelitian

Agar Cendana Tak Punah

| dilihat 2772

AKARPADINEWS.COM | CENDANA menjadi komoditas utama di perdagangan dunia sejak abad pertengahan lalu. Cendana yang menebar aroma wangi, menjadi incaran para petualang dari Eropa, selain cengkeh dan rempah-rempah lainnya yang dihasilkan dari bumi Nusantara.

Cendana memang kayu yang mempesona. Karenanya, selain menghasilkan aroma wangi, dengan tekstur kayu yang kuat dan kokoh, para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tertarik untuk menelitinya. Cendana diyakini memiliki manfaat lainnya. Penelitian diharapkan dapat menemukan cara mengembangkan Cendana sehingga tidak segera punah dan mempersingkat masa panennya agar meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mengelolanya.   

Cendana (santalum album), termasuk Gaharu (Aquilaria spp), banyak tumbuh dan berkembang di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kedua tumbuhan tersebut dapat menghasilkan zat pewangi, baik itu berupa gubal dan minyak, yang digemari masyarakat. Berbagai macam pernak-pernik pun banyak yang dirangkai dari Gaharu sehingga menambah nilai jualnya.

Aroma wangi yang khas dari Gaharu tidak serta merta muncul begitu saja seiring pertumbuhannya. Tetapi, melalui fenomena alam yang unik dan menarik. Menurut Andria Agusta, peneliti kimia bahan alam dan koordinator ekspedisi widya Nusantara LIPI-2016 Pulau Sumba, Gaharu akan mengeluarkan resin dengan senyawa kimia spesifik seperti agarospirol, kusinol, dan jinkohol sebagai penyebab munculnya aroma khas Gaharu. Apalagi, tatkala tumbuhan tersebut terinfeksi bakteri dan jamur.

Menurut Andria, sudah banyak spesies jamur yang berhasil diidentifikasi dari Gaharu, yang berperan sebagai pemicu Gaharu memproduksi resin, seperti jamur Fusarium spp.

Dan, peneliti sudah berhasil merekayasa proses infeksi buatan terhadap Gaharu sehingga “memaksa” Gaharu memproduksi resin wanginya dalam waktu yang relatif pendek. "Bahkan, di Taiwan, proses infeksi sudah bisa dilakukan pada anakan Gaharu yang berumur 1,5 tahun”, tutur Andria

Pulau Sumba juga dikenal sebagai salah satu sentra produksi Cendana terbesar di dunia. Namun, terdapat produksi Cendana di sana, dari tahun ke tahun, terus mengalami penurunan. Tingkat produksi Cendana paling tinggi yang dihasilkan Pualu Sumba adalah pada periode tahun 1990-1994, dengan jumlah yang mencapai 2.500 ton per tahun dan berkontribusi sebanyak 38 persen terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Propinsi NTT.

Cendana pun belum dikelola dengan baik. Cendana lebih banyak dihasilkan dari alam secara langsung. Bukan tidak mustahil, tanpa ada upaya pengembangan produksi, lama kelamaan Cendana akan punah karena terus-terusan dieksploitasi dan merusak ekosistem di Pulau Sumba. Masyarakan belum mengembangkan produksi Cendana lantaran Cendana baru menghasilkan aroma wangi dalam waktu yang cukup lama. Cendana baru bisa mengeluarkan aroma wangi di usia 30 tahun.

Sementara di sisi lain, permintaan sangat tinggi. Inilah yang menyebabkan produksi Cendana lebih bersumber dari alam. Wangi itu dihasilkan dari senyawa seskuiterpen dan santalol. Di kala menebar wangi, pohon Cendana pun mengalami kerusakan.

Batangnya pada berlubang lantaran digerogoti serangga atau faktor lain yang belum diketahui sebabnya. Menariknya, walaupun batang Cendana sudah mengeluarkan wangi, namun bagian dahan dan rantingnya, tidak akan berbau jika tidak mengalami luka atau cacat.

Hal itu menjadi kendala utama dalam memproduksi Cendana, walaupun telah kembali digalakkan penanaman Cendana yang juga didukung peraturan daerah, pemerintah setempat.

Berdasarkan kondisi itu, menurut Andria, LIPI tertarik mendalami proses pembentukan aroma Cendana. Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab peneliti, yakni apakah proses pembentukan aroma pada Cendana disebabkan faktor luar seperti halnya proses pembentukan resin pada Faharu yang disebabkan oleh mikroba?

Atau, aroma wangi Cendana tersebut dihasilkan akibat adanya asosiasi Cendana dengan mikroba endofit yang berdiam di jaringan tumbuhan tersebut seperti halnya produksi senyawa antikanker podofilotoksin pada tumbuhan Podocarpus spp atau obat antikanker nomor satu Taxol pada tumbuhan Taxus spp?

Jika pertanyaan itu dapat dijawab, maka diharapkan, ada temuan yang dapat memperpendek umur panen Cendana seperti halnya panen Garahu lewat proses infeksi artifisial. Eksplorasi terhadap sumberdaya hayati dengan cara-cara saintifik penting dilakukan. Tidak saja untuk melindungi sumberdaya hayati yang ada, namun juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 203
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 323
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 214
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 581
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 284
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 232
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 175
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 249
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya