
catatan Haédar Muhammad
Bacalah salawat asyghil secara tanpa henti sepanjang waktu, di mana saja.. "Allahumma shalli 'alaa Sayyidinaa Muhammad. Wa asyghilidz dzoolimiina bidz-dzoolimiin Wa akhrijnaa min baynihim saalimiin.. Wa 'alaa alihi wa shohbihii ajma'in."
Salawat asyghil ditulis dan untuk pertama kali diamalkan oleh cucu Rasulullah Muhammad SAW, Imam Ja'far as Shadiq dalam kehidupannya sehari-hari. Persisnya, ketika berada dalam suatu masa transisi yang sungsang, di akhir kekuasaan dinasti Umayyah dan awal kekuasaan dinasti Abasiyah.
Masa itu adalah masa yang penuh dengan intrik, kezaliman, dan konflik politik. Para penguasa membiarkan ketidak-adilan menjalar dan mempengaruhi kehidupan umat. Para penguasa dan kaki tangannya, menggunakan kekuasaan hanya untuk kepentingannya masing-masing. Mereka berusaha dengan segala cara melanggengkan kekuasaan dan mengabaikan nasib umat.
Imam Ja'far Shadiq yang melanjutkan perjuangan Rasulullah Muhammad untuk menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar sebagai ikhtiar menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan di atas keadilan dan kesetaraan hidup.
Pada suatu keadaan yang paling teruk, Imam Ja'afar Shadiq akhirnya menguatkan diri dengan cara berserah diri kepada Allah SWT semata. Ia dan para muridnya mengamalkan salawat Asyghil tersebut.
Lafadz dari salawat tersebut mengandung arti, "Wahai Allah, sampaikanlah salawat kepada pemimpin kami Rasulullah Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang dzalim saling berkutat dengan kejahatan sesamanya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka, dan berikanlah salawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau (Rasulullah Muhammad)."

Di Hadramawt daurah Masyayikh - Yaman, salawat tersebut terus diamalkan dan dikumandangkan, lantas didiseminasikan ke seluruh dunia oleh al Habib Umar al-Hinduan Ba’alawy.
Pada masa revolusi merebut kemerdekaan, para ulama dan kyai di tanah air mengamalkan salawat ini. Begitu juga pada masa krisis politik tahun 1965. Pula demikian halnya pada masa dua dekade mutakhir.
Kini, salawat Asyghil kumandang lagi, di sini dan di negara-negara jiran yang sebagian besar penduduknya adalah umat muslim.
Salawat Asyghil adalah salawat yang selalu relevan dengan zaman, terutama ketika demokrasi direduksi dan tidak lagi dipahami sebagai cara mencapai harmoni kebangsaan.
Salawat ini ketika diamalkan dan dikumandangkan oleh kalangan yang tepat, yang terzalimi, selalu menggetarkan batin dan selalu menguatkan optimisme.
Kekhusyukan dan keikhlasan kaum yang terzalimi dalam mengamalkan salawat ini, memang terasa membuat tekad semakin kuat. Khasnya dalam menegaskan konsistensi atas komitmen melakukan perubahan yang niscaya, sebagaimana tersirat dan tersurat dalam firman-Nya (QS Ar Raad 11) : Mereka menjaga perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah kondisi mereka. Dan apabila Alla menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang mampu menolaknya. Tidak ada pelindung bagi kaum itu, selain dia (Allah).

Firman ini juga dapat dipahami, bahwa Allah menempatkan umat manusia sebagai subyek. Karenanya, Allah tak akan menghancurkan sesuatu kaum, kecuali kaum itu sendiri menghancurkan dirinya.
Dalam konteks ini, salawat Asyghil merupakan bagian integral menguatkan seluruh spirit dan upaya melakukan perubahan (transformasi) dengan komitmen utama: menebar keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat melalui jalan yang diridhai Allah SWT.
Komitmen yang kudu dilakukan secara kolektif, serentak, dan serempak dengan landasan khas persaudaraan kaum beriman (innamal mu'minuuna ikhwah) sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah (QS Al Hujurat 10).
Persaudaraan tersebut hanya akan terikat kuat, bila setiap pemimpin umat menyadari hakikat kewajiban untuk berkolaborasi (berdasarkan simpati, empati, apresiasi, respek, dan kasih sayang), bersinergi atau ber-ta'awuun, gotong royong dan saling tolong menolong dalam ketaqwaan. Bukan bersekongkol dalam maksiat, kemudharatan. Tanpa kecuali maksiat politik.
Di tengah zaman yang penuh dengan ketidak-pastian, kegamangan, keribetan (kompleksitas), dan kemenduaan yang dibaluri dusta dan tipu daya -- dalam skala lokal, domestik, nasional, regional, dan global -- salawat Asyghil mesti terus diamalkan.
Tak hanya karena salawat Asyghil menguatkan optimisme dalam melakukan perubahan secara dimensional. Jauh dari itu, karena di balik lafadz salawat ini, terbangun kesadaran insaniah, bahwa manusia mempunyai segala keterbatasan.

Namun demikian, sebagai insan beriman, di balik keterbatasan senantiasa ada inspirasi, di balik kesulitan ada kemudahan, di balik tekanan dan intervensi penguasa dalam praktik politik yang tergelincir dalam pragmatisma, selalu ada Allah Maha Penguasa.
Allah memerintahkan Rasulullah Muhammad (dan mesti diikuti oleh kaumnya) melalui malaikat Jibril: "qulillahumma malikal-mulki tu`til-mulka man tasya`u wa tanzi'ul-mulka mim man tasya`u wa tu'izzu man tasya`u wa tuzillu man tasya`, biyadikal-khair, innaka 'ala kulli syai`in qadir." (QS Ali Imran 26).
(Serukanlah, "Wahai Tuhan Maha Kuasa, pemilik segala kekuasaan.. Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.")
Teruskanlah mengamalkan salawat Asyghil dalam satu tarikan nafas dengan upaya konsisten dan konsekuen mengalirkan pikiran, sikap dan tindakan, "sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah (strategi, cara)."
Senantiasalah mengamalkan salawat Asyghil dengan kesadaran penuh Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq, Billahit taufiq wal hidayah (yang pertama kali disyiarkan oleh Kyai Ahmad Abdul Hamid - Kendal), yang bermakna: Allah memberi petunjuk ke jalan yang selurus-selurusnya, dengan taufik dan hidayah.
Kesadaran demikian, diperkuat dengan keyakinan yang kukuh: Billahi fii sabilil haq (dengan bimbingan Tuhan di jalan kebenaran). Nashrun Min Allah wa Fathun Qarib (pertolongan dari Allah dan kemenangan menjelang tiba) |
Artikel terkait: Shalawat Asyghil Menghadapi Hasad Hasud.